Kedatangan Dewa Sihir

Kedatangan Dewa Sihir
3. Keberuntungan


__ADS_3

Evan mengeluarkan sihirnya, menunjukkan bahwa dia adalah mage tingkat perunggu, di daerah Silverlight, mage tingkat perunggu bisa dibilang langka karena kebanyakan menjadi petarung.


"Semburan api!" Api keluar dari tangannya, membakar segala yang ada di depannya, Evan tersenyum tipis.


Tak lama dia mengeluarkan yang lain lagi, "Bola api!" teknik terbaru yang dia pelajari, dia memiliki total sekitar 5 teknik api hingga saat ini, termasuk Dinding api, semburan api, bola api, Pemotong Api dan aura api.


Ketika dia menunjukkan semuanya mereka semua terkagum-kagum, sementara itu dia terkagum-kagum dengan teknologi para kurcaci ini, "Pistol? Bom? itu luar biasa!"


Mereka lalu menandatangani perjanjian, walau dia akan mengembangkan wilayah yang mendukungnya, dia harus menghapuskan reputasi kerajaan di provinsi ini terlebih dahulu.


Sementara itu Evan mengajari beberapa dari mereka sihir tanah, karena mereka memiliki kecocokan terhadap Logam dan Lava yang merupakan elemen paduan Api dan Tanah.


Evan meninggalkan beberapa buku sihir tanah dan api dengan nama, "Api dan Tanah."


Setelah perayaan dan acara makan-makan singkat, Evan bersiap pergi, membawa makanan-makanan ke cincin spasialnya, dia ingin membawa ranjang tapi tak muat di cincinnya.


Dia lalu meninggalkan tempat ini, dengan sebuah prototipe pistol yang paling bekerja, pelurunya terbuat dari logam, tapi dia belum memiliki elemen tanah, bahkan jika dia punya, elemen paduan memerlukan waktu setahun untuk dia pelajari sebelumnya, mungkin akan lebih singkat saat ini, tapi masih lama.


"Aku hanya memiliki 100 peluru, sebelum aku bisa mencapai kota untuk bertemu Pandai besi lain, aku harus berhemat." Dia melanjutkan perjalanan, sungguh konyol firasat buruk sebenarnya hanyalah sekelompok bandit.


Tapi tiba-tiba tangannya terluka, dengan cepat mengeluarkan teknik Dinding api, menghalangi jalan kabur sosok itu.


"Tunjukkan dirimu!" Dia memegang pisau, "Kenapa aku lupa meminta pedang...." pikirnya.


Pisau itu lalu menyala-nyala dan siap menebas ke arah mana saja, "Haha... Tuan Evan!" suara muncul bersamaan seorang sosok yang tiba-tiba muncul.


"Lihat Mage Evan, atau mantan mage Evan!" Dia terus mengejeknya, berdasarkan pengamatan Evan, pria itu berada di tingkat Perunggu bintang 6.


Evan mulai berpura-pura gemetaran, pria itu tak boleh tahu dia sudah menjadi Mage kembali, karena perbedaan dua bintang sudah cukup untuk membuat yang tak unggul kewalahan.


Evan segera berlari dan mengangkat tangannya, "Heeyaa!", pria itu berdiam tanpa bertahan, Evan menyeringai, "Bola api!" tangannya mendarat tepat setelah bola api dengan warna merah gelap terbentuk.

__ADS_1


Blarr! ledakan besar terjadi pria itu terlempar beberapa meter, hampir semua pakaian pria itu hangus terbakar sementara dia terkena luka berat, menurunkan keefektifan tingkat budidayanya.


Tiba-tiba pria itu berlari cepat, tembakan bola api Evan meleset, dia menyalakan dinding api dan semburan api.


Dia terkena benturan batu besar, untungnya dia sempat menahannya dari titik vital, tapi itu membuatnya terjatuh.


Evan mencari sesuatu di kantungnya, sementara pria itu telah menembus dinding api dan semburan apinya, Evan lalu mengeluarkan pistol dan membidik di kepala.


Dor!


Peluru keluar dari pistol, menembus kepala pria itu, pria itu lalu terjatuh dan tewas, Evan tak terluka parah selain lengannya yang mati rasa.


Dia lalu memeriksa sosok itu, "Sialan pria ini kaya!"


Mengeluarkan 3 botol pil yang salah satunya adalah Pil mana pendorong budidaya, sisanya adalah pil obat, dia segera menelan pil obat dan pil pendorong budidaya, bermeditasi di depan mayat.


Saat memejamkan mata, muncul cahaya coklat tua di depannya, memusatkan konsentrasi dan memaksa energi itu masuk, setelah merasa berat dia mengedarkannya ke seluruh tubuhnya.


