Kekasih Bayanganku Tersayang

Kekasih Bayanganku Tersayang
Bram Sialan!


__ADS_3

Pekerjaan yang menumpuk, belum lagi ulah salah satu karyawan dikantornya yang berdampak buruk pada nama baik perusahaan, hingga membuat Reno harus turun tangan langsung guna meyakinkan para investor untuk tetap melakukan kerja sama dengan perusahaannya.


Sungguh menguras waktu dan emosi, dari wajahnya saja terlihat jelas betapa Reno sedang mengalami hari yang cukup berat.


Berjalan lemah memasuki rumah, Reno yang kemarin malam memilih lembur dan menginap di kantor mendapati tatapan prihatin dari sang adik yang kebetulan baru saja dari dapur untuk mengambil air minum.


"Lembur lagi?"


Sintya berjalan mendekati sang kakak yang penampilannya cukup berantakan.


Jas yang tersampir di lengan, rambut yang acak-acakan, bahkan terlihat lingkaran hitam di wajahnya yang tampan, sungguh miris.


"Begitulah, kenapa jam segini masih di rumah? apa kau tidak kuliah?"


Sintya meneguk air minum yang ada di tangannya sampai kandas, sedangkan matanya melirik sang kakak yang kini sedang memijit pelipisnya.


"Memangnya siapa yang pergi ke kampus di akhir pekan begini kak?"


Reno mengernyit, dan sesaat kemudian dia baru menyadari kalau ucapan Sintya tidaklah salah.


Dialah yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga melupakan apapun.


Bahkan Reno sampai tidak mengingat kalau ini adalah akhir pekan, dimana kebanyakan orang menghabiskan waktunya untuk bersantai bersama orang-orang terkasih.


Sedangkan ia masih saja bergelut dengan pekerjaan, bahkan Keyra saja dibuat jenuh oleh semua kesibukannya hingga gadis itu kesal dan menjauh untuk meminta waktu merefresh pikirannya.


"Mama sedang pergi ke rumah temannya, tapi tadi mama memasak sop buntut kesukaanmu, apa kakak mau makan? biar kuhangatkan sebentar."


"Tidak perlu, tadi kakak sudah makan di luar." cegah Reno ketika melihat adiknya hendak kembali ke dapur.


"Kakak mau langsung tidur saja." imbuhnya lagi.


Baru berjalan beberapa langkah, Reno berhenti di anak tangga dan memutar tubuhnya untuk melihat lagi ke arah adiknya.


"Apa Keyra menghubungimu?" tanya Reno.


Pasalnya Reno tau kalau hubungan Keyra dan sang adik cukup dekat, dan selama ini mereka sering berkomunikasi tanpa sepengetahuan Reno.


"Tidak," Sintya menggeleng.


"Memangnya kenapa? apa kalian sedang ada masalah?" lanjut Sintya lagi yang mulai bisa membaca kalau hubungan kakaknya dan Keyra sedang berjalan tidak baik.


"Lupakan."


Meninggalkan adiknya yang masih menatap nanar kearahnya, Reno segera masuk ke dalam kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya yang begitu lelah ke atas tempat tidur.


Pikirannya melayang kepada Keyra yang sudah dua hari ini tidak bisa di hubungi.


Arya memang sempat mengabari kalau Keyra akan ikut touring bersamanya.


Meski Keyra memberi jarak dan meminta waktu untuk menenangkan diri di pertemuan mereka tempo hari, Reno tak serta merta melepaskan Keyra begitu saja.


Beberapa kali ia sempat mencoba menghubungi Keyra, namun kekasihnya itu masih saja tidak bisa dihubungi hingga saat ini.


Aku merindukanmu Key...batin Reno sembari memandangi foto kebersamaannya bersama Keyra yang terpampang di layar ponselnya.


******


Darah Keyra berdesir, aroma mint begitu terasa memenuhi seluruh rongga mulutnya.


Membuat gadis itu semakin merasa melayang seiring pagutan dan gigitan kecil yang di berikan Bram pada bibirnya.


Bram jelas seorang pro, dan itu tak perlu di ragukan lagi.


Berbanding terbalik dengan Reno yang terkesan pasif dalam urusan kontak fisik seperti itu.


