Kedatangan Dewa Sihir

Kedatangan Dewa Sihir
4. Kebutuhan


__ADS_3

Kota Destry, ibukota provinsi Iron Valley di Kerajaan Silverlight, kerajaan ini sebagian adalah ras eropa, sehingga keahlian sihir mereka adalah yang terbaik dari seluruh ras, sementara Evan, dia adalah ras dunia lain, tak bisa ditentukan sekarang.


Dia sampai di pandai besi dan terpaksa mengangkatnya ke tempat tersembunyi sebelum memasukkannya ke cincin spasial, "Merepotkan, sepertinya aku benar-benar kurang berolahraga."


Selama di hutan dia hanya bermeditasi, karena itu susunannya meningkat, tapi dia sendiri belum pernah mencoba, dia hanya membaca beberapa buku dan penasaran sesuatu, tapi dia fokus meditasi.


Dia sudah sampai di hutan yang tak terlalu jauh dari kota, setelah meregangkan badan dia bersiap melatih susunan, "Baiklah, kurasa aku akan mulai latihan." Menggambar susunan pada pada sebongkah batu, susunan itu hanya berdasar lingkaran tanpa model atau perintah tambahan.


"Aktifkan!" Batu itu memanas, tapi tidak berbahaya, jadi bisa dibilang tanpa model atau perintah tambahan, itu hanya akan menunjukkan sifatnya tanpa penguatan dari model segitiga atau atribut model lainnya.


Dia lalu bereksperimen lagi, "Lingkaran dan bentuk acak... bagaimana kalau bintang?" dia membentuk gambar bintang dan mengaktifkannya.


Tiba-tiba sebuah api berbentuk bintang melayang, "Ahh... ini ternyata bentuk, tentu saja orang-orang sudah mencobanya...." dia lalu mencobanya sebagai model ketiga setelah lingkaran dan segitiga, dan itu masih hanya mengubah bentuk.


Dia lalu mencoba membuat susunan di tangannya, dimulai dengan lingkaran dan segilima, alasannya karena dia takut jika menggunakan segitiga tangannya akan terbakar.


"Aktifkan." Tangannya membara, tapi tidak merasa sakit, menyimpulkan bahwa susunan tak menyerang bagian bawah susunan.


"Hmm, bagaimana kalau aku meningkatkan ketinggian jejak susunan?" Evan lalu membuat seperti biasa, sebuah lingkaran dengan segitiga dengan lingkaran dan segitiga yang biasa di sebelahnya.


"Aktifkan!"


Kedua api membara bersama, dengan nyala api yang sama, namun jejak yang lebih tinggi lebih melelahkan, dan setelah menunggu itu ternyata meningkatkan lama nyala api.


"Oh ya, aku belum pernah membuat susunan dengan tanah, mereka bertolak belakang, sementara api paling merusak, tanah adalah yang paling kokoh!",


Kali ini jari telunjuknya yang biasanya berwarna merah menyala, menjadi warna coklat dengan nyala yang teratur, "Dari seni penyusun saja sudah terlihat perbedaannya!"


Tapi pertama-tama dia bermeditasi singkat, memulihkan mana-nya dan mulai membuat susunan elemen tanah.


Jika itu hanya sebuah bentuk dasar, maka tanah hanya akan naik, "Hmm." Menambah sebuah segitiga juga hanya mempercepat naiknya tanah itu, tapi memang kecepatan membuatnya lebih merusak.

__ADS_1


"Pengunci." Menulis di salah satu bagian lingkaran, setelah mengaktifkan, tanah segera naik dari pinggir dan mengunci pergelangan tangan, setelah melepasnya dia mulai merasa bahwa dia perlu kelinci percobaan.


Dia lalu kembali karena bulan sudah berada di barat, menandakan sudah lewat tengah malam, dia awalnya memikirkan dia perlu kelinci percobaan, tapi lama kelamaan dia menyadari bahwa uangnya terbatas.


"Aku harus mencari pekerjaan yang cocok, apa kira-kira?" Dia mengelus dagunya dengan model pria-pria tua yang mengelus janggutnya, dengan pose itu dia merasa bijak, tapi memalukan.


"Mungkin aku akan menjadi pembuatan susunan."


"Berdasarkan ingatanku, Asosiasi Pembuat Susunan telah membuka cabang di provinsi ini...."


