
Malam ini adalah milik kami, dan kami tak ingin memikirkan apapun yang akan terjadi nanti akibat kenekatan yang kami buat dengan datang ketempat seperti ini.
Yang tentulah belum memperbolehkan gadis seusia kami datang kesini.
Apalagi dengan bang Arya, kalau sampai dia tau aku pergi ke tempat ini.
Bisa-bisa semua fasilitasku akan dia cabut dan aku akan berakhir menjadi gembel di jalanan.
Membayangkannya saja sudah membuat tubuhku bergidik.
Tapi biarlah itu menjadi urusanku nanti, lagi pula bang Arya juga tidak akan tau kalau aku pergi kesini.
Kami bertiga masih larut dalam semua kesenangan yang membuat kami nyaris melupakan waktu.
Aku masih menyesap minuman dari gelas yang kupegang.
Meski pada awalnya aku tidak menyukai rasanya, tapi perlahan rasa penasaran membuatku terus meneguk minuman ini.
Aku sendiri tidak tau entah sudah berapa banyak gelas yang kuminum, akhh... tentu saja aku tidak menghitungnya tadi.
Sementara Jessy, gadis ini malah sudah mabuk dan terkapar dengan wajahnya yang menempel di meja.
"Jess! bangunlah, Jessy..."
Kutepuk pipinya beberapa kali, dan dia masih belum mau membuka matanya.
"Dasar gadis bodoh, lihatlah..bahkan kau tidur seolah ini adalah kamarmu sendiri." gumamku sambil membuka kelopak matanya.
Bukannya terbangun, Jessy justru meracau tak karuan.
Membuatku terkekeh pelan, dan tiba-tiba saja aku mendapatkan ide untuk menjahilinya.
Kuambil ponsel dan mengarahkan kameranya ke wajah Jessy dengan mulutnya yang sedikit terbuka, membuat air liurnya mengalir, dan tentu saja itu benar-benar terlihat lucu sekaligus menjijikan.
Terkekeh geli aku melihat beberapa hasil jepretanku sendiri, aku menyeringai puas bisa mengabadikan wajah Jessy yang sungguh luar biasa ini.
Luar biasa hancurnya maksudku, dan bisa kalian bayangkan bagaimana reaksinya nanti ketika melihat foto ini.
Sementara Mia terlihat semakin gila, bahkan kini ada pria yang sedang menari bersamanya.
"Ck ck ck...gadis itu, kau akan menangis bila buaya itu nanti menggigitmu Mia." gumamku.
Kugelengkan kepalaku berulangkali, bukan karena jengah melihat Mia bersama buaya itu.
Tapi kurasakan kepalaku yang semakin berputar, dan pandanganku pun mulai buram.
"Apa ada gempa bumi?" erangku sambil terus menggelengkan kepala.
"Jessy! bangunlah, ada gempa Jess! baiklah, terserah padamu saja, kalau kau tidak mau bangun maka aku akan meninggalkanmu membusuk disini dan jangan salahkan aku nantinya." gumamku.
"Tapi tunggu, aku pergi ketoilet dulu sebentar, aku tak bisa terus menahannya, bisa-bisa aku jadi tontonan orang karena mengompol di sini," aku beranjak dan menjadikan sandaran kursi sebagai tumpuan tubuhku.
"Ingat! jangan kemana-mana dan tunggu aku kembali." pamitku pada Jessy yang jelas-jelas tidak akan mendengar ucapanku.
Lalu aku berjalan sedikit sempoyongan meninggalkan Jessy guna mencari dimana toilet berada.
"Kenapa pemilik tempat ini pelit sekali sih, aku kan jadi tidak bisa melihat kalau gelap begini." gerutuku saat melihat hanya ada cahaya temaram di sepanjang lorong menuju toilet.
Kutempelkan kedua tanganku ke dinding, berjalan merayap dan berharap agar aku tidak jatuh sambil terus menahan tubuhku yang semakin sempoyongan.
Bruuuk....
"Awww..." pekikku merasakan sakit di daerah bokongku.
Aku meringis sambil menatap tajam kearah seorang pria berpostur tinggi besar yang kini sedang berdiri di hadapanku.
