
Sejak insiden itu, Keyra semakin penasaran melihat pria dingin, acuh dan terkesan begitu sombong yang sudah menolongnya ketika terjatuh dari atas kap mobil tadi.
Sesekali Keyra mencuri pandang hanya untuk memastikan apakah ia pernah mengenalnya di suatu tempat atau tidak.
"Kau kenapa Key?" tanya Vira yang memperhatikan tingkah aneh Keyra sejak tadi.
"Apa kau mengenalnya kak?"
Bukannya menjawab peryanyaan Vira, gadis itu justru balik bertanya tentang hal lain pada calon kakak iparnya itu.
Vira mengikuti arah pandangan Keyra, dan ia akhirnya mengerti apa yang Keyra maksud.
"Namanya Bram, jangan bilang kalau tingkah anehmu sejak tadi itu karena kau tertarik dengannya Key." desis Vira yang kini menatap penuh selidik ke arah Keyra.
"Apa kau gila! aku sudah punya Reno dan tidak akan mungkin menyukai pria lain. Ya...walaupun kuakui pria itu sangat tampan." ucap Keyra dengan wajah merona.
Bagaimanapun ia harus mengakui pesona Bram yang membuat kerja jantungnya meningkat beberapa kali lipat ketika menatap mata teduh namun terkesan liar dibaliknya.
"Baguslah, karena Bram adalah salah satu pria yang harus kau jauhi Key."
Vira beranjak dan menepuk bokongnya yang sedikit kotor.
Keyra sempat melirik Bram yang sedang berdiskusi tentang jalur yang akan mereka ambil untuk meneruskan perjalanan berikutnya sebelum hari beranjak sore.
Kemudian gadis itu menyusul Vira karena masih penasaran dengan ucapannya tentang Bram barusan.
"Bisa kau jelaskan kenapa aku harus menjauhi pria seperti Bram? apa dia memiliki penyakit menular? atau...apa mungkin dia seorang Gay ?"
Uhuk..uhuk..
Vira yang sedang meneguk minuman dari botolnya tersedak dan melotot ke arah Keyra.
Mengambil beberapa lembar tissue, Keyra membantu Vira membersihkan bibir dan tangannya yang basah.
Keyra berharap tebakannya salah, tapi ia tak bisa memikirkan alasan lain selain itu.
"Apa tebakanku benar sampai kau segitu terkejutnya?" tanya Keyra dengan wajah polosnya.
Kali ini Vira tertawa terbahak sampai harus menunduk memegangi perutnya yang kaku.
"Apanya yang lucu, dasar aneh. Aku justru menyayangkan kenapa pria setampan dia harus menyukai bentuk yang sama dengan senjatanya, di bandingkan body gitar spanyol seperti kebanyakan pria normal lainnya." dengus Keyra yang lagi-lagi mencuri pandang pada Bram yang terlihat sungguh gagah dan mempesona jika dilihat dari sudut manapun.
"Kini aku bersyukur kau ikut perjalanan ini Key, sungguh kau membuatku terhibur dengan kekonyolanmu ini." ucap Vira masih mencoba menahan tawanya yang tak mau berhenti.
Keyra mendengus kesal dan memilih memakai kacamata hitamnya untuk mengalihkan pandangannya yang selalu ingin menatap Bram, seolah ada tarikan magnet hingga Keyra selalu tertarik melihat ke arah pria itu.
"Lalu siapa wanita itu? kelihatannya mereka cukup dekat. Kau lihat bagaimana dia menempel ke Bram bagaikan seekor gurita."
Vira menoleh melihat Ke arah Keyra dan tersenyum penuh arti.
"Kenapa kau begitu penasaran tentang Bram?" tanya Vira.
"Aku hanya ingin memastikan apa benar dia seorang Gay sementara ada wanita yang begitu cantik dan sexy itu bersamanya." kilah Keyra mengalihkan ucapannya dan segera masuk ke dalam mobil abangnya.
Vira menaikan salah satu sudut bibirnya dan menyusul Keyra ke dalam mobil.
Lagi pula sepertinya mereka memang sudah harus melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya.
"Sebenarnya aku juga tidak tau soal selera Bram, yang aku tau selama ini dia begitu sulit didekati wanita manapun dengan sikap dinginnya, hanya Zea yang bisa sedekat itu dengan Bram." ujar Vira melanjutkan obrolan.
