Kedatangan Dewa Sihir

Kedatangan Dewa Sihir
15. Warisan Dewa Jatuh


__ADS_3

Api kecil itu terus mendekat ke dada Evan dan tiba-tiba masuk, "Aaaaaagh!" Evan menjerit, rasanya sangat panas dan membakar, dia memegangi dadanya dan terduduk.


Tubuhnya berkeringat tapi segera menguap, tubuhnya semakin panas dan teriakannya semakin tak terkendali, "Aaaaaaaagh!".


Sosok Bayangan tak ingin membuang-buang kesempatan ini, dia segera melangkah dengan cepat, tapi tiba-tiba kulit Evan menyala, menyinari sekitarnya dan melemparkan sosok bayangan.


Matanya berubah merah menyala, "Hangat dan nyaman...." Evan berbatin, dia lalu perlahan berdiri dan mengatur cahaya yang keluar tak beraturan dari tubuhnya.


Api itu lalu menghilang bersamaan dengan Evan yang kembali tersadar dengan kendali sempurna akan api.


Evan lalu mengendalikan ruangan untuk menutup jalan kabur sosok bayangan dan melemparkan api untuk melemahkan sosok bayangan itu.


Evan lalu berlari dengan cepat, mengindari serangan membabi buta dari sosok bayangan.


"Tanda Api!" Sebuah simbol api muncul di dada sosok bayangan, "Kughhh kau...! manusia rendahan!" sosok bayangan terjatuh, terbaring di lantai.


Evan lalu bersiap kembali ke ruang utama, ingin keluar dari alam bawah tapi tiba-tiba sosok bayangan berlari dibelakangnya.


Buk! Sosok bayangan lalu terlempar, cahaya terang tiba-tiba muncul, membuatnya sangat lemah, Evan melanjutkan jalannya, dan mengendalikan ruangan agar mengunci bayangan di dalam penjara.


"Hingga aku dapat mengendalikanmu, jangan harap ingin keluar." ucap Evan.


Sosok elemen api telah menghilang dan menyatu dengan Evan, "Pengendalian elemen diatas tingkat jiwa... tingkat sempurna, ya." Evan tersenyum lalu membuka matanya.


Evan tersadar di sebuah peti, dia kesulitan bernafas dan segera mengendalikan tanah untuk membuka keatas dan kebawah.


Evan lalu terbaring di lantai gua dan akhirnya bisa bernafas lega, "Dimana aku?" Dia bertanya pada diri sendiri.


Evan lalu memunculkan api dari tangannya, "Kendali tingkat sempurna, ya." Bahkan di tingkat jiwa, api tak bisa dimunculkan hanya dengan keinginan.


Evan menelusuri gua dengan lorong panjang ini selama beberapa waktu, "Grrrr." Suara eraman terdengar.


Evan segera meningkatkan kecerahan apinya, dia menoleh ke atas dan melihat ratusan laba-laba jatuh.


"Dorongan angin!" Angin menyembur, menghalangi laba-laba.

__ADS_1


Evan lalu mengeluarkan api terus menerus dan membakar jaring mereka, membuat mereka terbakar.


Evan lalu segera berlari melalui lubang dan membuat duri-duri tajam dengan api yang menyala, Evan lalu membangun tembok di kedua sisi duri, meninggalkan laba-laba mati terus menerus sementara dia melanjutkan penelusuran.


Tiba-tiba semburan api muncul dari segala sisi, Evan membangun tiga tembok, membentuk segitiga untuk menghalau apinya, "Haha! ternyata ini bukan gua, tapi lokasi peninggalan warisan!"


Evan tau walau tidak pernah menemukan dengan lokasi peninggalan warisan sebelumnya, itu memiliki jebakan-jebakan yang mematikan dan tidak terduga.


Evan lalu mengepalkan tangannya, mematikan setiap api yang ada di sini, termasuk jebakan.


Evan menurunkan tembok tanahnya dan lewat dengan lebih santai, dari yang dia rasa, orang yang meninggalkan situs ini merupakan Mage dengan api sebagai elemen utama.


Hingga akhirnya Evan berhasil melewati segala jebakan sisanya, "Sialan, Mage ini memiliki seluruh elemen yang ada!" ucap Evan memakinya.


"Setidaknya aku sudah sampai." gumamnya, dia lalu membuka pintu dengan kendali apinya, setidaknya tebakannya bahwa pria ini merupakan orang dengan elemen utama api tidak salah.


Dia membuka gerbang dan melihat sebuah perpustakaan kecil, Evan datang dah mengambil salah satu.


"Formasi susunan? apa bedanya dengan susunan?" Evan bertanya-tanya sebelum membuka bukunya.


Dia duduk dan membacanya perlahan, "Ya tuhan...."


