
Feren langsung jatuh pingsan ketika mengetahui kalau perusahaan yang sudah susah payah dia dan juga suaminya dirikan hancur dalam sekejap mata. Livy dan juga Bill membawa Feren masuk kedalam kamar, ingin sekali menghubungi Castarica dan juga marah pada adiknya itu karena sudah kejam menghancurkan perusahaan keluarganya sendiri hanya karena seorang lelaki. Tapi Livy tidak berani melakukannya karena rumah ini tidak ikut di sita oleh pihak bank saja sudah beruntung karena mereka juga mengadaikan sertifikat rumah ini pada pihak bank beberapa waktu yang lalu.
“Adik kamu itu sangat keterlaluan sekali,” kata Bill dengan suara penuh penekanan. Guratan wajah emosi tergambar jelas dari wajah Bill sekarang.
“Castarica dulu tak pernah kejam seperti ini, itu semua pasti gara-gara si pecundang sialan itu,” kata Livy yang masih terus menyalahkan Zach dalam masalah ini.
Feren mulai membuka mata, ia melihat ke arah Bill dan juga Livy secara bergantian. Feren menangis dengan terisak sampai bahunya terguncang karena kesedihan yang telah ia rasakan sekarang.
“Mom jangan menangis dan sebaiknya berusaha untuk membujuk Castarica, kita sekarang mencari cara lain untuk mendapatkan kepercayaannya lagi,” kata Livy.
“Hentikan semuanya dan jangan ganggu adikmu,” kata Feren pada Livy disela-sela tangisannya itu.
Livy terkejut sekali dengan ucapan Feren barusan hingga wanita itu menatap Mom-nya dengan penuh tanda tanya besar terpampang nyata di wajahnya itu.
“Apa yang Mom barusan katakan? Apakah Livy salah dengar?” tanya Livy dengan tatapan meminta jawaban dari wanita yang telah melahirkannya itu.
“Kamu tidak salah mendengar Livy,” jawab Feren. “Ucapan Castarica sebelum keluar dari rumah ini membuat Mom sadar jika kita sudah keterlaluan, perusahaan itu sudah hancur sejak awal, hanya saja Zach membantu kita saat itu dan karena keserakahan kita akan harta serta hidup mewah hingga kita mulai menawarkan untuk menjodohkan Castarica dengan lelaki yang lebih kaya. Kita sungguh bersalah pada adikmu itu, tak seharusnya kita memperlakukan mereka dengan sangat kejam seperti ini, kita pantas mendapatkan hukuman ini dari Castarica. Tuhan sedang menghukum kita karena tidak tahu terima kasih dan malah memusuhi lelaki yang membuat perusahaan Moelen berjaya, seharusnya waktu itu kita membantu Zach sebagai seorang keluarga dan bukan malah berusaha menyingkirkannya,” kata Feren yang langsung menyadari semua kesalahannya itu.
__ADS_1
Ketika Feren pingsan wanita itu seakan bisa melihat semua kesalahan dan juga rasa sakit putri kecilnya itu. Sungguh kemewahan ini membuat Feren melupakan segalanya dan juga membuat moralnya sebagai manusia hancur begitu saja.
“Bagaimana mungkin Mom bisa mengatakan semua itu padaku, sedangkan selama ini si pecundang itu juga selalu makan dan juga mendapatkan upah dari kita, semua hal itu sudah bisa membalas jasa baiknya karena sempat membantu perusahaan Moelen bangkit lagi,” kata Livy.
Livy tidak pernah suka dengan Castarica karena menurutnya semua orang menyukai adiknya itu bahkan kedua orangtuanya juga selalu menyanjung serta memanjakan Castarica, tapi tidak dengan dirinya dan kecemburuan itu semakin besar hingga membuat Livy berusaha keras untuk menyingkirkan Castarica dari pembagian ahli waris setelah Bill terus mencoba untuk mendesak Livy memikirkan hal itu dan Livy terbujuk juga, bahkan tanpa semua orang ketahui dulu Livy sempat menyukai Zach namun, lelaki itu lebih memilih adiknya untuk dijadikan pendamping. Selama ini Livy selalu mencari masalah dengan Zach karena sesungguhnya dia merasa cemburu dan masih menyukai suami adiknya itu.
