
“Sudah sepantasnya kau tinggal di Cotone sampai mobilmu selesai diperbaiki,” kata Lucius. “Dan itu akan dikerjakan di Siena.”
“Aku tak dapat membiarkanmu…” Gina mulai berkata lagi, suaranya langsung hilang, begitu Lucius mengangkat sebelah tangannya.
“Kau harus mengizinkan aku mengurus dan memperbaiki segala akibat dari tindakan adikku yang sembrono. Rasanya tidak pantas kalau kau sampai menolak keramahanku.”
“Kalau begitu aku harus menerimanya,” kata Gina setelah berpikir sejenak. “Terima kasih, Signor.”
Senyum Lucius membuat tulang punggungnya kembali menggelenyar. “Tolong panggil aku Lucius. Dan bolehkah aku memanggilmu Gina?”
“Tentu saja,” sahut Gina, dalam hati geli atas
perubahan keadaan yang tidak disangka-sangka itu. “Anda baik sekali.”
Sepasang mata gelap itu menatap dengan seksama wajah Gina yang mendongak, dan berhenti pada bibir Gina yang melengkung indah. “Sulit bagiku untuk tidak bersikap demikian pada seorang wanita cantik. Aku tahu, itu kelemahanku.”
Gina tertawa, sambil berusaha keras tidak mengacuhkan otot perutnya yang seolah mengkeret. “Aku yakin kau tidak akan membiarkan siapa pun, laki-laki atau wanita, mengalahkanmu.”
“Aku bilang sulit, bukan tidak mungkin,” sahut Lucius dengan halus.
Pandangan mata Lucius berpindah dari wajah Gina ke arah pintu yang terbuka itu lagi. Seorang gadis pelayan yang masih muda masuk ke ruangan. Lucius pasti memanggil gadis itu dengan menekan bel yang
tersembunyi, pikir Gina.
“Crispina akan menunjukkan kamar tidurmu,” kata Lucius setelah berbicara dengan pelayan tersebut. “Kopermu akan diantarkan nanti.
Sementara itu, lebih baik kau beristirahat dulu. Kecelakaan yang baru saja kaualami bisa menimbulkan shock tertunda.”
Gina tidak meragukannya; ia bisa merasakan ketegangan menjalari seluruh tubuhnya saat itu. Ia bangkit berdiri, betul-betul menyadari
pandangan mata Lucius yang mengamati dirinya sewaktu ia berjalan ke pintu. Crispina membalas senyumnya dengan senyuman kecil yang ragu-ragu. Ia menggeleng, ketika Gina bertanya apakah dia bisa berbicara bahasa Inggris, dan itu membuat mereka berdua nyaris tidak berbicara sama sekali ketika menaiki tangga yang megah menuju lantai dua.
__ADS_1
Kamar tidur yang diberikan kepadanya ternyata sama megahnya dengan bagian rumah yang lain, dan memiliki pintu kaca yang terbuka ke arah sebuah balkon dengan pemandangan yang luar biasa. Kamar mandi dalamnya luas sekali dan Gina yakin keran-keran airnya terbuat dari emas murni. Dinding kamar mandi itu dikelilingi cermin. Gina mengamati pantulan dirinya yang
berlapis-lapis itu dengan masam, penampilannya saat itu betul-betul berantakan. Ternyata memanjat keluar dari mobil yang terbenam separuh di dalam lubang meninggalkan bekas yang tidak bisa dianggap remeh.
Gina berjalan kembali ke kamar tidurnya lalu
mengeluarkan sebuah amplop panjan dari dalam tasnya. Ia kemudian duduk di tepi
tempat tidur dan mempelajari foto itu. Pasangan di dalam foto itu tampak saling
merangkul dan betul-betul bahagia. Kulit putih dan rambut pirang pucat si gadis
betul-betul kontras dengan wajah Latin pasangannya—mereka berdua tampaknya
belum berusia dua puluh tahun.
