Kehamilan Remaja Yang Tidak Direncanakan

Kehamilan Remaja Yang Tidak Direncanakan
Chapter 16


__ADS_3

Pernikahan mereka bukan relationship goals tapi TRAGEDI.


.


.


.


~🌹~


.


.


.


Sejak 'karma' yang menimpanya malam itu, Felix jadi lebih memahami Lira, ia juga lebih sabar dan peduli. Meskipun terkadang ia mengeluh atau paling parah menggerutu diam-diam di belakang Lira. Felix juga belajar dari apa yang Lira lakukan saat ia muntah-muntah, seperti memijat tengkuk dan pundak serta tidak membiarkan Lira berdiri lama. Gejala yang sempat laki-laki itu alami juga lebih ringan sekarang, ia tidak laki mengidam namun setiap malam perutnya akan terasa mual dan akan membaik jika perutnya dielus.


Seperti malam ini, setelah uring-uringan membongkar keranjang baju dan meraba-raba kolong kasur untuk mencarikan minyak kayu putih yang Lira lupa taruh dimana dan akhirnya ketemu di dalam kulkas, jam setengah 9 mereka sudah bersiap untuk tidur, Lira juga sudah mulai mengelus perut Felix namun, perjalanan laki-laki itu menuju alam bawah sadarnya terganggu oleh Lira yang mulai mengecap. "Mau makan lagi?" Tanyanya dengan mata yang masih terpejam.


"Gak usah aja." Tolak gadis yang berbaring telentang di sebelahnya, lagi pula ia juga sudah mulai kebal dengan perasaan ngidamnya itu.


"Gue gak mau kena marah anak itu lagi"


"Sate kambing." Ucap Lira setelah beberapa detik berpikir.


Dengan mendengus kesal, laki-laki itu beranjak dari kasur, mengambil dompet dan langsung pergi membeli sate. Mengabaikan rambutnya yang sudah acak-acakan.


"Padahal tadi sore sudah makan." Gumamnya di perjalanan. "Mana sudah jam segini lagi." Kesalnya lagi.


Kenapa tidak memakai jasa pesan antar makanan saja? Ayolah keuangan mereka sedang tidak baik-baik saja, sampai-sampai ongkos kirim yang biasanya sebesar 4 ribu atau 8 ribu menjadi berharga. Uang tabungan saja hanya sisa 350 ribu dari 1 juta, sekeras apapun mereka untuk tidak memakai uang itu pasti terpakai juga kalau kondisi seperti ini.


Kebutuhan Lira sedang puncaknya dan Felix sebisa mungkin memenuhi kemauan gadis itu. Karena dengan sadar laki-laki itu mengakui bahwa ia tidak tega membiarkan Lira menahan perasaan ngidamnya, apalagi ia pernah merasakannya langsung kan. Ditambah lagi Felix harus peka untuk membeli keperluan dapur seperti gula dan minyak goreng atau menambahi uang ibu untuk belanja sayur sehari-hari.

__ADS_1


Jangan tanya bagaimana Felix menekan kebutuhan pribadinya, ia tidak pernah lagi ikut sahabat-sahabatnya nongkrong di cafe atau sejenisnya, tidak pernah lagi ikut taruhan, semua jenis gamenya sudah tidak lagi premium ia bahkan jarang memainkannya karena harus irit kuota, juga jarang makan makanan kesukaannya seperti Burger.


Laki-laki itu sadar bahwa tubuhnya semakin kurus, bagaimana tidak, selama menikah ini ia makan hanya sakadar untuk menghilangkan rasa lapar yang sudah tidak dapat ditahan dalam artian terpaksa, terpaksa makan makanan yang terlalu apa adanya yang tidak ada enaknya sama sekali di lidahnya. Semua ia lakukan agar saat Lira menginginkan sesuatu ia dapat memenuhinya, agar saat keperluan dapur habis ia dapat membelinya.


"Nih." Felix menyodorkan sepiring sate dan mulai menonton Lira yang sedang makan. Kalian pernah senang hanya karena melihat orang terdekat makan? Begitulah Felix, ada perasaan lega setiap kali ia melihat Lira bisa makan makanan yang diinginkan gadis itu.


"Cuman makan setusuk aja?" Tanya Felix saat melihat Lira mulai membungkus kembali sate tersebut.


Sementara Lira hanya merespons dengan anggukan.


"Kalau tau gak gue belikan."


"Besok bisa dimakan lagi."


"Buang aja!" Ketus Felix. "Cape gue, beli. terus gak dimakan. Uang itu Ra."


"Tapi kan aku uda bilang gak usah."


"Itu anak gue apa bukan? Nyusahin gue terus perasaan."


"Lo sengaja? Ngertiin gue lah, gue cape juga lama-lama. Sudah di belikan gak di makan." Lanjut Felix mengabaikan Lira yang sedang menangis. "Mana sini gue buang!" Ketus Felix merampas kasar sebungkus sate dari pegangan gadis itu, kemudian membuangnya dari jendela kamar.


Brak


Suara jendela kayu yang dihampas kasar.


"Lix...a-aku uda bilang gak usah kan tadi." Ucap Lira mencoba membela diri ditengah sesenggukannya.


