Kekasih Italia

Kekasih Italia
Part 12


__ADS_3

Bingung mendengar istilah yang tidak dimengertinya itu, Donata mengerutkan dahinya. “Mengubur kapak peperangan?”


“Itu berarti kita melupakan kecelakaan mobil itu dan mulai dari awal. Aku lebih suka menjadi temanmu ketimbang musuhmu.”


Berbagai ekspresi muncul di wajah gadis remaja itu dan terus menatap Gina selama beberapa menit sambil berdiam diri. Ketika akhirnya dia berbicara, sikap bermusuhannya tampak dipaksakan. “Mengapa kau ingin


menjadi temanku?”


Ya, mengapa? Gina bertanya pada dirinya sendiri, dan kemudian langsung menjawabnya sendiri: karena kemungkinan kau dan aku berasal dari keturunan yang sama—atau paling tidak bersaudara.


“Kurasa karena aku tidak suka kalau sampai ada orang yang tidak suka padaku,” kata Gina dengan nada sedikit bergurau. “Bukan berarti aku lebih berhasil dengan kakakmu.”


“Ottavia tidak punya waktu memerhatikan orang lain, kecuali dirinya sendiri,” kata Donata dengan kemarahan yang tidak


ditutup-tutupi. “Yang ia inginkan adalah menduduki tempat Lucius.”


Gina bisa membayangkan hal itu. Sebagai Padrone, Lucius pastilah memegang kendali penuh atas segala urusan Carandente. Menjadi orang nomor dua tidaklah mudah bagi seseorang dengan temperamen seperti Ottavia. Dalam hati ia bertanya-tanya apa yang mendorong Ottavia sehingga mau menikah dengan laki-laki yang tampaknya hanya menjadi pegawai dalam bisnis keluarganya. Pasti alasannya bukan karena pilihannya terbatas.


“Kau pasti merindukan ayahmu,” kata Gina dengan lembut, mengubah topik pembicaraan. “Sudah berapa lama beliau meninggal?”


Pertanyaan itu membuat Donata kaget; sehingga ia menyahut secara otomatis. “Padre meninggal enam tahun yang lalu.”


“Belum terlalu tua, ya?”


“Umurnya baru empat puluh delapan.”


Itu berarti ada perbedaan tujuh tahun antara usia ayah Donata dan Giovanni Carandente, hitung Gina dalam hati. Tapi informasi itu


bukan berarti ia sudah semakin dekat untuk membuktikan benar tidaknya ada hubungan keluarga di antara keduanya.


“Abangmu memikul tanggung jawab yang sangat besar dalam usia semuda itu,” kata Gina lagi. “Apalagi bila dia adalah generasi yang terakhir. Pasti itu membuatnya sangat tertekan.”


Donna mengamati dirinya dengan curiga. “Untuk apa kau peduli?”


“Aku tidak peduli,” Gina buru-buru meyakinkannya. “Aku hanya mengira-ngira, itu saja. Aku minta maaf, kalau aku telah bersikap tidak sopan dan mengomentari urusan keluargamu.” Ia mengangkat tangannya dan berkata lagi. “Lebih baik aku pergi. Aku mestinya sejak semula aku tidak mengganggumu.”

__ADS_1


“Lantas, mengapa kau lakukan juga?”


“Kulihat kau sedang bersedih tadi,” sahut Gina dengan waswas. “Aku tidak bisa mengabaikanmu begitu saja.”


“Jadi kaupikir dengan menawariku persahabatan aku mendapatkan semua ketentaraman yang kubutuhkan?”


Gina tidak memedulikan sarkasme yang sangat menyinggun perasaan itu. “Tidak semua, tapi mungkin sedikit saja.” Ia ragu-ragu sebelum berkata lagi, sadar bahwa ia berada di landasan yang labil. “Lucius


menceritakan padaku apa yang menimpa dirimu. Pasti itu adalah pengalaman yang


buruk sekali.”


Simpatinya ternyata menimbulkan efek yang tak disangka-sangka. Wajah Donata tiba-tiba menjadi kusut. “Menurutnya aku kecanduan narkoba!”


“Aku yakin Lucius tidak berpikir begitu.” Gina menahan diri untuk tidak berjalan mendekat dan merangkul bahu Donata. “Kau hanya


kebetulan saja berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Lagi pula kejadiannya baru beberapa hari. Kemarahan Lucius pasti akan reda nantinya.”


