
Tapi mengapa tidak? Tanya belahan otaknya yang lain. Toh, ia tidak tahu apa pun tentang keluarga itu selain namanya. Mengapa
mengasumsikan keluarga itu tergolong kelas bawah dan bukannya kelas atas?
Sepasang alis hitam itu terangkat lagim sementara pandangannya tampak geli. “Kau tampak terkejut.”
Gina segera menenangkan diri. “Itu karena aku membayangkan seseorang yang jauh lebih tua,” katanya memberi alasan. Tak
mungkin ia dapat mencari tahu lebih jauh saat ini. “Mungkin seorang ayah dari gadis remaja yang mengendarai mobil berwarna biru.”
Pandangan geli itu langsung berubah menjadi prihatin. “Donata,” kata Lucius dengan datar. “Adik perempuanku. Apa yang dia lakukan?”
“Dia menyebabkan mobilku mengalami kecelakaan kira-kira sejam yang lalu di Vernici. Sekarang mobilku memerlukan suku cadang baru. Bengkel di sana memberitahuku bahwa mereka harus memesannya dulu dari
Florence, dan mereka butuh waktu lama untuk itu—belum lagi biayanya sangat mahal!”
“Kau tidak punya asuransi?”
“Tentu saja aku punya asuransi!” sahut Gina dengan ketus, menyadari bahwa Lucius pasti bermaksud untuk menghindar dari tanggung
jawab. “Tapi menunggu persetujuan dari perusahaan asuransi membutuhkan waktu
yang lebih lama lagi. Lagi pula, perusahaan asuransi mobil adikmulah yang semestinya bertanggung jawab untuk kerusakan mobilku—kalau adikmu itu memang punya asuransi!”
Gina langsung berhenti begitu melihat bibir Lucius membentuk garis tipis dan sadar ucapannya tadi itu betul-betul kelewatan.
“Maafkann aku,” kayanya dengan segera. “Ucapanku tadi betul-betul kasar.”
“Ya, memang,” kata Lucius menyetujui. “Meskipun bisa jadi hal itu sudah sewajarnya. Kalau kau tidak keberatan membuka kunci pintu di belakangmu dan membiarkan Guido masuk, aku akan melakukan tindakan yang
diperlukan.”
Gina mematuhinya dengan agak segan, sama sekali tidak yakin apakah Lucius tidak akan menyuruh Guido untuk melemparnya keluar.
Pembantu laki-laki itu memasuki ruangan dengan segera, pandangan matanya hanya
terarah kepada majikannya, seolah-olah Gina sama sekali tidak ada di sana.
Lucius Carandente berbicara dengan cepat dalam bahasa Italia, dan menyuruh pelayannya itu pergi dengan kata terakhir “Subito!”
“Silakan duduk,” kata Lucius pada Gina, sambil menunjuk ke kursi empuk terdekat.
__ADS_1
Lucius sendiri tidak duduk, tapi bersandar pada tepi meja tulis sementara Gina mematuhi permintaannya. Hal itu membuat Gina merasa tidak enak. Tidak apa-apa, pikirnya dalam hati; aku toh bisa berdiri lagi kalau merasa harus berdiri nanti.
“Kau belum menyebutkan namamu,” kata Lucius.
“Maafkan aku,” kata Gina sekali lagi. “Namaku Gina Redman.”
“Kau sedang liburan di sini?”
Saat ini rasanya lebih mudah untuk menjawab ya, Gina memutuskan, soalnya aku belum yakin apakah kesamaan nama itu hanya kebetulan saja. Selain karakteristik yang memang jelas terlihat, Lucius sama sekali tidak mirip dengan foto yang tersimpan di dalam tas tangannya.
“Aku sedang jalan-jalan,” kata Gina mengakui. “Aku mengendarai mobilku mulai dari Prancis dan Swiss tanpa mengalami kecelakaan apa
pun. Kalau saja adikmu tidak ngebut…”
Lucius mengangkat sebelah tangannya. “Kupikir lebih baik kita menunggu sampai adikku datang dan menjelaskan sendiri. Aku tahu dia sudah pulang, jadi sebentar lagi dia pasti muncul. Sementara menunggu,” katanya
lagi dengan nada yang tetap sopan. “kita akan membicarakan hal lainnya saja. Warna rambutmu tidak mencerminkan kau keturunan Inggris. Apakah mungkin
orangtuamu berlainan bangsa?”
