Kekasih Bayanganku Tersayang

Kekasih Bayanganku Tersayang
Menyatakan perasaan


__ADS_3

Sejak saat itu hubunganku dan Reno jadi semakin dekat, meskipun banyak gadis yang memusuhiku di sekolah karena merasa cemburu, aku sama sekali tak peduli.


Selama Reno sendiri yang ingin dekat denganku, kenapa aku harus pusing memikirkan yang lain.


Meskipun Reno belum menyatakan perasaannya padaku sampai saat ini.


Itu tak jadi masalah, yang terpenting aku bisa melihat wajah tampannya setiap hari saja sudah cukup.


Setiap jam istirahat Reno selalu menghampiriku ke kelas hanya untuk mengajakku ke kantin bersama.


Bertukar cerita dan membahas hal-hal tidak penting lainnya.


Dengan begitu saja aku sudah sangat bahagia, menerima semua perhatian yang selama ini aku impikan.


Walau terkadang aku bertanya-tanya dalam hati, apakah Reno juga menyukaiku? atau hanya sekedar menganggapku sekedar teman berbagi cerita saja.


Karena pada dasarnya Reno memang baik pada siapapun, dan aku tidak ingin akhirnya aku kecewa karena berharap terlalu tinggi dengan semua perhatiannya.


Hari ini genap sebulan sudah aku menjalani hukuman dari bang Arya.


Dan seperti janji bang Arya, aku di perbolehkan keluar rumah bersama Mia dan Jessy sekedar untuk hangout ke mall yang sudah lama tidak aku kunjungi.


Namun dengan catatan tidak boleh pulang melewati batas waktu yang sudah bang Arya tentukan.


"Ahhh...senangnya! dan untuk merayakan kebebasanku, hari ini kalian akan aku traktir sepuasnya." ucapku sembari menunjukkan kredit card pemberian bang Arya.


"Benarkah, apapun itu?" tanya Jessy yang terlihat paling antusias.


Aku menganggukan kepala dengan sombong.


"Yesss..." seru Jessy kegirangan.


"Dasar gembel, selalu saja mengharap yang gratisan." cibir Mia pada Jessy.


"Kalau bisa gratis kenapa harus bayar." jawab Jessy acuh.


"Sudah-sudah, ingat! kita kesini untuk bersenang-senang, bukan untuk meributkan hal tidak penting seperti ini." ujarku melerai mereka.


Setelah itu kami berkeliling dari toko ke toko untuk sekedar melihat apakah ada barang keluaran terbaru yang bisa kami beli.


Menghabiskan waktu berjam-jam tanpa merasa lelah sedikitpun, seolah tak pernah cukup, walaupun saat ini tangan kami sudah penuh dengan barang belanjaan.


"Kita makan dulu ya." ajakku yang mulai merasakan kalau perutku keroncongan.


Menunjuk salah satu stand di food court dengan menu makanan kekinian.


Mia dan Jessy mengikutiku dan duduk di salah satu meja yang aku pilih.


"Kamu kenapa sih Mia? lagi ada masalah? dari tadi manyun terus." ketusku yang melihat Mia tak seceria biasanya.


Lalu Mia menghela nafas panjang, menunjukkan kalau tebakanku benar adanya.


"Aku putus dengan Tom." jawabnya kemudian.


Mia menundukan kepalanya, menyembunyikan kesedihan yang sedari tadi ia tahan.


"Maafkan sikapku hari ini Mia, aku tidak tau kalau kau sedang dalam masalah." ucap Jessy menyesal.


Lalu gadis itu memeluk Mia yang juga membalas pelukan Jessy.


"Sudahlah Mia, kau kan cantik, jadi aku yakin kau akan segera mendapatkan pengganti Tom dalam waktu dekat." hiburku dengan mengulurkan tangan di atas meja guna menggenggam tangannya.