Sambil bermeditasi, dia memilih teknik-teknik kelas 1 untuk elemen tanahnya, "Pria itu terlalu sombong." ucap Evan dalam meditasinya.


Jika saja dia serius dan menggunakan tekniknya dengan serius, jelas Evan akan mati, di alam bawah sadar, dia mencoba menyatukan energi tanah dan api bersama, tapi masih belum berakhir.


Setelah memeriksa tas pria itu lagi, dia menemukan 10 Perak, atau sekitar 1000 Perunggu, uang paling besar yang dia pegang sejak pengasingannya.


Dengan pakaiannya kain yang nyaman, Evan melanjutkan perjalanan, sekitar 2 hari kemudian, dia sudah mencapai Perunggu bintang 7, tingkat budidaya yang memerlukan 8 bulan baginya sebelumnya hanya memerlukan kurang dari sebulan saat ini.


Sementara itu dia merasakan bahwa aktifitas makhluk buas mulai mengecil, yang artinya ada pemukiman di dekat sini dan benar saja, dia melihat sebuah kota dari bukit.


Dia terus mendekat dan masuk secara menyelinap, tapi dia perlu identitas baru, "Apa ada rumah administrator disekitar sini."


Berkeliling sebentar dan dia menemukan sebuah gedung yang cukup megah, terbuat dari bata batu, dia masuk dan mendatangi seorang pria tua.

__ADS_1


"Aku ingin identitas...." Evan berbisik.


"Harganya 10 koin perunggu." Evan menyodorkan 20 Perunggu dengan surat "Identitas palsu", pria itu mengerti dan memberikan sebuah lencana identitas yang berguna di seluruh wilayah benua ini.


Dengan ini dia bisa berjalan cukup bebas, tentu saja dia sudah mengubah wajahnya dengan elemen tanahnya, walau awalnya agak berat tapi pada akhirnya dia terbiasa.


Dan setelah beratus-ratus kali percobaan selama dua hari, dia akhirnya mendapatkan elemen logam, walau begitu belum stabil karena apinya lebih kuat dari tanahnya.


Dia sudah mencapai tingkat daging di elemen api sementara di elemen tanah dia baru saja masuk tingkat kulit, tapi setidaknya dia bisa berlatih menggunakan pistol dengan peluru buatannya.


Dan juga, dia mencapai model ketiga di susunan, meningkatkan kekuatan susunannya, dia lalu pergi ke pandai besi, meminta sebuah peluru.


Peluru hanya berbentuk bola dengan kepadatan lumayan, sehingga saat tertembak dia akan mampu menembus tulang, "Aku ingin membuat ini." Evan menunjukkan sebutir peluru kepada pandai besi.


"Perlu berapa?" tanya pria itu setelah mengamatinya.


"Mungkin 200 atau 400 butir?" jawab Evan tidak yakin, pria itu mengangguk, sebenarnya ini benda mudah untuk dibuat, hanya saja Evan tidak memiliki keahlian pandai besi.


"Baiklah, totalnya 40 koin perunggu, silahkan ambil saat matahari terbenam." ucap pria itu setelah mengambil 40 koin perunggu dari tangan Evan.


Evan pergi keluar dengan hati yang sakit, di beberapa jam pertama dia sampai di kota dia telah kehilangan 50 koin perunggu, itu setengah koin perak.


"Aku bahkan belum punya tempat tinggal hah...." Menghela nafas dia berkeliling, mencari penginapan murah.


"Ini penginapan ke-14... kuharap harganya dibawah 30 koin perunggu perminggu." Dia masuk ke dalam dan mendekati seorang gadis.


"Emm... berapa harga sewa perminggu?" tanyanya langsung, dia sudah terlalu lelah, dan matahari akan segera tenggelam, dia harus mengatur persediaannya juga.


"Harganya 20 koin perunggu perminggu...." jawab gadis itu, Evan mengangguk dan terlihat menyodorkan uang tanpa berekspresi, tapi dalam hati dia merasa ingin melompat-lompat dan meledakkan penginapan-penginapan lain.


Dia lalu membuka pintu dan melihat ruangan berukuran 3×2 meter, "Ah... fasilitasnya memang cukup kurang, tapi aku hanya perlu tempat istirahat, jadi lupakan saja!"

__ADS_1


Dia lalu mengeluarkan beberapa pakaian dan memasukkannya ke laci, serta beberapa peralatan di sana, setelah mengatur ruang di dalam cincin spasial, dia segera mengganti pakaian dan pergi ke pandai besi sebelumnya, bersiap mengambil pelurunya.


__ADS_2