
Gina membalas tatapan Ottavia dengan mantap, padahal ia sama sekali tidak mantap. “Ibuku tidak pernah berjumpa dengan keluarga ayahku. Keluarga ayahku sama sekali tidak tahu tentang pernikahan orangtuaku itu.”
“Kurasa itu sudah cukup,” potong Lucius sebelum adiknya bisa melanjutkan investigasinya. “Tidak perlu dibicarakan lagi.”
Air muka Ottavia seolah-olah mengatakan perintah Lucius itu tidak pada tempatnya, tapi dia tidak membantah. Namun Gina ragu
kalau Ottavia akan berhenti mencari tahu. Ia melirik ke arah Donata dan berusaha tersenyum, tapi Donata membalasnya dengan mata melotot. Jelas sikap Donata tidak akan melunak terhadapnya. Ia betul-betul sudah terperangkap di dalam rumah ini!
# # #
Makan malam ternyata tidak semeriah seperti yang disangka Gina semula, dan hanya terdiri atas empat menu. Gina meneguk anggur
merahnya dengan hati-hati. Ia memang suka anggur merah, tapi minuman itu tidak
selalu cocok dengan dirinya. Ia tidak mau kalau harus bangun dengan kepala berat keesokan pagi.
Lucius berkeras agar pembicaraan mereka dilakukan dengan bahasa Inggris untuk menghormati Gina, tapi hal itu justru membuatnya merasa lebih seperti orang luar. Marcello, Gina berhasil mengetahui, adalah
pengelola properti itu, dan Ottavia adalah istrik yang tidak perlu mengerjakan apa-apa. Ottavia menanyai Gina tentang latar belakangnya saat ini, dan merasa heran ketika mendengar bahwa Gina adalah seorang akuntan.
“Betul-betul pekerjaan yang tidak biasa bagi seorang wanita!” katanya dengan keras. “Tidakkah begitu menurutmu, Lucius?”
“Justru itu adalah karier yang bagus bagi siapa pun,” balas Lucius, sambil melemparkan senyuman yang membuat Gina seperti tersengat. “Terutama bagi seseorang yang begitu muda.”
“Usiaku dua puluh lima,” Gina merasa ia harus
menjelaskan. “Tidak beda jauh denganmu, kurasa.”
Senyuman itu muncul lagi, kali ini ditemani kilatan pada mata gelap pemiliknya. “Delapan tahun memang bukan halangan, aku setuju.”
Halangan untuk apa, Gina tidak merasa perlu untuk bertanya. Dan ia yakin, orang di sekelilingnya juga merasa begitu. Bahwa Lucius tertarik secara fisik pada dirinya, juga tidak perlu dikatakan lagi. Tidak mungkin Lucius menyukai dirinya lebih dari itu.
__ADS_1
Sikap Gina yang tak acuh itu malam membuat kilatan di mata Lucius semakin menjadi. Perlawanan tampaknya justru membuat permainan ini semakin menarik. Gina merasa lebih menyesal lagi karena telah membiarkan
dirinya terjebak dalam situasi ini. Jika ia memang ingin mencari tahu hal yang
sebenarnya, berarti ia harus siap memberi penjelasan atas kebohongannya tadi,
yang bahkan ia sendiri tidak mengerti mengapa sampai bisa terucap. Selain itu
ada kemungkinan ia akan membuat Lucius terhina karena telah merayu sepupu dekatnya sendiri.
“Dan apa pekerjaan ayah tirimu?” desak Ottavia, berhasil mengembalikan jalan pikiran Gina lagi.
“Perusahaan tekstil,” sahut Gina.
“Miliknya sendiri?”
“Ya, usahanya sendiri.” Dan sangat sukses, ia ingin menambahkan, tapi melihat tidak ada perlunya membeberkan dengan lebih mendetail lagi—terutama karena kesuksesan itu tergantung pada beberapa faktor yang
Ottavia tampaknya sementara cukup puas dengan jawaban, tapi Gina yakin Ottavia akan terus menggali keterangan. Wanita itu mungkin hanya ingin tahu, pikir Gina menenangkan diri sendiri. Tidak mungkin wanita itu mencurigai ada hal yang tidak beres.
# # #
Acara itu berlangsung terus sampai tengan malam dan tampaknya masih belum akan berakhir. Karena nyaris tidak bisa membuka mata lagi, Gina terpaksa minta diri.