“Tidak akan.” Air mata mulai mengambang lagi di mata Donata, sifat pemberontaknya pupus sudah. “Lucius bahkan tidak mau melihatku! Tak seorang pun mau!”


Itu dia, pikir Gina dengan penuh pemahaman, inti dari kesedihan hati Donata. Ia menjaga agar nada suaranya tetap terdengar tenang dan mantap. “Maksudmu, gara-gara rambutmu?”


“Meryl itu penata rambutmu?”


“Bukan, dia temanku.”


Teman! Pikir Gina. “Teman yang sangat iri padamu, menurutku,” kata Gina. “Butuh waktu lama bagi rambutmu untuk tumbuh panjang


lagi,” katanya lagi, karena tidak ada gunanya menutup-nutupi, “tapi kau bisa membuatnya tampak lebih bagus daripada sekarang.”


Sedikit harapan muncul di mata gadis itu. “Kau bisa melakukannya?”


Bukan itu tepatnya yang ada di benak Gina, tapi karena ia tidak mungkin dapat membuat rambut Donata lebih jelek daripada yang


sekarang, ia memutuskan, “Aku bisa mencobanya. Kau mestinya pergi ke penata

__ADS_1


rambut yang ahli untuk memperbaikinya.”


“Tapi kita harus melakukannya sekarang,” kata Donata lagi dengan semangat yang mulai timbul. “Kalau tampangku tidak seperti


orang-orangan seperti kata Lucius, dia mungkin akan mengizinkan aku untuk


menemanimu ke Palio besok. Dia sangat menyukaimu, aku tahu. Dia pasti mau


mendengar kalau kau yang meminta.”


Gina sangat meragukan hal itu, tapi ia tidak sampai hati menolak permintaan Donata yang tulus. “Aku hanya bisa mencoba,” katanya lagi.


“Terima kasih.” Senyuman Donata sungguh berseri. “Dan aku sungguh menyesal atas mobilmu. Memang aku yang salah. Aku mengemudikan mobilku dengan sembrono.”


“Tidak apa-apa.” Gina nyaris tidak percaya pada perubahan pada diri gadis itu. “Aku yakin mobilku akan kembali seperti mobil


baru nanti. Lagi pula, kita harus buru-buru kalau mau selesai sebelum makan siang.”


“Makan siang masih pukul dia,” kata Donata meyakinkan. “Itu berarti kita punya waktu dua jam.”


Hampir dua jam untuk menciptakan efek yang bisa meluluhkan hati Lucius; Gina hanya bisa berharap ia bisa melakukannya.


Dengan hati-hati Gina merapikan rambut Donata supaya tampak lebih lumayan dari keadaannya sekarang. Pada saat ia selesai


mengeringkan rambut hitam yang tebal itu, ia mulai menyesal mengapa ia turut campur dalam masalah Donata.


Ia menarik napas panjang penuh kelegaan ketika mengamati hasil karyanya. Rambut Donata dipotong ber-layer agar tampak rapi dan mengembang, serta diberi poni yang membingkai wajahnya, memang bukan hasil


karya salon, tapi jelas-jelas menunjukkan perbaikan yang lumayan. Dan Donata sendiri tampaknya cukup senang dengan rambutnya yang baru.


Gina mengusulkan supaya gadis itu mengganti celana kasualnya dengan rok katun berwarna krem, kaus oblongnya dengan blus hijau pucat. Donata mengatakan dirinya amat senang dan akan menerima segala saran yang diberikan oleh orang yang sudah dianggapnya sebagai teman sejati.


Dalam waktu kurang dari 24 jam ini betul-betul prestasi yang luar biasa, pikir Gina. Ia hanya berharap Lucius tidak menganggapnya sok tahu.


Makan siang dihidangkan di teras samping di bawah keteduhan kanopi. Ottavia memerhatikan perubahan pada diri adiknya dengan acuh-tak acuh. Lebih baik daripada tidak ada perbaikan, hanya itu komentarnya, meskipun tidak bagus-bagus amat.

__ADS_1


Jadi sekarang tergantung pada Lucius apakah pria itu akan memberikan pujian yang lebih pantas. Tapi bagaimanapun, Gina merasa Lucius tidak akan suka dirinya ikut campur dalam urusan keluarga mereka.


Bersambung...


__ADS_2