Kekasih Bayanganku Tersayang

Kekasih Bayanganku Tersayang
Memori yang terlupa


__ADS_3

Rasa lapar di perutnya memaksa Keyra untuk mengakhiri dramanya malam ini.


Karena ingin menghindari amukan bang Arya, Keyra harus berpura-pura tidur di dalam tendanya.


Yah, rombongan ini memang membangun beberapa tenda untuk istirahat mereka malam ini sebelum melanjutkan perjalanan lagi esok hari.


Keyra berjalan mengendap menuju mobil abangnya.


Ia ingat membawa banyak makanan berupa roti, buah dan camilan lainnya di dalam koper.


"Astaga aku lupa."


Keyra menepuk sendiri keningnya ketika menyadari sesuatu.


"Bagaimana aku bisa mengambilnya sementara kunci mobil sudah pasti ada di tangan bang Arya." gumam Keyra menggigit bibirnya sambil memikirkan cara lain untuk mendapatkan makanan tanpa harus berhadapan dulu dengan Arya sampai emosi pria itu mereda.


"Kak Vira, yah aku bisa minta bantuannya."


Keyra menjentikkan jarinya seolah mendapatkan ide yang begitu brilian.


Gadis itu kembali berjalan mengendap agar tak memancing perhatian orang yang kini sedang berkumpul dan bercengkrama sambil mengelilingi perapian untuk menghangatkan diri dari udara malam yang menusuk tulang.


Baru berjalan beberapa langkah, Keyra berhenti ketika mendengar suara aneh dari barisan mobil yang kini terparkir rapi.


"Suara apa itu."


Rasa penasarannya yang lumayan besar membuat Keyra memberanikan diri untuk mencari dari mana suara itu berasal.


"Bisakah kau sedikit lebih lembut melakukannya." lirih suara pria yang bisa Keyra dengar semakin dekat dengan posisinya berada saat ini.


Dan Keyra semakin berjalan mendekati dan ingin tau apa yang terjadi di sana.


"Ouuuhhh Bram..."


Keyra bergidik mendengar desahan yang terdengar begitu menjijikan di telinganya.


Terlebih dengan jelas ia mendengar suara itu menyebutkan nama Bram, pria dingin yang ia anggap memiliki kelainan.


Gadis itu sempat ragu apakah ia harus meneruskan langkahnya atau tidak.


Bagaimana kalau nantinya Keyra harus melihat hal yang tidak seharusnya ia lihat, mengingat imajinasi Keyra yang sudah berkelana kemana-mana saat ini.


"Persetan dengan apa yang mereka lakukan, tapi aku tau itu perbuatan menyimpang dan sebagai orang baik aku harus mengingatkan mereka agar kembali kejalan yang benar."


Keyra memilih mengambil resiko, dan tubuhnya seketika menegang ketika melihat dua orang pria dengan posisi siapapun yang melihatnya pasti akan berpikiran sama dengan yang Keyra pikirkan saat ini.


Pria yang memperkenalkan dirinya dengan nama Miko pada Keyra tadi pagi tengah berdiri bersandar pada mobil, sedangkan pria lainnya yang Keyra tebak adalah Bram sedang berjongkok menghadap Miko.


Sementara posisi Keyra berdiri saat ini tepat berada di belakang Bram.


"Pelan-pelan Bram." erang Miko menengadahkan kepalanya dengan mata yang terpejam.


"Ya Tuhan, jadi benar dugaanku kalau Bram adalah seseorang yang memiliki kelainan selera, dan ternyata Miko merupakan teman kencannya Bram."


Keyra menutup mulutnya yang menganga tak percaya akan apa yang ia lihat saat ini.


"Nikmatilah, bukannya tadi kau yang memintaku melakukannya sedikit lebih kencang agar ini bisa segera berakhir."


Kini Keyra mendengar Bram buka suara dan tengah mendongak menatap Miko yang tampak lemas seolah sudah kehabisan tenaga.


Keyra sudah tak lagi sanggup menahannya.


Persetan kalau mereka berdua akan marah karena Keyra telah mengganggu kesenangan mereka.


Tapi Keyra sudah bertekad untuk menegur dan mengingatkan bahwa apa yang kedua pria itu lakukan merupakan penyimpangan yang salah besar menurut kepercayaan manapun.


