Kedatangan Dewa Sihir

Kedatangan Dewa Sihir
5. Keadilan


__ADS_3

"Ti-tidak... dia berbohong." Saudaranya berkata, terlihat wajah ketakutan yang teramat sangat saat menanyai tentang ibunya.


"Simpan 5 koin perunggu, ceritakan kepadaku."


"Ibu kami terkena sakit aneh-," mulutnya di tutup oleh saudaranya, "Jangan Roy... ibu bisa disakiti!"


"Puah! tapi dengan 5 koin perunggu kita bisa membeli pil obat! ibu mungkin sembuh!"


"Omong kosong, aku sebenarnya telah menjual buku-bukuku untuk membeli pil obat kelas 1 dan itu tidak berefek!"


"Apa?"


Drama adik kakak ini terlihat konyol dan mengharukan, tapi topik masalah ini menyentuh hatinya, "15 koin perunggu dan ceritakan."


"Kau dengar itu Ray?! kita bisa membeli pil obat kelas 2! itu mungkin efektif." teriak Roy masih berusaha melepas penahanan saudaranya.


"Ka-kau... kau mungkin benar...." Ray perlahan melepas tahanannya, berbalik dan menghadap dinding api.


"Sekitar 2 tahun lalu, ayah kami tiba-tiba terkena kasus yang bukan salahnya, karena itu dia terpaksa berhutang untuk membayar jaminan."


"Awalnya hidup kami hanya sedikit menjadi sulit, tapi lama kelamaan, sikapnya berubah, dia sering berteriak sendiri dan memukul ibu, bahkan dia menjual Anne, adik kami."


Mata Evan melebar, pria terkutuk ini sama parahnya dengan ayahnya.


"Kami berusaha mencari Anne tapi kami malah menemukan bahwa dia sudah tewas dalam kasus perdagangan organ tubuh."


"Sejak itu ayah terus menggila, membuat kami bekerja dan mengemis, dan terus mengambil uang setiap dua minggu, jika kami tidak menyetornya, ibu akan dihajar dan dibawa pergi entah kemana, kembali dengan kelelahan."


Wajah Evan terus berubah, orang ini bukanlah manusia, dia iblis, karena dia belum memiliki tugas yang mampu diselesaikan, maka dia akan mengambil misi ini.


"Dan malam ini, kami harus menyetor 1 koin perak...."


"Pria bajingan, anak-anak ini jelas sering dihajar dan diperlakukan seperti ini. Bedanya mereka mungkin berhasil kabur atau saat tertangkap tidak dipedulikan ceritanya, namun ayah mereka meminta 1 koin perak?!"


"Apa kalian membencinya?" Evan bertanya dengan datar.


"Ya." Mereka berdua menjawab.


"Kalian ingin dia mati?" Evan bertanya lagi dengan nada lebih dingin.


"Ka-kami...." Roy kebingungan, sementara itu Ray berdiri dan menjawab, "Aku ingin dia mati!"

__ADS_1


"Bagus!" Evan menyeringai, dia akan memerlukan kelinci percobaan, dan kedua anak ini cocok, walau begitu dia akan memperlakukan mereka sebagai murid.


"Cepat bawa aku ke rumahmu!" Bahkan jika mereka tak ingin ayahnya mati, Evan akan membuntuti mereka dan membunuh ayah mereka.


Mereka berjalan melewati jalan sempit dan terus semakin kumuh, lalu sampai di sebuah gubuk kecil, melihat tempat ini dia kembali gemetaran, mengingat waktu diman ibunya meninggal.


Dia melihat seorang wanita yang cantik, "Tidak heran...." lalu dia mengamati wanita itu dan bertanya, "Jika aku menyembuhkannya, apa kalian akan mengikutiku?".


Mereka segera menjawab, "Tentu!" dengan senyum tipis dia memasukkan sebuah pil ke mulut wanita itu, perlahan-lahan memulihkan energinya.


"Ah...? dimana aku?" Wanita itu terbangun.


"Ibu!" Kedua anak itu memeluk ibunya, sementara itu Evan hanya bisa menyimpan rasa iri pada kedua anak ini.


"Nyonya, aku akan membawa anak-anakmu pergi-,"


"Jangan!" sela wanita itu.


"Jangan jadikan mereka budak!" lanjut wanita itu, kini dia semakin marah, kehidupan ini sangat buruk, dia kini merasa lebih beruntung.


"Tenang saja, aku akan mengajari mereka menjadi seorang Mage." Evan menjentikkan tangannya dan api muncul di telapak tangannya, mengagetkan wanita itu.


