Kekasih Italia

Kekasih Italia
Part 11


__ADS_3

“Kakimu harus ditopang,” desak Cesare, sambil menaikkan penopang kaki yang terpasang di kursi Gina. “Sakit sekali ya?”


“Sama sekali tidak,” kata Gina meyakinkannya. Ia membiarkan Cesare membantunya hanya karena ia merasa situasi ini akan bertambah kikuk seandainya ia menolak bantuan Cesare.


“Aku sudah memesankan jus jeruk untukmu,” kata Lucius, ketika salah seorang pembantu laki-lakinya muncul dari dalam rumah sambil membawa sebuah baki yang penuh dengan minuman. “Tentu saja kau bisa menggantinya dengan minuman lain yang lebih kuat kalau kau mau.”


“Trims, tapi aku memang sedang ingin jus jeruk,” kata Gina meyakinkannya, sementara pelayan itu meletakkan gelas tinggi yang dingin di hadapannya. Ia mengambil gelas itu dengan lega, dan langsung menghabiskan seperempat isinya dengan sekali teguk.


“Minuman dingin mestinya harus dihisap dengan perlahan supaya perut kita tidak kaget,” komentar Donata sinis. “Bukankah begitu, Lucius?”


“Mungkin lebih baik begitu,” sahut Lucius menyetujui. “Kalau kau merasa kepanasan di sini, kita bisa pindah ke bagian teras yang


lebih dingin,” katanya pada Gina.


Satu-satunya sumber panas yang membuat aku kepanasan adalah Lucius, pikir Gina dalam hati. “Sama sekali tidak masalah,” katanya meyakinkan Lucius. “Aku selalu suka sinar matahari.”


“Yang hanya bisa sedikit sekali kaudapatkan di Inggris.”


“Oh, kami mempunyai hari-hari cerah,” balas Gina ringan. “Kadang-kadang beberapa hari berturut-turut. Kau pernah berkunjung ke


Inggris?”


“Tidak pernah untuk waktu yang lama.”


“Besok adalah hari Palio,” tukas Cesare tiba-tiba dengan gaya seolah-olah ia sudah terlalu lama tidak diacuhkan. “Aku punya tiket


tempat duduk utama yang telah lama kupesan, siapa mau boleh ikut denganku.”


“Si!” teriak Donata sebelum orang-orang lain bisa menyahut. “Vorrei andare!”


Lucius mengatakan sesuatu dalam bahasa yang sama, menghapuskan kegembiraan yang muncul di wajah Donata. Sambil menyibakkan rambutnya, gadis itu bangkit dari duduknya dan pergi dengan wajah kesal, bahasa tubuhnya mencerminkan kekesalan hatinya.

__ADS_1


“Apa sebetulnya Palio itu?” tanya Gina setelah


keheningan yang lama. Ia merasa harus mengucapkan sesuatu.


Cesare menjawab pertanyaannya. “Pacuan kuda yang diadakan dua kali setahun di antara contrade Siena. Para joki harus berpacu mengelilingi Piazza del Campo tiga kali tanpa pelana.”


“Pacuan kuda tanpa pelana!” Gina berusaha membuat dirinya terdengar bersemangat.


“Sedikit lebih dari itu,” kata Lucius. “Ketujuh belas distrik kota akan berlomba untuk mendapatkan bendera sutra sebagai penghormatan bagi Bunda Maria. Itu adalah sebuah tradisi yang dimulai berabad-abad yang lalu. Pacuan itu sendiri hanya berlangsung tidak lebih dari semenit atau dua


menit, tapi arak-arakannya berlangsung seharian. Kau mungkin akan menyukainya.”


“Kau sendiri baru pernah ikut sekali seingatku,” kata Cesare. “Mengapa kita semua tidak pergi bersama-sama?”


“Sekarang Palio sudah jadi atraksi turis,” kata


Ottavia dengan muak. “Aku tidak ingin menghadirinya. Dan kurasa Marcello juga


begitu.”


Kalau Lucius menolak juga, maka itu berarti hanya dirinya dan Cesare, pikir Gina, sama sekali tidak yakin kalau ia ingin menghabiskan sepanjang hari besok bersama Cesare. Meskipun usia Cesare kurang lebih sama dengan Lucius, tapi ia tidak dewasa, beda dengan Lucius.