"Apa kalian tak punya rasa malu? bagaimana bisa kalian berdua melakukan hal tidak terpuji itu disini!" hardik Keyra dengan tatapan tajam yang ia arahkan bergantian pada Miko dan Bram.

__ADS_1


Bram yang seketika menoleh saat mendengar teriakan Keyra pun hanya memasang wajah datar pada gadis itu.


"Apa kau sedang ada masalah bocah."


Bram menaikkan salah satu alisnya dengan angkuh.


Sementara Miko yang masih terkejut melihat kehadiran Keyra hanya bisa terdiam sembari mencerna ucapan gadis itu dengan raut wajah bingung.


"Ceh...bukan aku yang bermasalah disini, tapi kaluan berdua! menjijikan." sindir Keyra dan berlalu pergi sembari menahan rasa mual yang tiba-tiba ia rasakan di perutnya.


Keyra berlari dan memuntahkan isi perutnya yang memang belum di isi apapun sejak tadi siang.


Keyra bergidik geli membayangkan apa yang kedua pria itu lakukan, dan hal itu sungguh menambah rasa mual di perutnya semakin menjadi.


Dengan langkah lemah dan tubuhnya yang seolah kehabisan tenaga Keyra berjalan menuju tendanya.


Rasa laparnya tak lagi ia pikirkan, saat ini Keyra hanya butuh berbaring untuk mengalihkan semua bayangan buruk tentang perbuatan Bram dan Miko setelah kepergiannya tadi.


"Ya Tuhan ampunilah dosa mereka." gumam Keyra merebahkan tubuhnya.


Sementara di tempat lain, dimana Bram dan Miko berada, kedua pria itu memang meneruskan apa yang mereka lakukan sebelumnya.


"Harusnya kau lebih berhati-hati, di tempat seperti ini banyak hal tak terduga yang bisa kita jumpai bahkan bisa mengancam nyawa bila kita tidak waspada." ucap Bram yang selesai menempelkan salep di area paha Miko yang digigit binatang kelabang atau ada juga yang menyebutnya lipan.


"Thank's Bram, ini pengalaman pertamaku berurusan dengan binatang seperti itu, jadi wajar saja kalau aku begitu panik tadi."


Tubuh Miko terlihat lemas karena ketakutan, terlebih rasa sakit akibat sengatan binatang itu membuatnya merasakan nyeri yang luar biasa hingga Miko meminta bantuan pada Bram yang memang lebih berpengalaman untuk urusan seperti itu.


Mengingat Bram yang sudah terbiasa dengan alam liar karena berhubungan dengan hobinya yang memang menyukai berbagai kegiatan ekstrem.


"Tapi tunggu dulu Bram." ucap Miko menjeda ucapannya.


"Apa kau mengerti apa yang adiknya Arya ucapkan tadi?" lanjutnya dengan kedua ujung alisnya yang kini menyatu.


Bram menoleh ke arah Miko dan menaikan kedua bahunya menandakan bahwa ia tidak tau dan juga tidak perduli akan ucapan bocah itu.


"Kau lihat tadi bagaimana ekspresinya Bram? gadis itu benar-benar cantik dan menggemaskan." lanjut Miko membayangkan wajah Keyra.


Sementara Bram yang diajak bicara malah sibuk dengan peralatan memancingnya.


Seolah tak tertarik sama sekali dengan pembahasan yang membuat Miko senyum-senyum sendiri.


"Bagaimana menurutmu reaksi Arya kalau aku memacari adiknya. Dan bodynya itu...wow kau juga bisa lihat kan Bram? aku begitu penasaran dengan apa yang ada di balik pakaiannya itu."


Seketika itu juga Bram menoleh dan menatap datar Miko.


"Hey...ada apa dengan raut wajahmu Bram? jangan bilang kau juga tertarik dengan Keyra.


Tapi itu tidak jadi masalah, kita bisa bersaing secara sehat untuk mendapatkan gadis itu bukan?"


Miko tertawa terbahak dan tak lama pria itu meringis menahan rasa nyeri yang tadi dia lupakan.


"Shit." umpat Miko kemudian.


