Kehamilan Remaja Yang Tidak Direncanakan

Kehamilan Remaja Yang Tidak Direncanakan
Chapter 14


__ADS_3

Satu minggu sudah usia pernikahan mereka, satu minggu Felix uring-uringan mencari pekerjaan, satu minggu jugalah Lira berdoa agar lamaran yang Felix masukkan mendapat balasan. Untungnya baik Lira atau pun Felix masih lebih pandai untuk tidak mempercayai cerita-cerita tentang indahnya married by accident yang banyak beredar di internet, kalau pun mereka bahagia itu berarti hanya kebetulan. Kebetulan mereka saling mencintai, kebetulan kondisi finansial mereka dari awal memang mantap dan sebagainya. Sehingga dari awal mereka memang tidak pernah berharap setinggi langit tentang pernikahan ini.


Setelah satu hari penuh berkeliling di bawah teriknya matahari mencari lowongan pekerjaan dan juga memasukkan beberapa surat lamaran, maka di sini lah Felix, disebuah warung dan sedang menunggu makanan khas asal Makassar itu yaitu Coto Makassar, yang tentu adalah pesanan Lira. Berkali-kali Felix memeriksa jam di HP nya, menegakkan badan kemudian kembali membungkuk berharap penatnya hilang, sudah sekitar 45 menit ia menunggu tapi pesanannya tak kunjung datang, memang di warung itu yang sedang makan hanya beberapa mengingat sudah hampir masuk waktu mahgrib, tapi masih banyak tukang pesan-antar makanan yang ikut menunggu. Sungguh, yang ia inginkan saat ini hanya istirahat. Sampai akhirnya setelah sabar menunggu, pesanan itu datang dan laki-laki itu segera membayarnya sebesar 27 ribu.


Sesampainya di rumah, dengan perasaan lega Felix menenteng keresek berisi pesanan Lira. "Bu," sapa Felix melihat Ibu mertuanya baru saja keluar dari kamar mandi habis berwudhu. "Jadi Ibu makan apa?" Tanya Felix yang mengingat ibu mertuanya menolak untuk dibelikan makanan.


"Itu ada 3 nasi kotak dari tempat ibu kerja. Kamu kalau mau makan makan aja duluan, Ibu mau sembahyang dulu." Jawab Ibu.


"Iya Bu." Ucap Felix kemudian melanjutkan langkahnya ke kamar.


Setelah membuka lebar pintu kamar, niat awal Felix yang ingin langsung menghampiri Lira dan cepat-cepat memberikan pesanan gadis itu tiba-tiba ia urungkan. Wajahnya tercengang dengan mata membeliak dan sekujur tubuh yang mematung. Sepersekon kemudian ia berlalu keluar dari kamar itu sekaligus memaksa tetap merapatkan mulutnya hingga akhirnya hatinyalah yang berbicara "Tahan. Kuatkan iman." Benaknya asal.


"Lix, kenapa?" Tanya Lira yang penasaran dengan tingkah Felix tadi dan mengikuti langkah laki-laki itu keluar kamar.


"Tunggu di kamar aja, nanti sotonya gue antar." Pinta Felix yang Lira anggap sepele dan tetap mengekorinya. Memangnya kenapa kalau keluar kamar?


"Nurut Ra." Pinta Felix frustasi.


"Oke." Turut Lira akhirnya kembali ke kamar.


Di dapur, Felix langsung mengambil mangkuk dan sendok tak lupa menuangkan coto itu ke dalamnya. Laki-laki itu kemudian mencuci tangan dan wajahnya berharap dapat kembali segar. Setelah itu kembali lagi, menatap nanar semangkuk coto Makassar tersebut. "Goblok, bisa-bisanya lupa." Benaknya. Dengan kesal Felix memisahkan satu persatu bawang merah goreng, potongan daun seledri dan daun bawang yang menjadi toping makanan itu. Berkali-kali laki-laki itu menyendok kuah coto itu kemudian menuangnya kembali untuk memastikan tidak ada toping yang tertinggal.


"Ra, ini soto Makassar tanpa daun sop, daun bawang sama bawang goreng." Ucap Felix yang meletakkan semangkuk coto di atas meja serbaguna di kamar itu.


"Makasih."Ujar Lira senang dan langsung memakannya dengan lahap. "Nanti uangnya aku ganti." Lanjutnya mengulang perkataannya saat ditelpon.


"Oke." Balas Felix singkat.


****


"Ra bisa diam gak?" kesal Felix yang tidurnya terganggu oleh Lira yang dari tadi berkali-kali membalikkan badan ke kanan dan ke kiri. Memang dua hari yang lalu mereka tukar kasur dengan ibu dan sejak dua hari yang lalulah Felix tidak lagi tidur di lantai.


