
air mata bunda menanti buah hati putera satu-satunya yang sudah lama pergi merantau di ibu kota sudah beberapa tahun terlewati namun yang di tunggu tak kunjung kembali surat kabar pun tak menghampiri ataupun telepon tak kunjung berdering walau telepon milik tetangga
jangankan telepon televisi pun tak di milikinya hanya radio butut yang di milikinya ia bernama ibu Sona ia telah menjanda sudah cukup lama ia memilih sendiri dengan anak satu-satunya namun sejak memutuskan merantau ia tak pernah kembali rasa cemas di hati seorang ibu ia berharap semoga anaknya baik-baik saja
ibu Sona bekerja di ladang milik saudagar kaya sepulang bekerja ia merebus air panas untuk membuat satu teko air teh tawar dan merebus satu batang singkong yang telah di Potong kecil untuk makan malamnya sederhana mungkin namun begitu nikmat bagi ibu Sona
di malam yang sunyi terdengar suara tetesan air hujan dan semakin lebat dalam doa ibu Sona semoga anaknya lekas kembali
terdengar kabar kalau anaknya sudah menikah dan sudah memiliki seorang putera mendengar kabar itu ibu sona bahagia sekaligus sedih
mengapa puteranya tak pulang dan menikah tanpa dirinya tau apakah ibu tak penting bagimu nak
air mata ibu Sona tak kunjung berhenti di usapnya dengan kedua tangannya
__ADS_1
rasa rindunya belum terobati malah kini rasa sedih menghampiri kini ibu Sona demam panas ia memeluk dirinya sendiri dengan selimut merasakan suhu tubuh yang memanas dalam keadaan sakit ibu Sona mengangkat jemuran di luar kemudian lanjut memasak air panas
dengan segelas air teh hangat dan singkong rebus Bu Sona berharap demamnya mereda dengan sekuat tenaga menghabiskan singkong rebus itu
kemudian kembali tidur
dan di ibukota seorang laki-laki dewasa sedang menikmati secangkir kopi di teras depan rumahnya sambil membaca koran
dan seorang anak laki-laki sedang bermain sepeda di temani ibunya
ia lupa akan ibunya
atau ia malu akan keadaan ibunya di desa
__ADS_1
atau memang ia tak Sudi lagi melihat ibunya lagi yang pasti kelak ia akan sangat menyesalinya
keadaan ibu Sona semakin hari kian memburuk seakan tau dengan keadaannya Bu Sona menulis surat untuk puteranya yang bertulis
" ibu mu ini sangat merindukan mu
sangat menyayangi mu
ibu berharap dan berdoa dapat bertemu dengan mu walau sesaat"
dan selang beberapa hari ibu Sona meninggal dunia
berselang beberapa tahun kemudian pak Imron tanpa sengaja berpapasan dengan puteranya Bu Sona di sebuah restoran di Jakarta dan mengatakan ibu...Sona dengan sengaja tanpa mengucapkan ibu mu " ibu...Sona tiga tahun yang lalu telah meninggal dunia dan ada sepucuk surat untuk puteranya yang tak pernah menemuinya salam kan padanya jika anda melihatnya dan setelah berucap seperti itu pak Imron pergi begitu saja
__ADS_1
kemudian ia terjatuh begitu durhaka nya ia
kemudian ia mendatangi rumah ibunya yang kini sudah rata tanpa bangunan karena wasiat Bu Sona untuk tempat bermain anak-anak di desa ini, kemudian pak Imron memberikan sepucuk surat ibunya pada nya setelah membaca nya ia tak kuasa menahan tangisnya penyesalan nya tiada arti lagi orang yang begitu menyayangi nya sudah tiada dan dirinya begitu egois hanya karena harta tahta dan gengsi ia dengan sengaja melupakan ibunya ya ibunya yang melahirkan nya dan merawatnya penuh kasih dan sayang dan apa balasannya kalimat ibunya yang merindukan dirinya begitu menohok di relung hatinya