Kekasih Bayanganku Tersayang

Kekasih Bayanganku Tersayang
Hukuman


__ADS_3

Pernahkah kalian berada pada situasi ingin mati saja, tapi terlalu takut merasakan sakit ketika ingin menjatuhkan diri dari atas gedung.


Atau terlalu takut membayangkan darah yang akan keluar saat memutuskan mengiris pergelangan tanganmu dengan pisau.


Dan itulah yang sedang aku rasakan saat ini, mendapati bang Arya yang menatap tajam ke arahku dan Mia secara bergantian, dan satu lagi yang tak boleh ketinggalan, Jessy.


Sialan gadis itu, mabuk sampai tak sadarkan diri ternyata membawa keuntungan baginya.


Setidaknya ia tidak perlu melihat bagaimana mengerikannya wajah bang Arya saat ini.


Yang membuat tubuhku serasa tak bernyawa menghadapi amarahnya.


"Jelaskan bagaimana kalian bisa ada ditempat ini." ucap bang Arya tenang tapi penuh penekanan di setiap katanya.


Aku masih tertunduk, nyaliku benar-benar menciut saat ini.


Bahkan untuk sekedar mendengar deru nafas bang Arya saja sudah membuat jantungku mencelos.


"Apa kalian bisu? tidak mau menjawab? baiklah kalau begitu."


Bang Arya yang tadinya duduk lalu beranjak dan terlihat akan pergi meninggalkan kami di ruangan ini.


Tempat dimana bang Arya dan temannya menggeret kami keluar dari keramaian saat mendapati aku, Mia dan Jessy di club malam yang juga ia datangi.


Aku melirik Mia yang juga sedang menatap ke arahku dengan raut wajah bingung.


Lalu Mia memintaku mencegah bang Arya pergi dengan menggerakan dagunya.


"Bang Arya." teriakku memberanikan diri.


Tangannya yang sudah meraih handle pintu pun terhenti, bang Arya menoleh kebelakang untuk menatapku.


"Apa?" tanyanya ketus.


Dan aku semakin takut menatap matanya.


"Abang mau kemana? kenapa kami malah ditinggal disini?" ucapku masih dengan kepala yang tertunduk.


"Bukankah ini keinginan kalian? ya sudah untuk apa lagi abang masih disini? tapi ingat! jangan menyesal ataupun meminta bantuan pada abang karena pemilik tempat ini tidak akan mengampuni anak dibawah umur seperti kalian yang menyusup masuk ketempat usahanya." ancam bang Arya yang sukses membuatku dan Mia kesusahan untuk sekedar menelan ludah.


Apa benar ada hukuman yang dibuat untuk penyusup seperti kami?


Bagaimana kalau hukumannya kami tidak boleh keluar dari sini dan harus memberi ganti rugi yang tidak sedikit?


Atau yang lebih parah kami akan di jual dan di paksa melayani pengunjung seperti tuan mesum tadi?


Aku menggeleng guna menepis semua ketakutanku itu.


Oh ya, ngomong-ngomong soal tuan mesum emosiku semakin menjadi dibuatnya.


Bisa-bisanya tadi dia malah tersenyum mengejek kearahku saat kami kepergok bang Arya.


"Key." gumam Mia memanggilku dengan bibir mengatup rapat, namun raut wajahnya menunjukkan kekesalan.


Aku hanya menaikkan kedua alisku karena tak paham dengan tujuan Mia memanggilku.


"Cepat kau jelaskan ke bang Arya, sebelum dia benar-benar meninggalkan kita di tempat ini." bisiknya kemudian.


Astaga! gara-gara melamunkan tuan mesum itu, aku sampai melupakan kalau bang Arya masih menungguku memberikan penjelasan.


Aku berdehem guna menguatkan diri menerima kemarahan bang Arya.


"Maafkan kami bang, kami hanya begitu penasaran dengan tempat ini." jawabku lemah.


Kulirik lagi wajah bang Arya saat ini, dia masih tampak tenang, tapi tatapan tajamnya tak berkurang sedikitpun.


"Hanya karena alasan itu kalian sampai berbohong?" tanya bang Arya menaikan nada bicaranya.


"Maaf." ucapku dan Mia bersamaan.


Bisa kudengar dari tempat kami duduk sekarang bang Arya sedang menghela nafas kesal.


"Baiklah, untuk kali ini kalian akan abang maafkan."


Aku dan Mia langsung meloncat kegirangan bahkan sebelum bang Arya menyelesaikan ucapannya.


"Tapi kalian tetap akan mendapatkan hukuman, terutama kau Keyra!" lanjut bang Arya lagi.