“Kuharap kalian tidak tersinggung kalau aku minta diri untuk tidur,” kata Gina. “Aku sudah mengendarai mobil dari pukul tujuh pagi
tadi, dan sama sekali tidak bisa tidur malam sebelumnya.”
“Tentu saja boleh!” Signora Carandente menyahut. “Kau tidak perlu sungkan-sungkan melakukan apa pun yang kauinginkan sementara kau menjadi tamu di sini. Mungkin kau ingin makan pagi di kamarmu?”
“Sama sekali tidak,” kata Gina. “Aku akan baik-baik saja.” Ia menambahkan lagi dengan tiba-tiba, “Keramahan Anda tidak ada bandingannya, Signora.”
__ADS_1
“Contessa,” kata Ottavia mengoreksi dengan nada tajam.
“Kau boleh memanggilku Cornelia,” kata ibunya kepada Gina dengan anggun.
Gina yang agak kaget mendengar kata-kata Ottavia, memiringkan kepalanya dan berkata, “Terima kasih.”
Ia berjalan meninggalkan orang-orang lain sambil mengucapkan “Selamat malam”, dan menghindari tatapan mata dengan Lucius. Kalau ibu Lucius seorang Contessa, berarti ayahnya dulu seorang Count, dan itu berarti gelar tersebut akan diturunkan pada anak mereka. Dan itu memperkecil kemungkinan ayahnya mempunyai ikatan dengan keluarga tersebut. Mengapa anak laki-laki dari keluarga seperti itu belajar di universitas di Inggris sebagai mahasiswa biasa?
Lagi pula, baik sekarang maupun di masa lalu keluarga Carandente tidak mungkin pernah tinggal di Vernici.
Gina menyadari dirinya hanya berjalan di tempat.
Satu-satunya jalan yang pasti adalah jalan yang semestinya ditempuh beberapa jam yang lalu, yaitu menceritakan hal yang sebenarnya. Menyembunyikan nama asli ayahnya adalah tindakan yang konyol. Besok, katanya pada diri sendiri, ia akan menceritakan hal yang sebenarnya. Toh, ia sama sekali tidak punya niat untuk mencari keuntungan apa pun. Yang ia inginkan hanyalah mengetahui siapa sebenarnya ayahnya dulu.
# # #
Meskipun penat, Gina sudah bangun pada pukul enam keesokan paginya. Sinar matahari pagi seakan memanggil-manggil untuk keluar menuju balkon dan menikmati pemandangan indah dari taman yang terbentang di sekelilingnya. Seluruh taman tampak tertutup kabut pagi yang tipis.
Ia tak melihat seorang pun di taman itu. Didorong keinginan hati, Gina berjalan kembali ke kamar tidurnya untuk mengenakan celana panjang katun tipis dan sehelai kemeja. Ia akan berjalan-jalan selama setengah jam atau lebih sehingga masih punya banyak waktu mempersiapkan diri menyongsong hari.
Ia bisa mendengar suara-suara pelan dari suatu tempat di bagian belakang rumah sewaktu menuruni anak tangga menuju lantai dasar, tak seorang pun muncul untuk menanyainya. Lagi pula para pembantu rumah tidak mungkin melakukan itu, pikir Gina. Seperti yang dikatakan Cornelia semalam, sebagai tamu ia berhak melakukan apa pun yang diinginkannya.
Selain itu kemungkinan ia bertemu dengan siapa pun di pintu depan menjadi sangat kecil. Mobil Fiat-nya sudah tidak ada, di jalan masuk itu betul-betul tidak ada mobil satu pun. Pasti di belakang ada garasi, pikir Gina.
Ia membelok ke kiri, menjauh dari rumah, menuruni tangga batu yang terletak di antara pilar marmer berwarna putih menuju teras,
yang dinaungi tanaman hijau rimbun dan dihiasi patung-patung klasik. Gina mengagumi keindahan tempat yang berlatar belakang langit biru nan cerah itu.
Di satu sisi terdapat sebuah kolam berhiaskan bunga teratai berwarna-warni, pinggiran kolam diberi bangku-bangku yang terbuat dari batu yang posisinya sangat strategis untuk melihat pemandangan di seberang lembah. Gina langsung memperlambat langkahnya begitu melihat Lucius sedang duduk di atas salah satu bangku tersebut.
Bersambung…
__ADS_1