
“Tidak,” kata Lucius menyetujuinya. “Aku masih harus menangani adik yang memberontak. Selama dia tinggal di Cotone aku bisa memerintahkannya untuk mematuhi peraturan yang kutetapkan, tapi hukuman yang dapat kuberikan kepadanya tetap ada batasannya.”
“Aku bisa mengerti,” kata Gina dengan hati-hati. “Donata toh bukan anak kecil lagi.”
“Usianya delapan belas tahun,” kata Lucius menjelaskan dengan nada yang agak keras. “Mestinya sekarang ia sudah memikirkan untuk menikah dan punya anak sendiri!”
“Menikah bukan satu-satunya tujuan hidup wanita.” Gina merasa harus memprotes kata-kata Lucius, meskipun samar-samar terdengar suara tidak setuju dalam benaknya.
Mata Lucius mengamati Gina dengan pandangan tak setuju. “Kau bermaksud untuk melajang seumur hidup?”
“Aku tidak bilang begitu. Semuanya tergantung apakau aku dapat menemukan laki-laki yang layak menikah denganku.”
“Dan, tentunya, yang juga ingin menikahimu.”
“Well, itu sudah jelas.” Sindiran halus Lucius itu membuat darahnya berdesir, dan ia membalasnya. “Dua hati yang terjalin untuk
selama-lamanya! Sungguh layak untuk ditunggu, bukan?”
“Hati hanya punya peran sebagian,” sahut Lucius. “Tubuh dan pikiran juga punya andil. Wanita yang akan kunikahi harus bisa
memuaskan setiap bagian dari diriku.”
“Dasar laki-laki sombong!” balas Gina. Ia betul-betul sebal dengan pernyataan Lucius yang blak-blakan itu. “Biar kau tahu rasa, kalau ternyata…” Ia berhenti karena mendengar tawa Lucius dan menyadari dirinya telah terpancing. “Biar kau tahu rasa, kalau ternyata tidak ada wanita yang mau
menikah denganmu!” Gina menyelesaikan kalimatnya dengan sebal. “Tapi aku tahu,
itu tidak mungkin.”
Tawa Lucius lebih berderai lagi. “Jadi kau mengakui bahwa wanita sulit menolak laki-laki seperti aku?”
“Aku mengakui kau sebagai seorang laki-laki yang punya banyak kelebihan daripada sekadar wajah tampan, Count Carandente,” kata Gina dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Kalau perkataan itu dimaksudkan untuk menurunkan ego Lucius beberapa senti, maka ia telah gagal total, karena lucius hanya mengangkat bahu, “Meskipun Ottavia berkeras, tapi wanita yang kunikahi tidak akan membawa gelar Contessa, karena dalam kenyataannya ia tidak berkewajiban memegang gelar itu, seperti juga dengan siapa pun dalam beberapa ratus terakhir ini. Seperti kubilang padamu tadi pagi, itu cuma simbol status belaka. Dan aku sama sekali
tidak melihat manfaatnya.”
“Dan itu berarti,” Lucius melanjutkan dengan sinar mata menggoda, “yang tinggal padaku hanya wajah tampan yang kau sebut-sebut
tadi. Wajah yang dapat memanaskan darah Inggris dan Italia-mu sampai-sampai
perbedaan tersebut tidak menjadi masalah lagi. Atau apakah kau masih berusaha
menyangkal apa yang ada di antara kita, cara?”
Gina mengurungkan niatnya untuk melontarkan jawaban ketus dari bibirnya yang gemetar karena itu hanya akan tambah mengobarkan gairah pria itu dan bukan memupuskannya, sementara itu Lucius dengan penuh minat berjalan mendekatinya. Gina bertanya dalam hati, mengapa ia bisa sampai terjebak dalam situasi permainan kata-kata seperti ini?
“Kau bisa melupakan apa pun yang ada dalam otakmu!” kata Gina, berusaha terdengar tegas. Ia menahan diri untuk tidak mendorong Lucius sementara Lucius menarik dirinya. “Sudah kubilang, aku tidak mau
main-main!”