Bram hanya diam tak perduli dan kembali sibuk dengan alat pancingnya.


Di dalam salah satu tenda, Vira yang melihat Keyra masih tertidur segera membangunkan gadis itu karena sudah melewatkan jam makan malamnya.


"Key bangunlah, apa kau tidak lapar?" Vira mengguncang tubuh Keyra beberapa kali, dan gadis itu menggeliat malas.


"Ayolah Key, Arya akan lebih marah kalau kau tidak makan." seru Vira sembari menarik paksa tangan Keyra agar mau bangun.


Gadis itu terduduk dengan mata setengah terpejam.


"Perutku terasa seperti di aduk-aduk kak." Keyra mendorong tubuh Vira dan segera berlari keluar tenda.


"Ada apa denganmu Key?" tanya Vira cemas melihat wajah pucat calon adik iparnya.

__ADS_1


Vira pun menyusul Keyra keluar dan mendapati gadis itu tengah berjongkok dan tak berhenti memuntahkan isi perutnya.


"Ya ampun Key kau pucat sekali, katakan dibagian manamu yang sakit, hmm?"


Sembari menekan-nekan tengkuk Keyra, Vira menoleh kekanan dan kekiri untuk mencari keberadaan Arya.


"Kepalaku pusing dan perutku..huweeek..."


Keyra kembali memuntahkan isi perutnya yang kosong.


"Bagaimana ini," Vira tampak begitu cemas melihat keadaan Keyra yang semakin lemah.


"Arya kemana sih!" gerutu Vira yang bingung harus melakukan apa.


"Bram!" panggil Vira ketika melihat pria itu melintas tidak jauh dari mereka.


Bram menoleh dan berjalan mendekat, pria itu menaikan sebelah alisnya guna mencari tau apa yang sedang terjadi.


"Bisa kau bantu aku membawa Keyra kembali ke tenda?"


Bram mengernyit dan melihat Keyra tertunduk dengan tubuh hampir ambruk.


Pria itu dengan cepat meraih tubuh Keyra.


"Key!" pekik Vira yang kaget melihat Keyra nyaris pingsan.


"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Bram mencari tau sembari memeluk erat Keyra.


"Entahlah, yang pasti sejak tadi Keyra tak berhenti muntah dan mengeluhkan kepalanya pusing." jawab Vira dengan raut panik.


Bram melihat wajah Keyra yang sedang terpejam lemah.


Lalu pria itu beranjak dan membawa Keyra kembali ke dalam tendanya.


"Apa dia melewatkan makan malamnya tadi?" tanya Bram yang seolah tau apa yang terjadi pada Keyra.


"Kau benar, terakhir kali dia mengisi perutnya saat makan siang tadi." jawab Vira cepat.


"Kemana Arya? apa dia sudah pergi?"


Bram dan yang lainnya memang berencana memancing ke danau malam ini.


"Sepertinya iya."


Bram nampak berpikir sesaat, entah kenapa wajah Keyra yang pucat membuatnya semakin khawatir.


"Bisakah kau buatkan teh jahe untuknya."


Bram masih dengan wajah datarnya meminta Vira tanpa mengalihkan pandangannya dari Keyra.


"Baiklah," Karena panik Vira langsung berlari, namun tak berselang lama gadis itu kembali lagi ke dalam tenda.


"Aku titip Keyra, terima kasih sebelumnya Bram."


Tanpa menunggu jawaban dari Bram, Vira kembali keluar untuk membuatkan teh jahe seperti yang disarankan pria itu untuk menghilangkan rasa mual Keyra.


Bram terdiam dan memperhatikan dengan seksama wajah Keyra.


Sekilas terlihat sudut bibir Bram tersungging naik kala mengingat pertemuan pertama mereka beberapa tahun silam.


Meskipun sepertinya Keyra sudah melupakan momen itu, namun Bram masih ingat betul bagaimana gadis ini dengan suara lantang membanggakan soal keperawanannya di hadapan Bram.


Hal konyol yang membuat Bram tak pernah melupakan Keyra, gadis manja yang kekanakan, namun meninggalkan kesan mendalam bagi seorang Bram.


Laura Keyra Martin


__ADS_1


__ADS_2