Kekasih Italia

Kekasih Italia
Part 5


__ADS_3

Ketukan di pintu memberitahukan bahwa kopernya telah datang. Makan malam, begitu kata Guido kepadanya dalam bahasa Inggris


patah-patah, akan disajikan pada pukul setengah sepuluh di ruang makan. Tuan


rumah meminta agar ia bergabung untuk minum-minum dengan keluarga di teras pada


pukul sembilan.


Gina mengucapkan terima kasih pada Guido yang mengangguk kecil sebagai balasannya. Sudah jelas bahwa kehadirannya di sana


sama sekali tidak disukai. Sebagai seorang pembantu lama yang setia, Guido sudah pasti akan memihak Donata Carandente, pikir Gina. Mungkin juga seluruh pembantu mempunyai sikap yang sama—meskipun Crispina tidak menunjukkan sikap seperti itu.


Entah karena shock tertunda seperti yang dikatakan Lucius tadi, atau semata-mata karena letih setelah seharian menyetir, Gina


merasa sekujur tubuhnya penat. Ia tidak yakin apakah ia bisa tidur kelap, tapi dua jam beristirahat pasti akan membuat tubuhnya lebih segar untuk nanti malam. Ia tidak mau sampai ketiduran di meja makan waktu makan malam.


Ia melepaskan pakaiannya sebelum berbaring di atas seprai sutra itu, sambil meregangkan tubuhnya dengan nyaman di bawah putaran


kipas angin. Sungguh lebih nyaman daripada penyejuk ruangan, pikir Gina, sambil memerhatikan bilah-bilah kipas angin yang berputar itu. Bunyi putarannya yang berdesir pelan sudah bisa membuat orang mengantuk.


Lucius berkata Donata itu adalah adiknya. Apakah pria itu punya saudara lagi? Kalau Lucius adalah seorang padrone, maka ayahnya pasti juga telah meninggal, tapi ibunya mungkin masih hidup. Kalau orang-orang ini ternyata sanak keluarga ayahnya, maka ia dan Lucius boleh jadi adalah saudara sepupu. Anehnya, Gina merasa gagasan itu tidak menyenangkan.


Sinar matahari yang terang telah berubah menjadi samar-samar ketika Gina terbangun. Ia merasa lega karena masih punya waktu


setengah jam sebelum harus bergabung dengan seluruh keluarga di teras.


Tidur singkat itu membuatnya segar, dan mandi membuatnya jauh lebih segar lagi, tapi takkan ada penyegar apa pun yang bisa


membuatnya merasa tenang menghadapi apa yang harus dihadapinya setelah itu.


Suatu saat pada waktu makan malam nanti ia harus mengatakan nama ayahnya dan

__ADS_1


mengetahui hal yang sebenarnya. Demi ketenangan pikirannya sendiri ia butuh


mengetahui asal-usul dirinya.


Karena sudah berencana untuk menginap di hotel yang bagus selama perjalanannya. Gina telah mengepak pakaian yang sesuai untuk


berbagai acara. Gaun sutra berwarna biru tua yang dikenakannya malam itu menempel dengan anggun di tubuhnya sampai ke batas lutut. Dilengkapi dengan sepasang sandal bertumit tinggi, dandananku pasti cocok untuk makan malam, pikir Gina.


Dengan melapiskan maskara dua kali pada bulu matanya yang panjang dan membubuhkan pemulas bibir, ia siap untuk menggabungkan diri. Tidak ada waktu lagi untuk menyanggul rambutnya dengan sanggul model Prancis seperti yang diinginkannya, jadi terpaksa ia menggerai rambutnya. Rambut yang tebal berkilau itu tergerai lembut di pundaknya—meskipun setelah keramas ia harus susah payah mengeringkannya, tapi ia tidak pernah tega untuk memotongnya menjadi pendek.


Hari sudah hampir malam ketika ia sampai di teras yang lebar dan berlantaikan batu itu. Lampu-lampu sudah dinyalakan. Dari lima orang yang sudah ada di sana, ada tiga orang wanita dan mereka mirip satu sama lain.


