Kekasih Bayanganku Tersayang

Kekasih Bayanganku Tersayang
Masalah yang sama.


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, sebagian orang sudah sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.


Namun sebagian lagi justru terlihat masih enggan beranjak dari peraduan yang begitu nyaman dan terasa hangat.


Dan keyra adalah salah satunya, gadis itu terlihat begitu damai mengeratkan pelukannya pada sebuah bantal guling.


Bergulung di bawah selimut tebalnya, Keyra tak memperdulikan bagaimana kini sinar matahari menyorot wajahnya yang masuk dari sela jendela.


"Gadis ini." gumam mama Hannah yang masuk ke kamar anaknya.


Wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik ini berjalan mendekat ke arah jendela.


Menarik kain tirai agar terbuka lebar dan membiarkan cahaya matahari menerangi kamar yang tadinya begitu gelap karena sang empunya masih di buai mimpi.


Mama Hannah kemudian mendekati Keyra, menepuk bokong sang anak yang sama sekali tak terusik oleh kedatangannya.


"Key, bangun sayang!" serunya.


Setelah beberapa kali tepukan mendarat di bokongnya, Keyra mulai menggeliat, bergerak perlahan meski setelah itu ia kembali menarik selimutnya lagi hingga menutupi kepala.


"Ya ampun, lihatlah ini sudah jam berapa. Bangun dan bersiaplah, calon suamimu sudah menunggumu di bawah sejak tadi."


Mama Hannah menarik paksa selimut dari tubuh Keyra, menggeleng tak percaya wanita itu melihat anaknya yang masih enggan membuka mata.


Meski ia tau kalau sebenarnya Keyra sudah bangun, namun mendengar nama Reno Keyra kembali berpura-pura tidur karena masih kesal dengan kekasihnya itu.


"Ya sudah kalau tidak mau bangun, mama akan minta Reno yang naik kesini dan membangunkanmu."


"Jangan ma!" pekik Keyra yang sudah bangkit dengan posisi duduk di ranjangnya.


Mama Hannah yang sudah berjalan beberapa langkah tadi pun menoleh dengan senyuman jail.


Menatap gemas pada putri kesayangannya itu yang kini tengah mengerucutkan bibirnya.


"Suruh Reno pulang saja ma, bilang kalau Keyra tidak ada dirumah." ketus gadis itu kembali membaringkan kepalanya ke atas bantal.


"Maaf sayang, mama tidak mau berbohong untuk hal kecil seperti itu. Lagi pula mamamu ini sudah tua dan terlalu takut dengan neraka, kamu tau kan kalau bohong itu dosa." ujarnya mengulum senyuman.


Puas rasanya bisa menggoda anaknya, gadis kecilnya yang kini telah beranjak dewasa.


"Tapi Key enggak mau ketemu Reno ma..." rengek Keyra yang kembali terduduk dan memasang wajah memelas pada mama Hannah.


Wanita itu bukannya tidak tau penyebab anaknya bersikap seperti ini, namun mama Hannah sungguh memaklumi alasan Reno yang kerap kali membuat anaknya kecewa.


Dan baginya itu hanyalah hal kecil yang masih bisa di selesaikan dengan cara baik-baik.


Lagipula selama ini Reno tidak hanya berhasil menaklukan hati Keyra, tapi juga sang calon ibu mertua yang sungguh mengagumi sifat Reno yang ulet dan pekerja keras di usianya yang masih sangat muda seperti saat ini.


"Memangnya mau sampai kapan kamu marah terus dan menghindari Reno, udah cepetan sana mandi, bau ih." ujar mama Hannah menutup hidungnya, berakting seolah ucapannya memanglah benar adanya hingga membuat Keyra mengendus tubuhnya sendiri.


"Masih wangi gini." gumam Keyra dengan wajah malas.


Mama Hannah tergelak menahan tawa dan berjalan ke arah pintu.


"Reno! Keyra masih ngambek nih, katanya mau disayang-sayang biar ngambeknya hilang." teriak mama Hannah.


Wanita itu sengaja melakukannya dengan pintu kamar Keyra yang terbuka agar suaranya terdengar sampai ke lantai bawah.


"Mama!"


Keyra berjingkat, tak percaya mamanya yang begitu anggun bisa bertingkah sebar-bar itu.


