Kehamilan Remaja Yang Tidak Direncanakan

Kehamilan Remaja Yang Tidak Direncanakan
Chapter 8


__ADS_3

"Ra, gue...gak mau janin di kandungan lo jadi sampah juga." Ucap Felix dengan suara yang bergetar dan mata berkaca-kaca.


"Kita rawat aja...sama-sama," Lanjutnya dengan suara kecil setelah menunggu respons Lira yang ternyata hanya diam.


Lira yang mendengar itu langsung menolehkan kepalanya cepet ke arah Felix, "Kamu yakin? Gak semudah itu Lix."


"Jadi lo maunya apa?" Tanya Felix putus asa.


"Aborsi."


"Setelah lo lihat kejadian tadi, pasien pingsan, janin dibuang gitu aja di tempat sampah, lo masih yakin mau aborsi?" beber Felix.


"Yakin. Masih ada klinik aborsi yang gak kaya gitu." Lanjut Lira lagi setelah beberapa detik.


Mendengar itu Felix hanya bisa mengusap wajahnya kasar agar air mata yang sejak tadi dia tahan tidak jatuh. Ayolah, Ia sudah bersusah payah mengungkapkan apa yang ada di kepalanya namun Lira dengan mudahnya menolak. "Lo pikirkan baik-baik. Lusa kita bicarakan lagi." Ujar Felix final menjalankan kembali mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.


"Bukannya kamu ya yang harus mikir? Tiba-tiba berubah pikiran." Tuding Lira yang tidak terima seakan-akan Felix menyalahkannya.


"Jelas-jelas tadi lo juga ketakutan." Balas Felix dalam benaknya. Laki-laki itu mencoba untuk tidak membahasnya lebih panjang, pasalnya ia juga masih menjernihkan pikirannya yang baru saja mengambil keputusan besar untuk membesarkan anak itu.


"Mau makan apa?" Tanya Felix yang tiba-tiba mendapatkan topik baru mengingat waktu sudah lewat tengah hari.


"Di rumah ada tumis sawi." Singkat Lira.


"Oke." respon Felix yang membatalkan niatnya untuk membelikan gadis itu makanan.


Sesampainya di depan gang rumah Lira, lagi-lagi Felix mengingatkanya, "Pikirkan janin itu, jangan pikirkan diri lo sendiri aja."


***


Di hari senin atau yang dikenal dengan hari ter-unwanted nasional bagi setiap orang apalagi pagi ini mendung dan angin pun berhembus kencang, Lira dan Felix menjalankan aktivitas seperti biasanya. Masing-masing dari mereka sibuk siap-siap untuk turun sekolah.


Setelah sarapan dengan lauk ikan goreng beserta susu, Lira langsung pamit dengan ibunya dan berjalan sekitar 6 menit menuju halte bus, hampir dekat dengan tempat tujuannya, matanya sudah sibuk mencari tempat duduk yang kosong diantara penumpang bus yang lain karena Lira tentunya tidak tahan berdiri lama mengingat keadaannya yang sedang hamil ditambah lagi sebelumnya ia sudah berjalan kaki sejauh 400an meter.


Belum ada lima menit perempuan itu menunggu kedatangan bus, mobil Civic berhenti di depannya dan nampaklah Felix setelah menurunkan habis kaca mobilnya, "Ra, ayo cepet." Ajaknya.


Lira yang diajak pun tidak menolak, segera ia masuk tanpa bersuara. Sepertinya perempuan itu masih kesal karena keputusan tiba-tiba laki-laki itu kemaren.


"Lo bawa bekal kan? Jangan ke kantin dulu." Ujar Felix.


"Iya. Lix..." Jawab Lira, sedetik kemudin ia terlihat sedang menimbang-nimbang. "Waktu dua hari buat mikir itu kelamaan. Aku sudah putuskan, tetap aborsi." Lanjutnya.


"Ck. Nanti pulang sekolah gue jemput, kita bicarakan sekalian." Balas Felix yang hanya dibalas anggukan oleh Lira.


Tit tit tittt

__ADS_1


Mata Felix sontak melihat kaca spion mencari sumber suara. Ternyata sahabatnya Fatur dan Hito yang sedang berboncengan. Mengetahui itu Felix pun melakukan hal yang sama yaitu membunyikan klakson sebagai jawaban. Setelah melihat sahabatnya itu masuk ke pintu gerbang sekolah, barulah Felix menghentikan mobilnya yang letaknya sedikit jauh dari pintu gerbang untuk menurunkan Lira.


***


Di kelas, jam pelajaran pertama aman, tidak ada gangguan baik internal ataupun eksternal. Di jam kedua juga aman. Namun, Lira mulai tidak tenang saat bel istirahat berbunyi. Setelah mengucapkan maaf dan memberikan alasan yang masuk akal akhirnya Sofiya membiarkan Lira untuk tidak mengikutinya ke kantin. Tidak seperti biasanya, dimana Sofiya akan langsung memarahi atau memukulnya jika ia menolak perintah Sofiya.


Setelah sibuk menuntut ilmu akhirnya beberapa menit lagi jam pulang sekolah, baru kali ini ia tidak khawatir kehujanan karena ia akan dijemput oleh Felix menggunakan mobilnya.