Lucius berjalan maju untuk menyambutnya ketika Gina dengan ragu-ragu muncul di ambang pintu ruangan yang baru saja dimasukinya. Pandangan mata Lucius menunjukkan kekaguman ketika mengamati penampilan Gina yang anggun itu. Pria itu sama sekali tidak merahasiakan bahwa dirinya tertarik pada Gina, sama seperti Gina yang juga tertarik kepadanya. Lucius bisa jadi


adalah saudara sepupuku, kata Gina dalam hati mengingatkan dirinya dengan keras. Sepupu dekat, malah.


Kemungkinan menjalin hubungan kekerabatan itu langsung lenyap begitu Gina melihat tatapan mata Donata yang berapi-api. Kakak perempuan Donata, Ottavia, berusia sekitar 27 atau 28 tahun, dan telah menikah dengan pria yang usianya beberapa tahun lebih tua bernama Marcello Brizzi. Tanggapan


jelas mereka juga menganggap kehadirannya sebagai seorang pengganggu.


Jadi sekarang terserah pada nyonya rumah apakah ingin menunjukkan sikap yang hangat dalam menyambut tamunya. Dengan kulit yang nyaris selembut kulit Gina sendiri, dan rambut yang masih hitam lebat tanpa sehelai


uban pun, nyonya rumahnya nyaris tidak tampak cukup tua untuk mempunyai anak


laki-laki seusia Lucius.


“Anakku bilang kau keturunan Italia juga,” katanya. “Kurasa kau tidak pernah mengenal ayahmu?”


Gina duduk di salah sebuah kursi teras yang nyaman itu sambil memegang sebuah gelas berisi gin dan tonik, dan menggeleng. “Ayahku


meninggal sebelum aku lahir.”

__ADS_1


Signora Carandente mengemukakan simpatinya dengan mendesah panjang. “Sungguh malang!” Ia terdiam sejenak, sambil mengamat-amati gadis di depannya. “Kau punya kakak laki-laki, mungkin?”


Gina menggeleng, dan sang nyonya rumah mendesah lagi.


“Sungguh sayang bila seorang laki-laki meninggal tanpa mempunyai seorang anak laki-laki untuk melanjutkan namanya! Kalau sampai hal itu terjadi pada Lucius sebelum dia mempunyai seorang anak laki-laki, maka nama keluarga kita juga akan berakhir. Menurutmu, apakah ia menyadari tanggung jawab itu?”


“Aku tidak akan mati dalam waktu dekat,” kata Lucius dengan tenang.


“Siapa yang tahu?” balas ibunya. “Kau harus segera menikah. Kau punya kewajiban. Dan siapa yang lebih pantas selain Livia Marucchi!”


Lucius hanya mengangkat bahu, seolah-olah meremehkan masalah itu, tapi Gina bisa merasakan ketidaksenangan Lucius karena persoalan itu harus dibicarakan di hadapan orang lain. Ia sendiri juga akan merasa tidak senang. Dari sedikit yang dikenalnya pada diri Lucius, laki-laki itu pasti bisa mengambil keputusan sendiri tentang kapan dan dengan siapa dia akan menikah. Gina yakin, pilihan Lucius tak mungkin terbatas pada satu wanita saja.


“Siapa nama ayahmu?” tanya Ottavia, membuat Gina tersentak dari pikirannya sendiri dan tiba-tiba menjadi sedikit panik. Ia tidak siap! Belum saatnya!


“Barsini,” sahut Gina, menyebutkan nama itu


asal-asalan, tanpa sedikit pun merasa ragu. “Alexander Barsini.”


Ia langsung menyesal begitu nama itu meluncur keluar dari mulutnya, tapi sekarang sudah terlambat untuk memperbaikinya.


“Barsini,” ulang Ottavia. “Dari Italia bagian mana asalnya?”


Karena telah memulainya, maka tidak ada pilihan selain meneruskannya, pikir Gina dengan sebal. “Naples,” katanya dengan asal-asalan juga.


“Apakah keluarganya masih hidup?”


Kali ini Gina memilih untuk mengatakan hal yang sebenarnya. “Aku tidak tahu. Untuk itulah aku datang ke Italia.”


Alis Ottavia terangkat, mirip sekali dengan gaya kakak laki-lakinya, tapi sama sekali bukan karena geli. “Ibumu tidak berhasil


mempertahankan silahturahmi dengan mereka?”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2