
maira gadis kecil menangis tiada henti di tinggal ibunya pergi karena marah terhadap suaminya abi
maira baru berusia empat tahun ia sangat merindukan ibunya beserta kakak perempuan nya maisa berusia delapan tahun
abi tak bisa berbuat apa-apa saat istrinya yang salah paham mengira dirinya mengkhianati nya padahal hanya kesalahpahaman saja
amarah maya teramat hebat pergi begitu saja dengan membawa puterinya yang pertama sedangkan maira ia tega tinggalkan begitu saja di tempat tidurnya
untuk menenangkan maira abi mengajak puterinya naik odong-odong untuk menghibur puterinya kecilnya itu
abi mencari keberadaan maya namun nihil tiada yang tau dimana ia berada
abi pun sementara waktu mengambil cuti untuk merawat puterinya yang sakit
maira berubah menjadi murung susah makan yang di tanyakan mana mamah mana kakak
abi hanya bisa tersenyum miris dan mengatakan nanti ya nak maira mesti sembuh nanti mama kaka pulang itu yg bisa abi katakan
sepekan sudah maya dan maisa pergi tanpa kabar kondisi maira semakin buruk ia susah makan badan kurus dan mudah sakit
abi sangat tak tega dengan kondisi maira
di sisi lain maya dan maisa ternyata berada di bandung tempat temannya dulu sewaktu kuliah ia menginap di sana
__ADS_1
di kesendirian maya pun sangat merindukan maira namun rasa marah terhadap abi begitu besar
maisa pun terus merengek minta pulang kangen ayah dan adek
maya terdiam melihat fhoto keluarga di benda pipinya itu hanya tersenyum kecut
ternyata rumah tangga nya akan hancur seperti ini
di sisi lain abi terus mencari kabar maya ia sangat khawatir dengan kondisi maira ia tak peduli dengan dirinya yang terpenting maira agar senyum kecil nya kembali lagi namun nihil tanpa hasil abi pun tak habis pikir gimana maya begitu tega terhadap maira yang begitu merindukan nya
kondisi maira semakin memburuk hingga di larikan ke rumah sakit
maira diagnosis kurang asupan dan terkena tipes
dan hal buruk terjadi maira tak bisa di selamat kan maira pergi meninggalkan rasa rindu yang amat terdalam kata-kata yang keluar dari mulut kecilnya mama kaka
abi masih terpukul ia sangat marah terhadap maya
maya yang merasa rindu dengan puteri kecilnya pun mengaktifkan kembali ponselnya banyak sekali pesan termasuk dari abi ada video singkat dari abi terlihat maira yang nampak pucat berkata mama kaka aira angen"
itu pesan sebulan yang lalu dan kemudian membuka banyak pesan baik dari abi keluarga dan teman-teman nya yang mengatakan maira telah pergi
alangkah terkejutnya maya puterinya telah pergi amarah maya memuncak ia menyalahkan abi lantas segera pergi menemui abi
__ADS_1
maya membanting pintu dengan keras dan menyalahkan abi bagaimana maira bisa meninggal
abi diam membisu dengan mengepal kedua tanganya menahan amarahnya melirik maisa kesedihan abi semakin besar dan rasa rindu bersamaan melihat mata polos puterinya maisa
maya yang meluapkan emosinya memukuli abi, abi hanya diam menatap puterinya maisa
hingga datang semua keluarga baik dari abi dan maya
di ceritakan dari awal hingga akhir dan ternyata kesalahpahaman itu berakibat patal yang menjadi korban di sini adalah anak-anak
maya bersimpuh meminta maaf kepada semuanya termasuk abi
tapi untuk abi tidak bisa lagi menerima mu maaf hanya itu kalimat abi lontarkan
abi mentalak tiga maya dan abi berucap jangan jauhkan aku dari maisa itu saja
maya merasa bersalah ia sangat terpukul menyaksikan maira di video yang begitu pucat begitu merindukannya
hikmahnya "jika marah diam
sehabis itu pikiran kan dan renungan
pikir kan perasaan orang sekitar
__ADS_1
jangan mengedepankan keegoisan semata