
Ray dan Roy mengikuti Evan berjalan ke hutan, mereka tidak takut sedikitpun, karena Roy yang sudah mencapai Perunggu bintang 1 bisa membunuh monster-monster yang berkeliaran.,
Setiap ada suara, dari dahan pohon, rerumputan ataupun semak-semak, Roy segera melemparkan petirnya, membunuh monster lemah tanpa sempat mereka sadari.
Tidak lama mereka sampai di sebuah tanah lapang, dengan jentikkan jari naik sebuah tanah membentuk sebuah gua dan tembok.
"Bentuk!" Setelah cukup aman, Evan memasang susunan api dan menyalakan api unggun.
"Baiklah Ray, ambil ini." Evan memberikan sekantung tanaman herbal, sebuah tungku seukuran kepala manusia serta beberapa buku kepada Ray.
Evan juga memberikan sebuah lembaran kertas berisi metode meditasi yang cocok untuk Roy, Bintang Guntur.
Evan lalu mengambil sebuah batu dan memberikan kepada Roy, "Masukkan sihir petirmu."
Tangannya lalu diselimuti petir, dan perlahan terhisap ke batu yang perlahan-lahan berwarna ungu, lalu Roy mengembalikannya ke Evan.
"Lagi." Evan lalu terus melempar batu-batu itu ke Roy, sementara dia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, "Apa ini?".
Evan terus melempar batu sambil menjawab, "Itu Batu Elemen belum terisi, aku akan menggunakannya sebagai medan latihanmu, katena metode meditasimu membutuhkan serangan petir ke diri di beberapa titik."
Roy mengangguk, mengikuti perintah Evan terus mengisi petir ke batu elemen.
Sementara itu, beberapa batu elemen berelemen api diberikan kepada Ray, karena kendali apinya masih lemah.
Sementara itu Evan melanjutkan pelatihan susunannya.
Membuat sekitar 10 susunan dengan 7 diantaranya berdasar lingkaran, perbedaan kombinasi dia coba.
Ada model telapak tangannya di salah satu susunan segilima, dan saat dia meletakkan tangannya, itu benar-benar tidak aktif.
"Roy, letakkan tanganmu." perintah Evan menunjukkan ke sebongkah batu yang susunannya telah tersembunyi.
Roy mengangguk, dia meletakkan tangannya dan tiba-tiba menjerit, "Aakhh! Panas." Dia meniup tangannya dan melompat-lompat.
Evan mengangguk, "Jadi hanya membiarkan seseorang?" ucapnya menyimpulkan dengan pose "Bijak".
"Terimakasih Roy, lanjutkan sisa batu elemennya."
Sementara itu Evan melihat bahwa Ray telah di tahap akhir pembuatan pil, penyulingan ampas dan kotoran.
Evan mendekat tanpa mengganggu konsentrasi Ray, mengawasi penyulingan dengan seksama.
Ray berkeringat dingin, terlihat jelas dari kulitnya yang pucat bahwa dia menghabiskan hampir seluruh mana dan tenaganya.
__ADS_1
Evan berbalik menghadap Roy, meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, dengan suara desisan pelan.
Roy mengangguk dan mengacungkan jempol, mulai melanjutkan proses memasukkan mana petirnya ke batu elemen.
Tungku mulai berasap, tanda bahwa pil sedang mengeluarkan gas berlebihan dari pil, yang artinya takkan lebih dari semenit sebelum pil akan dikeluarkan.
Asap awalnya berwarna putih tembus pandang, perlahan-lahan berubah menjadi kelabu dan hitam gelap, lalu cahaya muncul dan tungku terbuka.
10 butir pil keluar dari tungku dan melayang ke tangan Ray, Ray membuka mata dan menghembuskan nafas panjang.
Evan lalu mendekat, "Biar aku periksa." Dia lalu meraih 10 butir pil yang diserahkan Ray.
"Jumlah 10 butir ... rata-rata. Tanpa corak ... Rata-rata."
Evan lalu menelan pil itu satu demi satu, "Harum ... Diatas rata-rata. Keberhasilan 7 dari 10 pil ... Keberhasilan diatas rata-rata. Khasiat 2% lebih tinggi ... Keahlian diatas rata-rata." Evan tersenyum lalu mengacungkan jempolnya, "Bagus kau berbakat."
Evan melemparkan dua botol pil pemulihan mana dan tersenyum lalu berkata, "Buat pil penyembuhan kelas 1 lagi, besok akan ku jual. Keuntungan 50 aku, 40 kau, 10 Roy, tentu saja dengan koin atau teknik jika kalian mau."
Sementara itu Evan akhirnya memutuskan untuk bermeditasi dengan konsentrasi 70%.
Teknik meditasi Evan mampu membuatnya bermeditasi dengan konsentrasi diambang batas 20% sehingga sisanya bisa dia pakai untuk mempelajari teknik, tapi kali ini Evan penasaran seberapa efektif meditasi 70%.
Evan memejamkan mata, menutup seluruh indra kecuali pendengaran dan memusatkan 70% konsentrasi ke meditasi sementara 30% ke pendengaran.
Sementara itu Evan menyerap mana api dan tanah, sayangnya mana api di hutan ini sedikit, jika dia menarik terlalu keras, maka api akan padam dan bara api Ray juga akan pecah, dia sudah menghabiskan mana buatan dari jantungnya.
Mana buatan adalah mana yang dibuat dari jantung, itu akan bertambah seiring tingginya tingkat budidaya tapi tingkat budidaya lebih tinggi membutuhkan lebih banyak juga, tapi di tingkat emas, seseorang sudah bisa mengubah mana universal menjadi mana elemen tapi itu masih memerlukan beberapa minggu atau bulan lagi.