"Apa kau tak berniat menolongku tuan!" teriakku kesal
Bahkan pria itu hanya menatap datar kearahku yang sedang berusaha bangkit dari posisiku terjatuh dalam keadaan duduk dan pastinya sangat memalukan.
"Apa kau tidak kenal siapa aku tuan? sialan! aku akan menuntutmu dan memintamu bertanggung jawab bila terjadi apa-apa pada bokongku." umpatku sembari berkacak pinggang.
Dan sungguh sial rasanya, sepertinya pinggangku juga harus di periksa karena aku juga merasakan sakit di bagian sana.
"Kalau saja aku tidak dalam keadaan terdesak saat ini, sudah aku pastikan wajah tampanmu itu akan aku cabik-cabik tuan." umpatku.
Tanpa melihat lagi ke pria itu, aku langsung berlari ke dalam toilet karena rasa sesak yang tidak bisa lagi diajak kompromi.
Bisa dipastikan pastilah saat ini pria itu sedang tertawa mengejekku.
Dan benar dugaan Keyra, Bram tak bisa menahan untuk mengulum senyuman melihat tingkahnya.
"Dasar bocah, aku penasaran berapa lama lagi orang tuanya mampu bertahan hidup bila mengetahui kelakuan nakal anaknya." gumam Bram sambil berjalan kembali ketempat tadi ia berkumpul bersama teman- temannya.
Namun langkah Bram terhenti saat ia berpapasan dengan seorang pria, Bram bisa melihat gelagat mencurigakan dari pria yang Bram tau memang sudah mengamati Keyra sejak tadi.
__ADS_1
Bram berdecak dan kembali melanjutkan langkahnya.
Namun kini Bram harus merutuki tiap langkahnya yang justru memilih berbalik dan menghampiri pria itu yang sedang berdiri di depan toilet wanita.
Sungguh Bram tidak pernah berminat mencampuri urusan orang lain di sepanjang hidupnya.
Dan yang ia lakukan sekarang sungguh tidak mencerminkan dirinya sama sekali.
"Boleh kita bicara sebentar bung."
Pria itu menoleh dan sedikit terkesiap saat melihat keberadaan Bram yang kini berdiri di dibelakangnya dengan wajah datar.
"Tidak bisa, aku sedang sibuk." ucapnya pongah.
Bram menggeram, tapi sungguh dia tidak ingin membuang energinya hanya untuk menghadapi seekor kutu busuk.
"Wanitaku sedang ada di dalam, dan aku yakin kau akan menghalangi jalannya saat ia keluar nanti." ucap Bram dengan ekspresi tenang.
Dan lagi-lagi ia harus merutuki tindakannya barusan.
Entah apa yang sedang ia pikirkan, tapi kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Oh ya? tapi aku juga sedang menunggu seseorang disini, jadi maaf aku tidak bisa menuruti permintaanmu." ucapnya lagi.
Berkacak pinggang, pria itu tak akan membiarkan Bram mengintimidasinya dengan tatapan membunuh yang diarahkan padanya.
Meski jujur pria ini merasa penasaran tentang siapa sebenarnya Bram yang berani mengusik kesenangannya ini.
"Jadi kau tetap tidak mau menyingkir?"
Bram tidak punya pilihan lain lagi, kalau dengan menunjukkan sedikit taringnya bisa membuat kutu busuk ini sadar dengan siapa dia berhadapan kali ini.
Maka bisa dipastikan pria ini akan langsung hancur di tangan Bram tanpa punya kesempatan untuk sekedar menyesal.
Tapi tiba-tiba saja datang pria lain yang Bram tebak merupakan teman dari kutu busuk ini.
Tanpa berani menatap Bram, pria itu membisikan sesuatu pada si kutu busuk.
"Kau tidak sedang bercanda bukan?" ucap si kutu busuk pada temannya.
Bram bisa melihat dengan jelas kedua pria itu menunduk dan terlihat ketakutan.
Nyali yang coba pria itu tunjukan seketika menghilang, ciut, layu tak berbentuk.
Dan tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun, keduanya langsung pergi meninggalkan Bram.
