
Setelah mengucapkan ijab kabul, para saksi mengucapkan 'sah'. Maka hari ini, Minggu, 2 Agustus 2020 Felix dan Lira resmi menjadi suami istri.
~🌹~
Acara malam ini adalah serangkaian pernikahan mereka yang terasa paling syahdu, juga bagian dari pernikahan yang tidak kalah sederhana dari prosesi pengucapan janji suci tadi pagi. Felix dengan badan tegaknya duduk bersila di lantai yang sudah berlapis ambal, di sebelah kanannya ada Lira yang duduk bersimpuh, kemudian di sebelah kirinya ada ustad yang sedang memanjatkan doa. Bukan hanya mereka, semua kerabat dan sahabat Felix juga ikut duduk melingkari segala macam makanan di depannya, menengadahkan telapak tangan tak lupa mengaminkan segala permohonan.
Selametan adalah usaha yang orang tua lakukan untuk menjaukan rumah tangga dan kehamilan Lira dari malapetaka. Setelah berdoa, semua tamu undangan kemudian diperbolehkan menyantap makanan yang dihidangkan. Namun, acara syukuran kali ini sedikit berbeda karena setelah mencicipi sedikit makanan di depannya, ustad, Felix dan Lira kemudian memisahkan diri dari tamu undangan, mereka ke gazebo yang ada di belakang rumah. Lagi-lagi hal itu adalah keinginan dari Ayah Felix, tidak lain meminta Ustad untuk memberikan nasihat dan renungan mengenai pernikahan.
"Mulai hari ini kalian menjadi satu kesatuan, Felix adalah pakaian Lira, Lira adalah pakaian Felix. Dua Hati, dua jiwa yang dulunya berserakan sekarang sudah bertautan. Mulailah mencintai karena Allah, jujur dan saling mempercayai adalah beberapa dari sekian ribu komponen yang harus kalian pegang. Kalian berdua saling melengkapi, saling menutupi kekurangan, bersedia berkorban untuk kebahagiaan, memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing serta bekerja sama membangun rumah laksana surga. Jadikan pernikahan ini adalah sekali seumur hidup kalian. Sayangi anak kalian, diluar sana banyak keluarga yang menambakan anak dan kalian beruntung, Allah sudah mengizinkan seorang anak menumpang di rahim Lira dan menitipkannya ke kalian." Jelas Ustad secara bergantian memberhatikan Felix dan Lira yang duduk di hadapannya.
Sambil menyentuh pundak Felix beliau melanjutkan perkataannya, "Kalian memang masih muda, tapi InsyaAllah, Allah ridho. Untuk Felix sekarang sudah jadi suami, pernikahan ini akan menyinkap semua rahasia entah baiknya atau buruknya istrimu, maka terima dan perbaikilah dengan sabar. Lira yang kamu nikahi memang bukan setabah Fatimah, setaqwa Aisyah, tapi ia adalah perempuan yang akan mengurusmu sampai akhir hayatnya. Lira adalah murid dan kamu adalah guru atau pemimbinanya, Lira adalah madu maka teguklah sepuasnya. Jangan pernah memukul istri mu sebesar apapun kesalahanya, jangan sekali-kali mengucapkan ataupun membenakkan kata talak." Jelas Ustad dengan menekan kalimat terakhir yang dikatakannya.
"Untuk Lira, dinikahi Felix akan menyingkap semua rahasiannya, maka terimalah dan perbaikilah dengan sabar. Suamimu memang tidak segagah Musa, tidak semulia Muhammad, tapi dia adalah laki-laki yang akan membimbingmu ke surga, yang akan bekerja keras agar kamu bahagia. Felix adalah raja dan kamu yang menikmati singgasananya, Felix adalah bisa maka kamu adalah penawarnya. Patuhi suami mu selama itu benar di jalan Allah." Jelas ustad lagi.
Setelah semua penjelasan itu Ustad tidak lagi bersuara, ia membiarkan Felix dan Lira terhanyut dalam renungannya masing-masing.
Baik Lira ataupun Felix, mereka sama-sama dilanda keharuan yang mendalam. Kata demi kata yang mereka dengarkan memberi rasa lega sekaligus keraguan.
"Sekarang, coba tatap mata istrimu, kamu juga Lira coba tatap mata suamimu." Pinta Ustad.
Dengan ragu Felix sedikit memiringkan badannya menghadap Lira begitu juga dengan Lira. Mata mereka saling bertemu dan sama-sama berair. Tidak berapa lama akhirnya Lira menyerah, memilih menundukkan kepala menahan tangis yang mulai pecah. Felix pun dari tadi sibuk mengatur napas, mengurangi perasaan entah apa yang bersumber dari dadanya.
"Malam ini menangislah sepuasnya, air yang benar-benar tumpah tidak akan lagi menetes. Begitu juga dengan air matamu." Ucap Ustad. "Kamu peluk istrimu. Dan jadikan itu kebiasaan kalian mulai saat ini." Lanjut Ustad sambil berlalu dari gazebo.
Tinggallah sepasang suami istri di gazebo tersebut. Saat ini rasa haru lebih memonopoli dari pada rasa gugup. Felix dengan pelan mengelus pundak Lira.