"Te-terimakasih Tuan Mage." Wanita itu bersujud, setelah memberikan modal 3 perak pada wanita itu, dia menunggu pria terkutuk itu, menyiapkan jebakan.


"Apa yang anda buat?" tanya Roy.


"Aku membuat susunan, kalian akan tahu nanti."


Waktu berlalu dan suara pintu digedor terdengar keras di penjuru ruangan.


"Roy Ray! berikan setoran minggu ini!" Kedua anak itu gemetaran di kaki Evan saat mendengar suara pria serak itu.


Evan menyadari kalau pria itu ternyata seorang Mage, tapi itu takkan sangat berguna.


"Aaggh!" Suara teriakan muncul.


"Keluarlah kalian!" perintah Evan.


Dia keluar diikuti oleh Roy, Ray dan ibu mereka.


"Siapa kau!?" tanya pria itu berusaha melepaskan susunan di kakinya.

__ADS_1


Sebelum pria itu sampai, dia memutuskan untuk membuat jebakan elemen tanah dan mengunci kaki pria itu.


Evan masih tak menjawab, menyadari elemen pria itu adalah air karena susunan tanahnya terus melemah.


Evan melompat maju, "Dinding api!", api menghalangi jalan belakang pria itu.


""Semburan api!" Api dari kedua tangan Evan menyembur ke pria itu, tapi dia sempat menangkis, "Penghalang air!"


Evan melompat mundur, elemennya tidak memiliki keuntungan terhadap elemen air, jadi dia harus membuat pria itu terluka parah.


Saat mendarat dia melihat bahwa pria itu sudah menembus dinding api, dengan cepat Evan mengeluarkan pistol dan menembak beberapa kali di kaki.


Dor dor dor!


Pria itu terjatuh dan masih mencoba kabur dengan merangkak, sementara itu Evan menggunakan mantranya, "Kurungan tanah!" tanah naik dari sekitar kaki pria itu menguncinya, saat pria itu mencoba membasahinya dia gagal.


"Apa?" ucap pria itu bertanya-tanya.


"Kalian... selesaikan dia." ucapnya menoleh ke Ray, Roy dan ibu mereka, menunjuk pria yang sudah membuat hidup mereka sengsara sekarang tidak berdaya.


"Kalian bisa membunuhnya, atau aku yang akan membunuhnya, terserah kalian." Evan melanjutkan masuk ke dalam, melanjutkan makannya.


Dari dalam ruangan, Evan mendengar erangan pria, Evan sangat menikmatinya karena tujuan pertamanya selesai, walau hanya tujuan sampingan.


"Sayang sekali aku tak bisa mengambil elemen airnya." desahnya pelan, jika dia mendapat elemen air, maka dia akan sangat dimudahkan, karena air adalah elemen paling serbaguna.


Setelah itu dia keluar setelah menghabiskan makanannya, "Sialan, pria ini kaya!" gumamnya melihat harta-harta di tas.


"Aku akan mengambil semua peralatan dan berkisar 40% sementara kamu mengambil semua uang dan benda berharga biasa." ucap Evan ke wanita itu.


Wanita itu mengangguk dan berbicara untuk terakhir kalinya kepada anak-anaknua sebelum Evan akan membawa mereka berdua ke penginapannya.


"Kalian ingin belajar sihir?" tanya Evan menoleh ke mereka berdua.


Tentunya mereka mengangguk, "Baiklah, tapi tidak gratis, kalian harus membantuku dalam penelitian, setuju?" Mereka berdua saling menatap lalu menjawab dengan tegas, "Setuju!"


"Kalau begitu ikut aku ke penginapanku." ucap Evan, setelah berjalan beberapa menit, mereka akhirnya sampai.


"Sempit bukan? karena aku lebih suka tinggal di alam bebas." ucap Evan saat melihat ekspresi kedua anak itu.


"Sekarang duduk dan hirup nafas dalam-dalam, pusatkan konsentrasi ke jantungmu dan saat kau merasakan sesuatu, segera pusatkan perhatianmu di sana dan edarkan ke seluruh tubuh." jelas Evan dengan santai.

__ADS_1


"Sialan, bakat apa itu, jika bukan karena kebangkitan bakat dalamku, aku bahkan tak sebanding." gumam Evan kaget, tapi dia senang, jika mendapat murid jenius, tentu saja akan meningkatkan reputasinya dan kekuatannya.


__ADS_2