"Kau benar Key, buaya sialan itu tak pantas untuk aku tangisi, lihat saja nanti, dia akan menyesal karena sudah meninggalkanku hanya untuk wanita plastik itu." gerutu Mia dengan mata yang berkilat penuh amarah.


Melihatnya aku hanya bisa tertawa terbahak.


"Wanita plastik? memangnya ada?" tanyaku polos.


"Ck... kau tidak lihat sih Key, aku yakin dada dan bokongnya adalah hasil tambalan." umpat Mia dengan bibir mengerucut.


Dan kami bertiga pun kembali tertawa membayangkan hal-hal gila lainnya sembari menikmati makanan yang baru saja diantar ke meja kami.


"Key! itu bukannya Reno." ucap Jessy menatap ke meja yang tak jauh dari kami.


Aku dan Mia pun ikut menoleh ke arah yang Jessy tunjuk.


Dan betapa terkejutnya aku saat melihat Reno sedang bersama seorang gadis cantik.


Mereka juga tampak sangat akrab layaknya sepasang kekasih.


Membuatku merasa cemburu, meskipun aku tidak punya hak melarang Reno dekat dengan gadis manapun, mengingat kedekatan kami selama ini memang tidak terikat oleh status apapun.


Aku mencoba mengalihkan pandanganku ketempat lain, sakit rasanya melihat Reno memberikan perhatiannya pada gadis lain seperti perhatian yang dia berikan padaku selama ini.

__ADS_1


"Apa aku harus memberinya pelajaran Key?" tanya Mia yang masih menatap tajam ke arah Reno dan gadis itu.


"Tidak perlu, itu justru akan membuatku terlihat semakin menyedihkan." gumamku tersenyum getir.


Meskipun jujur saat ini aku ingin berjalan kesana untuk menyiramkan kuah mi soba pedas ini ke atas kepala mereka.


"Apa kalian sudah selesai?" tanyaku sembari beranjak.


Mia dan Jessy yang masih menyuapkan makanan ke mulut mereka pun menatapku heran.


"Ha? kau bisa lihat ini kan, aku belum selesai Key." protes Jessy menunjuk ke arah piringnya.


Bahkan mulutnya masih belepotan karena penuh dengan makanan.


"Kita makan di tempat lain saja." ajakku.


Sungguh selera makanku hilang seketika, dan aku tak sanggup lagi berlama-lama ditempat ini.


Aku berjalan lebih dulu dan disusul Mia kemudian.


"Key! Mia! tunggu aku." teriak Jessy yang masih sempat menyeruput minuman dari gelasnya.


Teriakan Jessy sontak membuat Reno melihat ke arahku.


Wajahnya tampak terkejut, namun yang membuatku heran, pria itu masih sempat-sempatnya tersenyum ke arahku.


Aku langsung membuang muka tak peduli, setelah apa yang dia lakukan padaku, lalu dia masih berharap aku juga balik tersenyum padanya?


"Cih, yang benar saja." batinku sambil terus berjalan dan tak ingin memperdulikan Reno yang masih melihatku.


Jujur aku kecewa, sangat kecewa, tapi aku bisa apa, Reno juga tidak pernah menyatakan perasaannya padaku.


Mungkin sudah saatnya aku menyerah mengharapkan hati Reno.


Sudah dua tahun ini aku mengejarnya dengan segala usaha, dan bila akhirnya jadi seperti ini, itu artinya aku tak lagi punya kesempatan.


Ku usap sudut mataku yang meneteskan air mata, berusaha agar Mia tak melihatnya.


"Jangan ditahan Key, kalau mau menangis ya menangis saja, tapi hanya untuk hari ini, air matamu terlalu berharga untuk menangisi Reno sialan itu." ucap Mia mengusap punggungku yang membelakanginya.


Dan saat itu juga air mataku tumpah tak terbendung, Mia benar, aku tak harus menangisi Reno yang saat ini pasti sedang bahagia bersama pacarnya.