"Selesai!" ucap Roy setelah menyelesaikan batu elemen terakhir, tapi dia kelelahan dan beristirahat, Evan juga sadar melalui pendengarannya. Sementara itu Ray melakukan dengan baik, tingkat keberhasilannya terus meningkat setelah 5 kali percobaan, sehingga untuk pil penyembuhan kelas 1, Ray sudah mencapai tingkat jenius, keberhasilan 10 dari 10 pil.
Sementara itu Evan menembus bintang ke-8 dan telah berada di puncak bintang 9, takkan lama sebelum mencapai tingkat perak.
Evan lalu menembus ke tingkat perak, meluncurkan energi mana ke penjuru kubah, memecahkannya, bersamaan dengan itu Roy dan Ray terbangun dari tidurnya, sementara Evan membuka mata setelah melihat cahaya matahari.
"Tingkat perak... Cukup untuk melakukan kampanye di Iron Valley."
Kerajaan Silverlight memiliki 9 provinsi, dengan Iron Valley paling utara, di tengah benua, kerajaan Silverlight sendiri merupakan kerajaan dengan laut terluas di benua sehingga kemakmurannya paling tinggi berada di daerah sana.
Tingkat perunggu sangat langka di pertengahan benua, sementara itu di antara pertengahan dan ujung benua, tingkat perunggu sudah cukup umum, digantikan oleh tingkat perak yang langka, dan di daerah ibukota dan sekitar Akademi Golden Tail, tingkat perak mulai menjadi umum sementara perunggu terlihat dimana-mana, untuk tingkat emas hanya dimiliki oleh Tetua akademi, Raja, dan Pangeran.
Evan lalu mengambil semua pil dan batu elemen petir, kembali ke penginapan terlebih dahulu.
Di lantai kamar Roy dan Ray, dia membuat susunan dari batu elemen petir, itu hanya meletakkan, dan titik meletakkannya sudah dilingkari oleh Evan, Roy bisa melakukannya sendiri sekarang.
__ADS_1
"Ray, kau pulihkan tenagamu, aku akan pergi membeli batu elemen api." Ray lalu duduk di kasur dan mulai bermeditasi, sementara Roy dikelilingi bintang petir juga mulai bermeditasi, Evan pergi keluar dan pergi ke toko sebelumya.
"Beli batu elemen lagi?" tanya pria penjaga toko sedikit gelisah, "Maaf tuan, tapi kami kehabisan batu elemen." Pria itu meminta maaf. Evan mengangguk lalu pergi, dia paham bahwa di pertengahan kota batu elemen cukup langka.
"Kurasa aku akan bertualang lagi." Dia segera kembali ke kamar.
"Roy, Ray, setelah bermeditasi, kita akan pergi ke suatu tempat." Mereka berdua saling pandang dan mengangguk.
Walau awalnya Evan ingin pergi untuk mencari batu elemen, dia mengetahui sebuah lokasi berisi urat bijih Batu Mana.
Batu mana adalah material pengganti uang bagi para Mage, karena koin sangat mudah di dapat bagi mereka, namun Batu Mana berbeda, itu berisi mana yang dapat di konversi menjadi mana elemen.
Tapi pertama-tama dia harus pergi ke tempat Manusia kurcaci, agar mereka membuat jalan ke sana, karena sebenarnya jaraknya hanya 100 kilometer, dan Manusia kurcaci terbiasa membuat terowongan.
"Tuan, kami akan pergi dulu, sebaiknya jangan masuk ke kamar kami." ucap Evan tersenyum memberikan 2 koin perak tambahan, dia puas dengan fasilitas disini.
Setelah Evan pergi, pria itu tak bisa menahan gemetarnya, dia segera berlari memanggil putrinya, "Jangan buka kamar kedua orang itu... Berbahaya."
Evan lalu naik ke kereta kuda, Roy dan Ray duduk di belakang, mereka juga membawa sebuah peti, alasannya karena cincin spasial memiliki ruang terbatas, dia akan membawa beberapa di peti jika tak terlalu penting.
"Kita kemana?" Roy bertanya setelah melihat kereta kuda mulai bergerak.
Evan di depan yang menggerakkan kereta kuda menjawab dengan santai, "Ke tempat manusia kurcaci, dari sana akan lebih mudah."
Beberapa waktu berlalu, "Berapa lama kita akan sampai?" Ray berkata lemas.
"Jika kita berjalan memerlukan dua hari, mungkin kita memerlukan 1 hari untuk sampai."
"Kalian belum makan?" tanya Evan, melihat bahwa mereka mengangguk setelah menoleh dia mengeluarkan makanan dan menyuruh Roy yang lebih bertenaga mengambilnya.
Evan sendiri masih bermeditasi dengan 20% konsentrasi, sebab itu dia tak kelelahan ataupun kelaparan, karena dengan bergerak, mana akan terus berubah-ubah sehingga takkan ada keminiman mana.
"Santai saja makannya, tidak lucu jika kau mati karena tersedak."
Perjalanan berlanjut, tapi kini, jalan yang awalnya jalan setapak sudah tidak ada lagi.
Untungnya ada jalan yang bersih dari bebatuan untuk sampai di gua.
Sama seperti Evan, Roy dan Ray terkagum-kagum akan kemegahan tempat ini, juga Evan puas dengan kemajuan cepat.
"Dimana tetua?" tanya Evan kepada salah satu kurcaci, dia lalu menunjuk ke salah satu gedung terbesar yang segera dituju Evan bersama dengan Roy dan Ray.
"Halo tuan Evan." sambut pria tersebut melihat Evan masuk.
__ADS_1