Seolah tak menyadari apa pun selain sensasi yang ditimbulkan oleh kecupan Lucius: jantung Gina berdebar keras sekali sampai
terdengar di telinganya, rasa hangat menyebar dari tubuhnya, kakinya semakin
lama semakin lemas dan mendesaknya untuk menyerah pada hasrat yang tiba-tiba
bangkit tak terkendali dalam dirinya. Lucius mendekap Gina lebih erat, merapatkan tubuh Gina yang lembut pada tubuhnya yang maskulin—menyadarkan gadis itu akan bagian tubuhnya yang menegang keras dan itu membuat Gina semakin bergairah. Kata-kata yang digumamkan Lucius sambil menciumi bibir Gina menghapus semua perbedaan bahasa di antara mereka.
Lucius boleh jadi sepupu dekatnya, tiba-tiba
kemungkinan itu melintas di benak Gina, kemungkinan itu segera menyadarkan
dirinya.
__ADS_1
“Cukup,” kata Gina dengan keras, sambil menarik diri dari dekapan Lucius. “Malah sebenarnya ini sudah keterlaluan!”
Gina mengira Lucius akan berang karena ia menarik diri pada saat mereka begitu bergairah, dan ia betul-betul heran ketika Lucius hanya tertawa dan menggeleng.
“Kurasa tidak, tidak bagi kita berdua, tapi memang kita tidak perlu buru-buru. Kalau kau mau, kau bisa bergabung dengan aku dan Cesare di teras untuk minum-minum. Dia pasti ingin tahu lukamu parah atau tidak.”
Lucius mengumpulkan barang-barang yang tadi dikeluarkannya dari kotak P3K, kemudian meninggalkan Gina berdiri sendirian di
kamarnya dan merasa dirinya tololo sekali. Lucius mungkin saja merasa terangsang tadi, tapi tampak jelas pria itu mempunyai kendali diri yang kuat. Lucius tidak mungkin merendahkan dirinya sendiri dengan memaksa mendapat kepuasan, meskipun yakin ia bisa mendapatkannya.
Kalau ia mengatakan yang sebenarnya pada Lucius sekarang, dan menemukan bahwa ternyata mereka adalah sepupu dekat, pasti itu akan membuat malu mereka berdua. Mungkin satu-satunya jalan terbaik yang bisa
dilakukannya adalah melupakan semua ini dan pulang ke Inggris begitu mobilnya
selesai diperbaiki.
Dan menghabiskan seumur hidupku dengan bertanya-tanya, pikirnya lagi. Ia putri Giovanni Carandente, dan ia sudah memulai pencarian
itu, jadi ia harus menyelesaikannya, tidak peduli apa pun hasilnya. Pasti ada cara untuk mengetahui apakah ayahnya berasal dari tempat ini tanpa membuka kedok dirinya.
Gina bermaksud menghabiskan sepanjang pagi itu dengan berada di kamarnya, tapi rasanya tidak pantas bagi seorang tamu. Jadi, sambil mempertimbangkan perban di lututnya, ia mengenakan rok bermodel sarung dengan padanan rompi sutra dan menyelipkan kakinya ke dalam sepasang sandal jepit. Memang bukan haute couture, tapi pakaian itu sesuai untuknya.
Gina membiarkan rambutnya tergerai di bahu dan wajahnya tanpa riasan kecuali seulas lipstik di bibir. Sambil menyelipkan sepasang kacamata hitam di atas kepalanya, ia berjalan menuju teras. Di sana ia melihat, bukan hanya Lucius dan Cesare saja yang harus dihadapinya, tapi juga Ottavia dan Donata. Ottavia saat itu sudah mengenakan pakaiannya dan tampak cantik.
Donata, mengenakan celana panjang kasual serta kaus oblong, dan rambut yang disisir asal-asalan dengan tangan, masih tampak seperti seorang remaja pemberontak seperti kemarin ketika ia mengenakan pakaian dari
bahan kulit. Ia memandang kedatangan Gina dengan acuh-tak acuh.
Tidak demikian halnya dengan Cesare, yang langsung melompat berdiri dan membantunya duduk dengan ramah sekali, sungguh kontras dibandingkan sikap kedua kakak-beradik itu.
Bersambung…
__ADS_1