
Sejak kejadian malam itu, Felix masih mendiami Lira, buktinya hari ini pagi-pagi sekali laki-laki itu sudah bersiap meninggalkan rumah dan ingin pergi tepat setelah ibu berangkat kerja. Biasanya jika tidak ada surat lamaran kerja yang harus disampaikan, Felix akan menunggu hingga morning sickness Lira mereda, sekadar berjaga-jaga kalau-kalau istrinya itu melemah, tapi hari ini Felix mengabaikannya padahal telinganya mendengar Lira muntah hingga terbatuk, matanya melihat Lira sedang duduk lemas di dapur dengan kedua tangannya menekan perutnya dan hidungan mencium wangi minyak kayu putih yang entah sudah berapa kali gadis itu gosokkan pada dada dan perutnya.
"Gue jalan." Pamitnya singkat langsung pergi tanpa menunggu respons Lira. Setidaknya Laki-laki itu sudah menyiapkan semua keperluan Lira seperti sarapan beserta minumannya: air putih biasa, air putih hangat dan teh hangat yang masing-masing satu gelas
Lira bergeming, membiarkan Felix meninggalkannya. Lagi pula ia juga masih belum memiliki kata-kata yang pas untuk meminta maaf. Jujur saja, setiap ia memikirkan kata-kata yang tepat, maka yang terlintas di pikirannya malah pernyataan-pernyataan yang secara tidak langsung membuat Felixblah yang harusnya meminta maaf. Bukannya malam itu ia sedang mengidam? Bukannya malam itu ia berusaha tidak menyusahkan? Seharusnya Felix memakluminya kan?
Tadi malam bukan apa-apa, bagaimana jika Lira mengidam ingin makan rujak di Malaysia? Bisa dibayangkan semurka apa Felix atau bahkan tanpa ragu ia minta cerai detik itu juga.
***
Sebenarnya hari ini Felix hanya ingin tetap di rumah mengingat kemarin seharian sudah dia berkeliling, namun perselisihannya dengan Lira membuat dia tidak betah. Maka di sini lah dia, di apartemen Daniel. Berkunjung tanpa mengabari terlebih dulu, untung saja sahabatnya itu tidak mengganti pin apartemennya.
"Kena karma baru tau lo." Celetuk Daniel setelah mendengar secara saksama cerita Felix. Sahabatnya itu kemudian mengalihkan seluruh fokusnya pada bola-bola yang ada di atas meja kemudian melakukan pukulan break.
"Lira begitu karna dia ngidam kan? Kalau lo marah karena dia ngidam, hati-hati aja, bisa-bisa Lira nyalahin janin itu." Ucap Bagas serius sambil menggosok tip stiknya dengan kapur.
"Bukan apa-apa lik, nyawa anak lo ada di tangan dia." Lanjut Hito yang mulai menonton duel antaran Daniel dan Bagus dalam bermain billiard.
Mendengar kata-kata sahabatnya yang bolos sekolah itu sontak membuat Felix tersentak, ia mengingat betapa Lira tidak menginginkan janin itu, bahkan gadis tersebut dengan entengnya ingin janin itu diadposi orang lain. "Jadi gue yang harus minta maaf?"
Krik krik krik
"Ck." Decak Felix yang sadar tidak dihiraukan oleh sahabatnya. Bagaimana tidak, mereka sedang berkonstentrasi penuh kan. "Woy!" Ucap Felix saat Daniel sedang melakukan kuda-kuda untuk menyodok bola.
"Goblok." Kesal sahabatnya itu saat gagal membidik bola sasarannya, parahnya lagi membuat cue ball termasuk ke dalam pocket.
"Lo juga harus minta maaf, kan lo marah-marah ke dianya." Jawab Bagas sambil menimbang-nimbang dimana ia harus menaruh cue ball dan mulai menembak bola sasaran dengan power yang kecil, tidak ingin bernasip sama seperti Daniel yang diganggu felix.
"Sana, temani Lira sekalian minta maaf." Ketus Daniel yang bertambah kesal saat lawan mainnya itu perhasil memasukkan bola ke dalam pocket.
"Mumpung rumah sepi." Timpal Hito dengan menaik-turunkan alisnya.
"Iya ini gue pulang." Balas Felix mulai beranjak dari duduknya dan dengan sengaja menyenggol Bagas yang sedang membidik bola, kemudian lari terbirit-birit ke luar apartemen itu.
