
"Kenapa dari dua hari yang lalu kamu gak ada kasih kabar? Aku telpon juga gak kamu angkat." Tanya gadis itu yang saat ini berdiri tepat di depan pintu kamar yang Felix tempati.
"Biasalah, lagi ulangan, masih ada juga tugas yang belum selesai. Kamu nungguin ya?"
"Ya iya lah, tapi kamunya malah langsung pergi lagi."
"Sorry ya."
"Gak papa kok, kamu istirahat ya, besok siang aku ke sini lagi."
"Oke."
"Bye."
Dan Felix hanya membalasnya dengan anggukan.
Saat Sonya, gadis berambut pirang, bertubuh semampai dengan kulit exsotis itu sudah berada tepat di ujung koridor ia langsung menutup pintu kamaranya dan menjatuhkan kembali tubuhnya ke kasur.
Niatnya ingin bertanya di Grub squadnya tentang pembelajaran yang sudah dilewatinya, mengingat hari ini adalah hari kamis yang mana terdapat dua mata pelajaran peminatan yaitu ekonomi dan sosiologi yang akan menjadi beban sekali jika dilewatkan, namun fokusnya langsung tertuju pada salah satu grub yang dibuat oleh pacar sahabatnya yaitu Sofiya.
"Putus lagi?" benaknya. Biasanya grub itu ramai saat hubungan Sofiya dengan Bagus sedang renggang-renggangnya. Sofiya akan marah-marah dan mengadu kepada sahabatnya Bagus agar mereka menasihatinya.
Betapa terkejutnya Felix saat membaca isi chat grub tersebut. Kata 'Lira' dan 'hamil' cukup membuatnya tersentak dan refleks menahan napasnya, ia sangat takut jika orang lain termasuk sahabat-sahabatnya mengetahui kebenaran tersebut.
Gak salah kok takut. Ia memang tidak bersalah, tapi akibat dari ketidak sengajaan tersebut nyata, ada di dalam perut Lira. Maka dari itu, dia ingin sesuatu yang nyata itu pergi selamanya dengan cara aborsi. Dia tidak mau jika semua orang yang akhirnya melihat anak dari ketidak sengajaannya itu berpikir 'kasihan, anak diluar nikah' 'kehadiran mu tidak pernah diinginkan' dan sebagainya. Intinya jika bayi itu ada, hidup dan tumbuh menjadi dewasa, maka peristiwa menghamili seorang gadis diluar nikah akan selalu terkenang juga.
Tanpa membaca ulang obrolan didalamnya, Felix langsung mencari nama Lira dan langsung menelponnya.
"Halo felix?" Suara gadis itu tampak ragu
"Halo?"
"Ada apa Felix?"
Felix diam sebentar, matanya malah sibuk menyusuri langit-langit ruangan, saat suara Lira kembali terdengar ia langsung mematikannya. Entah mengapa kali ini, saat mendengar suara Lira, Felix tiba-tiba mematung, lidahnya kelu walau hanya mengucapkan kata 'lo kenapa, lo sakit' maka dari itu Felix memilih untuk mematikan begitu saja telponnya dan beralih ke pesan via chat.
__ADS_1
[Felix: Lira]
^^^[Iya: Lira]^^^
[Felix: Bisakan lo sembunyiin kehamilan lo]
^^^[Iya, aku usahain: Lira]^^^
[Felix: Kalau sampai ada yang curiga atau bahkan ketahuan, konsekuensinya apa?]
^^^[Maaf: Lira]^^^
^^^[Sebenarnya agak susah karena gejala: Lira]^^^
...[kehamilannya mulai aku rasain. Seperti,]...
...[mual, muntah dan pusing]...
[Felix: Mualnya sama pusing nya dari pagi sampai di sekolah? Disekolah ada yang ngeh gak kalau Lo hamil?]
^^^[Iya, dari pagi sampe agak siang :Lira]^^^
^^^[Gak bisa lix, aku gak tau nyimpen nya :Lira]^^^
[dimana, nanti ketahuan ibu]
[Felix: Yaudah, susu yang lain aja. Milo, susu beruang, atau Hilo sekalian.]