Dengan pelan gadis itu kemudian bangun dari baringnya berusaha untuk tidak menggerakkan kasur yang ia tindis kemudian pergi ke dapur.


Dikehamilannya yang belum genap 4 bulan ini, selera makannya berubah-ubah, hari ini bisa saja selalu merasa lapar tapi, besoknya napsu makan bisa menurun drastis. Untuk menu makanan, memang ia terbiasa makan makanan yang terlalu apa adanya sebelum hamil namun, sekarang ia jadi pemilih makanan sehingga terkesan cerewet. Sungguh itu bukan dirinya sama sekali. Seperti malam ini, pukul 10 ia sudah merasa lapar lagi padahal sekitar jam setengah 7 tadi dia sudah makan, Coto Makassar lagi.


Di dapur Lira hanya duduk di depan meja makan menangkup wajahnya dengan ke dua tangan, bernegosiasi dengan diri sendiri untuk melupakan bakso dan menggantikannya dengan nasi kotak di depannya. Perlahan gadis itu membuka tutup kotak tersebut dan menutupnya lagi. Sungguh yang ia inginkan saat ini hanya bakso.

__ADS_1


"Baru jam 10." Gumamnya. Dengan mantap ia mangambil uang ke kamar dan memakai jaket kemudian keluar membeli bakso sendirian.


Bagi Lira yang sejak kecil tinggal di lingkungan ini, gang gelap seperti ini bukan apa-apa, hanya sekitar 10 meter lagi maka ia akan sampai di jalan raya yang mulai sepi namun tidak menyeramkan karena terang benderang cahaya lampu dari teras-teras rumah atau warung di sana. Tepat di depan gang Lira berdiri menghangatkan tangannya di dalam kantung jaket dan menoleh ke kanan-kiri menimbang-nimbang ingin ke mana. Lagi-lagi dengan santai kakinya melangkah ke kiri, berharap ingatannya benar bahwa dari sekian banyak warung makan atau gerobak kaki lima di sana ada yang menjual bakso. Benar saja, ada warung yang menjual bakso dan dengan semangat Lira menyebrang jalan menuju warung tersebut. Gadis itu juga tidak perlu menunggu lama karena hanya ia pemesan terakhir.


Dengan jalan cepatnya Lira kemudian pulang menenteng sekeresek bakso. Saat hendak membuka pintu, kunci rumah yang ia bawa tidak ada di kantung. Berkali-kali gadis itu meraba setiap kantung yang ada di bajunya juga melihat sekitar tempat ia berdiri. Dengan panik gadis itu menggantungkan sekeresek bakso tersebut di tiang teras dan kembali menyusuri jalan yang sudah ia lewati.


Ayolah, jangan bercanda ini sudah malam, apa salahnya keluar malam untuk membeli makan toh ia tidak merepotkan orang lain. Tapi mengapa malah dipersulit begini. Lira juga masih punya hati untuk tidak menggedor pintu sehingga ibu nya yang seharian bekerja terbangun, ia juga tidak bernyali untuk menganggu tidurnya Felix yang seharian lelah mencari kerja.


Gadis itu berjalan dengan pelan sedikit membungkukkan badan dan memfokuskan matanya, meneliti tanah berbatu di gang itu, begitu juga aspal yang sempat ia lalui. Masalahnya kunci besi berwarna putih itu berkarat sehingga mudah sekali berkamuflase di antara bebatuan. "Dimana ya? Kok bisa jatuh." Gumam Lira mulai putus asa.


Sementara di rumah, sejak beberapa menit lalu Felix sudah menyadari Lira tidak ada di sampingnya, bukankah itu terlalu lama kalau sekadar buang air ke dapur. Dengan berdecak Felix kemudian bangun mencoba mencari keberadaan istrinya itu.


Nihil, pintu wc terbuka, di dapur tidak ada. "Apa di kamar ibu?" Benaknya. "Ra? Lira? Bu?" Panggil Felix mengetuk pintu kamar ibu dengan sopan. "Ra?" Panggilnya lagi.


"Kenapa Lix?" Tanya ibu membuka pintu.


"Ada Lira Bu?" Tanyanya celingukan.


"Loh, nda ada. Di wc nda ada?" Tanya ibu balik.


"Gak ada."


Sementara Felix melihat keluar dari jendela ruang tamu. "Bu, pinjam kunci." Ucap laki-laki itu yang ingin keluar saat melihat keresek putih menggantung di tiang teras.


"Loh ini punya siapa?" Tanya ibu saat sudah di luar. "Masih panas Lix" lanjutnya.


"Ibu tungguin di rumah, Felix cari Lira siapa tau dia ke warung depan." Ujar Felix.


"Iya, iya. Kemana Lira." Keluh ibu.