Selama ini mereka hanya sering berbalas kecupan, kalaupun lebih, sudah bisa di pastikan Keyra lah yang memulainya lebih dulu, itupun sudah bisa dipastikan Reno akan langsung menghindarinya dengan alasan untuk melindungi Keyra.


Ada benarnya sih, hanya saja Keyra terkadang merasa sikap Reno terlalu dingin dan membuatnya merasa tidak di inginkan.


Dan apa yang Bram lakukan sekarang justru memacu adrenalinnya.


Bagaimana cara Bram memperlakukannya, bagaimana tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan Bram.


Menimbulkan rasa yang seakan meletup letup tak terkendali saat Keyra merasakan kenikmatan dan keindahan dunia secara bersamaan.


Tak sedikitpun pria ini bergeser dan memberi Keyra ruang untuk menghindar.


Membuat Keyra tanpa sadar mengeratkan jemarinya di sela-sela rambut belakang Bram karena tak sanggup menerima gelanyar aneh di dalam tubuhnya, begitu menggelitik.


Tok...tok...tok


Tapi Keyra harus kecewa karena Bram menarik wajahnya saat Miko kembali mengetuk kaca mobil.


Keduanya masih terengah dengan kening yang saling menempel.


Bahkan tanpa tau malu Keyra seolah tidak rela melepaskan tangannya yang masih melingkar di leher Bram.

__ADS_1


"Apa kau begitu menikmatinya sampai tidak ingin beranjak dari pangkuanku?"


Keyra yang tadinya masih terpejam menikmati hembusan nafas Bram yang menyapu kulit wajahnya pun seketika tersadar dan menarik tangannya.


Melihat bagaimana kini Bram menyeringai penuh ejekkan, membuatnya terlihat bodoh karena terjebak dalam permainan kecil seorang Bram.


Tok...tok...tok


"Bram! apa kau akan tetap bersenang-senang di dalam dan membiarkan kami mengerjakan itu sendiri." gerutu Miko yang wajahnya mendadak terlihat kesal.


Keyra menoleh, melihat ke arah Miko yang tak menyerah memanggil Bram dengan teriakannya.


"Ingin melanjutkannya?"


Lagi-lagi Bram menyeringai, dan entah kenapa dia begitu puas melihat ekspresi terkejut bercampur malu dari Keyra.


Terlebih saat bagaimana gadis itu mengangkat bokongnya dan secepat mungkin bergeser dari pangkuan Bram tanpa berani menunjukkan wajahnya.


Teriakan Miko mengalihkan perhatian Bram, pria itu tau Miko tak akan berhenti sampai melihatnya keluar.


"Tunggulah disini." titah Bram yang memilih meninggalkan Keyra di dalam mobil dengan perasaan yang sulit di jelaskan.


Baru saja Bram membawanya terbang ke awang, dan sekarang tubuhnya justru terjungkal dan menyisakan rasa malu yang begitu luar biasa.


"Bodoh..bodoh..pasti sekarang dia sedang menertawakanku." memukul Kepalanya frustasi, "Sadar Key, kau tau kalau Bram itu adalah seorang..." Keyra tak sanggup melanjutkan, gadis itu hanya bisa terus menggerutu dalam hati.


Keyra menatap Bram dari dalam mobil, melihat bagaimana pria itu terlihat begitu tenang saat bencengkrama dengan orang-orang yang sedang berusaha membersihkan sisa ranting dari pohon yang tumbang.


"Sekarang aku harus bagaimana..." gumamnya sembari mengetuk-ngetukan kepalanya pada sandaran kursi.


Dan sebelum Bram juga Miko kembali ke dalam mobil, keyra lebih dulu memakai celananya yang tadi masih belum sempat terpakai.


Ia tidak ingin kejadian tadi terulang lagi, dan bertekad untuk bersikap biasa saja.


Sama halnya dengan Bram yang terlihat santai seolah tak terjadi apapun pada mereka.


"Hai Key! bagaimana keadaanmu? apa kau masih merasa pusing?"


Keyra yang sempat memejamkan matanya terhenyak mendapati Miko menghampirinya.


Tersenyum ramah dengan keringat yang bercucuran di wajahnya.


"Sedikit, tapi sudah lebih baik. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."


