
Di dalam sebuah tenda Bram masih menemani Keyra yang masih betah menutup mata.
Terasa sedikit pengap, entah karena ukuran tenda yang terlihat kecil karena tubuh Bram yang memang besar atau karena atmosfir yang tercipta terasa semakin memanas karena saat ini Bram hanya berduaan saja dengan Keyra.
Bagaimanapun Bram adalah pria dewasa yang tidak akan betah berlama-lama di tempat yang sempit ini hanya dengan seorang gadis.
"Kenapa jadi gerah begini." Bram membatin dan berniat keluar mencari udara segar di luar tenda.
"Dingin."
Bram berbalik, meyakinkan telinganya kalau tadi ia sempat mendengar rintihan dari bibir Keyra.
"Dingin."
Kali ini rintihan itu begitu jelas dan membuat Bram mengurungkan niatnya dan harus kembali masuk untuk melihat keadaan Keyra.
"Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Bram ketika melihat Keyra sempat membuka matanya meski detik berikutnya mata itu kembali terpejam.
"Aku kedinginan." lirih Keyra dengan suara lemah.
Bram menaikan salah satu alisnya, pria ini bingung harus melakukan apa.
Sementara ia sudah menumpukkan banyak selimut ke tubuh Keyra sampai tubuh mungilnya hampir tak terlihat.
Bram menggeram, tubuh Keyra semakin gemetar dan Bram tidak mungkin hanya diam saja melihatnya yang terlihat sekarat.
Tubuh Keyra sedikit terangkat dan kini sudah berada dalam pelukan Bram.
Sedikit ragu pada awalnya, tapi kemudian Bram memberanikan diri mengusap punggung Keyra yang terbalut jaket tebal.
Berharap usapannya membuat Keyra merasa sedikit lebih baik.
Jantung Bram hampir saja melompat keluar saat merasakan tangan Keyra yang memeluknya begitu erat, bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas Keyra di lehernya.
Panas, itulah yang Bram rasakan saat ini.
Matanya melihat wajah damai Keyra dalam pelukannya.
Berbanding terbalik dengan tubuhnya yang semakin gelisah berada pada posisi seperti ini.
"Ini teh jahenya Bram."
Akhirnya Bram bisa bernafas lega, tidak terbayang apa yang akan terjadi bila Vira tidak muncul saat itu juga.
"Buat dia meminumnya, setelah itu pastikan ia makan meski hanya sedikit." Bram kembali merebahkan tubuh Keyra.
"Aku akan menyusul Arya dan memberitaukan kondisi adiknya saat ini."
Memberi ruang agar Vira bisa masuk ke dalam tenda, Bram kembali menoleh.
"Tidak masalah kalau kalian kutinggal bukan? atau kau membutuhkan orang lain untuk menemanimu? aku bisa memanggil Zea kesini." tawar Bram jika saja Vira membutuhkan bantuan.
"Itu tidak perlu, sekali lagi terima kasih banyak Bram." ucap Vira tulus dari hati.
Bram mengangguk mengerti dan segera berlalu untuk menyusul yang lainnya ke danau.
Terutama Arya yang pastinya tidak tau kalau Keyra sedang sakit saat ini.
Pagi harinya keadaan Keyra tidak jauh lebih baik, bahkan suhu tubuhnya semakin naik dan membuatnya terserang demam tinggi.
Meski begitu Arya dan rombongannya tetap melanjutkan perjalanan.
Arya dan Vira hanya berharap obat yang mereka minumkan bisa sedikit membantu dan meredakan demam Keyra.
"Key!" Vira mencoba membangunkan Keyra yang terlihat semakin lemah.
Bahkan Arya dibuat panik melihat wajah cemas kekasihnya yang sedang memangku kepala adiknya di kursi belakang.
"Apa demamnya masih belum turun." tanya Arya melongokan wajahnya.
Vira hanya menunjukkan termometer yang menunjukkan suhu tubuh Keyra pada Arya.
Pria itu berdecak, rasa takut menghinggapi mengingat posisi mereka saat ini yang masih berada di tengah perjalanan, jauh dari manapun, bahkan bisa di bilang mereka berada di tengah hutan.
__ADS_1
Dan keadaan semakin di perparah dengan curah hujan yang membuat perjalanan mereka melambat karena kondisi jalan yang licin.
"Oh shit!" Sam mengumpat kesal saat roda belakang mereka terjebak dalam kubangan.
Arya semakin frustasi dan segera memikirkan cara untuk bisa menyelamatkan adiknya dalam situasi ini.