Tak pernah terpikir sekalipun dalam hidup Bram harus berurusan dengan hal tidak penting seperti ini, sungguh membuat waktunya yang berharga terbuang cuma- cuma.
"Apa yang sedang kau lakukan disini tuan! kau pasti sedang menguntitku bukan? aku yakin sekali kau pasti sedang merencanakan sesuatu sekarang." teriak Keyra sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Membuat Bram yang tadinya hendak melangkah pergi, harus kembali mengurungkan niatnya dan berbalik badan menatap gadis yang sedang meneriakinya.
"Pria mesum sepertimu harus di beri pelajaran! dan aku akan melaporkanmu ke pihak berwajib karena sudah berniat jahat padaku." tuduh Keyra yang hanya di hadiahi tatapan tajam dari Bram.
"Kau bilang apa barusan? pria mesum? merencanakan hal jahat padamu?" gumam Bram dengan suara lembut namun penuh penekanan.
"Kenapa? kau tidak terima dengan ucapanku? dengar ya tuan, aku tidak akan mudah tertipu oleh jeratan pria mesum sepertimu.
Walaupun harus kuakui kau sedikit...." ucap Keyra tertahan.
Keyra terdiam saat melihat Bram melangkah mendekat kearahnya, membuat gadis itu terpojok dengan punggungnya yang menempel ke dinding.
Bahkan Keyra merasakan nafasnya semakin tercekat karena saat ini hidung mereka nyaris bertemu, tak menyisakan jarak sedikitpun.
Bram juga meletakan kedua tangannya ke dinding, memerangkap Keyra diantara tangannya.
"Tampan." ceplos Keyra meneruskan ucapannya.
Bram menyeringai iblis, bagaimana bisa seorang bocah merayunya secara terang-terangan dengan mengakui ketampanannya.
"Apa yang membuatmu berpikir kalau aku berniat jahat dan menginginkanmu bocah kecil." ucap Bram dengan wajah datarnya.
"Aku bukan lagi seorang bocah." protes Keyra tak terima.
Memberanikan diri dengan mengangkat dagunya tinggi-tinggi, Keyra balik menatap tajam manik Bram yang sungguh mematikan.
Bahkan kalau boleh jujur, saat ini saja Keyra harus mengumpulkan segenap kekuatannya guna menopang tubuhnya yang akan ambruk menghadapi Bram dengan postur tinggi besarnya.
"Terserah, akan kuberi tau sesuatu padamu."
Bram memindai tubuh Keyra dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
Dan Bram langsung bisa menebak kalau ukuran dada gadis ini bahkan tidak memenuhi separuh dari tangkuban telapak tangannya.
"Kau masih bertanya kenapa aku menuduhmu berniat jahat padaku tuan? harusnya jaga kemana arah pandanganmu sebelum bertanya padaku!" teriak Keyra lagi.
__ADS_1
Bram kembali berdecak, sungguh suara gadis ini memekakan telinganya.
"Kau bukan seleraku bocah, memangnya apa yang kau punya hingga berani berpikir kalau aku tertarik padamu? lagipula tak ada hal menarik yang bisa aku jadikan alasan untuk sekedar bermain denganmu." gumam Bram dengan seringaian mengejek.
Bram melihat kearah jam keluaran brand ternama yang melekat di pergelangan tangannya.
Dan ia baru sadar kalau sudah terlalu lama menghabiskan waktunya bersama gadis ini, yang bahkan tidak ia kenal sama sekali.
Menjauhkan dirinya perlahan, Bram masih menatap tajam ke arah Keyra dengan tatapan membunuh andalannya, yang selama ini berhasil membuat wanita manapun bertekuk lutut pada seorang Bram.
"Hey! apa barusan tuan sedang menghinaku? tunggu! kau mau pergi kemana tuan? urusan kita belum selesai." teriak Keyra.
Gadis itu kembali berlari mengejar Bram, bahkan pengaruh alkohol yang sempat membuatnya sempoyongan tadi mulai hilang karena emosinya.
"Dasar tuan mesum sialan!" kini Keyra sedang terengah sambil berkacak pinggang di hadapan Bram.
Bram mengernyitkan keningnya, ia tak habis pikir dari mana datangnya nyali gadis ini sampai berani mengumpat dan meneriakinya.