Walaupun ingin mengatakan bahwa itu bukan urusan Lucius, Gina tak punya pilihan selain menjawab pertanyaan itu. “Almarhum ayahku
orang Italia.”
“Dia meninggal sebelum aku lahir.” Gina berharap pria itu tidak bertanya lebih jauh, dan puas dengan jawabannya sampai ia punya waktu untuk memikirkan cara untuk mengetahui apakah Lucius benar-benar salah seorang keluarga Carandente yang dicarinya hingga datang jauh-jauh begini. “Aku diadopsi oleh ayah tiriku yang orang Inggris.”
“O, begitu.”
Gina merasa lega kala Lucius tidak bertanya mengapa nama keluarganya adalah Redman. Lucius mungkin mengira ibunya tidak punya hak atas nama ayah kandungnya sejak semula.
Tiba-tiba pintu terbuka lalu muncul seorang gadis muda yang penampilannya betul-betul tidak sesuai dengan keadaan di sekelilingnya.
Rambutnya tampak liar dan acak-acakan, tampak lebih mirip sarang burung daripada mahkota seperti seharusnya. Ia mengenakan pakaian dari bahan kulit berwarna hitam, celana panjang yang sangat ketat memeluk pinggulnya, serta jaket ketat yang menegaskan potongan tubuhnya.
Kelihatan sekali gadis ini langsung mengenali Gina, tapi meskipun demikian dia sama sekali tidak jengah. Dia menyapa kakaknya dalam
bahasa Italia, kemudian dengan sangat luwes langsung berubah ke bahasa Inggris
seperti kakaknya tadi—bahkan jauh lebih lancar.
“Itu bukan salahku,” kata gadis itu terang-terangan, tanpa melihat ke arah Gina. “Mobilku saja tidak rusak sama sekali.”
__ADS_1
“Itu karena aku berhasil menghindari tabrakan telak dari depan!” tukas Gina sebelum Lucius bisa menyahut. “Kau mengendarai mobilmu
dengan kecepatan tinggi dan tidak bisa mengendalikannya. Kau bahkan tidak
berusaha berhenti! Walaupun hanya untuk melihat apakah aku baik-baik saja!”
Gina duduk tegak di kursinya. Ia tidak mau gadis itu menyangkal tindakannya.
“Di negaraku tabrak lari adalah suatu tindakan yang bertentangan dengan hukum—terutama kalau ada pihak lain yang cedera.”
“Kalau kau cedera kau pasti tidak akan duduk di sini,” balas Donata.
Gina berusaha menahan amarahnya yang sudah hampir meledak. “Bukan itu intinya. Aku harus tinggal di Vernici sampai mobilku
selesai diperbaiki—dan harus membayar biaya perbaikan yang mahal sekali. Setidaknya aku butuh pembayaran dari asuransimu supaya bisa kupindahkan ke
asuransiku.”
“Sebenarnya yang kauinginkan adalah Lucius memberimu uang sekarang juga!” sembur gadis muda itu.
Kakaknya langsung mengatakan sesuatu yang tegas dan tajam dalam bahasa Italia, sehingga gadis muda itu bersungut-sungut. Ketika berbicara lagi, nada suaranya terdengar kesal. “Aku minta maaf.”
Lucius tidak berusaha menghentikan adiknya meninggalkan ruangan. Mulutnya mengeras ketika mendengar pintu dibanting keras.
“Aku turut minta maaf atas perkataan Donata tadi,” katanya. “Aku juga minta maaf atas penampilannya. Dia minggu lalu baru kembali
dari sekolahnya di Swiss…” Lucius menghentikan ucapannya, menggelengkan kepala seolah-olah hendak mengatakan apa pun yang akan dikatakannya tadi tidak
berhubungan dengan masalah yang ada saat ini. “Aku tasa sebaiknya akulah yang
menanggung semua biayanya,” katanya. “Kau sudah punya tempat menginap?”
Gina menggeleng. Ia menjadi bingung sekarang.
“Kalau begitu di mana kopermu?”
“Aku meninggalkannya di bagasi mobilku,” kata Gina. “Mobilku sendiri, bukan mobil yang kunaiki kemari. Aku menyewa mobil itu dari
bengkel.”
“Kalau begitu mobil itu harus dikembalikan, dan kopermu dibawa kemari. Kalau kau mau memberikan kunci mobilmu padaku, aku akan mengurus segalanya.”
__ADS_1
“Di sini?” Gina memandang Lucius dengan bingung. “Aku tidak—“
Bersambung…