Suara tamparan Feren pada pipi Livy langsung menggema didalam ruangan yang sunyi ini. Bill yang melihat istrinya di tampar hanya bisa diam karena tidak ingin ikut campur masalah Mom dan juga putri itu.
“Jika kamu berani mengusik Castarica lagi maka bunuh Mom lebih dulu,” kata Feren.
***
“Aku sangat senang sekali,” jawab Cast pada suaminya.
Zach meminta sang istri untuk menatapnya kemudian lelaki itu memeluk tubuh istrinya dan mencium wajah Cast dengan penuh kasih sayang. “kau tak perlu berbohong padaku, aku tahu kamu pasti sedih karena perusahaan milik keluarga kamu hancur di tangan kita,” kata Zach. “Aku meninggalkan rumah keluarga Moelen tanpa menyentuhnya karena aku tahu kamu tidak akan tega jika melihat keluarga kamu tidak memiliki tempat tinggal,” kata Zach.
“Terima kasih, karena kamu sudah mengerti akan perasaanku,” kata Cast.
__ADS_1
“Aku akan memberikan perusahaan Perfume CS jika mereka semua sudah menyadari kesalahannya,” tutur Zach ingin melihat istrinya itu tersenyum.
Dan benar saja Cast tersenyum dengan manis sekali. “Sayang, terima kasih karena kamu selalu saja berusaha menjadi lelaki yang sempurna dengan membuatku bahagia,” ujar Cast.
Di tempat lain.
Cuaca di negara A saat ini sedang dingin sekali dan hampir saja membekukan tulang. John yang tak punya cukup uang pun harus tidur di depan toko yang telah tutup kemudian lelaki itu mengambil kardus bekas dan menjadikannya selimut, terlihat seorang lelaki datang menghampirinya dan itu adalah Noan. John pun langsung menutup kardus yang sudah ada di atas tubuhnya guna menghindari dinginnya cuaca dimalam ini.
“Berikan ini padaku saya,” kata Noan seraya mengambil kardus tersebut sebab lelaki itu juga merasa kedinginan dan ia tak memiliki tempat tinggal yang sama dengan John.
“Sialan! Berani sekali kau merebut milikku,” kata John sambil beranjak berdiri dari posisi duduknya.
“Kenapa aku tak berani melakukannya sedangkan dirimu bukanlah siapa-siapa,” tantang Noan dengan berkacak pinggang. "Karena menuruti keinginan kamu, aku sampai menjadi gelandangan seperti ini,” tuduh Noan pada John.
John yang tidak terima dengan tuduhan Noan pun tidak segan langsung melayangkan tinjunya dan kedua orang yang sedang kedingin itu saling baku hantam hingga lampu flesh kamera wartawan langsung menghentikan tindakan mereka berdua. Mereka pasti tidak mengetahui jika para pengawal Tuan Smith mengikuti mereka dan setelah melihat akan terjadi pertengkaran antara Noan dan juga John, para pengawal Tuan Smith segera menghubungi para wartawan yang posisinya paling dekat dengan lokasi ini.
“Tidak kami sangka ternyata Tuan John yang di kenal kaya dan suka pamer kini malah bertengkar dengan Tuan Noan hanya karena kardus bekas,” ledek salah satu wartawan dengan berani.
__ADS_1
“Kita jadikan mereka berdua seperti contoh dan jangan pernah meniru mereka yang dengan berani menghina orang lain, karena nasib seseorang itu tak bisa ditakdirkan oleh manusia,” sahut para wartawan lain sambil meninggalkan tempat itu.
“Sialan! Berani sekali kalian mengambil potretku,” umpat John dan hendak mengejar para wartawan yang kini sudah menjauh dengan motor mereka.