"Mobil siapa yang ada di depan Sam?"
"Bram, dia yang tau wilayah ini." jawab Sam seakan mengerti maksud pertanyaan Arya.
Tak ingin mengambil resiko, Arya segera meminta Vira memakaikan mantel ke tubuh Keyra.
Dan dengan alat komunikasi yang mereka punya, Arya juga meminta bantuan Bram dan yang lainnya untuk menghentikan perjalanan.
Membawa Keyra dalam gendongannya, Arya yang di bantu teman-temannya membopong Keyra menuju mobil Bram yang ada di depan rombongan.
Menembus hujan deras yang menghalangi pandangan, Arya tak menyerah meski langkahnya begitu sulit karena tanah yang berlumpur.
"Apa yang terjadi?" tanya Bram ketika membukakan pintu agar Arya bisa memasukan Keyra kedalam mobilnya.
"Aku mohon bawa Keyra ke desa terdekat untuk mendapatkan pertolongan Bram." pinta Arya sembari mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan.
"Akan lebih baik jika kau bisa mencarikan tenaga medis disana." Arya tak bisa menutupi kekhawatiran di wajahnya.
"Bagaimana denganmu?"
Bram melirik Keyra yang sedang di bantu Arya untuk melepaskan mantelnya yang basah.
"Mobil kami terjebak Bram." jawab Arya tanpa melihat kearah Bram karena sedang mengeringkan wajah adiknya dari air hujan.
"Aku percayakan Keyra padamu." lanjut Arya yang kini menatap Bram penuh harap.
Mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing, Bram terkesiap begitu mendapatkan tepukan dari Arya di bahunya.
"Pergilah Bram." Arya segera keluar dari mobil sahabatnya itu agar Bram bisa segera mencarikan bantuan medis untuk Keyra.
Bram mengangguk sebelum mobilnya berlalu meninggalkan Arya yang masih berdiri di tempatnya, menyaksikan mobil Bram yang pergi membawa adiknya.
"Sepertinya gadis itu sekarat Bram."
Bram memutar tubuhnya, "Oh shit!" pria itu segera berpindah ke belakang untuk melihat keadaan Keyra yang semakin memburuk.
"Bisakah kau melajukan mobil ini lebih cepat!" perintah Bram yang kini memilih untuk membawa Keyra dalam pelukannya.
"Tenang Bram, aku sudah berusaha semampuku."
Bram bukannya tidak tau dengan kondisi jalan yang mereka lalui saat ini begitu sulit, hanya saja keadaan Keyra membuatnya semakin cemas.
Dan Bram berdecak karena hal itu sedikit mengganggunya, mencemaskan seseorang terlebih pada gadis yang baru ia kenal tidak pernah ada dalam kamusnya.
Sebagai pria dewasa yang normal Bram hanya sesekali terlihat bersama wanita, itupun hanya sebatas teman kencan yang akan membantunya untuk melepaskan hasrat.
Tak pernah sekalipun Bram menaruh peduli ataupun berniat memberikan hatinya pada salah satu dari wanita-wanita itu.
Lagipula bukan Bram yang mendekati mereka semua, melainkan para wanita itulah yang dengan sukarela membuka selangkangannya untuk bisa merasakan keliaran seorang Bram diatas ranjang.
"Bram, kita benar-benar berada dalam kesulitan sekarang."
Bram yang larut dalam pikirannya sembari memandangi wajah Keyra sontak mengalihkan pandangannya ke arah depan setelah mendengar ucapan Miko barusan.
Dan Miko benar, mereka dalam kesulitan sekarang.
Sebuah pohon yang cukup besar tumbang dan menghalangi perjalanan mereka.
"Kau punya ide Bram?"
Miko memutar tubuhnya, menatap Bram yang juga sedang memikirkan sebuah cara untuk membawa Keyra keluar dari tempat ini.
Tapi kondisi yang mereka hadapi saat ini sungguh sangat menyulitkan.
Akan membutuhkan waktu lama untuk menyingkirkan batang pohon sebesar itu, lagipula Bram dan Miko tidak akan mampu melakukannya tanpa alat bantuan dan tenaga orang lain.
Bram dan Miko saling bersitatap, dan sepertinya mereka sedang memikirkan hal yang sama sekarang.
__ADS_1
Tidak ada cara lain lagi selain keluar dan mencari bantuan.
Masalahnya adalah, siapa dari mereka yang harus pergi dan siapa yang harus tinggal untuk menjaga Keyra.