Gina menemukan foto itu ketika sedang asyik
Ibunya dan Giovanni Carandente bertemu sewaktu kuliah di Oxford dan keduanya saling jatuh cinta. Karena mengetahui bahwa keluarga mereka pasti tidak akan menyetujui hubungan ini, mereka kemudian menikah diam-diam dan berencana menyelesaikan kuliah dulu sebelum memberitahu keluarga
masing-masing. Tapi ketika ibunya hamil, semua menjadi berubah. Giovanni memutuskan memberitahu keluarganya secara pribadi, tapi malangnya dia mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju bandara dan meninggal. Dua bulan kemudian, walaupun orangtuanya tidak mengetahui hal yang sebenarnya, Beth menikah dengan bekas pacarnya, John Redman, dan mereka berdua memberitahu semua orang bahwa John adalah ayah dari bayi itu.
Sekarang, sambil duduk di tepi ranjangnya, Gina membayangkan kejadian itu kembali, merasakan lagi kepedihan dalam hatinya.
Meskipun wajahnya mereka sama sekali tidak mirip, tapi warna kulit John Redman menurun kepadanya. Ia tidak mungkin tahu kejadian yang sebenarnya sampai kapan pun.
Ketika ia bertanya mengapa ibunya tidak menghubungi sendiri keluarga Carandente, ibunya hanya mengangkat bahu. Aku tidak tahu apa-apa tentang keluarga itu, begitu katanya, kecuali bahwa mereka tinggal di
kota Vernici di daerah Tuscany. Sewaktu Giovanni meninggal merekalah yang
dikabari, bukan dirinya. Ibunya mengetahui hal itu setelah membaca berita tentang kecelakaan tersebut di koran esok harinya.
__ADS_1
“Aku bingung sekali waktu itu,” kata ibunya. “Aku tidak tahu harus pergi ke mana dan berbuat apa. Kalau saja tidak ada ayahmu
waktu itu—“
“Tapi dia bukan ayahku, kan?” tanya Gina dengan hampa.
“Dia ayahmu dalam segala hal. Dia memberikan namanya padamu—memberikan rumah kepada kita berdua dan kehidupan yang baik. Dia orang yang sangat baik. Yang paling baik.” Suara Beth terdengar lembut. “Aku sangat mencintainya.”
“Tapi tidak sama seperti cintamu pada Giovanni?”
Beth menggeleng, senyumnya menjadi datar lagi. “Tidak ada dua cinta yang sama, Sayang. Apa yang kualami dengan Giovanni memang luar biasa, tapi apakah hubungan kami akan langgeng—yah, tidak ada yang tahu?”
Ibunya ragu-ragu sejenak sebelum meneruskan. “Aku akan tahu ini adalah
permintaan yang sulit, tapi bisakah kita merahasiakan hal ini berdua saja? John
menganggpmu sebagai anaknya sendiri. Dia pasti sedih sekali kalau sampai tahu bahwa ternyata kau tahu kalau dia bukanlah ayah kandungmu.”
Karena sangat mencintai John, Gina sama sekali tidak ingin memberitahu John tentang penemuannya itu, baik saat itu ataupun
setelahnya. Tapi temuan itu tidak bisa dihapuskan begitu saja dari pikirannya.
Selama bertahun-tahun ia menyimpan gagasan untuk datang ke tempat ini dan
mencari asal-usulnya, hanya saja pikiran itu tak lebih hanya sekadar gagasan, sampai saat ini. Ia masih punya waktu tiga minggu sebelum memulai pekerjaan baru, yang ia harap bisa menarik minat dan ambisinya yang menurun drastis setahun yang lalu. Begitu ia mulai bekerja lagi, waktu luangnya pasti akan sangat terbatas.
Sudah hampir pukul enam sore, Gina melihat jam tangannya. Ia sudah duduk di sana lebih dari setengah jam memikirkan semua ini.
Pertanyaan apakah keluarga Carandente ini adalah keluarga yang sama dengan keluarga ayahnya masih harus ia cari tahu jawabannya. Tentu saja, cara paling mudah adalah bertanya langsung, tapi entah mengapa ia merasa enggan melakukannya.
Bersambung…
__ADS_1