
Lucius menganggap Gina sudah setuju, dan ia mempersilakan Gina berjalan menduluinya masuk ke rumah. Gina menahan diri untuk tidak berdebat lagi dan mematuhi perintah Lucius. “Dasar sok tahu,” gumamnya dengan bibir terkatup sambil melewati Lucius.
Begitu sampai di kamar Gina mendapati gaunnya ternyata bukan hanya kotor tapi juga koyak di bagian keliman. Tapi masih bisa diperbaiki, pikirnya sambil memeriksa robekan itu, meskipun ia tidak ahli dalam jahit-menjahit. Bagaimanapun, masih banyak pakaian lain yang bisa dikenakannya, jadi gaun itu bisa diabaikan sampai ia pulang ke Inggris.
Meskipun Lucius memerintahkannya untuk menunggu, Gina memutar kran air panas di bak kamar mandi dan mulai membersihkan kotoran yang menempel di lukanya. Lukanya cukup dalam, dan ada butiran-butiran pasir
kecil-kecil yang menempel. Dengan seksama dan hati-hati Gina membersihkan lukanya, sehingga ia tidak sadar kalau Lucius memasuk kamarnya sambil membawa
kotak P3K.
“Kau mestinya menunggu sampai aku membawa ini!” kata Lucius dengan suara keras.
Sambil duduk di bangku dengan kaki ditopangkan di tepian bak mandi supaya lukanya bisa dibersihkan dengan saksama, Gina manahan diri untuk tidak menurunkan roknya yang telah ia angkat sampai setengah paha.
“Kupikir kau akan menyuruh salah seorang pembantu untuk membawakannya,” kata Gina pelan.
Alis Lucius langsung terangkat. “Kau pikir aku tak pantas melakukan tugas seperti ini?”
“Bukan begitu. Aku hanya menganggap…” Gina membiarkan kalimatnya menggantung sambil mengulurkan tangan untuk menerima kotak P3K tersebut. “Terima kasih, kau mau repot-repot membawanya.”
Lucius tidak mau mengulurkan kotak itu. Ia
meletakkannya di meja marmer panjang yang diatasnya terdapat dua wastafel, lalu mencuci tangannya dengan sabun yang diambilnya dari tempat sabun. Gina memerhatikan pria itu sambil berdiam diri, dalam hati mengomeli dirinya sendiri karena semestinya ia mencuci tangan dulu sebelum menyentuh lukanya tadi.
Kehadiran Lucius di kamar mandi itu—meskipun ruangannya cukup lapang—membuat Gina gugup. Ia merasa seluruh sendinya gemetar ketika melihat Lucius mengambil pinset dari dalam kotak P3K dan duduk di tepi bak mandi untuk mulai membersihkan butiran-butiran pasir di lukanya.
Tangan Lucius, yang memegang betisnya supaya tidak bergerak, terasa hangat dan kokoh, jari-jari tangan Lucius tampak panjang dan lentur, kukunya dipotong rapi; Gina bisa membayangkan bagaimana seandainya
jari-jari tangan itu menelusuri tubuhnya dan membelainya dengan lembut. Puncak
*********** langsung menegang memikirkan hal itu.
Hentikan! Gina memarahi dirinya sendiri, malu akan jalan pikirannya yang liar itu. Mungkin benar pernyataan bahwa kaum wanita pada
dasarnya sama mampunya dengan kaum laki-laki untuk menikmati **** tanpa cinta,
__ADS_1
meskipun ia sendiri tidak pernah seperti itu. Sejak remaja, Gina sudah memutuskan bahwa ia hanya akan menyerahkan tubuhnya pada hubungan yang serius: yang didasarkan pada cinta, seperti cinta ibunya pada Giovanni Carandente. Kemungkinan bahwa Lucius adalah keponakan ayahnya sudah cukup membuat hasrat Gina pupus dan mengubah keputusannya itu.
“Maaf kalau aku menyakitimu,” kata Lucius ketika kaki Gina dalam pegangan tangannya tersentak. “Masih ada beberapa butir lagi,
setelah itu kita bisa membubuhinya dengan obat antiseptik.”
“Tidak apa-apa,” kata Gina meyakinkannya. “Kau melakukannya dengan sangat lembut, kok. Lukanya lumayan dalam ya? Aku tidak
menyangka kalau ternyata banyak butir-butir pasirnya.”
