
Malam ini, ditengah jatuhnya bulir-bulir besar air yang terasa nyeri ketika mengenai kulit dan gemuruh cambuk malaikat yang berkilat, Felix berjalan menyusuri gang yang gelap itu, tak jarang kakinya menginjak lubang yang berair.
Air hujan menyamarkan air matanya, gelap menyamarkan raut pilunya. Ia menuruti perintah sang Ayah untuk meminta ampun dan tidak kembali lagi ke rumah.
Sesampainya di depan rumah Lira, tubuhnya terpaku, bagaimana ia harus memulai, apa yang harus dikatakan. Rasa takut ini membunuhnya dari dalam seperti menombak jantungnya. Seharusnya dia datang membawa buah tangan dan didampingi orangtua bukan kondisi seperti ini yang sedang basah kuyup dengan tubuh menggigil.
Tok tok tok
"A-assalamualaikum." Salam Felix kecil membiarkan suara hujan menandingi suaranya.
Tok tok tok
Ketuknya lebih keras.
Tidak ada yang membukakan pintu, hujan yang lebat ini membuat semua orang tuli sesaat.
Laki-laki itu terkejut saat petir menyambar lebih keras lagi, ia segera berjongkok menutup telinganya dan memejamkan matanya rapat-rapat.
He's paralyzed, that slowly killing him.
Dia kehilangan dirinya yang tangguh.
Kemarahan orang tuanya membuat lupa bahwa anak satu-satunya ini punya sedikit trauma dengan suara petir atau mungkin mereka sudah tidak perduli lagi.
Tok tok tok
Kali ini ia mengetuk jendela kaca di rumah itu.
Kreett
Tidak lama kemudian pintu akhirnya dibuka.
"Ada apa ya?" Tanya Ibu.
"S-saya Felix, teman Lira."
"Liranya sudah tidur, ada apa ya sampai hujan-hujan begini?"
"S-saya mau ketemu Lira."
"Kalau begitu tunggu sebentar ya, ibu panggilkan Lira dulu."
Tanpa menunggu respon dari Felix, ibu Lira cepat-cepat menutup pintu juga menguncinya lagi.
"Ra, Lira, bangun nak, ada orang yang nyariin kamu." Ujar ibu menepuk-nepuk kaki Lira yang tengah tidur.
"Emmm?"
"Ibu takut orang mau ngrampok, hujan-hujan begini." Mendengar penjelasan itu Lira langsung bangun dan beranjak dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Ibu gak biarkan dia masuk kan? pas rampok beneran bu."
"Nda, nda, tapi kayanya masih nungguin di luar, katanya mau ketemu kamu."
"Siapa?" Tanya Lira mendekati jendela dan mengintip keluar. "Felix...dia mau ngapain." Benak Lira.
"Ya ampun! Felix!" Ucap Lira dengan buru-buru membuka pintu karena terkejut melihat Felix yang tiba-tiba sempoyongan.
Setelah membantu Felix masuk, ibu menyuruhnya mengganti baju dengan bajua milik Ayah. Sementara Lira sedang di dapur membuatkan teh hangat.
"Ra, teman kamu itu kenapa? Ini sudah malam." Tanya Ibu yang bertambah khawatir, masalahnya hanya mereka berdua di rumah ini, beliau takut jika Felix berniat jahat.
"Nanti Lira tanyain Bu." sejak tadi Lira mencoba tenang, meyakinkan diri bahwa pikiran negatifnya saat ini tidak akan jadi kenyataan.
Sambil membawa segelas teh, Lira terus menatap mata Felix meminta penjelasan lebih dulu tanpa sang ibu tau.
"Namanya siapa? kok sampai hujan-hujanan." Tanya ibu ramah.
"Tante, saya mau jujur, saya.." belum selesai berbicara, laki-laki itu lagi-lagi sibuk menahan air matanya yang tiba-tiba hendak terjatuh.
"Loh kenapa nak?" Heran sang ibu. Bagaimana tidak, ini adalah pertama kalinya teman Lira berkunjung kerumah apalagi laki-laki dan ditengah hujan seperti ini. Sepenting apa?
Lira hanya diam, juga menahan air matanya, dia sudah mulai mengerti apa tujuan Felix ke sini, tapi sungguh rasa takutnya membuat dia membisu dan mematung.
"Lira hamil anak saya Tante." Ucap Felix cepat.
"Kamu. Hamil?!" Tanya Ibu.
Lira tidak menjawab, tangisnya malah makin menjadi.
"Betul Lira?" Tanya ibu lagi dengan suara meninggi, beliau sampai mencengkram pundak anaknya itu. Tidak, beliau tidak sampai menjatuhakan air mata meski di pelupuk matanya sudah penuh dengan air.
Lira masih tidak mau menjawab, tapi bukankah tangisannya telah menjawab semuanya? Mengapa ia tidak mengelak saja dari pada menangis?
"Ya Allah...dosa apa? Kenapa sampai begini?" Ucap ibu sambil memeluk Lira. "Mas, kenapa Mas nda ajak aku juga kalau akhirnya begini?" Lanjut ibu bermonolog sendiri.
"Ra, Lira kamu betul kan anak Ibu, kenapa kamu begitu nak?" Tanya ibu sambil menggoyang-goyangkan pundak Lira.
Sungguh melihat kondisi ibunya yang seperti ini Lira benar-benar menyesal, ia juga takut jika penyakit ibunya kambuh.
"Orangtua mu mana?" Tanya ibu lemah dengan masih memeluk Lira erat.