"Astaga Key, bisakah kau buka kacamatamu itu!" pekik Vira yang baru menyadari Keyra masih memakai kacamata hitamnya meski kini mereka sudah berada di dalam mobil.
"Memangnya ada yang salah, ini keren kak, kau saja yang tidak tau gaya anak muda masa kini." elak Keyra penuh percaya diri.
Bersamaan dengan itu Arya dan temannya yang bernama Sam juga masuk dan menoleh pada dua gadis yang duduk di bangku belakang.
__ADS_1
"Hai kak Sam, bagaimana menurutmu penampilanku?" Keyra mencondongkan tubuhnya kedepan sehingga Sam bisa melihat Keyra dengan begitu jelas.
Bahkan pria itu sampai harus bersusah payah menelan ludahnya karena disuguhi wajah rupawan Keyra dalam jarak yang begitu dekat.
Wajah cantik, alis tebal, hidung mancung dan bibir merah alami yang begitu menggoda tak luput dari perhatian Sam.
"Ekheeem.." Arya sengaja bersuara untuk menyadarkan Sam yang tenggelam dalam pesona adiknya.
"A..em..kau sangat cantik Key, eh..anu maksudku tidak ada yang salah dengan penampilanmu, kau keren dengan kacamata hitammu." ucap Sam terbata mendapati tatapan datar dari Arya sahabatnya.
"Terima kasih kak, dan aku bersyukur ternyata kau masih normal."
Keyra memundurkan tubuhnya lagi dan kembali melirik mobil yang Bram naiki dari kaca jendela
Melihat itu Vira hanya menggelengkan kepalanya pelan dan memilih meneruskan bacaan novelnya yang dia bawa dari rumah.
******
Keyra mengerjabkan matanya beberapa kali, melihat sekeliling dan tak mendapati siapapun lagi di dalam mobil selain dirinya sendiri.
Bulu matanya yang lentik mengerjab beberapa kali ketika matahari senja menyorot wajahnya, Keyra memutuskan keluar dan melihat panorama indah yang kini ada di hadapannya.
Menatap penuh rasa takjub, Keyra terus melangkahkan kakinya diantara rerumputan hijau yang terbentang dengan beberapa bunga liar yang juga sedang merekah indah.
Di depan sana Keyra juga melihat danau yang memantulkan cahaya berwarna jingga, pemandangan yang sungguh membuat Keyra lupa kalau ternyata langkahnya sudah terlalu jauh dari tempat mobil abangnya terparkir.
Keyra mendaratkan bokongnya ke bebatuan, mengambil ponsel yang ia simpan di dalam saku celananya.
Gadis itu mengambil beberapa foto untuk mengabadikan momen ini, hal yang tidak akan ia temukan jika sudah kembali ke kota.
Semburat cahaya matahari senja sebagai latar belakangnya menghasilkan foto yang begitu keren menurut Keyra.
Tanpa ia sadari hari semakin gelap dan ia masih asyik memainkan ponselnya yang hanya bisa digunakan untuk berfoto ria.
"Astaga apa itu?"
Hari yang semakin gelap membuat Keyra tak bisa melihat dengan jelas apa yang ada didepannya saat ini.
Hanya bayangan hitam tinggi besar yang kini semakin mendekat kearahnya, hingga membuat Keyra bergeser dan terjatuh dari batu besar yang ia duduki.
"Kumohon jangan dekati aku, pergilah dan jangan ganggu aku!" teriak Keyra ketakutan.
Ia hanya meringkuk menutupi matanya di balik lututnya yang terlipat.
Tubuhnya gemetar karena rasa takut oleh sosok hitam yang membuat bayangan Keyra semakin lari kemana-mana.
Keyra memberanikan diri mengintip dan membuka matanya, gadis itu semakin menjerit histeris kala sosok hitam itu kini tengah berdiri tepat di hadapannya.
"Hantu atau apapun itu kumohon pergilah! aku belum mau mati, aku masih sangat muda dan belum menikah, kumohon kasihanilah aku! Mamaaa..."
Keyra tersentak kaget kala merasakan mulutnya yang di bekap oleh tangan yang ukurannya cukup besar hingga hampir menutupi seluruh wajahnya.
"Apa kau tidak bisa diam!"
Keyra yang menangis langsung terdiam mendengar teriakan dari sosok yang kini berada di hadapannya.
Meski begitu air matanya masih terus luruh karena ketakutan.
