Kehamilan Remaja Yang Tidak Direncanakan

Kehamilan Remaja Yang Tidak Direncanakan
Chapter 7


__ADS_3

Empat hari pencarian klinik aborsi di pulau Kalimantan pada sela-sela pekerjaannya tidak membuahkah hasil. Pernah terbenak untuk aborsi di negara-negara yang melegalkannya seperti Belanda atau Singapura. Tapi bagaimana mereka meminta izin kepada orang tua masing-masing? Felix mungkin akan diperbolehkan keluar negeri dengan alasan liburan. Tapi waktu liburan semester ganjil pun masih beberapa bulan lagi. Sedangkan Lira pasti tidak akan diizinkan oleh ibunya.


Mungkin meminta tolong dengan seorang dewasa yang tidak dikenal adalah solusinya. Membicarakan sebuah beban yang besar pada orang asing tampaknya tidak buruk. Mereka tidak mengenal Felix dan tidak akan kecewa jika mengetahui semuanya.


Satu hari setelah pulang dari pulau Kaltim, Felix memilih untuk jalan-jalan ke daerah yang jauh dari rumahnya. Disana ia bertemu dengan beberapa tukang ojek dan tanpa pikir panjang Felix mencoba mengobrol dengan salah satu dari mereka yang bernama Pak Ruslan.


"Pak sudah lama ya ngojeknya?"


"Iya. Mau diantar kemana?"


"Gak Pak, mobil saya ada disebelah sana." Jawab Felix mengarahkan dagunya ke mobil SUV berwarna hitam yang terparkir di depan Betamidi.


Pak Ruslan mengangguk paham, melanjutkan aktivitasnya menyesap dalam rokoknya.


"Pak," Ucap Felix lagi dengan ragu.


"Kenapa!?" Jawabnya tidak santai.


"Saya boleh minta tolong gak?"


"Minta tolong apa!?" Ketusnya lagi.


"Carikan saya klinik aborsi. Nanti saya bayar 500.000."


"Hahahahaha, kok bisa kecolongan." Suasana hati tukang ojek itu tiba-tiba berubah yang membuat Felix terheran-heran.


"Zaman sekarang banyak anak muda yang kaya gitu. Yaa kalau ada yang minta tolong sama saya, saya tolongin aja."


"Bagaimana Pak?"


"Sini ikut saya, saya tunjukin langsung tempatnya, yang saya tau ada dua di daerah ini. Beberapa bulan yang lalu saya juga sempat ngantar cewek ke sana."


Berboncenganlah Felix dengan Pak Ruslan, diperjalanan mereka tidak banyak bicara.


Jalan motornya mulai memelan saat melewati klinik pertama, "Nah itu yang warna putih kebiruan." Ucap Pak Ruslam.


Felix pun mengangguk paham sembari menandai peta online di HP nya.


"Sekarang kita ke tempat yang kedua."


Sekitar 15 menit kemudian, motor Pak Ruslan kembali melambat, "Nah yang itu juga, yang rumah kayu."


Kini beliau memberhentikan motornya tepat di depan tempat itu agar Felix dapat melihat-lihat sekitar lebih lama. "Bagaimana Mas, yang saya tau dua itu aja."


"Iya Pak, kita balik aja kalau gitu," Merekapun kembali ketempat pangkalan ojek tadi.


"Pak makasih banyak. Ini Pak," Ujar Felix menyodorkan uang yang sudah ia janjikan di awal.


"Iya sama-sama. Kalau orang lain saya minta 700 ribu untuk uang tutup mulut sekalian. Tapi gak papa untuk Masnya saya minta 500 ribu aja."


Kalau dipikir-pikir, Pak Ruslan pun tidak tau nama Felix, Felix juga memakai masker dan topi. Lalu bagaimana bisa Pak Ruslan menyebarkan identitasnya. Namun meskipun begitu ia tetap memberi lagi Pak Ruslan sesuai dengan keinginan yang tersirat dari perkataannya tersebut.


