Kehamilan Remaja Yang Tidak Direncanakan

Kehamilan Remaja Yang Tidak Direncanakan
Chapter 11


__ADS_3

Besok harinya, orangtua Felix dan Ibu Lira ke sekolah untuk memberitahu masalah yang terjadi. Karena sekolah mereka adalah salah satu sekolah terpandang, maka tidak ada acara lobi-melobi atau sogok-menyogok. Sekolah Lira memutuskan bahwa dia diberhentikan, begitu juga dengan sekolah Felix dengan keputusan yang sama.


Awalnya, Ayah berharap sekolah memberikan Felix kesempatan untuk tetap bersekolah dan ikut ujian nasional mengingat ia sudah duduk di kelas 3, tapi ternyata tidak. Untungnya, semua guru di sekolah itu mau diajak berkerja sama untuk menyembunyikan masalah ini dari sekolah lain dan siswa lainnya serta mengumpulkan informasi yang dapat mengungkap siapa yang telah menjebak Felix dan Lira.


Setelah mengurus ke sekolah, masing-masing dari orangtua kemudian meyiapkan berkas-berkas persyaratan untuk mendaftar surat nikah di KUA. Mereka sepakat bahwa akad nikah dilakukan di KUA lima hari kedepan saat kondisi Lira sudah membaik. Kemudian malamnya akan diadakan acara syukuran sekadar mengundang keluarga terdekat dan sahabat Felix.


Sementara Lira sampai hari ini masih dirawat dirumah sakit, dengan Felix yang menemaninya. Jika kondisi Lira semakin membaik, dokter berencana akan mengizinkannya pulang 4 hari lagi.


"Lix kamu yakin?" Tanya Lira saat ia sudah selesai sarapan.


"Apa?"


"Nikah?" Ucap Lira lagi dengan ragu.


"Itu solusi terbaik." Respon Felix malas sambil berdiri menjauhi Lira dan memilih duduk di jendela ruangan itu. Rasanya malas sekali jika membahas tentang itu. Mungkin ia dapat pura-pura tidak mendengar perkataan Lira jika ia menjauh dari gadis itu.


"Aku gak bisa sekolah lagi Lix." Resah Lira akhirnya.


"Nanti bisa ambil paket C, kalau lo kuliah gue yang jaga dia." Tegas Felix jelas agar Lira tidak mengeluh lagi.


Lira yang mendengar itu hanya meresponnya dengan decakan.


"Kita bisa suruh orang lain adopsi dia." Ucap Lira percaya diri setelah beberapa saat diam berfikir.


"Ra.." Ucap Felix dengan suara rendahnya seperangkat dengan mata tajamnya menatap Lira dan dagunnya yang mengeras. "Itu anak lo juga. Kita sudah korbankan diri kita, masa depan kita, jangan sampai anak itu juga jadi korban." Jelas Felix emosi.


Sementara Lira, ia terkesiap menahan napasnya sesaat dan memilih menundukkan kepala dalam.


Mengapa saat Felix berusaha untuk menerima anak itu Lira malah pihak yang paling tidak menginginkannya. Bukannya terbalik? Biasanya, di film-film calon ibu yang memohon agar janinnya tidak disakiti dan calon ayah akan melakukan kekerasan untuk melenyapkan janin tersebut. Lira bahkan sempat-sempatnya berpikir untuk membiarkan orang lain mengadopsi anaknya setelah bertahan setengah mati selama 9 bulan ditambah dengan cobaan berat hingga ia memilih mati saja.

__ADS_1


"Se-gaknya lo pura-pura bahagia biar ibu lo juga bahagia. Anak itu bakal jadi satu-satunya orang yang gak ninggalin lo, dia bakal mihak lo apapun salah lo." Jelas Felix. "Sudah tidur aja lagi, lo bangunnya jam 2." Lanjut Felix ketus berharap Lira tidak membahasnya lagi.


Lira pun hanya menurut, menyusun bantal rendah kemudian meletekkan kepalanya disana.


Ia menghadap dinding membelakangi Felix merenungkan ujaran Felix sampai akhirnya ia benar-benar tertidur.


Jam setengah 12 akhirnya Ibu Lira datang, "Panasnya diluar." Keluh ibu sambil meletakkan helmnya di bawah meja, "Pulang aja kalau mau pulang, Tante sudah selesai." Lanjutnya.


"Gimana Tante? berkasnya sudah siap semua?" Tanya Felix sedikit penasaran. Kenapa ia tidak menanyakan tentang nasip pendidikan Lira saja? Karena ia sudah diberitahu lebih awal.


"Sudah." Jawab Ibu setelah meminum air dari botol besar. "Baru aja?" Tanya ibu menunjuk Lira.


"Iya." Jawab Felix singkat. Laki-laki itu kemudian mendekat untuk mengelus perut Lira dan berbisik, "Jaga mama mu."


Setelah itu ia pamit dengan Ibu Lira yang sebentar lagi akan jadi Ibu mertuanya.


"Iya Tante. Assalamulaikum."


"Waalaikumsalam."


***


Lira sudah mandi dan sarapan sejak subuh. Hari ini adalah hari pernikahannya, tapi tidak ada rasa bahagia sama sekali yang ada hanya keraguan, kegugupan dan meratapi garis tangan yang didominasi oleh kemalangan itu.


