
Aneh rasanya memikirkan bahwa tempat ini kemungkinan adalah tanah airku, renung Gina sambil memandang alam Tuscany yang makmur di hadapannya, ketika mobilnya sudah sampai di puncak. Tapi walau bagaimanapun, ia tidak merasakan ikatan apa pun dengan tempat yang indah tersebut.
Setelah memarkir mobilnya di tepi jalan, Gina memeriksa lagi peta yang terbuka lebar di tempat duduk penumpang di sebelahnya. Kalau perkiraannya tepat, maka sekumpulan atap yang bergenting merah dan menara berlonceng tunggal yang terletak beberapa kilometer lagi itu adalah Vernici. Kota itu ternyata lebih kecil dari perkiraannya, meskipun cukup besar untuk dapat menawarkan tempat menginap selama beberapa hari kunjungannya ke tempat itu. Tapi walaupun sudah begitu dekat dengan tempat tujuannya, ia masih meragukan rencana yang hendak dijalankannya. Dua puluh lima tahun adalah waktu yang lama. Bisa jadi keluarga Carandente tidak lagi tinggal di daerah tersebut.
Kalau memang begitu kenyataannya, maka aku akan melupakan semua ini untuk selamanya, sumpah Gina dalam hati. Tapi meskipun demikian, paling tidak ia sudah pernah mengunjungi bagian negara Eropa yang belum pernah dilihatnya selama ini.
Kota kecil itu dikelilingi pepohonan zaitun dan nyaris bersuasana abad pertengahan, dengan jalan sempit yang berpusat pada sebuah alun-alun. Sebuah mobil yang tiba-tiba muncul dengan kencang dari salah satu jalanan sempit itu pasti akan langsung menabrak mobil Gina kalau saja ia tidak
sigap membanting setir untuk menghindarinya. Ia cuma punya satu pilihan, yaitu menabrak pagar penghalang rapuh yang menandakan di situ ada perbaikan jalan. Akibatnya mobilnya berhenti dalam posisi miring dengan ban depan terbenam pada sebuah lubang yang dalam.
Untung ia mengenakan sabuk pengaman, sehingga tidak mengalami luka apa pun selain shock luar biasa, dan itu cukup membuatnya duduk terpaku seperti patung di dalam mobil selama beberapa saat, sementara orang-orang mulai berdatangan untuk menonton, begitu mendengar bunyi rem mobilnya yang mendecit tajam tadi.
Karena bahasa Italia Gina kurang lancar ia tidak bisa memahami komentar orang-orang yang mengerumuninya. Jadi ia hanya memberi penjelasan dengan bahasa isyarat, sampai akhirnya seorang laki-laki membuka pintu mobil dari sisi duduk penumpang dan membantunya merangkak keluar dari kendaraan itu, sambil berusaha menjelaskan kepada Gina maksud perbuatannya.
Satu-satunya kata yang dipahami Gina hanyalah bengkel. “Si, grazie, Signor!” sahut Gina berterima kasih, sambil berdoa dalam hati semoga orang itu benar-benar memahami perkataannya dan mau membantunya menelepon bengkel. Ia yakin mobilnya tidak mungkin dapat dikendarai bila telah di tarik dari dalam lubang nanti. Namun, ia berharap semoga perbaikannya bisa
__ADS_1
berlangsung dengan cepat, tanpa banyak masalah.
Orang yang menolongnya tadi telah menghilang di jalanan sebelah dan meninggalkannya bersandar lemah pada tiang yang ada di dekatnya, menunggu untuk ditolong. Saat itu sudah pukul dua lebih, tapi panasnya udara nyaris sama dengan pukul 12 siang tadi; blus katun tanpa lengan yang dikenakannya sudah lengket di punggung. Lalu seorang wanita tua menyapanya
dengan nada simpati. Berasumsi wanita itu menanyakan apakah dirinya baik-baik saja, Gina tersenyum dan kembali mengucapkan “Si, grazie. Inglese—saya orang Inggris,” sebelum wanita itu sempat melontarkan pertanyaan lebih banyak lagi.