"Ini Pak saya tambahin 200 ribu."

__ADS_1


"Wah makasih ya Mas, kalau butuh bantuan datang aja, saya sering mangkal di sini."


"Iya Pak. Sekali lagi makasih Pak. Saya permisi dulu." Kata Felix berlalu dari tempat itu.


"Iya sama-sama Mas." Balas Pak Ruslan mengangkat satu tangannya.


***


Hari ini hari sabtu, pukul setengah delapan pagi Felix sudah menjemput Lira. Setelah merencanakannya dan satu sama lain sepakat, maka disinilah mereka, di klinik aborsi yang bangunan depannya bercat biru keputihan. Sudah ada orang lain yang menunggu, seorang gadis yang tampaknya bersama dengan keluarga lengkapnya, ayah dan Ibu.


Kliniknya memang belum buka, mungkin sebentar lagi karena sudah pukul 8 lewat 7 menit.


Jangan tanya bagaimana Lira saat ini. Badannya gemetar, kakinya tidak bisa diam, kedua tangannya saling bertaut sibuk menghangatkan satu sama lain, napasnya pun tercekat. Sungguh ia takut sekali, klinik ini lebih seperti rumah yang lama tidak diurus, cat nya biru namun pudar jadi berwarna keputihan, di plafon terasnya pun banyak sarang laba-laba. Semua yang ia lihat saat ini berbanding terbalik dengan ekspetasinya."Ini beneran kliniknya?" Benak Lira.


Sementara Felix, laki-laki itu juga sama takutnya dengan Lira. Ia terus-terusan menghela napas dalam. Tangannya pun dingin, sesekali ia melirik Lira.


Beberapa menit kemudian tulisan 'tutup' dibalik pintu kaca klinik itu diubah menjadi tulisan 'buka'. Suara pintu yang dibuka kuncinya pun terdengar ketelinga mereka.


Seorang wanita yang mungkin suster klinik itu membuka sedikit pintu dan berkata "Silahkan masuk, maaf sudah membuat Bapak Ibu menunggu."


Gadis yang bersama keluarganya langsung masuk tanpa ragu. Seniat itu kah? Kenapa tidak ada takutnya sama sekali? Apa mungkin karena ia didampingin oleh ayah dan ibunya?


Sementara Felix dan Lira masih duduk ditempat. Mereka saling menatap, mencoba mencari ketidak raguan satu sama lain.


"Ra...ayo." ajak Felix akhirnya. Kali ini ia tanpa pikir panjang langsung memegang tangan perempuan itu.


Saat masuk kedalam, bau amis tercium menyengat, mereka yakin tempat sampah setinggi pinggang yang berada tepat di samping ruang praktik itulah sumber bau tersebut.


Tidak berapa lama suster tadi keluar dari ruang praktik dan meminta mereka untuk mendaftar.


Felix dengan ragu mengangguk.


"Ini tolong diisi sesuai dengan KTP." Intrusksi wanita itu sambil menyodorkan formulir ke Felix dan Lira.


"Umur berapa kandungannya Mbak?"


"Hampir tiga bulan? Mungkin. Saya kurang yakin." jawab Lira


"Sudah taukan tarifnya berapa?" Tanyanya lagi, sambil tangannya dengan sopan mengarah ke browsur yang bertuliskan daftar harga beserta keterangannya. Dengan lancar dan jelas suster itu menjelaskan lebih dalam dari setiap macam layanan yang ada.


-Obat bius lokal dan alat pembersih tidak sekali pakai (Rp 1.900.000)


-Obat bius impor dan alat pembersih tidak sekali pakai (Rp 2.700.000)


-Obat bius lokal dan alat pembersih sekali pakai (Rp 3.700.000)


-Obat bius impor dan alat pemebersih sekali pakai (Rp 4.700.000)


"Bayarnya sekarang?" tanya Felix.


"Silahkan."


"Ini." ujar Felix sambil menyodorkan uang sebesar empat juta tujuh ratus ribu.