Beberapa saat kemudian, sampai Lira tidak lagi meneteskan air mata tetapi masih sesenggukan, Felix mengajaknya untuk masuk kedalam, ikut berbaur dengan tamu yang dari tadi sudah menunggu.
"Nah ini nih yang ditunggu." Celetuk Daniel.
"Makan dulu." Suruh Bunda.
Saat Felix dan Lira sudah selesai makan, maka momen yang paling ditunggu-tunggupun tiba. Mereka saling mengabadikan momen dengan berfoto, untung saja ada Hito yang jago dalam mejepret angle. Selain itu, Felix dan Lira juga diminta untuk membuka kado yang diberikan oleh sahabat-sahabat Felix.
"Jangan buka sekarang lah. Kalian berdua aja yang boleh tau isinya." Keluh Daniel.
"Wah mencurigakan, hadiah lo yang aneh-anehkan." Tuduh Fatur yang membuat tamu lain tertawa.
"Lix, sini buka punya gue dulu." Pinta Hito bangga sambil menunjuk kado besar yang ditaruh mepet dengan dinding.
"Bawa sini." Pinta Felix.
"Gak kuat gue. Cepat buka." Ujar Hito.
Felix dan Lira pun mendatangi kado tersebut dan merabanya. "Apaan?" Tanya Felix.
"Buka, buka, buka, buka." Sorak tamu yang lainnya tidak kalah penasaran.
"Wihh." Takjup tamu saat isi kado mulai terlihat. Felix dan sahabatnya lainpun dengan cengo menyorot si pemberi kado.
Sementara Hito dengan sombongnya menaik-turunkan alisnya.
__ADS_1
"Makasih To." Ucap Felix.
Setelah kado dari Hito kemudian Lira membuka kado dari Bagas yang isinya tidak kalah mengejutkan yaitu kipas angin. Sementara kado dari Fatur adalah uang tunai sebesar satu juta rupiah. Sampai akhirnya Lira membuka kado milik Daniel yang isinya benar-benar membuat pipi Lira merah merona, telinga Felix pun ikut memerah. Kado itu berisi sekotak Durex dan Lingeri. "Hehehe," Cengir Daniel dengan tampang tidak berdosanya.
Setelah kegiatan itu, tamu udangan yang memang hanya kerabat akhirnya mulai sibuk dengan kelompoknya masing-masing. Ayah, Bunda, Ibu Lira, Tante, Om, Paman dan Bude sibuk mengobrol. Para anak kecil sibuk bermain di gazebo. Begitu juga dengan Felix dengan sahabat-sahabatnya. Sementara Lira ia 'kekamar mandi' katanya.
"Gak nyangka gue, lo nikah." Ucap Bagas.
"Gaskeunn." Sosor Daniel.
"Dan sampai hari ini gue masih belum ketemu pelakunya." Ucap Felix serius.
"Oiya, gue juga ada tanya-tanya ke Sofiya, tapi dia juga gak tau-tau kayanya." Ucap Bagus.
"Tapi Sofiya gak tau kan kalau Lira nikah."
"Santai." Singkat Bagas.
"Jadi selanjutnya lo ngapain." Tanya Fatur.
"Gak tau, lagian kalau ketahuan pelakunya Lira tetap hamil, tetap nikah juga sama gue."
"Sudah lah, biar waktu yang jawab." Ucap Hito.
"Cie cie jadi suami." Ledek Daniel menggantikan pembiacaraan yang serius tadi.
"Nanti Felix makannya disuapin, bajunya disiapin. Duh jadi pengen nikah juga." Timpal Fatur.
"Ihiyyyy, mana bentar lagi punya anak. Sekali dayung dua alam terlampaui." Ledek Daniel.
"Goblok. Lo kira anaknya Felix tuyul apa!" Kesal Fatur dengan memegang leher Daniel sehingga Daniel memekik kegelian.
"Jadi lo nanti kerja apa?" Tanya Bagas mengabaikan pergulatan kecil dua sahabatnya tersebut.
"Mungkin lusa gue mau masukin lamaran jadi karyawan di percetakan yang di depan univ Atmaja."
"Semoga cepat diterima." Sambung Hito.
"Aminnnnn." sahut mereka bersamaan.
"Lo sudah bilang ke Sonya? Jangan bikin anak orang berharap lo." Tanya Daniel.
"Belum, malas aja ga tau kenapa." Jawab Felix jujur.
"Dasar crocodile." Ledek Daniel enteng.
Sementara Lira, dikamar mandi ia hanya duduk di kloset, menatapa kosong empat butir Misorostol dan sebutir Miferistone yang ada di tangannya. Ia berkali-kali menarik-menghembuskan napas dengan ritme yang cepat. "Maaf, kita bisa ketemu di lain waktu, bukan sekarang." Benak Lira sebelum memasukkan pil itu ke dalam mulutnya dan segera ke wastafel, menyalakan keran, menadah air kemudian meminumnya, gadis itu tidak langsung meneguknya melainkan membiarkan pil itu larut bercampur dengan air yang lama kelamaan terasa pahit di mulut. Hanya tinggal satu kali teguk maka kombinasi kedua macam pil itu akan langsung bekerja dan membunuh calon anaknya."Bu, tolong biarkan aku hidup," mungkin itu adalah permohonan yang akan diucapkan oleh janin itu sekarang atau mungkin jika dia mampu dia akan lari dan melapor hal itu pada ayahnya.