Tidak ada yang spesial, hari ini sama seperti hari lainnya atau bahkan lebih buruk dari hari yang kemarin.


Pukul delapan ia akan ke KUA, tapi sampai sekarang jam setengah 7 Lira masih belum bersiap-siap. Tidak perlu buru-buru, kalau hanya memakai kebaya putih dan jilbab warna coklat susu dengan model simpel saja, sangat simpel sampai hanya menggunakan 1 bros kecil untuk di leher dan 1 jarum pentul untuk menyatukan kedua sisi jilbab bagian depan yang terpisah.


Sejak bangun tidur Lira sudah sekian kali menghembuskan napas dalam, "Lira nikah Pak," Benaknya. Setelah bersiap-siap ia pun keluar kamar menemui ibunya.

__ADS_1


"Kamu hari ini nikah nak. Kamu harus bahagia." Ucap ibu memeluk Lira dengan beruraian air mata. "Lira minta maaf bu, Lira bikin usaha ibu sia-sia." Ujar Lira yang juga beruraian air mata. Hari ini, riasan wajahnya bahkan mengizinkannya menangis bebas karena ia hanya menggunakan bedak dan liptint. Hanya itu.


"Nda sia-sia nak, memang jalannya begini. Usaha ibu malah sia-sia kalau kamu nda lanjutkannya ke anakmu. Kamu lihat bagaimana usaha ibu biar kamu bisa makan besok harinya, bisa tetap sekolah, begitulah usaha mu. Bahkan harus lebih dari itu."


Lira yang mendengar tutur ibunya hanya dapat menganggukkan kepala, sangat sulit untuk bersuara walau hanya berkata 'iya' saat sedang menagis tersedu-sedan begitu.


"Sudah-sudah, kayanya orangtua Felix sudah di depan." Ucap ibu menghapus air mata Lira. "Nanti kamu ngomong baik-baik sama orangtua Felix, minta maaf, minta restunya. Kebahagiaanmu datangnya bukan dari ibu, bukan dari sekolah, bukan dari teman-temanmu aja, tapi dari suamimu, dari anakmu dari mertuamu juga." Jelas ibu yang lagi-lagi menumpahkan air matanya.


Dan lagi, Lira hanya meresponnya dengan anggukan.


"Masuk dulu, Lira mau ngomong." Pinta Ibu sambil menghapus air matanya lesu.


Saat mereka sudah masuk, dan duduk disofa ruang tamu, barulah Lira berlutut, mencium paksa tangan Bunda yang awalnya sedikit menolak, Bunda bahkan terkejut saat Lira tiba-tiba berlutut di hadapannya. "Saya minta maaf sudah bikin begini," ujar Lira lirih. "Sa-saya minta restu, semoga pernikahan ini bikin kita semua bahagia." lanjut Lira ditengah senggukkannya.


Mendengar itu, Bunda benar-benar tidak dapat menahan air matanya, ia memeluk Lira. "Bunda maaf kan, Bunda restui, Bunda tau seragu apa kamu, Bunda mohon sama kamu sayangi Felix, sayangi anak kalian, jangan ragu cerita sama Bunda tentang masalah kamu." Bisik Bunda Lirih.


Kemudian Lira beralih ke Ayah Felix. Ia berlutut, perlahan mengarahkan tangan calon mertuanya tersebut untuk diciumnya, belum sampai ia mencium tangan itu, Lira tiba-tiba menangis, menangis sejadi-jadinya. "Lira...gak punya bapak." Ucapnya Lirih, tangisan itu membuatnya lemah hingga yang awalnya berlutut menjadi terduduk dengan seluruh kaki kiri bagian sampingnya menyentuh lantai. "Sudah, mulai hari ini, ada Ayah yang jadi Bapakmu." Ucap Ayah menangkup wajah Lira dan jempolnya menghapus air mata gadis itu.


"Sini Lix." Pinta Ayah pada Felix untuk ikut berlutut di hadapannya. "Semarah apapun kamu sama istri mu, jangan sampai kamu pukul dia." Bisik ayah. Felix pun hanya meresponnya dengan anggukan.


Semua orang yang ada disitu menangis. Sampai akhrinya ibu memaksa diri untuk tidak lagi menangis dan mengajak mereka untuk segera pergi ke KUA.


Di sepanjang gang yang mereka lewati, tidak lepas dari sorotan mata para tetangga dengan wajah yang bertanya-tanya, "Biarin aja Bu." Bisik Ibu pada Bunda Felix.


***


Di KUA sudah ada 2 pasangan yang mengantri. Itu berarti Lira dan Felix akan jadi antrian yang ke 3. Sampai akhrinya pukul 10 kurang seperempat giliran mereka, sungguh kaki Lira terasa tidak menapak lagi saking gugupnya. Begitu juga dengan Felix yang sejak diperjalanan terus merapalkan ijab kabul, tak jarang juga hanya merapalkan nama panjang Lira dan Bapaknya Lira.


Setelah mengucapkan ijab kabul dan para saksi mengucapkan 'sah', Maka hari ini, Minggu 2 Agustus 2020 Felix dan Lira resmi menjadi suami istri.

__ADS_1


__ADS_2