"Lupakan, mari beristirahat dan pikirkan saja besok!" Dia lalu melanjutkan jalan ke rumah dan segera berbaring di ranjang, segera setelah badannya menyentuh ranjang, dia segera tertidur.


Saat matahari naik, Evan terbangun dengan menggaruk rambutnya dan segera mandi, "Apa yang mau kulakukan ya?"


Dia lalu mengingatnya dan segera pergi ke asosiasi pembuat susunan, dia lalu sampai di sebuah bangunan luas, "Ah, perbedaan antara Asosiasi Pembuat Susunan dan Asosiasi Alkemis adalah bangunannya, Asosiasi Pembuat Susunan cenderung luas sementara Asosiasi Alkemis cenderung tinggi."


Dia segera berjalan ke gerbang dan melihat segerombolan orang menjaga, "Bayar biaya masuk!" kepada seorang wanita.


"Hah? jangan bercanda!" balas wanita itu, setelah beradu mulut beberapa detik, wanita itu berbalik dengan jengkel.


"Ha... kalian tidak tahu siapa aku?" Kedua pria itu saling berhadapan dan menggelengkan kepala mereka.


"Aku adalah Ace! apa kalian tidak tahu?" Lagi-lagi kedua pria itu saling berhadapan dan menggeleng kepala, tak lama seorang pria keluar dan mengusir pria itu.


"Ternyata mereka memang memiliki relasi...." batin Evan kesal, dia lalu maju dan kembali ditanyakan, "Bayar biaya masuk."


"Berapa?" Evan bertanya dengan senyum tipis.


"15 koin perunggu." Evan sedikit terkejut lalu membayarnya, dia tak menyangka ternyata semurah itu, "Kupikir harganya 1 koin perak...." batinnya.


Saat masuk ada lagi suara lain, "Biaya masuk." tapi kali ini dengan pakaian khusus, "Bajingan." batinnya.

__ADS_1


Sementara itu semua orang di luar tertawa, "Mereka semua bersekongkol ternyata! sialan." Dia menghela nafas dan membayar 15 koin perunggu.


"Harganya 1 koin perunggu." Mendengar hal itu wajahnya semakin memerah, dia membayar satu koin perunggu dan diberikan kartu masuk, dengan itu dia tambah marah.


"Biayanya 1 koin perunggu dan itu berlaku untuk setahun...." gumamnya pelan, matanya bersinar kemarahan dan berlari keluar, "Penipu Bajingan!" dia melihat bahwa dua orang itu memberikan koin perunggu ke salah satu pria.


Dengan kemarahan dia membawanya dan melemparnya, "Penipu sialan!" setelah agak tenang dia merasakan hal yang salah.


"Tunggu dulu, koin itu milik orang itu!" Kini dia bertambah marah, "Dimanfaatkan sekali mungkin menjengkelkan, tapi dimanfaatkan dua kali? itu memalukan!"


Kini dia mendengus marah, mengejar kedua pria itu melewati jalan-jalan, lorong dan jalan tikus, "Kembalikan uangku bajingan!".


Saat melihat wilayah sudah sepi Evan menggunakan sihirnya, "Dinding api!" api menghalangi jalan mereka, dengan bersiap memukul mereka berdua.


"Maafkan kami!" Suara teriakan nyaring terdengar ke penjuru kota.


"Hmmph! kembalikan uangku dan semua uangmu."


"Ma-maafkan kami...." ucap mereka ketakutan, "Berikan aku alasan yang bagus untuk melepaskan kalian?" tanya Evan berbalik dengan bola api di tangannya.


"Ka-kami tidak mau mati!"


"Kurang bagus!"


"Kami hanya bercanda!"


"Bercanda bagaimana! kau jelas ingin membawa kabur uangku!"


"Kami... kami...." Evan dan bola apinya semakin mendekati kedua anak itu, Evan tak berniat untuk membunuh mereka, mungkin hanya memberi mereka trauma mendalam.


"Ibu kami sakit!" Salah satu anak berkata sambil menangis sementara yang satunya berbisik, "Jangan beritahu, nanti dia melukai ibu...."

__ADS_1


Tiba-tiba Evan merasakan sakit di hatinya mengingat tujuannya adalah membalas dendam untuk kematian ibunya, dan jika dia melukai mereka yang merupakan tulang punggung keluarga mereka, dia tidak kuat.


"Lanjutkan." ucap Evan mengepalkan tangannya, memadamkan api dan menahan air matanya.


__ADS_2