"Serba salah kan gue. Gak diturutin salah. Nurutin, lo nya ngelunjak!" Protes Felix mulai membaringkan tubuhnya membelakangi Lira dan menutup seluruh tubuh termasuk kepalanya dengan selimut. "Tolong gosok perut gue."


Jangan tanya Lira saat ini, "Itu anak gue apa bukan? Nyusahin gue terus perasaan." Untaian kata itu masih tersusun rapi di otaknya, suara Felix mengucapkan kalimat itu masih menempel di telinganya. Hatinya hancur menyebabkan rasa sakit yang tak terhingga, isakan yang harus ditahan itu membuat dadanya sesak, dengan air mata yang semakin lincah mengalir.


Ia salah, menyakini bahwa Felixlah orang yang paling menyayangi janin yang ada di perutnya itu. Buktinya hanya karena sebungkus sate saja Felix dengan gampang meragukannya.

__ADS_1


Ia salah, membiarkan dirinya mulai bergantung dengan Felix.


Ia salah, karena menganggap serius permintaan maaf Felix malam itu.


Lebih sabar dari mananya? Ini bahkan lebih buruk lagi. She realized that was bullshit, kosong bahkan angin pun jijik untuk mengisinya.


Where is your consistency Lix?"


Felix dan Lira memang sudah menikah, tapi bukan berarti mereka sudah dewasa. Lebih tepatnya mereka terpaksa dewasa untuk menghadapi kesalahan bukan memperbaiki kesalahan. Memangnya apa yang harus diperbaiki? Menghadapinya saja sudah setengah mampus. Dari awal sudah jelas pernikahan mereka bukan relationship goals tapi TRAGEDI valid no DEBAT.


Malam itu setelah puas menangis, tepat jam 00.00 Lira bersumpah pada dirinya sendiri untuk kembali menjadi Lira yang dulu, ia tidak akan membiarkan dirinya terlena dan bergantung pada Felix, harus mandiri tidak menyusahkan orang lain dan bertingkah senormal mungkin seperti tidak sedang mengandung.


***


Pagi ini jam 6 ia sudah bangun, memilih untuk jalan-jalan keluar sekadar bolak-balik dari ujung ke ujung gang, anggap saja sedang pergi ke halte bus untuk turun sekolah namun kini lebih pagi lagi tanpa seragam pastinya. Bukan tanpa sebab, Lira tidak mau Felix mendengar ia muntah, Lira tidak mau tengkuknya disentuh apalagi dipijat oleh Felix, pokoknya mulai semua tentang dirinya harus ia hadapi sendiri, buktinya gadis itu membawa selembar keresek hitam untuk tempat muntahannya.


Baru diujung gang gadis itu mulai merasa mual dan memilih untuk beristirahat di trotoar kemudian dengan pelan mulai memuntahkan isi perutnya, setelah itu melanjutkan lagi jalannya, begitu seterusnya. Tak jarang Lira menengadahkan kepalanya untuk menahan air mata yang sejak semalam terus mengalir. Keadaan hatinya masih sama seperti semalam, rasa sakit itu tidak berkurang sama sekali dan entah kapan sembuhnya.


Matahari semakin menampakkan dirinya, penjual bubur ayam mulai menjajakan dagangannya, stan penjual kue yang ada di pinggir jalan gang itu mulai didatangi pembeli, suara motor yang dipanaskan mulai saling sahut-menyahut. "Nduk." Sapa wanita paruh baya yang berpapasan dengannya.


"Iya Bu. Mari, saya duluan." Sahut Lira meneduhkan matanya dengan tangan berlagak kesilauan oleh cahaya matahari dan berlalu ke sebuah warung untuk membeli berabagai varian mie instans sebagai alternatif lain jika sedang kelaparan.


Sesampainya di rumah, ternyata Felix sudah menunggunya di teras sambil mengelap body motor yang sedang dipanaskan itu, "Ibu sudah turun kerja. Mau makan apa?" Tanya laki-laki itu.


"Gak usah." Jawab Lira singkat.


"Kalau gitu gue jalan dulu. Mau interview. Doakan lancar." Ujar Felix yang sudah naik di atas motor.


"Oke." Sahut Lira.


"Gu-." Pamit laki-laki itu terpotong, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh teras setapak itu dan Lira sudah tidak ada dengan pintu rumah yang sudah ditutup.


"ASSALAMUALAIKUM." Teriak Felix dan berlalu dengan sepeda motornya.

__ADS_1


Sementara Lira berdiri di balik pintu dan tangisnya pecah saat suara motor Felix terdengar menjauh. Rumah itu sepi membuat ia bebas mengeluarkan isakannya hingga tubuhnya lelah sendiri akhirnya, kepalanya juga terasa sakit sebelah. Felix bertingkah biasa saja, tidak tahu menahu, bagaimana ia bisa melupakan perkataan yang keluar dari mulutnya sendiri? kalaupun lupa detailnya setidaknya ingat intinya kan. Apa perkataannya semalam tidak bernilai? Atau bukan laki-laki itu yang mengatakannya?


****, jelas-jelas itu dia. Mau mengelak seperti apa lagi.


__ADS_2