"Gimana kalau Reno beneran naik kesini!" protes Keyra dengan pandangan tak terima.

__ADS_1


"Bagus dong." jawab mama sekenanya.


Wanita paruh baya itu hendak melangkah meninggalkan anaknya yang semakin kesal oleh tingkahnya.


"Bagus dari mana! kalau Reno masuk kesini trus ngapa-ngapain Keyra gimana?" ujar Keyra beralasan.


Karena pada dasarnya ia tau Reno tak akan mungkin melakukan itu padanya.


Pria itu terlalu baik hingga tak pernah mau menyentuh Keyra melebihi batasan.


Justru gadis itu lah yang kerap kali berusaha menggoda sang kekasih di setiap kesempatan.


"Itu lebih bagus lagi, lagi pula mama juga udah pengen punya cucu seperti teman-teman mama." jawab mama Hannah.


Keyra hanya bisa membuka lebar matanya tak percaya mendengar jawaban dari sang mama.


Menghentakkan kakinya kesal, Keyra beranjak dari atas ranjang menuju kamar mandi.


Gadis itu tak lagi bisa beralasan untuk menolak kehadiran Reno, yang pastinya sudah bisa dia tebak apa niat dan tujuan pria itu datang kerumahnya pagi ini.


Keyra sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi, merendam tubuhnya di dalam bathup berisi air dengan wewangian yang bisa menenangkan seluruh sarafnya yang menegang.


Terlebih Keyra masih merasakan kepalanya sedikit pusing akibat pengaruh alkohol yang membuatnya mabuk dan tak sadarkan diri di pesta pernikahan sepupunya semalam.


Setelah merasa cukup, Keyra keluar dengan lilitan handuk di tubuhnya.


Sambil berjalan santai, Keyra mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih basah menuju ruang ganti.


Keyra di buat terkejut kala melihat Reno sedang berbaring di ranjangnya.


Matanya terpejam dan sepertinya pria itu juga tak menyadari kalau Keyra sedang berjalan mengendap ke arahnya.


Reno terlihat sangat lelah, bahkan Keyra bisa melihat semburat lingkaran hitam di bawah matanya, meski hal itu tak mengurangi sedikitpun dari ketampanan yang Reno miliki.


Keyra melambaikan tangannya ke depan wajah Reno guna memastikan kalau pria ini memang benar-benar tertidur.


Sejenak rasa iba datang di hati Keyra, menyadari betapa pria ini sungguh bekerja keras sampai sering mengabaikan waktu istirahatnya sendiri.


Meski Keyra kerap kali mengingatkan Reno untuk mengurangi kesibukannya.


Gadis ini begitu khawatir dan takut kalau kesibukannya akan berdampak buruk bagi kondisi kesehatannya, namun Reno masih saja melakukannya.


Bekerja tanpa mengenal waktu hingga sering melupakan janjinya dan membuat Keyra berakhir kecewa.


Mengingat itu membuat amarah Keyra kembali mencuat, jemarinya yang terulur dan hampir menyentuh wajah Reno pun kembali ditariknya.


"Maafkan aku Key."


Keyra tersentak kaget, mendapati Reno yang tengah memandanganya dan menahan jemari Keyra yang tadinya hendak pergi untuk berpakaian.


Pria itu bangkit dengan posisi tubuh terduduk di tepi ranjang.


Menggeser tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Keyra, pria itu memerangkap tubuh Keyra yang kini terapit diantara pahanya.


Mendengus kesal, egonya yang terlampau tinggi membuat Keyra berusaha sekuat mungkin untuk menekan perasaannya,


Ia tak ingin hatinya kembali luluh lantak oleh tatapan sayu Reno.


Reno melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Keyra, mendekap erat gadisnya dengan menyandarkan kepalanya tepat di dada gadis itu yang hanya tertutup oleh lilitan handuk.


Tubuh Keyra membeku, degub jantungnya pun semakin berdetak tak karuan, dan pastilah Reno tau akan hal itu, di mana ia bisa mendengarnya dengan jelas mengingat posisinya saat ini.


"Mungkin kamu sudah bosan mendengarnya Key, tapi aku tak bisa mengelak dari kesalahan dan hanya bisa memintamu memaafkanku."