Tapi sampai sekolahan sepi Felix tidak kunjung datang. Lira menyesal, mungkin ia tidak akan kehujanan jika tidak menunggu Felix dan sekarang hujan turun semakin deras seperangkat dengan kilat dan petirnya. Kalau diperikiran hujan ini akan reda dimalam hari.


Sampai sebuah mobil berhenti di seberang jalan dan seorang gadis berteriak memanggil Lira setelah menurunkan sedikit kaca mobilnya, "Lira, sini." Ajaknya sedikit berteriak.


Lira yang dipanggil sedikit ragu karena matanya tidak dapat melihat jelas orang yang memanggilnya.


"Ini Sarah, sini cepetan."


Mengetahui bahwa itu adalah Sarah, Lira segera menghampirinya dan masuk kedalam mobil.


"Kasihan Lira gak bisa pulang. Biar Sarah yang antar ya."


"Makasih Sar."


Namun, di tengah perjalanan tiba-tiba Sarah menurunkan Lira di sebuah warung, "Sarah mau buru-buru, di rumah udah ada Sofiya, Sarah lupa." Alasan sahabat Sofiya tersebut.


Lira pun hanya pasrah berteduh di teras warung yang bertuliskan 'Di Sewakan' itu. Dari awal ia sudah salah, mengapa mau mempercayai mereka meskipun Sarah bisa dibilang paling baik diantara yang lainnya tapi tetap saja, lebih baik menunggu di pos sekolah dan di sana masih ada satpam yang tidak bisa pulang juga, dari pada di warung ini yang tidak ada orang, jalanan pun semakin sepi.


Segera ia bersiap dan pergi menjemput Lira, disepanjang perjalanan ia mencoba menelpon Lira tetapi HP nya tidak aktif.


Ternyata saat mengecek di sekolah Lira sudah tidak ada, akhirnya ia berinisiatif menyusuri sepanjang jalan menuju rumah perempuan itu.


"Ck." Respon Felix saat melihat Lira sedang berjongkok dengan badan gemetar di depan sebuah warung. Kemudian, ia menghampirinya dan memasangkan jaket di pundak Lira.


"Ayo." Ajaknya menarik tangan Lira.


"Perut aku sakit Lix." Keluhnya.


Akhirnya setelah susah payah membantu Lira berdiri dan berjalan sampailah mereka di dalam mobil.


"Perut aku sakit Lix." Ulang Lira.


"Pake minyak kayu putih dulu. Lo ganti baju cepat. Gue tunggu diluar."


"Aku gak ada baju ganti."


"Di dalam tas itu ada baju. Cepat gue kehujanan."

__ADS_1


Setelah Lira mengganti bajunya barulah Felix masuk. Gadis itu sudah sedikit membaik dengan pakaian yang tidak basah meski ia tetap menggigil.


"Aku pendarahan."


"Jadi gimana? Darahnya banyak?"


"Aku mau pulang. Ibu ku pasti nungguin."


"Iya ini udah jalan. Jadi kalau pendarahan itu gimana?"


"Gak tau, mungkin nanti berhenti sendiri."


"Perut lo masih sakit?" Tanya Felix lagi


yang hanya dijawab dengan anggukan.


"Gue minta maaf, gue lupa" Ucap Felix cepat.


Lagi-lagi Lira hanya meresponnya dengan anggukan.


***


Sesampainya dirumah, ternyata ibunya Lira belum pulang. Rumahnya gelap, jendela yang ada di ruang tamu terbuka sehingga tempias hujan masuk. Setelah membersihkan diri, mengepel lantai, menggoreng kembali ikan sisa tadi bagi, dan membuat teh untuk ibunya akhirnya Lira dapat beristirahat. Tubuhnya benar-benar kedinginan, hidungnya pun mulai sumbat pertanda akan flu.


Di tempat lain, di rumah, Felix disambut oleh tangisan sang Bunda. Beliau memukul-mukul sofa yang didudukinya dan mengusap kasar wajahnya.


Ayahnya hanya diam menghadap jendela, mengepalkan tangannya kuat mengabaikan cahaya kilat yang menembus kaca di depannya.


"Bun, kenapa?"


"Tespack itu punya siapa?" Tanya Bunda terbata-bata.


"Bun..Felix dijebak." Jawab Felix sambil berlutut di depan sang Bunda.


Mendengar itu, tangis Bunda semakin menjadi sembari menghentak-hentakkan kakinya dan tangan yang mencengkram kuat sofa yang didudukinya.


"Betul kamu menghamili anak orang?!" Bentak sang Ayah sambil menari leher baju Felix sehingga Felix yang tadinya berlutut menjadi berdiri.


"JAWAB!" Beliau mendorong Felix ke lantai. Sungguh dari matanya tergambar tombak api, beliau marah bak kesetanan.


Felix hanya menganggukkan kepalanya, tidak ada lagi usaha menahan air mata, pokoknya laki-laki itu menangis sejadi-jadinya.


Beberapa menit rumah itu dipenuhi oleh isak tangis sang Bunda, sementara Ayah meninju tempok membabi buta. Mereka luar biasa kecewa.


"Maaf Yah, Bun." Lirih Felix sambil berlutut dan menautkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Minta ampun sana! sama orang tua perempuan itu! Jangan pernah kembali lagi!" Murka sang Ayah sambil menunjuk-nunjuk Felix hingga pergelangan tangannya mengeluarkan urat.


__ADS_2