
Zach masih menatap kearah lelaki yang kini ada dihadapannya hingga beberapa saat kemudian lelaki itu langsung membungkukkan sedikit tubuhnya dihadapan Zach penuh hormat.
“Perkenalkan nama saya Aron dan saya adalah orang kepercayaan Tuan Smith jika Anda mengijinkannya,” ujar lelaki tampan dengan baju yang serba branded tersebut. Ketampanan itu tentu saja tidak bisa mengalahkan ketampanan milik Zach.
“Hahaha! Apakah kau sedang bercanda padaku Tuan? Aku adalah si pecundang miskin, ya mereka mulai menyebutku dengan panggilan itu sejak keluarga Smith hancur," jelas Zach dengan tawa penuh kegetiran.
“Mulai sekarang tak akan ada satu orangpun yang berani menyebutkan julukan itu pada Anda,” sahut Aron seraya menegakkan tubuhnya dengan penuh wibawah.
***
Zach menaruh motor bututnya di tempat biasa dekat dengan pohon besar, Zach tersenyum sendiri dengan mengusap motor kesayangannya itu hingga membuat Bill melangkah menghampirinya dengan tatapan merendahkan tentunya.
“Motor itu sudah pantas di jadikan barang rongsokan, tapi lelaki yang memakainya juga si pecundang jalanan jadilah kalian cocok dan saling melengkapi satu sama lain, hahaha,” kata Bill tertawa dengan begitu lantang dan penuh hinaan.
Zach melirik kearah Bill dengan tersenyum bahagia. Hinaan macam apapun yang ia dapatkan tak akan pernah membuat Zach terpancing emosi karena kini hati Zach sedang merasa bahagia.
Bill mengerutkan keningnya penasaran mengenai Zach yang tidak meladeni hinaan darinya. Bill pun masuk kedalam rumah kemudian menemui sang istri dan menceritakan apa yang sedang ia lihat tadi.
“Sayang, kita harus mencari cara agar Castarica dan juga si pecundang itu keluar dari rumah ini, apakah kamu rela jika Mom akan mewariskan perusahaan Moelen pada adik kamu itu?” tanya Bill pada Livy yang kini sedang sibuk melihat acara televisi.
Mendengarkan penuturan suaminya itu Livy langsung beranjak berdiri dari sofa yang ia duduki setelah mematikan televisi kemudian melangkah menghampiri Bill yang sedang duduk di surut ranjang dengan menatapnya.
__ADS_1
“Mana mungkin aku membiarkan Castarica mendapatkan perusahaan itu dan hanya kita saja yang akan mendapatkan perusahaan tersebut,” ujar Livy.
“Kita harus menyusun rencana kalau begitu,” ujar Bill.
“Kamu tenang saja Sayang, karena aku sudah merencanakan sesuatu untuk si pecundang dan aku percaya cara ini akan membuat Castarica keluar dari rumah ini bersama dengan suaminya itu," ujar Livy dengan penuh percaya diri.
"Rencana apa yang sedang kamu lakukan bersama Mom?” tanya Bill merasa penasaran.
Di tempat lain.
Zach baru saja selesai mencuci piring dan juga mengepel rumah yang segede istana negeri dongeng ini kemudian lelaki itu masuk kedalam ruangan kamarnya, entah mengapa tidak ada rasa lelah sedikitpun pada tubuh Zach mungkin karena kini lelaki itu sedang berbahagia sekali.
“Kenapa hari ini tidak ada orang yang mempersulit pekerjaanku?” tanya Zach pada dirinya sendiri yang merasa bingung melihat sebab biasanya Feren dan juga Livy akan selalu membuatnya kerepotan. “Sepertinya mereka sekarang sedang merencanakan sesuatu padaku,” tebak Zach pada dirinya sendiri.
“Sepertinya dengan cara ini mereka akan menjebak aku,” kata Zach dengan seulas senyuman miring.
