Kasih Sayang Ibu

Kasih Sayang Ibu
kasih sayang ibu season 2


__ADS_3

...kasih sayang ibu yang begitu luar biasa' ia begitu mengasihi anak-anaknya yang tak berdaya terkendala fisik yang sejak lahir sudah seperti itu,anak pertama seorang gadis berusia empat puluh tahun yang mengalami keterbelakangan mental ia bertingkah seperti anak kecil ia bernama sari,anak kedua seorang gadis berusia tiga puluh delapan ia mengalami kelumpuhan di kedua kakinya ia bernama Siti,anak ketiga yang berusia tiga puluh tujuh mengalami kebutaan ia bernama Susi,namun ketiganya begitu menyayangi ibunya Sani yang telah sepuh berusia tujuh puluh lima tahun ia sudah mengalami asam pahit kehidupan dari kecil ia sudah yatim piatu dan menikah dengan seorang duda beranak enam namun dalam rumah tangga tersebut ia mengalami ketidakadilan dari di fitnah hingga penganiyayan dari suami dan anak-anak tirinya terlebih ia melahirkan ketiga puterinya yang cacat ,ia di hina di caci maki hingga ketiga puterinya pun tak luput dari kekejian mereka begitu pula ayahnya yang begitu malu dengan keberadaan anaknya yang cacat hingga tragedi itu terjadi dengan tega istri dan ketiga puterinya di kurung di sebuah gudang dan rencananya mau di bakar seakan akan kecelakaan benar saja api membakar gudang sang ibu kebingungan bagaimana cara menyelamatkan ketiga puterinya hingga terdengar suara tikus besar berlari menghindari api dengan sigap ia membawa ketiga puterinya mengikuti tikus itu dan benar saja terdapat kayu yang nampak rapuh dan ke empatnya berhasil selamat dengan hati yang sedih pilu sakit hati dengan kelakuan suaminya yang begitu sadis ingin menghabisi dirinya dan ketiga puterinya,ia bertekad untuk pergi jauh dari orang- orang yang malu akan keberadaan dirinya dan puterinya ia memutuskan meninggalkan dari keramaian,...


ia menjual salah satu barang berharga miliknya yaitu sebuah cincin warisan dari kedua orangtuanya ia tak memiliki kerabat,setelah itu ia membeli gerobak untuk membawa ketiga puterinya sangat jauh ia berjalan terkadang berhenti untuk membeli makanan untuk dirinya dan ketiga puterinya ,dan ia menemukan sebuah tempat yang sangat cocok untuk dirinya memulai kehidupan baru,sebelum itu ia membeli segala keperluan hingga uang hasil menjual cincin itu tak bersisa, Sampailah di tempat yang sepi seperti hutan namun terdapat air terjun yang begitu indah , ketiga puterinya terduduk patuh di gerobaknya dengan memakan roti,sang ibu menyiapkan tempat berlindung ia membangun sebuah gubuk dengan empat kayu panjang ia tancapkan kemudian ia pasang empat kayu panjang sebagai atap kemudian ia tutupi dengan terpal plastik yang telah ia siapkan kemudian mengikatnya dengan tali ia ikat dengan sangat kuat,kemudian untuk bagian bawah ia bikin tinggi agar air tak membasahi kemudian telah selesai gubuk kecil mereka dengan telaten sang bunda memasang selimut hangat untuk ketiga puterinya ia merapihkan dan senyaman mungkin ia menata bantal dan menyusun semua barang-barang yang telah ia beli dari baju, selimut, makanan, minuman, obat-obatan,senter,hingga korek api kemudian mengangkat puterinya yang lumpuh layu dan anaknya yang buta sedangkan sang sulung sedang asyik memainkan boneka ia pun berjalan dan mengikuti perintah ibunya,malam pun tiba suasana di luar begitu gelap ia menyalakan senter menerangi gubuknya ia memeluk ketiga puterinya dengan air mata yang berlinang tiada henti ia bersyukur ketiganya baik- baik saja malam semakin larut rasa letih dan kantuk ke empatnya tidur dengan pulas, hingga pagi menjelang sang ibu terbangun namun ia terkejut anak pertama nya tak berada di tempat tidurnya ia turun dan mencari anak pertamanya itu alangkah kagetnya ia mendapati puterinya sedang menahan dirinya dari derasnya air sungai itu ia berlari menyelamatkan puterinya hingga berhasil selamat setelah mengganti pakaiannya ia menyuruh puterinya itu untuk sarapan,ia bingung memarahinya ia tak akan mengerti mungkin sebelum tidur ia mesti mengikatkan dirinya d Ngan anak sulungnya itu, waktu berjalan dengan cepat ketiga anaknya telah tumbuh remaja ketiga puterinya bisa sangat di andalkan gubuk yang dulu begitu sederhana sekarang telah berubah menjadi lebih besar berkat bantuan warga yang mengetahui keberadaan mereka,sang sulung bisa berkebun menanam buah-buahan, sayuran-sayuran hingga berbagai macam bunga,anak kedua bisa memasak,mencuci,dan membersihkan rumah walau harus merangkak,dan si bungsu membantu pekerjaan rumah bersama sang kakak kedua, bercengkrama duduk sambil menikmati secangkir teh hangat dan singkong rebus di iringi hujan deras yang begitu indah membasahi kebun mereka, Puteri kedua menyisir rambut ibunya yang sudah menipis dan memutih dan kulit mengendur,anak pertama sedang asyik dengan dunianya sendiri terkadang ketawa,diam,dan sedih sedangkan si bungsu dengan telaten memijat kaki ibunya yang sudah menua, tanpa sadar air mata jatuh dari kelopak matanya ia sedih bagaimana kelak jika ia tidak ada,di lain sisi ia ingin ketiga puterinya menikah namun apa daya keadaan walau di relung hati kecilnya berharap semoga ada laki-laki baik yang mau menerima puterinya, waktu pun berjalan tahun berganti apa yang di nanti tak kunjung datang hanya bisa bersabar dan sabar hingga telah datang masa sakit datang,sang bunda jatuh sakit hingga menutup mata,ketiga puterinya hanya bisa bersabar menanti hari menyusul sang bunda,ketiganya begitu kompak walau tanpa bunda walau terkadang sang sulung sering menangis mencari sang bunda,malam yang begitu sunyi ketiga Puteri memanjatkan doa untuk bundanya yang terkasih dan tersayang,wajahnya,senyumnya, amarahnya,tawanya, belaiannya, suaranya,bahkan suara langkah kakinya kan di ingat selalu sepanjang waktu


__ADS_2