[Felix: Makan yang banyak, makanan yang sehat seperti buah atau sayur sayuran]
^^^[Iya lix :Lira]^^^
[Felix: Selama belum tau tempat aborsi, kita harus sembunyiin kehamilan itu. Jadi lo usahain gejalanya gak kentara. Nanti kalau di sekolah lo muntah² temen lo pada curiga]
^^^[Iya: Lira]^^^
__ADS_1
^^^[Kamu di Kaltim :Lira]^^^
[Felix: Iya]
^^^[Semoga disana ketemu ya :Lira]^^^
Setelah obrolan chat tersebut Felix mencarger hpnya dan memilih beristirahat.
Dia telentang lagi-lagi menatap langit-langit kamar. Sejak kedatangannya, pikirannya penuh dengan masalah yang menimpanya sampai-sampai tidak begitu memperdulikan sekitarnya termasuk kamar ini, kamar masa kecilnya yang tentu sudah banyak perubahan. Rasanya sudah lama sekali tidak berkunjung.
Rumah kayu berkamar tidur sebanyak tiga yang terletak di dekat bibir pantai derawan ini bisa dibilang adalah rumah yang ditempati oleh ayah dan ibunya saat beliau masih di titik nol, masih bukan siapa-siapa, masih pada masa cari uang, malamnya habis karena memang uang yang diperoleh dari hasil kerja Ayahnya saat itu pas-pasan.
Di rumah tersebut juga tempat masa kecilnya yang banyak menyimpan kenangan dengan temanya, Sonya dan Willy. Ngomong-ngomong tentang mereka, Sonya dan Willy adalah penduduk asli di pulau ini. Sayangnya Willy sudah meninggalkannya lebih dulu 5 tahun yang lalu.
Tubuh lelah akibat perjalanan dan suara deburan ombak membuat Felix mengantuk dan akhirnya tertidur.
Sementara di tempat lain Lira masih terjaga, gadis itu berkali-kali membaca pesan dari Felix. Bagaimana ia harus memenuhi semua itu. Makan makanan sehat, makan buah, minum susu. Masalahnya ia tidak punya uang untuk membelinya. Memang, kerja adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan uang, tapi melihat kondisinya yang lemah tampaknya itu tidak mungkin. Ditambah lagi ia juga harus menghabiskan waktu sekitar 8-9 jam di sekolah.
***
Keesokan paginya dihari sabtu, matahari belum terbit Felix sudah dibangunkan oleh ayahnya dan tanpa sarapan terlebih dahulu mereka langsung pergi ke tempat aset-aset ayahnya berada.
Mengingat sudah sejak tahun lalu Felix membantu pekerjaan ayahnya tersebut, membuatnya tidak asing lagi dengan jalan-jalan yang dilalui.
Sepanjang jalan laki-laki itu sibuk melihat sekeliling. Sebenarnya Felix sudah tau bahwa mencari tempat aborsi sangat susah karena praktiknya ilegal tentunya oknum tersebut akan menyembunyikan usahanya dari publik.
Berbicara tentang aborsi, tiba-tiba Felix teringat kejadian kemarin yang membuatnya semakin yakin untuk melenyapkan calon anaknya itu.
"Jangan bilang perut Lira udah mulai membesar." benaknya.
Sepanjang perjalanan benaknya terus berkecamuk. Sungguh ia tidak pernah tenang belakangan ini. Semakin larut memikirkan tentang calon ibu dari calon anaknya, Felix tersadar bahwa Lira mungkin tidak punya uang untuk memenuhi kebutuhannya. Rasa bersalahpun semakin bertambah mengingat kemarin ia marah-marah terhadap Lira dan menuntut seakan-akan hanya gadis itu yang harus menanggung semua masalah tersebut.
"Bagaimana mau makan makanan sehat atau beli buah, beli ayam aja pas lagi gajian, ck." benak Felix yang teringat obrolan Lira dengan Ibunya beberapa hari yang lalu.
Dengan cepat Laki-laki itu mengambil HPnya dari tas selempangnya dan mengechat Lira.
__ADS_1
Lira yang dikirimkan uang pun tidak menolak, yang terpenting saat ini adalah bagaimana ia bisa menyembunyikan kondisinya. Ditambah lagi Lira yang mulai tidak dapat menahan dirinya untuk tidak makan makanan yang diinginkan. Beberapa hari ini pun ia ingin sekali makan sate ayam. Tapi sayangnnya ia harus menahannya karena tidak bisa membelinya.