"Hukuman?" cicitku mengulang ucapannya.


"Apapun asal jangan tinggalkan kami di tempat ini bang." jawab Mia.

__ADS_1


Aku setuju dengan Mia, dan aku kembali di buat penasaran dengan hukuman apa yang harus aku terima dari bang Arya nanti.


Setelah itu kami harus mendengarkan ceramah singkat dari bang Arya sebelum ia membawa kami pulang.


Dan tanpa aku duga, ternyata bang Arya meminta si tuan mesum sahabatnya itu untuk membawa mobil bang Arya dan mengikuti mobil Mia yang kini bang Arya bawa dari belakang.


"Tuan mesum yang sombong." gerutuku melihat dia tak menoleh sedikitpun ke arahku saat tadi kami berpapasan di tempat parkir.


Sesampainya dirumah Mia, bang Arya menggendong Jessy yang memang akan menginap di rumah Mia malam ini.


Dan aku diminta bang Arya untuk pindah ke mobilnya.


Astaga! tak pernah terpikir aku akan berada dalam satu mobil bersama tuan mesum sombong itu.


Tapi mau bagaimana lagi, tanpa melihat kearahnya aku langsung duduk di kursi belakang.


Sementara pria itu tetap diam duduk di balik setir mobil tanpa merasa terganggu dengan keberadaanku.


Selama menunggu bang Arya keluar, suasana di dalam mobil begitu hening tanpa suara.


Kulirik sesaat dan melihat dia sibuk dengan ponsel ditangannya.


Sementara aku yang merasakan kantuk dan pusing yang datang bersamaan, perlahan memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi dimana pria pujaan hatiku berada.


******


Pagi ini masa hukumanku pun dimulai.


Bang Arya sengaja tak membangunkanku pagi ini, dan akhirnya aku terlambat sampai ke sekolah.


Meski bang Arya tetap menyuruh supir mengantarku, semua itu percuma.


Karena pada akhirnya aku tetap berdiri disini, memberi hormat ke tiang bendera ditengah lapangan.


Untungnya aku tak sendirian, ada Mia dan Jessy yang juga bernasib sama sepertiku, karena mereka juga bangun kesiangan pagi ini.


Dan bisa kalian bayangkan bagaimana menjadi pusat perhatian seisi sekolah dengan posisiku sekarang.


Astaga, aku akan lebih memilih menenggelamkan kepalaku ke dalam lumpur dibandingkan menjadi bahan ledekan mereka semua.


"Kau ingat kata-kataku Mia, sampai matipun aku tidak akan pernah menginjakan kakiku lagi ke tempat terkutuk itu." ucapku dengan luapan rasa kesal.


Aku memutar bola mataku jengah mendengarnya.


"Kau tau, semalam aku berkenalan dengan pria yang sangat tampan di sana, dan hari ini dia kembali mengajakku ketemuan di salah satu kafe, kau mau ikut kan? dia bilang akan mengajak temannya juga yang tak kalah tampan Key." bujuk Mia kegirangan.


"Tidak bisa! kau tau, bang Arya menghukumku dengan larangan ke luar rumah sampai batas yang belum di tentukan, kartu kreditku ditarik, dan uang sakuku juga dipotong olehnya." gerutuku dengan bibir mengerucut.


"Jadi siapa lagi yang akan mentraktirku setiap hari Key?" potong Jessy.


"Dasar bodoh, kau masih memusingkan soal itu sekarang?" protesku tak percaya pada teman tak bermodalku yang satu ini.


"Key..." Mia menyenggol perutku dengan lengannya.


"Apa lagi Mia?" sungutku kesal.


"Lihat kesana?" Mia menunjuk kesatu arah dan akupun mengikuti kemana pandangannya kini.


Astaga, kesialanku semakin lengkap saja hari ini, bisa kulihat dari jauh Reno menatap kearahku yang sedang menerima hukuman karena datang terlambat kesekolah pagi ini.


"Hilang sudah harapanku untuk mendapatkannya Mia..."


Aku tertunduk lemah sembari menutupi wajahku karena Reno harus melihatku dalam situasi memalukan ini.


"Tenang saja Key, aku akan mengenalkanmu pada temannya Tom yang tak kalah tampan dari Reno." ucap Mia menghiburku.


Aku menggeleng lemah.


"Tapi aku hanya mau Reno, kau tau seberapa besar perjuanganku untuk bisa mendapatkannya, bahkan sampai saat ini dia masih belum menerima perasaanku.