Namun tiba-tiba Lira merasa sangat mual, perutnya seperti di cakar dari dalam yang membuatnya tidak tahan lagi sehingga ia memuntahkan semuanya. Maka kini, dua kali sudah janin yang baru tiga bulan menumpang di rahim Lira berada di ujung nyawa.
__ADS_1
Satu-satunya paket combo pil yang ia punya sekarang sudah tidak berbentuk lagi, berceceran di lantai bersamaan dengan air liurnya. Setelah menetralisir rasa takutnya, dengan tubuh lemah ia kembali ke wastafel kemudian berkumur-kumur, membuang sisa-sisa pil yang masih tertinggal. Tak lupa juga menyiram muntahannya tadi. Sampai akhirnya ia memilih keluar dari tempat itu, berusaha bersikap senormal mungkin dan ikut bergabung dengan sahabat-sahabat Felix, rasanya memang cangung ikut berbaur dengan mereka tapi ya mau bagaimana lagi.
"Bro, Lira kecapean tuh, coba lo bawa istirahat dulu." Saran Bagas melihat Lira beberapa kali merenggangkan pinggangnya sesekali memijatnya.
"Eh uda jam setengah 11 juga, pulang yok." Ajak Fatur.
"Ra, Bagas katanya mau ikut tidur sama kalian. Bolehin aja ya, kasihan." Keluh Danie yang dibuat-buat.
"Pergi sana lo." Perintah Felix bercanda. Sementara Lira hanya menanggapinya dengan senyum yang dipaksakannya.
Kebetulan juga, beberapa tamu sudah mulai pulang memenuhi pintu utama di rumah itu.
"Lix kami bangga sama lo. Gantle." Ucap Bagas.
"Makasih." Ujar Felix sambil merentangkan tangannya memeluk ke 4 sahabatnya itu.
"Lo emang uda jadi suami orang, tapi lo masih tetap sahabat kami. Jadi, kalau butuh bantuan apa pun itu bilang aja ke Hito." Jelas Daniel yang awalnya bikin terharu berubah menjadi rasa kesal.
"Anjir lo gak ada seriusnya!" Cecar Hito sambil mengetuk kepala Daniel.
"Ssstttt." suara tersebut sontak membuat Felix menjadi serius takut ada sesuatu yang penting ingin diucapkan Fatur.
"Jangan lupa minta Lira pake baju dinasnya, Lo juga jangan lupa pake Durex. LARI!!!" Ucap mereka serentak kemudian Lari terbirit-birit menuju mobil masing-masing. Sementara Felix ingin sekali. mengumpat, tapi ia urungkan karena masih ada beberapa tamu yang belum pulang.
***
"Ini sudah mau jam 11, nginap di sini aja dulu." Pinta Bunda sedikit memohon.
"Masih sempat kok Bun, di Rumah Lira gak ada orang." Ucap Ayah yang secara tersirat tidak setuju bahwa pasangan baru tersebut menginap di rumahnya malam ini.
"Bunda berat mau lepas kamu Lix." Lirih Bunda dengan bercucuran air mata.
"Sudah Bun." Ucap Ayah menenangkan sambil menepuk lembut pundak Bunda.
"Kalian harus sering kesini." Pinta Bunda.
"Iya Bun."
"Bu saya titip anak saya Bu.." lirih Bunda pada Ibu Lira.
"Iya Bu..saya ngerti." Jawab Ibu menenangkan.
"Ayo, sudah mau tengah malam." Ucap Ayah beranjak, mengangkat dua koper besar pakaian Felix menuju mobil.
"Motornya besok Om Luk ngantarkan kesana. Nanti kamu nabung beli motor sendiri." Ucap Ayah.
"Iya Yah." Jawab Felix.
Sampai saat ini entah mengapa perasaan cangung Felix ke Ayahnya masih membekas. Sejak kemarahan Ayah waktu itu, Ayah jadi berubah bisa dibilang 'tega', padahal dulu Ayah adalah orang yang paling penyayang dan loyal. Ayah juga tetap berpegang teguh dengan perkataannya di awal, buktinya beliau terus mengingatkan Felix mengenai barang apa saja yang boleh ia bawa ke rumah istrinya, untungnya beliau mau berbesar hari meminjamkan anaknya itu motor, beliau juga masa bodoh dengan pekerjaan Felix kelak, padahal beliau punya cafe dan hotel yang dapat dengan mudah mempekerjakan anaknya sendiri.
Hal itu didukung dengan Felix yang terkesan tidak ingin merepotkan lagi, padahal Bunda sudah memberikan lampu hijau agar Felix dapat dengan bebas memilih berbagai macam bidang pekerjaan di hotel dan cafe mereka. Tapi, Felix malah mencari lowongan pekerjaan lain melalui media sosial.
__ADS_1