"Woah, bahkan minimal model yang diperlukan setiap susunannya adalah sepuluh, seberapa kuat formasi susunan ini?" gumam Evan kagum.


"Alam langit sepertinya sangat berbahaya, aku harus berlatih jauh lebih keras!" Evan meyakinkan dirinya.


Dia lalu membuka buku yang lain, "Teknik Api Agung? aku ambil!"


"Kebangkitan... judul ini menarik!"


Evan mengambil buku itu dan segera membacanya.


"Orang yang memiliki bakat mage lebih rendah dari sesungguhnya disebut kebangkitan pertama, sementara kebangkitan kedua mulai menunjukkan bakat sesungguhnya seseorang terhadap Mage."


"Kebangkitan ketiga maka bakat sesungguhnya seseorang akan terbuka, dan kebangkitan diatas kebangkitan ketiga akan meningkatkan bakat mereka secara pesat."

__ADS_1


Secara tidak terduga, Evan mengambil seluruh buku yang ada, "Untung saja aku sudah memperluas cincin spasialku!"


Sementara itu Evan terus melanjutkan penjelajahan, karena ruangan ini masih sangat luas.


Evan membuka pintu lain dan mendapatkan tumpukan batu spasial, "Ya tuhan..., situs warisan ini kaya!" Evan segera menggunakan semua batu spasial di cincinnya, bahkan saat dia masuk, itu terasa seperti sebuah dataran luas.


Evan terus memeriksa ruangan lainnya hingga dia menyadari sesuatu, "Ada yang salah, kenapa aku memasuki ruangan dengan pola yang mirip?"


Evan lalu memilih untuk menghentikan penelusuran dan membuka pintu sebelumnya, muncul di sebuah ruangan alam bawah sadar orang lain.


"Tekanan ini mengerikan...." batinnya, dia berjalan pelan, berusaha tidak bersuara dan melihat seseorang duduk di kursi.


Evan berusaha melihat budidaya orang di depannya, "Orang ini... bahkan budidayanya mungkin jauh melebihi tingkat Kenaikan Langit!" batin Evan, semakin tidak berani bersuara.


"Tunggu, orang ini... sudah tewas?" Evan bertanya-tanya setelah berdiam diri mungkin selama sejam.


Evan mendekat perlahan, "Untung saja!" Evan menghembus nafas lega, "Luar biasa, bahkan dalam kondisi kematian, dia masih lebih kuat dibandingkanku."


"Apa orang ini dari Alam Langit? sepertinya begitu!" Evan menyimpulkan sesuatu, tidak mungkin orang sekuat ini dari dunia ini.


Evan mengambil sebuah surat, "Jika seseorang menemukan ini, mungkin telah berlalu beberapa milenium sejak itu, aku adalah Gordon Reaver, seorang Mage tingkat Dewa ...." Evan terdiam, tulisan di surat ini hampir hilang.


"Aku berasal dari Alam ... dan merupakan Mage terkuat di sana, bahkan aku mencapai kebangkitan ke-5, tapi 10 Dewa ... bekerja sama dan mencoba membunuhku, untungnya aku berhasil melarikan diri dan kabur ke Dunia rendah ini." Evan menelan ludahnya, "Jadi dia benar-benar dari alam diatas?" lalu melanjutkan membacanya.


"Aku menunggu ratusan tahun untuk menemukan penerusku, tapi aku gagal menemukannya, dan lukaku semakin parah, aku menuliskan surat ini, sesaat sebelum aku ma-." Surat itu berhenti tertulis, hanya ada coretan lurus diakhir, dengan kuas di lantai.


Evan merasa kebingungan dan bimbang, "Sadar Evan!" ucapnya menampar diri sendiri, dia lalu memasukkan beberapa buku yang ada ke dalam ruang spasialnya.


"Sekarang bagaimana caraku keluar?" gumamnya.


Dia membuka beberapa catatan lain, "Alam bawah sadar... ruang bawah sadar dibentuk sejak tingkat perak, dan semakin meningkat seiring tingkatan sihir."


"Tapi ada cara untuk mengundang orang ke alam bawah sadar, yaitu menggunakan formasi susunan yang aktif setelah memenuhi beberapa syarat."


"Ini tidak membantu, aku harus mencoba sendiri." Evan lalu berusaha berbagai cara, dan akhirnya mencoba seperti dia keluar sendiri.

__ADS_1


"Haha! ternyata cara keluarnya sama seperti keluar dari alam bawa sadar sendiri!" ucap Evan tertawa, tapi ekspresinya berubah serius, saat mengingat sosok sekuat orang itu.


"Gordon Reaver... apakah itu yang memunculkan mage berbakat dengan keluarga Reaver?" Evan bergerak lemas, mencari desa atau kota terdekat untuk ditinggali.


__ADS_2