__ADS_1


"Terima kasih saya hitung dulu."


Setelah uang itu dihitung di mesin penghitung uang, suster itu berkata "Silahkan ditunggu, nanti giliran kalian habis pasien yang tadi."


***


Dua remaja itu sabar menunggu, namun hingga pukul 11 pasien pertama belum juga keluar.


"Sudah jam segini kenapa anak saya belum sadar-sadar?!" Suara Si Ibu dari dalam.


Mendengar itu Felix dan Lira saling menatap dengan perasaan kalut.


"Darahnya terus keluar." Kali ini seorang pria bersuara.


"Sabar Pak. Dokternya lagi usaha menyadarkan pasien." Kata suster tenang.


"Felix....aku takut." Ucap Lira dengan, bahunya bergetar.


"Gue juga Ra...tapi, ini kita sudah setengah jalan." Sungguh suara Felix terdengar bergetar.


Mata mereka saling bertemu, ingin sakali lari dari tempat ini tapi mau bagaimana lagi.


"Kenapa di waktu yang kaya gini rasa sayang sama janin itu muncul?"


BRUK


"Urusan kita belum selesai! Saya pasti kesini lagi minta kembalikan uang saya!" Ucap ayah pasien tadi di bibir pintu yang di bukanya dengan kasar sembari menggendong tubuh lemah anaknya.


"Kalau anak saya sampai mati dokter harus tanggung jawab!" Tambah sang ibu berjalan tergesa-gesa menyusul suaminya sehingga tanpa sengaja atau pun mungkin dengan sengaja beliau menyenggol satu-satunya tong sampah yang ada di ruangan itu.


Hal itu membuat isinya berhamburan di lantai seperti gumpalan-gumpalan darah, ada juga yang putih-putih seperti bola mata.


Kejadian itu terjadi langsung di depan mata mereka. Lira tiba-tiba muntah, Felix pun sibuk menahan napasnya untuk menghindari bau amis yang menembus maskernya.


Sadar keadaan sudah tidak baik-baik saja, Felix langsung menarik tangan Lira untuk segera keluar dari klinik itu menuju ke mobil dan segera pergi.


Di dalam mobil yang sudah berhenti di pinggir jalan, Lira menangis sejadi-jadinya. Sesekali mengusap dan menarik rambutnya kasar, "Perempuan tadi gak sadar Lix, aku takut jadi kaya dia! Aku takut mati! Aku percaya sama kamu! tapi kamu malah bawa aku ke klinik yang kaya gitu!" Amuknya.


Felix yang duduk di bangku kemudi hanya diam sembari mengusap kasar wajahnya.


"Di, di dalam tong sampah itu janin yang mereka bunuh." Lirih Lira.


Peristiwa berhamburnya sampah janin-janin tadi jelas terrekam diingatannya. Dia juga tau betul setakut apa Lira. Dia yang tidak akan menghadapi aborsi saja sangat ketakutan apalagi Lira.


Sungguh Felix tidak mampu melihat keadaan Lira saat ini. Selama ia mengenal gadis itu, baru kali ini ia melihat Lira semarah dan sefrustasi itu. Gadis itu sampai memukul-mukul perutnya.


"Tenang Ra..." Pinta Felix menahan tangan Lira untuk tidak menyakiti dirinya sendiri.


Akhirnya setelah dua jam berlalu, tangis Lira mulai mereda, tapi kali ini dia muntah-muntah, kepalanya pusing sekali akibat menangis terlalu lama. Wajahnya merah, matanya bengkak.


"Ra, gue, gak mau janin dikandungan lo jadi sampah juga." Ucap Felix dengan suara yang bergetar dan mata berkaca-kaca.


**Terimakasih yang sudah baca sampai sini.

__ADS_1


Kalau sedang membaca, jangan lupa like ya kalau suka. Modalnya tinggal klik tanda jempol.


Sekali lagi terima kasih 🙏**


__ADS_2