Di perjalanan, kata-kata yang di ucapkan Bagas dan Hito kembali terlintas di pikirannya. Bukannya Felix tidak percaya dengan Lira tapi kan mencegah lebih baik, toh Lira kan ibu dari anak itu tapi... laki-laki itu mulai menyadari sesuatu pada diri Lira yang membuatnya tersugesti untuk takut, ngeri, dan waswas. Ayolah laki-laki juga manusia.
***
Sesampainya di rumah, Felix membuka kunci dan langsung masuk, ia mendapati Lira terbaring tidak sadarkan diri di kursi rotan bergaya klasik di ruang tamu itu yang merangkap menjadi ruang keluarga, tangan kirinya terjuntai menyentuh lantai sementara TV tabung masih menyala.
Dengan pelan Felix meletakkan helmnya setelah itu ikut duduk di kursi lain ruang tamu tepat di samping Lira. Meneliti pahatan indah wajah Lira, meskipun bagian bawah matanya agak cekung berwarna abu-abu "Sudah hampir sebulan kita tidur sama-sama, baru kali ini gue lihat jelas lo tidur. Lo sering nangis, bekas air mata lo permanen jadinya." Benak Felix yang terbayang oleh wajah Lira saat menangis.
__ADS_1
Momen itu seketika buyar saat Lira mulai menggeliat kesakitan dan tangan yang menggosok kasar perutnya."Ra, Ra, bangun Ra." Ucap Felix mencoba membangunkan.
"Ra?" Panggil Felix lagi, kali ini menahan tangan Lira yang semakin kasar menggosok perutnya.
"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum. Laa ta- Aduh..." Ayat Kursi yang dilafalkan Felix terpotong saat gadis itu tiba-tiba memukulnya.
"Aku gak kesambet! aku cuman mimpi." Protes Lira
Felix menghela napas, "Mimpi apa?"
"Ada bayi tidur di perut ku, badannya panas banget." Jelas Lira.
Mendengar itu Bulu kuduk Felix meremang, kebetulan Lira sedang hamil dan bermimpi seorang bayi. Somethink wrong inside you Lira?
"Sudah, cuman mimpi." Kata Felix menenangkan Lira yang masih kelihatan ketakutan.
"Ibu besok malam baru pulang, jadi kamu kalau bisa sore harus sudah di rumah. Aku takut." Beber Lira sambil bersandar di kursi.
"Oke, kalau gitu gue ke kamar." Ucap Felix. Niat awal ingin meminta maaf ia urungkan saat egonya kembali merajai "gue jelas gak salah." Benaknya.
***
Ekh, huekh
"Perut gue gak enak." Jawab laki-laki itu kemudian muntah lagi. Lira dengan pelan memijat tengkuknya sesekali meneteskan minyak kayu putih di situ. Kondisi Felix saat ini, matanya berair dan wajahnya merah.
"Ayo ke kamar. Kamu berdiri terus, muntahnya di keresek aja." Pinta Lira membantu Felix masuk kamar.
Dengan gesit gadis itu ke dapur mengambil kresek kemudian memijat pelan tengkuk dan pundak Felix. Tak berapa lama Lira kembali ke dapur mengambilkan air hangat. Gadis itu terus menunggu hingga Felix berhenti muntah. "Gue lapar." Ucap Felix saat muntahnya berhenti.
"Cuman ada terong goreng, mau?"
"Nasi panas sama sambal mangga muda aja." Ucap Felix.
"Mangganya gak ada Lix." Ujar Lira masih memijit pundah laki-laki itu.
"Ayo beli."
"Hah? Kamu kaya gitu?" Tanya Lira tidak yakin Felix bisa membawa motor dengan kondisinya yang sepert itu.
"Lo yang bonceng. Ayo cepat." Ucap Felix langsung bergegas keluar. Sementara Lira langsung mengambil jaket tak lupa melirik jam yang menempel di dinding pukul 8 kurang 5 menit malam.
__ADS_1
Mereka sampai 2 kali mengelilingi daerah rumah Lira, pertama mencari penjual buah dan nihil, ke dua mencari langsung pohon mangga yang biasanya ada di pekarangan rumah orang. "Kayanya sudah 2 jam-an kita keliling." Ucap Lira yang menepikan motornya di pinggir jalan.
"Lix gak ada." Lanjutnya.
"Ya sudah pulang aja." Ucap Felix putus asa, padahal rasa asam mangga muda itu sudah terbayang sejak tadi.
