Kehamilan Remaja Yang Tidak Direncanakan

Kehamilan Remaja Yang Tidak Direncanakan
Chapter 10


__ADS_3

Felix's POV


Kemarin gue kecewa sama Ayah, tapi gue gak heran kenapa mereka sampai semengecewakan itu. Gue dapat karma entah yang keberapa, jadi impas kan? Seimbang? Sama-sama saling mengecewakan.


Gue maklum karena gue juga pernah egois, gue pernah mau menyelamatkan diri gue dari masalah ini dengan minta Lira aborsi. Tapi, akhirnya gue berubah pikiran kan? Gue juga sudah berencana mau ngomong jujur sama Ayah-Bunda. Tapi, ternyata mereka tau duluan.


Terus kenapa waktu itu gue berubah pikiran dan ngajak Lira untuk rawat janin itu sama-sama? Jawabannya gue sadar, gue gak tega darah daging gue jadi sampah juga. Rasanya aneh ngomongin tentang darah daging, tapi ya mau bagaimana lagi, emang darah daging gue and maybe will be my life.


Gue masih percaya kalau setiap kejadian di hidup ini pasti ada campur tangan Tuhan. Mungkin ini sudah takdir gue dan Lira untuk jadi orang tua janin itu, sebaliknya takdir janin itu punya orang tua kaya kami.


Untuk hubungan gue sama Lira, gue masih belum tau. Intinya saat ini gue harus jaga Lira karena gue gak mau anak gue akhirnya jadi piatu.


Kemarin gue marah sejadi-jadinya, gue ninju cermin dan setiap kaca di jendela kamar gue. Sampai akhirnya Ayah manggil temannya, dan temannya itu nyuntikkan gue Diazepam. Separah itu? sampai disuntik Diazepam?


Malamnya pas gue bangun, di sebelah gue tenyata ada Ayah sama Bunda, Bunda lagi ngelus kepala gue. Di saat itu juga gue bilang sama mereka biar gue yang nikah sama Lira. Gue ngomong berlagak dewasa. Gue bilang gue mau tanggung jawab dan gue bakal nerima anak itu.


Tapi, perkataan mereka saat itu bikin gue mikir dua kali untuk nikah sama Lira. Karena secara gak langsung mereka bilang kalau gue belum pantas jadi orangtua.


Kalau dipikir-pikir Om Bani adalah orang yang paling pantas, umurnya 25 tahun, sudah kerja, punya rumah, punya tabungan. Om Bani juga bilang kalau dia mau nikahi Lira dan bakal nerima anak itu. Sementara gue? Sekolah aja belum lulus.


Gue bingung, disatu sisi gue gak mau Lira dan anak itu menderita kalau hidup sama gue, dan di sisi lain gue juga gak rela anak gue diambil sama orang lain.


Bunda bilang gue harus ngasih tau Lira alasan kenapa beliau mau nikahkan dia dengan Om gue. Tapi gak tau kenapa gue berharap Lira milih gue untuk nikahin dia.


***


Author's POV


Sesuai dengan apa yang ibu Lira minta, hari ini Ayah, Bunda, Om Bani, dan Felix berkunjung ke rumah Lira. Padahal Ayahnya melarang ikut tapi Felix memaksa, "Pengen lihat Lira." Katanya.


Di ruang tamu, para orang tua dan Om Bani sedang berdiskusi. Sementara Felix memilih mendatangi Lira ke kamarnya.


"LIRA!" Bentak Felix saat melihat gadis itu sedang menahan jeritannya dengan menggigit kuat bibir bawahnya hingga membiru, serta tangan kanan yang mengenggam erat tangan kirinya yang sudah mengeluarkan darah.


Felix langsung menghampirinya dan ikut mengenggam erat pergelangan tangannya agar darah berhenti keluar.


Orangtua yang tadinya di ruang tamu berbondong-bondong melihat apa yang terjadi. Dan tentunya mereka terkejut tidak menyangka hal ini terjadi di depan mereka.


Sementara Lira, tubuhnya mulai melemah dan akhirnya pingsan.

__ADS_1


"Kita bawa ke rumah sakit." Ucap Om Bani dengan cepat menggendong Lira. Sementara Felix masih ngenggam tangan Lira. Semua orang panik.


Di rumah sakit Lira segera ditangani, untung saja pisau itu hanya menyayat kecil urat nadinya tidak sampai memutusnya dan kali ini juga jadi pertama kalinya Lira periksa kandungan.


Dia hamil sudah 3 bulan, kondisinya buruk, dia depresi, berat badannya turun drastis, sistem kekebalan tubuhnya lemah, dia menderita Anemia, janinnya pun lemah.


