Kedatangan Dewa Sihir

Kedatangan Dewa Sihir
1. Kembali


__ADS_3

Di pinggiran hutan, seorang pemuda menguburkan mayat seorang wanita, dengan wajah bersedih.


Setelah melihat kembali makam itu, dia pergi ke rumah kecil, mengambil sebuah kotak yang ditunjukkan oleh ibunya.


Menggunakan meditasi, dia menarik energi mana ke sebuah titik di kotak, yang membuka kotak dan mengeluarkan sebuah asap.


Menghirup asap itu, kesadaran muncul di benaknya, tangannya gemetaran, "Ini penghilang kutukan!"


Sebagai seorang Mage, perkembangan dan balas dendam akan terjadi baik cepat atau lambat, karena alasan itu, dia dimantrai dengan kutukan yang mengunci inti sihirnya, namun dengan asap ini, inti sihirnya kembali terbuka.


Lalu selembar kertas muncul, saat menyentuhnya, kepalanya terasa sakit, "Gulungan Ingatan?!"


Tiba-tiba dia mengetahui latar belakangnya, dia adalah anak dari seorang Raja di Alam Langit, sebuah alam diatas alam manusia.


Dan bahkan tingkat budidaya sihir yang tidak diketahuinya, "Kukira hanya ada 3 tingkat budidaya sihir; yaitu Perunggu, Perak dan Emas, tapi siapa yang menyangka masih ada banyak diatas itu?"


Ingatan dari gulungan dan ingatannya terhadap seluruh teori Mage-nya bergabung, membentuk sebuah ingatan yang satu.


Setelah itu, kotak itu tiba-tiba menghilang setelah menjadi partikel-partikel kecil bersinar, meninggalkan segala jejak di ingatannya.


Setelah itu dia berkata, "Aku, Evan bersumpah untuk membunuh ayahku!" lalu segera duduk dan mulai bermeditasi.


Ratusan cara meditasi muncul di kepalanya, akibat gulungan Ingatan itu berisi banyak teknik.


"Ini!" Setelah melihat-lihat, Evan memilih salah satu teknik, "Teknik Dewa Abadi!" judul yang menarik dan penjelasan yang bagus membuat Evan memilihnya.


"Pejamkan mata, Selaraskan tubuh, nafas dan jiwa." Mengikuti perkataannya, tubuhnya menjadi tegak dan sedikit sinar muncul di dadanya.

__ADS_1


"Panas... Api...." Menunggu rasa lain yang tak kunjung terasa, akhirnya dia memindahkan konsentrasi ke tempat yang panas dan perlahan memindahkannya ke kepala, kedua tangan dan kedua kaki, membentuk sebuah aura api.


"Kendali elemen api pertama, Kulit Api." Tahap kendali elemen terbagi 2, Raga dan Jiwa, itu juga terbagi lagi, raga sendiri dimulai dengan kulit, daging, tulang, sumsum dan jantung, ini berlaku untuk semua elemen.


"Jadi elemen api tipe pengganti, aku tak percaya dapat memiliki bakat ini! hehe..." Evan tertawa kecil sambil membuka ingatannya, dan mengambil dua teknik level 1 paling cocok untuknya.


Elemen Api memiliki 3 unsur, Lamanya, Panasnya dan Ledakan apinya, untuk orang yang memiliki bakat biasa dengan api, 3 unsurnya selaras.


Jika ledakan dan lama api, maka itu cocok untuk Api tipe kendali, teknik yang bisa terus dikendalikan dan dinyalakan kapan saja, jika itu panas dan ledakannya, maka itu cocok untuk teknik yang langsung dan sangat merusak. Sementara itu, Lama dan Panas cocok untuk teknik jebakan.


Namun, terkadang ada sosok jenius yang bisa memiliki 1 unsur spesifik api, tapi untuk terakhir kali dia menggunakan elemen apinya, dia memiliki tipe Api kendali. Tapi di kasusnya ini, dia memiliki 2 tipe spesifik yang bisa diganti-ganti, bakat 1 dari 1.000.000 Mage api.


"Untuk Lama api... Dinding Api. teknik sama seperti namanya. Ini mengendalikan api untuk membentuk sebuah dinding yang dapat dinyalakan dan dimatikan kapan saja setelah dipasang dengan batas waktu 8 jam." Dengan antusias dia menulisnya di sebuah kertas, bakat menggambarnya membantunya membuat bentuk fisik teknik ini.