"Sebelumnya aku tidak pernah merawat orang sakit Bram, tapi aku bisa mencobanya, apalagi jika itu Keyra." ucap Miko menyeringai tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Keyra.
"Ck, buang jauh pikiran busukmu kalau kau tidak ingin berurusan denganku."
Bram seolah bisa membaca pikiran Miko dan kini pria itu memberikan tatapan tajam peringatan ke sahabat mesumnya itu.
Miko tergelak, " Apa kau baru saja menyatakan rasa cemburumu Bram?"
Dan bukan Miko namanya jika tidak senang melihat Bram semakin kesal dengan terus menggodanya.
Bahkan Miko bisa melihat Bram yang siap menghabisinya dengan tatapan membunuh andalannya.
"Baiklah Bram, kali ini aku akan mengalah padamu."
Miko masih tergelak kecil," Kalau menurutku Keyra ini masih tersegel, dan aku akan memberikanmu kesempatan untuk mendapatkannya Bram." lirih Miko agar Keyra tak mendengar ucapannya.
"Ingatkan aku untuk merontokkan gigimu nanti!"
Bram mengeraskan rahangnya, bagaimana bisa sahabat sialannya ini mengatakan hal tak senonoh itu didepan gadis yang sedang tak berdaya.
Miko tak menggubris, pria itu segera mengenakan mantelnya sembari melirik Bram yang terlihat seperti pria yang sedang melindungi kekasihnya dengan sangat posesif.
"Aku pergi Bram." pamit Miko sesaat sebelum pria itu membuka pintu mobil.
Bram hanya terdiam dan kembali menatap Keyra yang ada dalam pelukannya.
Sampai dia dikejutkan oleh Miko yang melongokan kepalanya melalui kaca mobil yang sengaja ia turunkan.
"Kau tidak lupa kalau Keyra sedang sakit kan Bram? jadi aku hanya ingin mengigatkan, kalaupun kau sudah tidak dapat menahannya lagi, sebaiknya lakukan dengan lembut agar kau tidak menyakitinya." ucap Miko tanpa wajah berdosa.
Dan pria itu segera kabur sebelum Bram benar-benar merontokkan giginya.
Tidak lucu bukan jika seorang Don juan seperti Miko berubah menjadi kambing ompong saat mencumbui wanita.
"Sialan!" geram Bram berdecak kesal.
Hujan di luar semakin deras, bahkan Bram tidak bisa melihat apapun karena langit yang tertutup awan gelap.
Pria itu hanya berharap sahabat sialannya itu tidak tersesat dan segera sampai ke desa terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Bram juga tidak yakin rombongan mereka bisa menyusulnya dalam waktu dekat.
Sementara Keyra masih belum sadar, beberapa kali Bram berusaha meneteskan air minum ke bibir gadis itu yang terlihat kering karena suhu tubuhnya yang tidak juga turun.
Tapi sepertinya Bram semakin di buat frustasi karena lagi-lagi melihat tubuh Keyra yang gemetar menahan hawa panas di tubuhnya.
Bram menggeram dan tak ada cara lain lagi yang terlintas di kepalanya saat ini.
Aku tidak akan keberatan jika setelah ini kau berniat membunuhku karena telah lancang menyentuh adik kesayanganmu..Bram membatin.
Dengan cepat Bram membuka satu persatu jaket dan pakaian yang Keyra kenakan.
Sesekali Bram harus menahan nafasnya saat mata elangnya di pampangkan kulit bersih dan putih mulus Keyra.
Bukan kali pertama Bram melihat pemandangan indah ini, tapi tubuh Keyra benar-benar terlihat sangat menawan jika dilihat dari sisi kebrengsekan Bram.
Hanya saja bukan itu tujuan Bram menelanjangi Keyra saat ini.
Bukan telanjang sepenuhnya, karena Bram masih menyisahkan dalaman berwarna maroon yang sungguh kontras di kulit putih Keyra.
Bram juga menanggalkan jaket dan kaos yang dia pakai.
Setelah itu dengan jantungnya yang berpacu kian kencang, Bram memeluk erat Keyra.
Membuat kulit mereka bersentuhan secara langsung tanpa penghalang.
Bram berharap cara ini bisa menurunkan suhu tubuh Keyra.
Tapi sialnya justru tubuh Bram yang kini memanas.
__ADS_1
Bahkan Bram di buat pusing oleh bagian bawah tubuhnya yang mengeras, membuatnya semakin terasa menyesak.
Kau tidak sebrengsek itu Bram, ingat! dia hanya bocah yang membutuhkan pertolonganmu saat ini.