“Kalau begitu kita bertiga akan pergi,” kata Lucius menyetujui, serta merta Gina lega. “Tapi aku yang menyetir mobil. Aku mau kita


sampai ke tempat tujuan dengan selamat.”


Cesare tertawa, sama sekali tidak tersinggung. “Kau tidak percaya padaku ya, amico, tapi aku terima tawaranmu.”


Itu sebenarnya sebuah ultimatum, bukan tawaran, tapi Lucius tampaknya tidak mau memperdebatkan hal itu. Gina menyadari bahwa sebenarnya itu berharap hanya mereka berdua saja yang ikut. Tapi begini lebih


aman, pikirnya lagi dengan penyesalan. Dengan Cesare sebagai pengawas, kejadian

__ADS_1


tadi pagi tidak mungkin akan terjadi lagi. Apa pun hasil perjalanannya ke Italia ini, ia tidak mau mengambil risiko untuk terlibat dalam hubungan seperti itu.


Cesare memohon pamit tak lama sesudah itu, ditemani Lucius yang ingin mendiskusikan urusan pribadi. Gina, yang sekarang hanya


berdua dengan Ottavia, berusaha mengajak wanita itu mengobrol, tapi ia dengan cepat menyerah karena usahanya hanya ditanggapi dengan singkat dan acuh-tak-acuh oleh Ottavia.


“Kurasa aku akan mencari tempat sejuk yang tadi disebut-sebut Lucius,” kata Gina akhirnya dan bangkit berdiri. “Di sini terlalu panas sampai rasanya tidak bisa berpikir.”


Wanita yang satu lagi itu sama sekali tidak menanggapi ucapan Gina, tapi sebenarnya Gina juga tidak mengharapkan itu. Ia bisa memahami sikap Donata atas kehadirannya di rumah itu, tapi mengapa Ottavia harus


bersikap bermusuhan padanya?


Seharian ia belum melihat Cornelia atau mendengar nama wanita itu disebut-sebut. Mungkin dia tidak suka bangun pagi, atau sudah pergi ke luar, pikir Gina. Masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum pukul dua belas siang. Makan siang tidak akan dihidangkan sebelum pukul setengah dua atau bahkan pukul dua, pikir Gina. Sebenarnya ia belum lapar, hanya saja hari yang harus dilaluinya masih panjang.


Tempat tersejuk pada saat itu adalah di dalam rumah. Jadi Gina masuk melalui pintu kaca menuju salotto, dengan lega merasakan


embusan udara sejuk dari kipas angin yang terpasang di langit-langit ruangan. Ketika sampai di lorong, ia berdiri sejenak, bingung harus mengambil arah mana. Dari ruangan-ruangan yang pintunya terbuka, sejauh ini ia baru melihat ruangan yang tadi dimasukinya dan perpustakaan tempat ia pertama kali bertemu dengan Lucius.


Walaupun merasa dirinya seperti pengganggu, ia membuka pintu di sayap kanan tangga sebelah bawah, dan dengan cepat mendapati itu ternyata sebuah ruangan kecil untuk menyimpan perabot-perabot rumah yang tidak dipakai lagi, karena modelnya sudah kuno.


Ketika ia hendak menutup pintu itu lagi, matanya menangkap bayangan di cermin yang terpasang tepat di hadapannya. Donata, dengan mata terpejam duduk di kursi berpunggung tinggi. Tampaknya, dia sedang


menangis.


Gina berpikir Donata pasti tidak akan menyukai kehadirannya, tapi ia tetap melangkah masuk ke ruangan itu dan menutup pintunya. Ia sama sekali tidak tahu apa yang akan dikatakannya atau dilakukannya.


Lantai ruangan itu berlapis kayu, tapi coraknya tidak jelas karena tertutup perabot-perabot rumah yang besar-besar. Donata membuka matanya ketika mendengar bunyi langkah kaki, dan ia langsung bangkit berdiri begitu mengetahui siapa orang yang masuk.


“Tinggalkan aku seorang diri!” desak Donata. “Kau tidak berhak masuk kemari!”


Gina, yang masih tak yakin apa yang hendak dicapainya, berhenti agak jauh. “Aku tahu aku tidak berhak masuk kemari,” katanya, “tapi

__ADS_1


karena aku sudah di sini, bagaimana kalau kita mengubur kapak peperangan?”


Bersambung…


__ADS_2