"Untuk ledakan api maka jelas itu adalah Semburan api. Teknik ini mengeluarkan api dari bagian tubuh manapun. Ledakan ini bisa digunakan untuk menyilaukan, mendorong dan pastinya merusak dengan kerusakan besar dan eksplosif!"


Lalu cairan mulai keluar dari seluruh tubuhnya, dia membuka mata dan menghembuskan nafas panjang, membuka mata perlahan dengan gaya berbeda.


"Perunggu bintang 2... kecepatan budidaya ini sangat gila, aku hanya bermeditasi sebentar dan saat membuka mata tiba-tiba sudah melewati satu bintang saja." Setelah itu Evan melepaskan pakaiannya, melihat badan kurusnya membuatnya teringat bahwa dirinya dulu seseorang yang memiliki badan yang cukup bagus tapi itu sudah berlalu.


Dia keluar dan pergi ke sebuah kolam dekat makam ibunya, sekaligus berziarah ke makam ibunya, "Ibu... tunggu pria itu di surga."


Setelah kembali berpakaian, dia pergi ke perpustakaan, mencari buku tentang susunan, "Setelah menggambar teknik-teknik, aku menyadari bahwa bakat milikku sebenarnya adalah menggambar, yang artinya termasuk Susunan."


Evan mencari buku-buku tentang susunan, dan meletakkannya di meja kecil dengan tumpuk demi tumpukkan.


"Walau pembuat susunan lebih umum dibandingkan alkemis, dan jika dibandingkan maka 1 alkemis setara dengan 3 pembuat susunan."

__ADS_1


Kembali memilih-milih tentang informasi susunan, dia membawanya dengan mudah ke meja penjaga perpustakaan, cukup mengagetkan beberapa orang.


Itu normal, dia adalah pemuda lemah, dia cukup terkenal karena wawasannya yang luas, biasanya diminta mengajar anak-anak orang kaya di desa. Tapi melihat pemuda yang terkenal lemah itu mampu mengangkat buku yang mencapai ketinggian mulutnya, beberapa orang ternganga.


"5 koin perunggu Evan," ucap pria itu, saat Evan memeriksa kantungnya, pria itu melanjutkan, "Tidak seperti biasanya, kenapa kau memilih buku tingkat menengah? apa ini untuk risetmu?" dia tertawa kecil.


Karena dia biasanya mengajar, meminjam buku sangat normal, tapi buku yang dipinjam kali ini adalah buku tingkat menengah, sedangkan biasanya hanya kelas dasar, bagaimanapun dia mengajar anak-anak.


"Haa... saudara Liu, ibuku baru saja meninggal, aku berencana untuk bertualang." Evan menjawab dengan pelan dengan senyum tipis, Liu yang menyadari kesalahannya segera berkata, "Ah... maaf Evan." dia kebingungan dan salah tingkah.


Setiap orang di desa mengetahui seberapa sayangnya Evan pada ibunya, tapi ibunya baru saja meninggal dan bahkan Liu menanyakannya dengan bercanda.


"Tidak apa saudara Liu, kau tidak salah." Evan menjawab, dia menyodorkan 5 perunggu.


Liu menoleh dan berbisik, "Hei... ambil saja, kau akan memerlukannya nanti." Liu menahan tangan Evan, Evan tersenyum dan mengayunkan tangan, kembali ke rumahnya.


Secara cepat berita kematian ibu Evan menyebar ke seluruh kota, termasuk berita dia akan pergi dan gosip-gosip tidak jelas.


Beberapa orang datang satu-persatu, sebagian besar orang tua dari anak yang dia ajari, memberinya bingkisan perpisahan dengan jumlah berkisar 3-8 koin perunggu.


Semua yang dia katakan pada orang tua muridnya sama, "Besok akan ada kelas terakhir."


Sore itu berakhir cepat, malam dia penuhi dengan meditasi sementara buku yang dia pinjam diberikan padanya, yang akan dia baca lain kali.


Malam berlalu dengan cepat, setelah mencapai peringkat Perunggu bintang 4 dia segera membersihkan diri dan menggunakan pakaian kulit, pakaian paling berharga miliknya.


Pergi ke ruang kelasnya, tersenyum tipis dengan mata yang perih, dia ingin menangis, tapi dia harus kuat.

__ADS_1


__ADS_2