Meraih beberapa lembar tissue dan memberikannya pada Miko.


"Wah, kau sungguh gadis yang penuh perhatian Key, kalau begini aku bisa jatuh cinta padamu ini."


Sementara Keyra tersenyum samar mendengar kekonyolan Miko.


Miko melirik pada sup dan botol berisi air kelapa yang tadi dia bawa.


"Kenapa belum di makan? aku jauh-jauh membawanya agar kau bisa minum obat dan cepat sembuh Key." ucapnya.


Keyra yang paham maksud ucapan Miko pun langsung meraih botol di bawah kakinya dan meneguknya perlahan.


"Nih sudah kuminum." tunjuk Keyra pada Miko.


"Habiskan."


Keyra menggeleng," Perutku masih mual."


"Kalau begitu makan supnya selagi hangat."


"Nanti saja."


Keyra kembali menyandarkan kepalanya kebelakang.


"Oh ya aku punya ini, apa kau mau?"


Miko menunjukkan sebatang coklat yang bungkusnya sudah terbuka.


"Maaf, sebagian sudah kumakan. Aku percaya coklat bisa memperbaiki mood, jadi aku selalu membawanya kemanapun. Kalau kau mau aku bisa mengambilkan yang utuh di dalam tasku, aku membawa stok cukup banyak dalam perjalanan ini." celoteh Miko dengan wajah ceria.


"Tidak perlu, ini saja sudah cukup. Dan aku juga penggemar coklat."


Keyra langsung menyambar coklat itu dari tangan Miko dan langsung memasukannya ke dalam mulut.


"Kenapa aku bisa bersama kalian? bagaimana dengan bang Arya dan yang lain?" tanya Keyra yang masih asyik mengunyah dan melihat Miko berdiri di depan pintu mobil dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Mereka masih dibelakang, tapi mereka sedang menuju kesini menyusul kita." Miko mendekat dan meletakkan kedua tangannya pada pintu mobil.


"Mmm...Key," Miko hendak mendekatkan tangannya ke wajah Keyra.


"Bisa kau kembali ke posisimu?" entah kapan Bram muncul dan sudah berdiri di belakang tubuh Miko.


Menatap datar ke arah sahabatnya itu dan juga Keyra.

__ADS_1


"Kau merusak momen pentingku Bram."


Miko berdecak kesal, namun pria itu masih menyempatkan diri untuk memberikan kerlingan pada Keyra sebelum masuk kedalam mobil untuk mengambil alih kemudi.


"Sebaiknya bersihkan sudut bibirmu hingga tak mengundang orang lain untuk membersihkannya dengan cara yang berbeda." tegur Bram dengan wajah tanpa ekspresi dan berlalu dari hadapan Keyra setelah menutup pintu mobil.


Berjalan memutar, Bram kini sudah berada di kursi depan bersama dengan Miko.


Keyra mengusap bibirnya yang penuh coklat sembari mendengus kesal melihat sikap Bram.


"Beristirahatlah dengan nyaman Key, aku akan mengantarmu ke desa terdekat agar kau bisa mendapatkan penanganan di sana." ujar Miko yang menatap Keyra dari kaca spion dengan senyum merekah.


Dan Miko tak memperdulikan Bram yang kini meliriknya tajam.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan setelah para warga berhasil membersihkan batang pohon.


Dan tibalah mereka di satu desa yang memang tidak begitu jauh dari tempat mereka terjebak tadi.


Bram dan Miko turun lebih dulu, sementara Keyra masih enggan beranjak karena kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.


Tanpa di duga Bram dan Miko membuka pintu bersamaan di masing-masing sisi, membuat kepala Keyra menoleh bergantian karena dua pria itu sudah berdiri menantinya keluar.


"Apa masih pusing?" tanya Miko menatap wajah Keyra yang masih sedikit pucat.


Keyra menjawab dengan anggukan.


"Mmm...apa perlu kugendong? aku hanya tidak ingin kau jatuh dan..." Miko belum menyelesaikan ucapannya dan hanya bisa ternganga saat dari sisi lain Bram menarik tangan Keyra dan membopong gadis itu dalam gendongannya.