"S-saya diusir."
"Sekarang jujur ceritakan semuanya kenapa sampai begini, Lira ibu bunuh diri kalau kamu bohongi ibu." Ancam ibu mencoba tegar dan berusaha mencari jalan tengah dari permasalahan tersebut.
Saat itu juga mereka menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, baik dari sudut pandang Lira ataupun sudut pandang Felix sendiri, ia juga menceritakan bagaimana orangtuanya mengetahui permasalahan ini.
"Besok saya mau ketemu sama orangtua mu. Kamu diusirkan? Nginap di sini aja dulu, tapi kamu tidurnya disini, di ruang tamu." Ucap ibu final. Setelah mengatakan itu, beliau langsung bergi kembali ke kamar.
__ADS_1
Lira juga tanpa mengatakan sepatah kata pun kembali ke kamar dan menutup pintu keras.
Tinggallah Felix di ruang tamu sendirian dengan perasaan kacau balaunya.
***
Keesokannya, pagi-pagi sekali Ibu, Lira dan Felix sudah dalam perjalanan menuju rumah laki-laki itu. Meskipun saat ini, Felix dalam keadaan demam ia tetap mengusahakan dirinya menemani Lira dan ibunya ke rumahnya.
Dalam kondisi seperti ini, salah satu pihak harus mengalah dan yang paling parahnya harus mau disalahkan. Seperti yang dilakukan ibu Lira, beliau mengabaikan egonya untuk datang langsung dan membicarakan masalah ini ke orangtua pihak laki-laki. Kasarnya, meminta pihak laki-laki menikahi anak perempuan satu-satunya. Karena menikahkan mereka adalah solusi terbaik.
Pintu masih belum dibuka padahal. El telah dipencet berkali-kali, Felix juga sudah menebaknya dari awal, ini masih pagi, pembantu rumah tangga dan bundanya pasti sibuk di dapur.
Seperti orang asing yang tidak pernah menginjakkan kaki di rumah itu, Felix hanya ikut menunggu dibukakan pintu, padahal dulu, jika pintu sudah dikunci ia akan ke samping rumah mengetuk jendela kamar pembantunya dan minta dibukakan pintu.
Sampai akhirnya pintu besar yamg terbuat dari kayu jati itu dibuka.
"Ibu, bapak, mereka datang." Teriak pembantu itu saat melihat bahwa mereka lah yang datang. Pembantu itu juga tidak langsung menuyuruh mereka masuk, saat melihat Bunda dan Ayah Felix menuruni tangga barulah ia mempersilahkan mereka masuk.
Diruang tamu suasananya sangat tegang. Ibu Lira seperti bertamu membawa dua anak, karena Felix duduk sejajar dengannya menghadap tuan rumah.
"Pak, Bu bagaimana ini? Kasihan anak kita." Ucap ibu membuka pembicaraan.
"Ini yang hamil?" Tanya Ayah sambil menyorot Lira.
"Ada baiknya Bapak dengarkan anak-anak dulu." Lanjut ibu.
"Ya sudah saya dengarkan."
Ibu kemudian menatap Lira, memintanya untuk menjelaskan semuanya lebih dulu, tak lupa ia meminta maaf kepada mereka Kemudian dilanjutkan oleh Felix.
"Begini, baik Felix, anak ibu juga masih muda. Masih harus menuntut ilmu. Kalau ibu kesini dengan maksud meminta kami bertanggung jawab, kami pasti tanggung jawab. Tapi, Felix masih terlalu muda untuk nikah, jadi kami sarankan anak ibu menikah dengan Om nya Felix." Jelas Ayah.
Mendengar itu ibu terkejut bukan main. Jelas-jelas Lira juga pihak yang dirugikan, mengapa seakan-akan hanya Felix yang harus dilindungi dan dikeluarkan dari masalah ini.
"Nama Om nya Felix, Arbani Setiawan, dia adik saya yang masih muda. Belum menikah juga." Jelas Ayah untuk meyakinkan Ibu.
"Saya kesini untuk membicarakan baik-baik supaya semua pihak imbang, tidak ada yang merasa diuntungkan ataupun dirugikan. Dengan gampangnya Bapak mengeluarkan anak Bapak dari masalah ini dan membiarkan adik Bapak menggantikannya. Pak...kalau seandainya saya harus mati dulu baru semua ini kembali seperti semula saya rela Pak." Jelas ibu yang setelah itu menumpahkan tangisnya, merasa kecewa.
Semua orang disitu hanya diam, para ibu sibuk menangis. Felix juga dari tadi diselimuti oleh rasa marah dan kecewa dengan sikap orang tuanya. Sementara Lira terus berbenak "I don't wanna be alive, I just wanna die right now."
"Bu, hari ini cukup sampai sini saja, nanti kita bicarakan lagi. Untuk yang jebak mereka biar saya yang tangani."
"Nanti kapan Pak? Anak saya hamil cucu Bapak, perutnya mulai membesar Pak. Saya, saya tunggu Bapak besok di rumah saya. Saya mohon pikirkan juga anak saya Pak jangan egois." Ucap ibu dangan tangisnya.
Melihat kondisi ibunya yang sudah tidak baik-baik saja, Lira membawa ibunya untuk keluar dari rumah itu dan pulang.
Felix yang ingin ikut bersama mereka pun dicegah, ayahnya menarik paksa tangannya mengurungnya dikamar. Dan menyuruh pembantu untuk segera
menutup pintu.
__ADS_1