Zach baru saja menutup pintu kamarnya dan hendak melangkah menuju pintu, tapi belum sempat itu terjadi pintu ruangan kamarnya sudah terbuka dan nampaklah Feren dan juga Livy melangkah masuk kedalam ruangan kamar ini begitu saja terdapat Castarica dibelakang mereka.
“Lihatlah Mom, kalung ku yang hilang ternyata ada di tangannya, sejak awal aku sudah menduga jika si pecundang ini yang mencurinya,” tuduh Livy dengan merampas kalung yang masih ada di tangan Zach.
“Kau pasti yang sengaja memfitnah suamiku, kamu sengaja melakukan itu kan,” tuduh Castarica balik sembari mendorong Livy.
__ADS_1
Castarica tak bisa menahan emosi ketika ada kekuatan yang berusahalah memfitnah suaminya tercinta, sungguh jika tak mengingat ada hukum di negara ini pasti Castarica akan menghancurkan Livy yang selama ini selalu saja membuatnya marah.
Tangan Livy terangkat hendak menampar Castarica namun, belum sempat tangan Livy mendarat di wajah Castarica, Zach dengan sigap langsung meraih Castarica kedalam dekapan nyamannya kemudian tangan lainnya memegangi pergelangan tangan Livy dengan cukup erat. Zach tidak akan tinggal diam jika melihat wanita yang ia cintai akan disakiti meskipun oleh keluarganya sendiri sekalipun.
“Jangan berani menyentuh istriku,” kata Zach dengan sorot mata mengancam.
“Berani sekali pecundang seperti kamu menatapku setajam ini,” tukas Livy penuh emosi.
Baru kali ini Livy melihat Zach menatapnya dengan penuh ancaman seakan netra itu membakar tubuhnya dengan api kebencian yang mendalam. Tapi siapa yang perduli sebab Zach tak memiliki kekuasaan apapun yang mampu membuat Livy takut padanya. Lelaki hanya pecundang dan bukan pengusaha kaya raya seperti dahulu.
“Sepertinya kami sudah terlalu baik padamu! Keluarlah kau dari kediaman Moelen sekarang juga dan jangan membawa satu barang pun dari dalam rumah ini!” perintah Feren dengan penuh emosi.
Castarica melepaskan pelukan Zach kemudian berdiri dihadapan Mom dan juga Livy dengan sorot mata membangkang. "Tterima kasih karena meminta kami keluar dari neraka dunia,” kata Castarica. “Aku tidak hanya akan keluar dari rumah ini saja, tapi aku juga akan keluar dari perusahaan Moelen! Kau tenang saja Livy karena aku akan memberikan semua jatah warisan aku padaku, aku lebih suka hidup mulai dai 0 dengan suamiku,” ujar Castarica lalu mengajak Zach keluar dari rumah keluarganya.
“Castarica,” panggilan Feren membuat langkah Castarica terhenti dan menatap kearah wanita yang telah melahirkannya itu.
“Berikan kartu kredit dan juga semuanya. Kau hanya boleh keluar dari rumah ini membawa motor butut itu bahkan ponsel pun tak boleh,” ujar Feren.
Beginilah cara Feren untuk menahan Castarica keluar dari rumah ini. Tapi siapa sangka dengan suka rela Castarica malah memberikan ponsel dan semua yang ia miliki bahkan perhiasan yang sedang ia kenakan pun di berikan begitu saja pada Feren tanpa beban. Bagi Castarica bersama dengan suaminya itu sudah cukup membuatnya bahagia.
“Livy cegah adik kamu keluar dari rumah ini,” pinta Feren.
__ADS_1
“Ma, anggap saja kita sedang memberikan pelajaran pada Castarica,” bujuk Livy menolak permintaan Mom-nya dengan cara yang halus. “Livy percaya jika Castarica akan kembali ke rumah ini setelah tahu jika hidup tanpa uang itu begitu menyiksa,” sambung Livy mencoba untuk meyakinkan Feren.