Tapi aku terlalu terluka, aku tak bisa mengontrol hatiku untuk tidak cemburu melihat mereka.


"Kau ingin kali ini bang Arya membunuhku?" sahutku dengan mata melotot tak percaya.


Dan Mia justru tertawa terbahak melihatku mengerucutkan bibir sambil berusaha menghapus sisa air mata di pipiku.


"Ngomong-ngomong Jessy kemana sih?" gerutu Mia.


Gadis itu berjalan mondar mandir sambil mencoba menghubungi Jessy melalui ponselnya.


Dan aku terkejut saat Mia berteriak dengan ponselnya yang masih menempel ditelinga. Kunaikkan kedua alisku guna bertanya apa yang sedang terjadi pada Jessy.


"Jessy Key! kita harus kembali ke dalam sekarang." ucap Mia terburu-buru dan langsung menarik tanganku tanpa memberikan penjelasan apa-apa.


Aku yang turut panik hanya mengikuti langkah Mia yang terus membawaku kembali ke dalam mall.


Menoleh kesana kemari guna mencari keberadaan Jessy.


Hingga Mia mengajakku ke taman kecil yang ada di tengah gedung ini.


"Kenapa dengan Jessy Mia? apa yang terjadi?" tanyaku yang semakin panik.


Bukannya menjawab, Mia malah menunjuk ke arah seseorang yang kini berdiri tidak jauh di depan kami.


"Reno, dia?" tanyaku bingung.


Aku menoleh, melihat Mia yang tersenyum sambil mengangkat kedua jarinya sebagai permintaan maaf.


Alisku menyatu, mencoba memahami situasi.


Tapi belum sempat isi kepala ini menjawab semua pertanyaanku, tanpa aku sadari Reno sudah berjalan mendekat, dan kini dia sudah ada tepat dihadapanku.


Masih dalam mode bingung bercampur kesal kala mengingat Reno bersama gadis tadi, aku berniat berbalik dan pergi dari sini.


Namun kurasakan tangan Reno meraih lenganku, menahanku untuk tetap tinggal.


Sementara itu Mia sudah berjalan sedikit menjauh, bergabung bersama Jessy yang juga tersenyum kearahku.


Dan satu lagi, gadis yang bersama Reno tadi juga ada disana.


"Maaf sudah membuatmu kesal." ucap Reno saat aku berdiri menghadap ke arahnya.

__ADS_1


Aku sedikit terkesiap, kualihkan pandanganku dari gadis itu ke arah Reno kini


Keningku terlipat mengernyit heran, namun senyuman Reno berhasil mencuri perhatianku.


"Siapa bilang?" ucapku mencoba mengelak.


Tak ingin terlihat gugup di depan Reno, aku sengaja mengalihkan pandanganku ke arah lain.


"Key?" panggil Reno.


Bahkan saat ini dia meraih jemariku, menggenggamnya dengan begitu erat, bahkan aku bisa melihat tatapannya yang tak berpaling sedikitpun saat mengamati wajahku.


"Hmmm." jawabku menutupi rasa gugup yang semakin menjadi.


"Apa kau mau jadi pacarku?" pertanyaan dari Reno yang sukses membuat jantungku mencelos.


Tubuhku mematung seakan tak percaya atas ucapan yang Reno lontarkan barusan.


Meski dalam dua tahun ini aku begitu menantikan hal ini dari Reno, tapi tetap saja aku merasa ini bagaikan sebuah mimpi.


Reno menatap mataku dengan intens, menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahku "Apa kau masih ragu padaku?"


"A...aku, ini hanya terlalu mendadak, lagipula kau juga belum mengenalku dengan baik, aku takut kau akan menyesali ucapanmu dan meninggalkanku setelah itu."


Hatiku menghangat saat Reno mengusapkan punggung tangannya ke pipiku, begitu lembut hingga membuat tubuhku hampir merosot ke lantai saat itu juga.