"Begitu lebih baik." ucap sosok pria itu setelah tak lagi mendengar jeritan Keyra dan melepaskan tangannya dari mulut gadis itu.
Keyra tak berani lagi membuka suara, tetapi saat sosok pria itu beranjak dan berjalan menjauhinya Keyra kembali menangis sekencangnya.
"Ada apa denganmu? kenapa kau kembali berteriak!" ucap sosok itu dengan nada marah dan kembali mendekati Keyra.
"Aku mau pulang." lirih Keyra disela isak tangisnya.
__ADS_1
"Lalu apa masalahnya? kau bisa berjalan dan pulang seperti yang kau mau, bukannya malah berteriak seperti orang gila di tempat ini."
"Ini sudah gelap dan a..aku tidak tau jalan pulang." jawab Keyra terbata.
Ia begitu ketakutan, tapi entah kenapa masih bisa menjawab pertanyaan dari sosok pria yang bahkan tidak bisa ia lihat bagaimana wajahnya.
Setidaknya kini Keyra sedikit lega karena setidaknya ia tau kalau sosok itu adalah manusia bukannya hantu seperti perkiraannya tadi.
Mengingat ia bisa menyentuhnya, sedangkan menurut cerita yang ia dengar selama ini kalau hantu tidak akan bisa ia sentuh.
Hening...
"Berdirilah dan ikuti aku!" perintah pria itu dengan nada yang tidak bersahabat.
Keyra terdiam, ia masih ragu antara menerima tawaran pria itu atau berdiam di sini menunggu sampai Arya mencarinya.
"Terserah kalau tidak mau, aku sarankan jangan berteriak dan jangan banyak bergerak, karena itu hanya akan memudahkan buaya disini untuk menemukanmu."
Keyra berjingkat dan langsung berdiri menghampiri sosok pria itu.
Keyra meraba dan segera meraih tangan pria itu untuk ia genggam dengan sangat erat.
"Ja..jangan tinggalkan aku disini." ucap Keyra terbata.
Dan sepertinya pria itu juga tak keberatan Keyra menggenggam tangannya.
Tanpa bersuara pria itu berjalan dengan mudahnya meski tak ada cahaya sedikitpun yang menerangi mereka.
Sementara Keyra begitu kesulitan mengimbangi langkah pria itu dan beberapa kali hampir terjatuh karena ia tak bisa melihat apapun di depannya.
"A..apa yang kau lakukan!" teriak Keyra saat tubuhnya di angkat naik dalam gendongan pria itu.
"Percayalah aku juga tak ingin melakukan ini, tapi kau begitu menyusahkan dan membuat langkahku semakin sulit bocah."
Pria itu kembali bejalan dengan Keyra yang ada dalam gendongannya.
Dan sungguh, Keyra merasakan jantungnya berdebar tak karuan karena wajahnya kini menempel di dada yang terasa begitu keras dan berotot.
Semua itu begitu jelas terasa karena pria itu sedang bertelanjang dada, sehingga Keyra bisa langsung menyentuh kulitnya.
Bahkan Keyra semakin di buat melayang ketika menghirup aroma maskulin dari pria itu.
Kalaupun kau benar hantu, dengan sukarela aku akan mengabdikan diriku padamu..batin Keyra tanpa sadar.
Keyra semakin mengeratkan kedua tangannya yang kini melingkar di leher pria itu dan menenggelamkan wajahnya lebih dalam karena merasa begitu nyaman.
"Keyra!"
Teriakan Arya membuat Keyra membuka matanya, dan kini tubuhnya telah berpindah dalam gendongan sang abang.
"Jangan biarkan adikmu berkeliaran, masih untung aku melihatnya dan bisa membawanya pulang."
"Thank's Bram." ucap Arya singkat tapi masih dengan wajahnya yang cemas mengingat Keyra yang ia kira hilang.
Bram menepuk bahu Arya dan segera berlalu.
"Buka matamu dan pikirkan alasan yang bisa menyelamatkanmu kali ini Keyra!" geram Arya yang dibuat hampir gila oleh tingkah adik manjanya ini.
"Matilah aku." batin Keyra.
Dan gadis itu akhirnya memilih berakting seolah ia tertidur agar terhindar dari amukan abangnya.
"Antarkan Key ke tenda dulu." bujuk Vira yang kemudian di angguki oleh Arya.
Bram Alexander Hansen
__ADS_1