Sebelum menjalankan misi ini mestinya aku belajar bahasa Italia sampai setidaknya bisa menguasai dan memahami percakapan sederhana, pikir Gina sebal, tapi sekarang sudah terlambat untuk berandai-andai. Ia sudah di Vernici, dan kelihatannya harus tinggal di sana sampai mobilnya selesai diperbaiki dan bisa dikendarai lagi.
Setelah menegakkan tubuhnya, ia berjalan mengelilingi mobilnya untuk mengamati bemper depan yang mendongak ke atas, dalam hati betul-betul khawatir. Ban mobilnya melesak ke dalam gara-gara tabrakan itu, sementara bemper samping dan kapnya penyok-penyok. Untung saja mobil itu buatan Italia, jadi pasti tidak sulit mencari suku cadang baru, kalau memang dibutuhkan.
Tapi sikap riang yang ditunjukkan kedua montir itu membuat Gina berani sedikit berharap. Salah seorang dari mereka, yang bisa berbahasa Inggris sedikit, mengatakan bahwa mobilnya mungkin harus dikirim ke Siena, atau bahkan ke Florence untuk mendapatkan ban dan bemper baru. Ketika ia bertanya berapa lama waktu yang dibutuhkan, montir itu mengangkat kedua tangannya, isyarat yang menunjukkan ia tidak tahu. Mungkin seminggu, mungkin lebih lama lagi. Siapa yang tahu? Belum lagi pekerjaan perbaikannya. Mungkin butuh satu minggu lagi. Biayanya? Sekali lagi montir itu mengangkat tangan. Biayanya pasti mahal, pikir Gina, dan memutuskan untuk tidak mempertanyakan hal itu lebih jauh lagi.
Setelah menolak tawaran mereka untuk naik truk dan duduk berdesakan di antara kedua montir itu, Gina mengikuti kendaraan itu dengan berjalan kaki sampai ke sebuah bengkel. Di sana ia melihat satu-satunya alat transport yang dimilikinya itu diderek lalu diletakkan di sudut untuk menunggu
giliran diperbaiki. Suku cadang akan segera dipesan, begitu kata montir muda itu meyakinkannya. Sementara itu, dia bisa menyediakan tempat menginap yang bagus untuk Gina.
__ADS_1
Gina tidak mengindahkan usulan itu sama sekali, apalagi karena laki-laki itu tanpa sungkan menunjukkan kekaguman pada tubuhnya. Untuk pertama kalinya ia mengalihkan perhatian dari mobilnya sendiri ke mobil yang mencelakakannya tadi. Pengemudi mobil itu seorang wanita, bukan laki-laki, masih muda, dan mobil yang dinaikinya besar berwarna biru.
Tak berani berharap banyak, ia menggambarkan baik mobil
dan pengemudinya pada kedua teman montirnya itu, dan mereka langsung menyeringai begitu mendengarnya. “Cotone,” katanya. “Pergilah ke San Cotone. Tiga kilometer dari sini,” lanjut sang montir dengan ramah sambil menggambarkan denah di tanah yang berdebu. “Mereka kaya raya. Suruh mereka membayar!”
Gina memang memutuskan untuk melakukan hal itu. Ia punya perlindungan asuransi, tapi klaim di luar negeri sering kali susah untuk
dikabulkan. Semakin memikirkannya ia semakin marah, tujuan awalnya datang ke
Vernici harus dikesampingkan dulu untuk sementara waktu. Ia sekarang terpaksa
tinggal di daerah ini gara-gara ada gadis remaja manja tak peduli pada peraturan lalu lintas dan nyawa orang lain. Kata ceroboh saja masih tidak cukup untuk menggambarkan sikap seperti itu!
Bersambung…
__ADS_1