
Suara azan subuh berkumandang, mendengar itu Felix mencoba untuk bangun meskipun kepalanya terasa sangat berat, perutnya juga terasa mual.
Dengan jalan yang tergopoh dia pergi ke jendela untuk memuntahkan semua isi perut nya, sedetik kemudia dia tersadar kenapa pemandangan diluar jendela ini berbeda? dimana dia sebenarnya?
Dengan cepat ia mengedarkan pandangannya kepenjuru kamar itu dan melihat ada seseorang di kasur.
"Di Hotel? itu siapa?" Tanyanya sendiri , dengan hati-hati ia mendekat ke tempatnya tidur tadi.
Satu kali tarikan Felix menarik selimut yang menutupi tubuh orang itu, betapa terkejutnya dia saat melihat wanita yang tidak mengenakan pakaian sedang tidur meringkuk menghadapnya.
Mulai sadar dengan apa yang terjadi, Felix cepat-cepat meraba tubuhnya hingga tangannya mendapati sabuk dan reseleting celana nya yang terbuka. Sontak kaki Felix lemas bukan main, ia tidak bisa berkata-kata, namun raut wajahnya tetap menunjukkan tanda tanya.
Gadis itu mulai membuka mata karena merasa sangat kedinginan. Sementara Felix tetap diam dan terus meneliti wajah orang itu di tengah remang-remang lampu.
"LI..LIRA?" Pekik Felix cepat. Ia pun segera melempar selimut itu kembali untuk menutupi tubuh polos Lira.
Mendengar teriakan felix, Lira bertambah sadar dari bangunnya. Tidak banyak yang dapat ia lakukan, tubuhnya sakit semua, ingin berteriak pun terasa berat sebab te
Ia hanya bisa melilit tubuhnya dengan selimut dan menangis. Meskipun kepalanya terasa sangat sakit, ia masih bisa mengerti apa yang sudah terjadi. Dua orang anak manusia, laki-laki dan perempuan telah tidur bersama dengan si wanita yang tidak memakai pakaian.
Felix memungut pakaian Lira yang tergelatak di lantai dan melemparkannya ke si empunya.
"Cepat pakai nanti gue pesen grab," Ujar nya sinis sambil berlalu ke kamar mandi.
Dengan lemas Lira memakai pakaiannya.
"Akhh." Rintih Lira merasa nyeri pada bagian bawah perutnya.
Mulai saat itu ia berdoa setiap menit agar ia tidak hamil. Hanya itu yang dapat dia minta, nasi sudah menjadi bubur.
***
Sejak kejadian malam itu Felix hampir setiap malam menelpon Lira untuk meyakinnya gadis itu bahwa kejadian malam itu hanya sebuah sebuah ketidak sengajaan. Demi tuhan hanya sebuah ketidak sengajaan, senakal-nakalnya Felix ia tidak pernah berani meniduri siapapun.
__ADS_1
"Gak mungkin Lira yang jebak gue. Pasti ini kerjaan orang-orang yang dendam sama gue. Tapi siapa? atau orang itu punya dendam sama Lira? tapi kok gue juga dibawa-bawa." Ucap Felix dalam hati.
Sudah hampir subuh, tapi ia masih belum bisa tidur karena memikirkan dalang dari semua itu.
***
Pagi ini Lira bangun dengan mata yang sedikit bengkak. Ia siap-siap untuk turun sekolah dan berharap teman sekolahnya tidak ada yang membully nya hari ini.
Ini masih pagi dan Lira sudah sibuk membagikan buku teman-teman sekelasnya yang PR nya ia kerjakan semalam. Tanpa melihat lagi nama pemilik buku itu, ia meletakkan buku-buku tersebut di atas meja. Yup, pastinya ia sudah hapal.
Hampir setiap pagi Lira melakukan itu, mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan. Apa pun tantangan nya ia harus tetap sekolah meskipun sekolah ini sudah seperti neraka baginya.
"Sabar Lira tinggal satu tahun lagi kok," Ucap nya sambil menimbang kira-kira berapa lama lagi dia akan bersekolah. Ya, dia adalah siswa kelas 12 yang baru saja naik kelas.
Setelah semua buku itu ada di atas meja masing-masing temannya, ia mulai mengambil sapu di pojok ruangan untuk membersihkan kelas. Hari ini memang bukan jadwal piketnya, tapi karena hal itu sudah seperti kewajiban bagi nya dan dia tidak mau ribut dengan Sofiya jadi dia lebih memilih mengerjakan semua itu.