Dan sekarang dia malah melihatku seperti ini..." rengekku yang hampir menangis karena begitu frustasi.


Aku, Mia dan Jessy terkapar di pinggir lapangan setelah menyelesaikan hukuman.


Keringatku bercucuran karena terik matahari yang begitu menyengat hari ini.


Kupejamkan mata menikmati semilir angin yang sedikit menghibur kulitku yang hampir terbakar.


"Mau minum?"


Aku terperanjat saat mendengar suara yang sangat aku puja itu mengalun indah di pendengaranku.

__ADS_1


"Re..no..." ucapku terbata tak percaya.


Apa aku sedang bermimpi? kalau iya tolong jangan ada yang berani membangunkanku, atau aku akan membunuhnya.


Kulihat Reno menyodorkan sebotol minuman dingin kearahku, meski aku memang menginginkan minuman itu.


Tapi melihat Reno dengan wajah tampannya ada dihadapanku saja sudah cukup bagiku, membuatku tak menginginkan hal lain lagi.


"Keyra." panggilnya.


Membuat lamunanku buyar seketika.


"Ha...?" ucapku semakin tak percaya bibirnya yang manis itu akhirnya menyebutkan namaku.


"Apa aku salah? namamu benar Keyra kan?" tanyanya lagi.


Reno masih berdiri menatapku, dan itu membuat jantungku semakin berlarian kesana kemari.


"I..iya, aku Keyra." jawabku.


Ya Tuhan...bagaimana ada mahluk sesempurna ini...batinku.


Tanpa melakukan apapun aku sudah begitu terpesona di buatnya, apalagi kini dia menawarkan sebotol minuman untukku.


"Ini minumlah, kau pasti haus kan?"


Lalu Reno duduk disebelahku, tepat disebelahku, mimpi apa aku semalam, sungguh aku mengharapkan ini sejak mengenal kakak kelasku yang tampan ini.


Dengan senang hati aku mengambil minuman itu dari tangannya.


Tapi aku tak berniat meminumnya, sungguh, aku pikir aku akan membawanya pulang saja.


Menaruhnya dalam kotak kaca, dan menjadikannya pajangan di dalam kamarku.


"Mau kubukakan tutup botolnya?" tanya Reno.


Kulihat matanya yang indah juga sedang menatapku, senyumnya merekah membuatku semakin mabuk kepayang.


Bahkan lebih memabukan dari wine yang aku minum kemarin.


"Ti..tidak perlu, biar aku buka sendiri saja nanti." ucapku sambil memeluk botol minuman itu.


Reno kembali tersenyum padaku, oh...aku semakin meleleh dibuatnya.


"Kalau tidak mau biar buatku saja, aku juga haus Key."


Mia merebut minuman pemberian Reno dariku, secepat kilat ia membuka penutupnya dan meminumnya sampai habis.


"Mia!" teriakku sekencangnya.


Dan aku hanya bisa melotot sampai meneteskan air mata saat melihat botol itu sudah kosong, dan tanpa merasa bersalah Mia membuangnya ke tong sampah.


"Thank's ya Ren. Key, aku dan Jessy ke kantin duluan ya." pamitnya yang langsung pergi bersama Jessy.


Aku berjongkok dan memeluk lututku menahan kesal.


"Kau tidak apa-apa Key?" Reno mengguncang bahuku pelan.


Entahlah, aku benar-benar kesal dengan tingkah Mia barusan.


"Keyra." Reno turut berjongkok didepanku.


Dan aku semakin tak percaya saat Reno menarik wajahku perlahan, membuatku mendongak guna menatap wajahnya.


"Kau menangis?" tanyanya panik.


"Mia...dia menghabiskan minumanku Ren." rengekku dengan air mata yang tak mau berhenti mengalir.


Reno tertawa, membuatku semakin menangis lebih kencang dari sebelumnya.


"Hei, kenapa kau malah menangis. Tatap aku Key," pintanya sembari menghapus airmata di pipiku.


"Itu hanya minuman, kalau kau mau aku akan membelikannya lagi untukmu, jadi berhentilah menangis, kau jadi jelek sekarang."


Kata-kata Reno seperti sihir bagiku, aku kembali tersenyum mendapatkan perhatiannya, hal yang aku impikan darinya selama ini.


"Kau cantik kalau tersenyum Key, aku suka melihatnya."


Reno lalu mengusap rambutku dengan begitu lembutnya, dan sumpah aku ingin saat ini juga waktu berhenti berputar.


Dan kini dunia serasa hanya milik kami berdua, hanya ada aku dan Reno seorang saja...

__ADS_1


__ADS_2