__ADS_1


Reno menarik wajahnya, mendongak dan menatap Keyra dengan sorot mata yang sarat akan pengampunan.


Bukannya Reno tak tau diri, ia tau saat ini pasti Keyra sangat marah, bahkan mungkin gadis ini begitu membencinya.


Tapi Reno tak akan menyerah, pria ini akan melakukan apapun untuk menunjukkan penyesalannya, meski harus menerima hukuman dari Keyra, seberat apapun itu, asalkan jangan memintanya pergi ataupun sebaliknya.


Karena Reno tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa ada Keyra disampingnya.


Gadis manis dan manja, namun memiliki hati seluas samudera yang selama ini selalu bisa menerima dan mencintai kekurangannya.


"Kali ini apa lagi alasan yang akan kamu berikan padaku Reno?" tanya Keyra dengan nada sinis.


Terlalu lelah dirinya mendengar permintaan maaf yang selalu saja terulang dan terulang lagi.


Dan masih dengan alasan yang sama, pekerjaan penting yang tak bisa ditinggalkan.


Semua itu cukup menegaskan kalau dirinya tak lebih penting dari pekerjaan itu sendiri.


Sebenarnya Keyra bisa saja menyerah sejak dulu, tapi cintanya pada Reno terlalu besar hingga mampu melunakkan hatinya dengan menjadi kekasih yang selalu mencoba memaklumi semua alasan yang Reno berikan.


Tapi kali ini Keyra terlalu kecewa, delapan tahun bukanlah waktu yang singkat, bahkan lebih dari cukup bagi keduanya untuk belajar dari kesalahan yang sama.


Kania menggeleng dengan maniknya yang telah berkaca-kaca.


"Ini terlalu sulit buatku." ucap Keyra memundurkan langkah.


Membuat kedua tangan Reno yang melingkar di pinggangnya terlepas.


"Key..." lirih Reno yang justru lebih dulu meneteskan air mata mendapati Keyra yang semakin bergerak menjauhinya.


"Tanyakan pada hatimu apa aku ada disana sedikit saja Reno, apakah selama ini kamu benar-benar mencintaiku?" nafas Keyra tercekat menahan tangisan.


"Key..."


Reno beranjak dan hendak menghampiri Keyra.


"Tetap disana dan jangan mendekat!" cegah Keyra yang melihat Reno berjalan ke arahnya.


Serasa melayang nyawa Reno, bagaimana mungkin Keyra memintanya menjauh saat hatinya hanya menginginkan gadis itu bersamanya.


"Pergilah dan tinggalkan aku sendiri untuk saat ini." pinta Keyra yang tak sanggup lagi berlama-lama menghadapi Reno.


Ia yakin hatinya akan kembali luluh jika membiarkan Reno tetap berada di hadapannya saat ini.


Dan Keyra tak ingin Reno kembali melakukan hal yang sama jika kali ini dia memaafkan pria ini dengan mudah.


Setidaknya ia ingin memberi pelajaran pada Reno untuk lebih menghargai perasaannya.


"Tapi Key, a..." bibir Reno terkatup.


"Kumohon pergilah." potong Keyra lagi tak ingin mendengar alasan apapun, apalagi berdebat untuk hal yang itu-itu saja.


Keduanya terdiam untuk beberapa saat, hingga Reno mengusap wajahnya sembari menghela nafas panjang dan kembali menatap Keyra dengan begitu lekat.


"Baiklah, aku yakin kamu pasti butuh waktu untuk menenangkan diri. Tapi kumohon jangan terlalu lama Key," ucap Reno menjeda ucapannya.


Menghela nafas untuk yang kesekian kalinya dan kali ini terasa begitu berat bagi Reno.


"Karena aku akan sangat merindukanmu." ucapnya lemah.


Reno tersenyum tipis sebelum memutuskan berbalik dan berjalan menjauh hingga kini Keyra hanya bisa melihat punggung pria itu menghilang di balik pintu kamarnya.


Tubuh Keyra melemas, ambruk seketika di lantai dengan deraian air mata yang tak lagi bisa dibendung.

__ADS_1


Tak pernah ia merasa sesakit ini sebelumnya, hatinya berdenyut nyeri melihat kepergian Reno.


Tapi rasa kecewa yang begitu besar membuatnya sulit untuk memberikan maafnya pada Reno kali ini.


__ADS_2