Begitu juga dengan Lira yang diam-diam ikut-ikuta menginginkan mangga muda.
Malam ini tidur Felix benar-benar tidak nyenyak, berkali-kali ia membalikkan tubuhnya sementara tangannya terus mengelus perutnya dan lidahnya juga terus-terusan mengecap. "Gue kenapa." Benaknya sambil mencari jawaban di internet. "Ngidam? Ya kali. Magh pasti." Saat tangannya berhenti mengelus perutnya maka ia akan merasa sangat mual.
"Masih mual?" Tanya Lira yang dari tadi memperhatikannya.
"Iya. Gue mau makan mangga mentah Ra." Ucap Felix lesu yang masih belum melupakan keinginannya itu.
"Ngecap aja terus sampai kamu cape sendiri." Saran gadis itu.
"Lira begini rasanya? Hampir setiap malam dia ngecap juga." Benak Felix yang mulai membayangkan dirinya ada dikondisi Lira. "Ra.." panggil Felix.
"Kayanya gue kena karma. Gue minta maaf." Ucapnya sambil bersandar pada kepala kasur.
"Mungkin." Balas Lira enteng yang juga ikut duduk.
"Lo tau?"
"Kamu marah-marah ke aku yang lagi ngidam kan. Kalau anak ini gak terima gimana?" Jelas Lira sambil menunjuk perut buncit yang terjiplak jelas oleh bajunya.
Kata-kata Lira barusan membuat Felix semakin yakin bahwa yang dia alami ini adalah teguran akibat ia membentak istrinya sendiri yang sedang mengidam.
"Gue minta maaf." Pintanya lagi.
"Iya aku sudah maafin Aku juga minta maaf." Balas gadis itu.
Sementara Felix malah tidak menghiraukan perkataan istrinya, ia meneliti apa pun yang bisa dilihat pada diri Lira. Rambut hitam pendek yang mulai menyentuh bahu itu acak-acakan, poni yang sama panjangnya dengan rambut lainnya dijepit asal keatas kepala menggunakan jedai, baju kaus putih yang sedikit ketat tak lupa tali bra berwarna merah maroon yang melorot hingga keluar dari lengan bajunya. Dan, dengan sadar Felix menelan liurnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Lira sambil menutup tubuh bagian depannya dengan bantal.
"Gu-gue janji lebih sabar lagi." Jawab Felix. "Tolong gosok perut gue, sampai gue tidur." Pintanya kembali membaringkan badannya.
Sementara Lira juga ikut berbaring menyanggupi keinginan Felix dengan memusut perut laki-laki itu menggunakan tangan kiri bagian luar dan tangan kanannya juga mengelus purutnya sendiri.
"Papa marah-marah terus sampai mama mati."
__ADS_1
No! Dia tidak sedang bermimpi, suara itu jelas ia dengar dari dalam hatinya, lagi pula ia masih setengah sadar. Tanpa banyak bergerak, matanya melirik perut Lira yang masih dielus oleh gadis itu. "Dia..mirip gue." Gumamnya pelan, pelan sekali. Jujur saja, laki-laki itu memang selalu terkesima oleh wajah Lira sehingga ia tidak pernah sekali pun melihat perut gadis itu, tempat dimana anaknya hidup. "Kedepannya aku juga perhatiin kamu." Benaknya dengan mata berbinar menatap tempat perut Lira. Sungguh ingin sekali ia mengelus tempat calon anaknya itu berada, tapi Felix masih waras untuk menjaga nama baiknya agar tidak di labeli sebagai laki-laki tukang petting.
Tidak kehabisan akal, setelah mengekernya baik-baik, laki-laki itu berpura-pura tidur sambil menguap dan mengubah posisi yang tadinya telentang menjadi miring menghadap Lira, tangan kirinya ia angkat kemudian ayunkan ke arah gadis itu yang juga tidur telentang sehingga hap, tangan itu mendarat tepat di atas perut Lira. Ia mengabaikan Lira yang tersentak, laki-laki merasakan seperti ada aliran listrik yang menjalar dari tangannya ke tubuhnya, dengan cepat ia membenakkan semua kata-kata yang ingin ia sampaikan pada calon anaknya itu. "Maaf sudah sering ngabaikan kamu, marahin kamu, gak pernah ngelus kamu. Tenang aku gak bakal ngulangin lagi." Setelah itu ia manarik tangannya kembali.