“Untungnya kalau sembuh nanti tidak akan berbekas.” Kata Lucius tanpa mendongak dari pekerjaannya. “Sungguh sayang kalau sampai
kaki yang indah ini ternoda.”
“Apakah kau tidak bisa berhenti melakukan itu?” tanya Gina ketus, di luar kemauannya.
Kali ini Lucius mendongak, wajahnya tampak heran. “Pujianku membuatmu jengkel?”
Gina menarik napas panjang untuk menenangkan diri. “Aku merasa pujianmu itu terlalu… ahli, itu saja.”
“Ah, aku mengerti. Menurutmu aku melontarkan pujian yang sama pada semua wanita.” Sinar mata Lucius tampak geli lagi. “Kau salah.”
Obat antiseptik itu sungguh perih, tapi Lucius tidak memedulikan hal itu. Ia menyelesaikan pekerjaannya pada lutut Gina dengan ahli
dan menempelkan plester di atas perban.
“Kau bisa melepas perbannya besok supaya kulit barumu bisa tumbuh lagi,” kata Lucius, dan melepaskan pegangannya pada kaki Gina.
Gina berdiri dan mencoba melangkahkan kakinya yang terasa kaku, wajahnya tampak mengernyit di cermin. “Terakhir kali lututku
diperban adalah waktu aku berumur delapan tahun!”
“Rok panjang atau celana panjang yang sekarang sedang tren di kalangan wanita bisa menutupi wasa malumu.”
Nada suara Lucius yang terdengar sebal membuat mata Gina menatap wajah kecokelatan yang terpantul di cermin itu. “Kau tidak suka dengan gaya itu?” tanyanya ringan.
__ADS_1
“Aku lebih suka kaum wanita berpakaian layaknya wanita,” kata Lucius menegaskan. “Dan kurasa kebanyakan laki-laki juga
berpendapat demikian.”
“Donata mengenakannya,” Gina tidak tahan untuk tidak mengatakannya, dalam hati sedikit tersinggung dengan pendapat Lucius. “Kalau pendapatmu memang begitu, aku heran kau mengizinkannya berpakaian begitu—belum lagi dandanannya!”
“Aku bilang lebih suka. Itu bukan peraturan,” jawab Lucius dengan tegas, “Kurasa yang kaumaksud dengan ‘dandanannya’ adalah model rambut adikku, tak peduli betapa seringanya kami mengomel, rambutnya tidak akan tumbuh dengan lebih cepat.”
Dengan segera Gina memandang Lucius, malu karena telah mengurusi sesuatu yang bukan urusannya. “Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu. Kau bilang kemarin Donata baru pulang dari sekolah?”
Senyuman Lucius hanya sekilas dan sama sekali tidak tampak geli. “Dia dikeluarkan dari sekolah karena tingkah lakunya tidak dapat
ditoleransi sekolah yang punya reputasi.”
“Hanya karena model rambutnya?”
“Itu tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan tindakan kabur dari sekolah supaya bisa pergi ke kelab malam di kota terdekat.
Dan itu bukan kali pertama. Kali ini dia tertangkap polisi ketika tempat itu
sedang dirazia narkoba.”
Gina menatap Lucius dengan prihatin. “Maksudmu, Donata menggunakan narkoba?”
“Dia meyakinkan aku dia tidak menggunakannya.”
“Kau memercayainya?”
Lucius hanya mengangkat bahu, bibirnya terkatup rapat. “Aku nyaris tidak tahu mana yang harus kupercaya. Aku sangat menyesal telah membiarkan diriku terbujuk olehnya supaya mengizinkan bersekolah di Swiss.
Pendidikannya toh sudah cukup tanpa perlu ‘sentuhan terakhir’ yang begitu ingin didapatkannya ini.”
“Donata pasti bukan satu-satunya murid yang pernah diusir dari sekolah,” kata Gina.
“Kalau maksudmu adalah apakah dia sendirian malam itu, maka jawabannya tidak. Ada dua murid lain yang tertangkap bersamanya. Satu gadis Amerika, satunya lagi Inggris. Mereka juga sudah dipulangkan ke rumah masing-masing.”
__ADS_1
“O begitu.” Walaupun rasanya konyol, tapi Gina merasa ia harus meminta maaf atas tindakan gadis Inggris itu. “Kurasa itu juga tidak membuat perasaanmu lebih baik.”
Bersambung…