"Kau bilang aku tak menarik? tak punya kelebihan apapun? astaga!"
Rasanya ingin sekali Keyra menggunting bibir jahat pria ini yang secara terang-terangan telah menghinanya.
"Asal kau tau ya tuan, aku ini merupakan gadis terpopuler disekolahku, aku pintar, cantik, baik hati, dan semua temanku mengakui semua itu. Oh ya, ada satu lagi kelebihan yang aku punya, dan bisa kupastikan para jalangmu tidak akan mungkin memiliki kelebihan seperti yang aku miliki." ucap Keyra dengan bangga.
Bram yang sedari tadi hanya diam sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana ini kembali menyeringai iblis.
"Dengarkan aku bocah kecil..."
"Sudah aku katakan aku bukan bocah!" potong Keyra masih tak terima Bram menganggapnya bocah.
Bram sampai tersentak dibuatnya.
"Baiklah, terserah padamu saja, tapi jangan panggil aku tuan karena aku tak setua itu, dan katakan padaku, kelebihan apa yang kau punya sampai membuatmu begitu percaya diri." cecar Bram yang mulai jengah menghadapi Keyra.
"Apa kau tak bisa melihatnya sendiri!" sungut Keyra kesal.
"Ck, baiklah..aku pasti benar-benar sudah tidak waras menghadapi bocah sepertimu." tukas Bram berniat pergi.
"Dasar bodoh! apa tuan tidak bisa melihat aku masih perawan! dan aku bangga masih bisa menjaganya sampai detik ini! jadi jangan pernah samakan aku dengan para ****** yang dengan senang hati membuka lebar pahanya untukmu tuan mesum!" teriak Keyra lagi sekencangnya.
Setelah puas mengatakan isi hatinya, Keyra memutar tubuhnya dan segera pergi meninggalkan Bram yang dibuat terperangah untuk pertama kali dalam hidupnya oleh seorang wanita,
ralat... maksud Bram seorang bocah.
"Kau dari mana saja Key?" tanya Mia saat melihat Keyra yang baru tiba entah dari mana.
"Jangan bertanya apapun dulu sekarang, mood ku sedang tidak bagus." sungut Keyra sembari menjatuhkan tubuhnya ke tempat duduk.
"Baiklah, terserah padamu saja Key." ujar Mia.
Gadis itu melirik Jessy yang masih tertidur dan tak akan sadar meski saat ini dunia runtuh sekalipun.
"Kita harus pulang sekarang Key, kalau tidak Jessy akan semakin merepotkan kita nanti." ucap Mia.
Dan Key langsung mengangguk setuju, namun sebelum itu ia masih sempat meneguk beberapa gelas alkohol dengan cepat.
Emosinya kembali mencuat bila mengingat tuan mesum yang sudah menginjak harga dirinya tadi.
"Ayo kita pulang." ajak Key yang lebih dulu beranjak.
Dan kini mereka berdua harus bekerja keras memapah Jessy keluar dari tempat ini.
"Sial! apa Jessy baru makan seekor sapi? bagaimana bisa dia seberat ini Mia." protes Keyra yang nampak kesusahan membawa Jessy.
Terlebih Key dan Mia sendiri juga lumayan sempoyongan karena pengaruh alkohol yang mereka minum.
Dan pandangan Key terarah pada Bram yang juga tanpa sengaja melihat ke arahnya.
Emosi Key kembali mencuat saat melihat Bram dengan santainya membuang muka seolah tak terjadi apapun pada mereka.
"Aku harus buat perhitungan denganmu tuan mesum sialan." geram Key.
Dan dengan sengaja ia menginjakkan kakinya ke kaki Bram saat ia melewati pria itu.
"Shit! apa kau sudah gila?" teriak Bram merasakan sakit di kakinya.
Sementara Key hanya menoleh sesaat sambil menyeringai puas melihat Bram yang meringis kesakitan.
"Tunggu!" tegur suara yang sangat Key kenal.
"Matilah aku Mia, bagaimana dia bisa ada disini..."
Key dan Mia saling melempar pandangan panik.
"Sedang apa kalian disini Keyra!"
__ADS_1