"K..kau tak perlu melakukan ini, a..aku masih bisa jalan sendiri." ucap Keyra terbata, antara bingung dan malu karena saat ini mereka menjadi perhatian para warga.


Tidak berniat menjawab, Bram justru terus melanjutkan langkahnya dengan Keyra yang hanya bisa pasrah dan mengeratkan kedua tangannya ke leher Bram agar tidak jatuh.


Meski sebenarnya Keyra yakin kalau lengan Bram pastilah kokoh dan tak perlu diragukan lagi jika hanya membawa beban tubuhnya yang mungil.


"Permisi, tempat praktek bidannya dimana ya?" tanya Bram pada salah satu warga.


"Oh itu mas, lima rumah dari sini juga udah kelihatan kok." tunjuk orang itu dengan ramah.


"Terima kasih."


Bram kembali melanjutkan langkahnya dan tak memperdulikan Miko yang berdecak kesal yang kini mengikutinya dari belakang.


"Selamat siang." sapa Bram saat berada di depan pintu sebuah rumah berwarna putih yang terbuat dari papan.


"Siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita paruh baya yang kini berdiri di depan Bram.


Keyra menunduk malu mendapati tatapan heran dari wanita paruh baya itu yang ditujukan pada mereka berdua.


"Silahkan dibawa masuk aja dulu."


Wanita itu mempersilahkan dan menunjuk sebuah tempat tidur kecil di satu ruangan agar Bram bisa menurunkan Keyra.


"Istrinya kenapa?" melirik Bram yang kini mengernyit mendengar pertanyaan bidan itu.


"Saya bukan istrinya bu." jawab Keyra menyela dengan wajah memerah menahan malu.


"Oh maaf." Bidan itu tersenyum dan langsung memeriksa Keyra sembari mendengarkan penjelasan tentang keadaan Keyra dari Bram.


"Istirahat dulu ya, nanti bakalan ada yang bawa makanan kesini, setelah makan dan minum obat mudah-mudahan mbaknya bisa cepet pulih."


"Jadi tidak ada hal yang mengkhawatirkan kan dengan keaadannya? lalu pusing dan mual yang dia keluhkan bagaimana?" tanya Bram dengan wajah datar tapi penuh kecemasan.


Bidan itu tersenyum melihat Bram, "Untuk itu bujuk istrinya biar mau makan ya mas, biar enggak mual lagi."


Lalu wanita itu berlalu pergi dari ruangan dimana Bram yang tidak lagi memperdulikan sangkaannya kalau Bram dan Keyra adalah sepasang suami istri.


Keduanya terdiam tanpa ada yang berniat untuk memulai pembicaraan, sedangkan Miko entah berada dimana saat ini.


Keyra melirik Bram yang masih betah diam dan duduk di kursi kayu tidak jauh dari tempatnya berbaring.


"So..soal yang terjadi di mobil tadi.."


"Lupakan! anggap saja tidak pernah terjadi apapun." potong Bram yang kini menatap Keyra dengan matanya yang tajam.


Kerya berdecih, "Sialan!" gerutu keyra dengan senyum tipis gambaran rasa tak percayanya akan sikap dingin Bram telihat di bibirnya.


"Tadinya aku juga ingin mengatakan hal itu, baguslah, jadi aku tidak perlu merasa sungkan lagi di hadapanmu." ucap Keyra yang ingin mempertahankan harga dirinya.


"Apa aku bisa memintamu memanggilkan Miko kesini? aku rasa akan lebih nyaman bersamanya saat ini, dan..terima kasih atas bantuanmu, jadi sekarang kau bisa keluar Bram." ketus Keyra.


Bram bergeming, wajahnya menyeringai dan berhasil membuat Keyra menelan ludah panik saat Bram berdiri dan mendekat kearahnya.


Kini kedua tangan Bram di letakan pada pinggir ranjang yang Keyra tempati.


"Apa kau berpikir aku menginginkan hal ini? kalau bukan karena Arya aku juga tidak akan betah berada di dekatmu bocah."


Keyra melebarkan matanya tak terima Bram menyebutnya seorang bocah.

__ADS_1


Namun sedetik kemudian keningnya mengernyit seolah mengingat sesuatu, sebutan yang tidak asing baginya.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Keyra yang kini menatap penasaran pada Bram.


__ADS_2