"Aww good job Liraaa." Pekik Sofiya saat masuk ke kelas.
Tak terasa bel istirahat berbunyi. Untuk murid-murid yang tidak tahu apa-apa, mereka pasti menganggap bahwa Lira adalah bagian dari genk Sofiya.
Setiap jam istirahat Lira pasti mengikuti Sofiya dan genk nya ke kantin. Sesampainya di kantin mereka pun langsung menyuruh Lira untuk memesankan makanan mereka. Lira sampai bolak-balik untuk mengantarkan berbagai makanan dan minuman yang mereka pesan. Sementara Lira sendiri hanya memesan es teh saja.
"Kok lama banget sihh Ra.." ujar Wina saat Lira mulai sibuk menaruh makanan.
Tiba-tiba tidak sengaja Fatur menyenggol Lira yang memegang semangkuk soto, hingga soto itu pun terjatuh kelantai dan tumpahan soto itu mengenai rok, kaki dan sepatu Lira serta terpercik mengenai sepatu Sofiya.
Semua terasa seperti slowmotion, semua mata tertuju ke arah Lira.
"So over all this bad luck." Batin Lira.
"Sorry banget Ra, Lo duluan aja To, bilangin ke Pak widodo kalau gue lagi ini nih." ucap Fatur pada Hito sambil membersihkan rok dan sepatu Lira dengan tergesa-gesa.
"Lo kok bisa ceroboh gini sih Ra." Protes Wina.
__ADS_1
"Tur, gak papa. Tinggal aja, lo ada urusan, kan." ucap Sofiya.
"Iya Sof, kami diminta bawa tape singkong ini ke lab." balas Hito. Sementara Fatur kini sudah mulai memunguti pecahan mangkuk.
"Gak papa, tinggal aja." ucap Lira.
"Udah sana ah. Cepetan buru." Paksa Sofiya seraya mendorong Fatur.
"Ra Sorry ya gue gak sengaja. I swear." ucap nya meninggal kan kantin.
"Lo sengaja kan. Cepet bersihin." Ujar Wina sambil menendang pecahan mangkuk yang paling besar ke kaki Lira.
"Habis ini susul gue ke belakang aula. Awas lo." Ancam Sofiya, hari ini semua orang membuat gadis itu kesal, mulai dari Ibu nya yang menuduhnya mengambil uang, Ayahnya yang ternyata kembali memperkerjakan orang yang telah melecehkannya, adik angkatnya yang selalu menangis setiap hendak turun sekolah, Bagas satu-satunya orang yang memberinya perhatian lebih malah sibuk dengan Felix, dimarahi oleh Ibu Eka selama pembelajaran tadi, ditambah lagi menunggu agak lama makanan yang akhirnya jatuh begitu saja.
Dulu ia melampiaskan amarahnya ke adik kandungnya yang autis itu, namun sekarang hanya ada Lira, pengganti adiknya yang malang.
Siswa yang tadi perhatiannya sempat teralihkan pun kini mulai fokus menyantap makananya lagi.
Pecahan beling yang sangat kecil menancap di tangannya saat membereskan kekacauan tadi namun tidak membuatnya untuk berhenti agar dapat mengobatinya, yang ada di pikirannya saat ini hanya untuk cepat-cepat menyusul Sofiya.
Di belakang aula lagi-lagi Sofiya, Wina, Sarah, Jesi, dan Nawang menjambak serta mencakar apa pun yang dapat mereka jangkau.
"Hari ini gue sial banget, kenapa sih semua orang gak bisa sekali aja gak ganggu gue, benci! Gue benci!" Ujar Sofiya penuh emosi mengacak rambut Lira.
"Help..." pinta Lira lirih saat ada beberapa murid membuang sampah disana, namun murid tersebut hanya menontonnya dan pergi begitu saja.
Kekerasan fisik seperti ini memang sering dia rasakan. Dibeberapa kesempatan Lira juga melawan, namun kekuatan nya tentu tidak akan bisa mengalahkan lima orang sekaligus. Pulang dengan luka lebam sudah biasa baginya.
Lira hanya dapat menangis, saat lagi-lagi mereka akan menendang Lira dan dengan reflek ia melindungi perutnya.
Tanpa ia sadari insting seorang ibu mulai muncul dalam dirinya.
"Man can help million but million could't help me." ~Lira
__ADS_1