
di kesendirian irma menanti datangnya sosok ibunya yang tak kunjung pulang dari pagi hingga menjelang sore
apakah jualannya belum habis hingga kini belum pulang juga
irma gadis belia berusia sebelas tahun
hujan pun turun membuat irma semakin khawatir
di gubuk yang kecil hanya mereka berdua saja sedang sang ayah telah lama pergi entah kemana
dari kejauhan ibu irma maya berlari kecil sambil membawa nampah di atas kepalanya dan di tangannya pelastik besar berwarna merah
dengan senyuman yang manis irma menyambut ibunya
di sambut pula dengan senyuman
kemudian masuk untuk mandi
kemudian ibunya menceritakan yang membuatnya telat tadi di karenakan telah menolong wanita yang akan melahirkan di dalam angkot
keduanya bercengkrama menceritakan keseharian mereka masing-masing
bagi irma ibunya adalah segala-galanya begitu pula sebaliknya irma adalah permata penyemangat bagi hidupnya
irma anak yang rajin selain tugas sebagai pelajar ia juga membantu pekerjaan rumah
irma termasuk anak yang mandiri
seperti pagi ini irma membantu ibunya menggoreng adonan yang akan di jual oleh ibunya
semua jenis gorengan
irma pun pamit untuk ke sekolah dan tak lupa membawa cangkingan yang berisi gorengan yang akan ia jual di sekolah
irma tak merasa malu sama sekali malah bangga
kemudian maya pun pergi berkeliling desa menawarkan gorengannya
__ADS_1
panas tak jadi penghalang
hujan pun tak jadi soal
demi hidup
demi anak
ia akan berjuang semampunya
dan siang ini maya pun pulang karena gorengan nya telah laku semu
alhamdulillah
melihat sepatu puterinya menandakan puterinya telah pulang dari sekolah
maya selalu berpesan jika ia sendirian di rumah lekas kunci pintu rumah jika ada tamu yang datang intip dulu dari sela jendela
bukanya apa-apa karena waspada itu penting
hari menjelang sore tanda malam akan datang suara air terdengar tanda telah turun hujan
suasana semakin dingin keduanya berpelukan sambil bercerita masa lalu pertemuan dirinya dengan ayah irma
maya sendiri sampai saat ini tak mengerti kenapa suaminya itu tak pernah kembali
malam pun semakin larut
mati lampu itu yang sering terjadi
seakan terbiasa dengan kegelapan dan ada sedikit cahaya dari kilatan -kilatan di atas langit
paginya maya jatuh sakit untuk bangun saja kepalanya pusing seakan akan rumahnya berputar dengan terpaksa hari ini tidak jualan
namun irma tetep kekeh ingin menggantikan dirinya saja yang jualan apalagi hari ini hari libur dengan terpaksa maya mengijinkan tapi dengan syarat jangan banyak-banyak bikinnya dan jangan jauh-jauh jualanya di sekitar desa aja jangan berkeliling di jalan raya
irma pun menurutinya
__ADS_1
dengan semangat irma membuat adonan dan menggoreng kemudian di tata
irma berpamitan dan sebelum pergi maya berpesan walaupun masih banyak langsung pulang saja ya irma pun mengiyakan
irma berkeliling desa menawarkan gorengan nya awalnya sepi tak ada satupun yang membelinya kemudian salah satu warga memborong nya katanya ada tamu banyak
alhamdulillah gorengan yang irma bawa habis semua jadi sebelum Dzuhur irma bisa pulang ke rumah dan menemani ibunya yang sakit
dengan semangat irma tersungkur lututnya berdarah
irma langsung bangkit dan kembali berjalan dengan senyum yang tidak pudar
asalamualaikum
waalaikumsalam
irma tersenyum dan berkata alhamdulillah bu habis semua gorenganya
alhamdulillah ucap ibunya
itu lutut mu berdarah
tidak mengapa bu tadi jatuh di jalan
sini ibu lihat
dengan telaten ibunya mengobati luka irma
begitu pula irma mengecek suhu ibunya yang sudah turun panasnya
masih pusing bu
alhamdulillah mendingan
keduanya menghabiskan waktu bersama
hikmahnya "sederhana asal berkah
__ADS_1