"Ibu masuk aja, kunci pintunya, nanti dimasukin orang." Pinta Felix.


Dengan kesal Felix kemudian mulai mencari Lira yang masih dengan celana bokser selutu dan kaus putihnya. "Ck, kemana sih." Gumamnya kesal.


"Lira!" Teriak Felix berapi-api.


Gadis yang di panggil pun tersentak dan langsung menghindar dari motor yang melaju ke arahnya.

__ADS_1


Laki-laki itu masih berdiri di sebrang jalan sambil berkacak pinggang. Banyak sekali gunungan kata yang ingin ia teriakkan saat ini. "Cepat nyebrangnya!" Bentaknya.


Hingga Lira sekarang tepat di depannya dengan ketakutan. Berkali-kali Felix mendengus kesal tak lupa mata tajamnya menyorot gadis itu. "Ngapain di tengah jalan? Kalau gue gak panggil lo, tau kan gimana? Masuk RS!" Omel Felix dengan nada tinggi di akhir kalimatnya.


"A-aku nyari kunci."


"Itu akibat keluar malam-malam!" Bentak Felix lagi.


"Ibu kerja seharian, gue nyari kerja seharian, lo lagi bikin kerjaan malam-malam." Jelas Felix emosi. "Bisa kan makan yang ada dulu, besok baru beli baksonya!" kesal Felix.


Lira di depannya hanya bisa menundukkan kepala menahan tangis sungguh ia juga tidak mau seperti ini. Merasa lapar terus, pemilih makanan bukan dirinya sama sekali.


"Jangan nangis!" Bentak Felix. Malah bentakkan itulah yang membuatnya tidak tahan menahan tangis, dengan mudahnya tangis gadis itu pecah saat itu juga.


"Ck." Decak laki-laki itu dengan bersedekap, membiarkan istrinya itu menangis tersedu-sedan di depannya.


Lira juga berkali-kali menghapus air matanya dengan lengan jaketnya. "Lo gak berenti nangis, gak pulang kita. Apa kata Ibu nanti." Kesal Felix.


Namun Lira masih saja menangis, bahkan rasanya ingin sekali berjongkok, menangis dengan menumpukan kepala di atas lututnya. "Diam gak!" Bentak Felix lagi. Dengan kasar laki-laki itu menangkup kedua pipi istrinya itu, memaksa agar Lira tidak terus-terusan menunduk dan memperlihatkan gadis itu mata tajamnya, "Diam Ra. Cape gue." Eluh Felix dingin, kemudian meninggalkan Lira begitu saja dan untungnya gadis itu ikut mengekorinya.


Sesampainya di rumah, ibu langsung membukakan pintu, "Dari mana aja Ra?" Tanya ibu yang masih khawatir. Belum sempat Lira menjawab, Felix lebih dulu menimpali "Felix kembali ke kamar Bu." Ucapnya dan masuk kamar.


"Itu punya mu?" Tanya ibu menunjuk sekeresek bakso yang tergantung. "I-iya." Jawab Lira. "Ya sudah ayo masuk, Ibu ambilkan mankoknya."


"Kamu beli apa aja, Felix nyariin." Tanya ibu lagi saat mereka sudah duduk di depan meja makan.


"Nyariin kunci, hilang Bu." Jelas Lira senormal mungkin.


"Lain kali kalau butuh apa-apa banguni Ibu, jangan sendirian." Ucap ibu prihatin. "Minta maaf sama Felix, dia pasti kecapean." Saran ibu yang mengerti bahwa Felix marah dengan kejadian itu. Gadis itu pun hanya mengangguk.


"Ibu tidur aja lagi, habis makan Lira juga langsung balik ke kamar."


"Taruh aja mangkoknya di situ. Besok pagi baru diberesin. Ibu balik ya, nda papa kan?" Ucap ibu beranjak dari duduknya dan memeluk anaknya itu.


"Iya Bu." Jawab Lira. Berkali-kali ia menarik napas dalam, berusaha untuk tidak lagi menangis. Keingingannya untuk makan bakso pun begitu saja sirna. Namun ia tetap memaksakan dirinya untuk memakannya, lagi pula rasa laparnya masih terasa. Sangat terasa malah.


Setelah menghabiskan bakso tersebut, kemudian Lira buang air kecil dan kembali ke kamar.

__ADS_1


Melihat Felix yang tertidur dengan menautkan alis, rasa bersalahnya semakin besar, ia juga terus mengingat kemarahan Felix tadi.


Dengan pelan sekali Lira naik ke kasur dan membaringkan tubuhnya menghadap Felix yang tidur telentang. Untuk yang kesekian kalinya gadis itu menjadikan tangisnya sebagai penghantar tidurnya.


__ADS_2