"Itu tidak akan terjadi Key, aku sudah memikirkan ini sejak lama, dan kini aku semakin yakin untuk menjadikanmu sebagai kekasihku."


Reno tersenyum melihat ekspresi bingung yang aku tunjukan lewat raut wajahku.


"Aku sudah lama jatuh hati pada gadis yang diam-diam mengamatiku di perpuatakaan, yang sering mencuri pandang saat tanpa sengaja bertemu di parkiran, yang selalu salah tingkah saat aku lewat di depan kelasnya, dan yang selalu melompat kegirangan saat aku membalas sapaannya dengan senyuman." ucapnya tersenyum nakal.


Aku tau yang Reno maksud tidak lain adalah diriku, tapi yang membuat aku menganga tak percaya adalah itu artinya tanpa aku sadari selama ini Reno diam-diam juga selalu memperhatikan tingkahku.


"jadi selama ini..." ucapku tak mampu meneruskan suara karena rasa malu yang membuncah.


"Iya Key, aku menyukaimu, jadi maukah kau menerimaku jadi kekasihmu?"


Disaat aku masih ingin terlihat sok jual mahal pada Reno, saat itu juga aku melihat Mia, Jessy dan gadis yang bersama Reno tadi bersorak agar aku segera menerima perasaan Reno.


"Bagaimana dengan pacarmu itu?" tanyaku sambil mengarahkan pandanganku ke gadis yang kumaksud.


Spontan Reno menoleh ke belakang tubuhnya dan melihat ke arah yang aku tunjukan.


Kulihat Reno mengulum senyuman, "Jadi tadi kau marah karena dia?" ledeknya kemudian.


"Siapa bilang aku marah?" ucapku mengelak.


Terlalu malu untuk mengakui bahwa aku memang marah dan cemburu.


"Kalau bukan marah lalu apa? cemburu?" ledeknya lagi.


Sepertinya kali ini Reno terlihat puas bisa menggodaku.


"Kau cemburu pada orang yang salah Key, dia itu Sheila adikku, dan tadi aku sengaja mengajaknya kesini untuk membantuku memilihkan hadiah untuk calon kekasihku." tuturnya menjelaskan.


Dan hal itu sukses membuatku malu, sampai-sampai aku tak punya nyali untuk sekedar menatap ke arah gadis yang menurut penuturan Reno adalah adiknya.


"Jadi bagaimana dengan pertanyaanku tadi Key?" ucap Reno mengingatkan.


Terlihat wajahnya cukup tegang menunggu jawaban dariku.


Ini adalah kesempatan yang aku tunggu-tunggu selama ini, jadi mana mungkin aku menolaknya.


Secepat kilat aku mengangguk malu-malu, mengiyakan untuk menjadikan Reno sebagai kekasihku mulai detik ini.


"Terima kasih Key." ucapnya sembari melangkah maju.


Dan mataku membelalak lebar saat Reno mendaratkan satu kecupan di keningku.


Kurasakan hatiku meletup-letup bagaikan ada kembang api di dalam sana karena rasa bahagia yang sungguh sulit aku ungkapkan dengan kata-kata.


Setelah itu aku merasakan Reno mengalungkan sesuatu ke leherku.


Aku tertunduk, dan meraih sebuah liontin cantik yang sudah menggantung di sana.


Dengan inisial namaku dan nama Reno tentunya, sungguh aku bahagia sekali saat ini.


Tak kusangka Reno akan menjadi milikku dan memintaku menjadi pacarnya dengan cara yang seromantis ini.


Senyuman pun tak lekang dari bibir kami saat Mia, Jessy dan Sheila mengucapkan selamat karena kami sudah resmi jadian.


Dan kini aku akan dengan bangga memperkenalkan pada Dunia bahwa Reno adalah kekasihku, priaku, milikku dan akan jadi satu-satunya untukku, selamanya.

__ADS_1


__ADS_2