Kejadian hari ini bikin Ibu Lira, Felix dan yang lainnya sadar bahwa Lira benar-benar menderita dan putus asa. Mentalnya hancur bukan lagi terguncang.


Dokter bilang Lira harus selalu diawasi karena dikondisi yang buruk seperti itu keinginan untuk menghabisi nyawa dapat muncul kapan saja.


Setelah Lira dipindahkan ke ruang rawat inap, Ayah, Bunda dan Om Bani memilih pulang. Untungnya kali ini Ayah biarkan Felix untuk tetap di sini, membiarkannya menemani Lira.


Lira masih terlelap, dengan cairan infus Kristaloid jenis Ringer Laktat yang berada di kantung steril dengan secara teratur mengalir di dalam selang menuju pembuluh darahnya.


"Felix, Tante nda maksa kamu nikahi Lira, tapi itu satu-satunya solusi." Ujar Ibu di tengah keheningan antara mereka. "Jujur, Tante kecewa kenapa Bapak mu nyuruh Om mu gantikan kamu. Ini bukan perkara siapa yang pantas, tapi siapa yang harus tanggung jawab. Menurut mu bagaimana? Kamu setuju Om mu yang nikah sama Lira?"


"Saya takut Lira sama anak itu jadi menderita kalau nikahnya sama saya, untuk makan aja saya masih minta orangtua." Jelas Felix.


"Pasti ada jalannya nak, rezeki mu ada dimana aja, bahkan anak itu bisa jadi ladang rezeki kalian, asal kamu mau usaha. Kalau bisa milih, tante pasti milih Lira gak nikah, tapi mau bagaimana lagi, terus kalau disuruh milih antara kamu dan Om kamu, tante milihnya kamu."


"Ke-kenapa?" Tanya Felix.


Setelah itu, Felix hanya diam memikirkan perkataan tersebut.


"Kamu pulang aja dulu, pikirkan baik-baik, habis itu bicarakan ke orangtua mu." Felix pun hanya mengangguk kecil dan berlalu dari ruangan itu.


***


Di rumah, Felix memikirkan kembali apa yang di katakan oleh Ibu Lira.


Malam hari dia mencoba membicarakannya dengan orangtuannya.


"Yah, Felix gak setuju kalau Om Bani yang nikah dengan Lira."


"Kamu maunya apa? Nikah itu bukan mainan."


"Felix mau tanggung jawab Yah, itu anak Felix."


"Ck. Kamu pikir tanggung jawab cuman sebatas nikah aja? Habis nikah kamu harus membiayai Lira sama anak itu, kamu bertanggung jawab sama segala sesuatu yang ada di mereka, mereka itu manusia Lix, bukan mainan. Kamu juga harus jadi pemimpin, kamu jadi yang dicontoh. Kamu sanggup?" Jelas Ayah.

__ADS_1


"Felix pasti usahakan Yah." jawab Felix ragu.


"Kamu harus rela nahan lapar biar anak istri mu bisa makan, kamu punya usaha apa? Punya uang berapa?" Ketus Ayah.


"Iya Felix juga sudah pikirkan itu, Felix janji bakal kerja keras."


"Kamu yakin Lix?" Tanya ayah sambil tertawa merendahkan. "Terus kamu putus sekolah?"


"Felix bisa ambil paket C."


"Ck." Ayahnya berdecak kesal.


"Mau bagaimana lagi Yah, yang Felix bilang itu juga ada betulnya." Ucap Bunda setelah dari tadi hanya menyimak.


"Oke. Kamu nikah sama Lira, kamu kerja, jangan minta uang sama Ayah atau Bunda lagi, kamu tinggal di rumah Lira, kamu cuman boleh bawa pakaian sama HP, sisanya mobil, motor Ayah ambil. Mau kamu?"


"Yah jangan keterlaluan, dia masih anak kita, biarkan dia bawa motornya, biar dia bisa kerja. Kendaraan itu penting." Ujar Bunda.


"Bagaimana Felix?" Tanya Ayah lagi mengapaikan perkataan bunda.


"Iya yah Felix mau."


"Terus kamu mau nikah, pake uang siapa?"


"Uang tabungan Felix masih ada."


"Berapa?"


"Sekitar tujuh jutaan."


"Felix bukannya bulan lalu kamu bilang tabunganmu ada 12 juta ya?" Tanya Bunda.


"E-empat jutanya Felix pake."


"Untuk apa nak, kamu beli apa?"


"Sudahlah Bun. Nyesal kan kamu habis foya-foya ngabiskan uang 4 juta, gak ada juga bukti barangnya." Omel Ayah. "Ya sudah, cukup gak cukup, ingat kamu juga harus ngumpul uang untuk biaya lahiran." Lanjut ayah.


"I-iya." Ucap Felix gugup.

__ADS_1


__ADS_2