Kekasih Italia

Kekasih Italia
Part 2


__ADS_3

Masalahnya sekarang adalah bagaimana ia menuju tempat itu. “Taksi?” tanyanya. “Bus?”


Montir itu menggeleng. “Naik mobil.”


“Bagaimana mungkin aku—?” Gina mulai mengomel, dan berhenti dengan tiba-tiba begitu melihat arah yang ditunjuk sang montir itu. Bodi mobil itu nyaris penuh tertutup karat ketimbang cat dan bannya nyaris gundul, masa jaya mobil Fiat kecil itu pasti sudah lama berlalu. Tapi bagaimanapun, orang yang kepepet seperti dirinya tidak bisa memilih. Itu adalah satu-satunya kendaraan yang bisa diambilnya.


“Berapa?” tanya Gina.


Si montir hanya mengangkat bahu dan tersenyum lebar. “Bayarnya nanti saja.”


Dengan uang tunai, bukan balas jasa, pikir Gina sebal, karena ia mengerti betul maksud montir itu. Kopernya tersimpan di dalam bagasi mobilnya. Setelah ragu-ragu sejenak ia memutuskan akan membiarkan kopernya


tetap di sana untuk sementara. Ia harus menyelesaikan masalahnya sementara rasa


marah masih berkobar dan membara dalam hatinya. Masalah tentang penginapan bisa


menunggu.


Meskipun penampilannya menyedihkan, mobil Fiat itu langsung menyala begitu Gina menghidupkan mesinnya. Ia mengendarai mobil tersebut melalui rute tempat ia masuk ke kota tadi, dan kemudian menikung seperti yang digambarkan montir itu melalui jalanan luar kota yang membentang indah.


Deretan pepohonan zaitun sekarang digantikan oleh perkebunan anggur, yang saat itu sedang dirawat segerombolan pekerja. Saat itulah baru Gina teringat pada label botol anggur Chianti yang pernah dilihatnya di Inggris. Keluarga ini memang kaya rata, pikirnya, dan pasti mampu membiayai ongkos reparasi mobilnya.


Sebuah gerbang ganda dari besi tempa terbuka lebar di depan sebuah jalanan masuk yang meliuk-liuk di antara pepohonan dan sampai di depan sebuah vila berdinding batu yang sangat megah dengan arsitektur yang


mengagumkan. Gina menghentikan mobilnya di jalan masuk berkerikil yang melingkari bagian depan vila tersebut, berusaha tidak menghentikan kemewahan bangunan tersebut supaya tidak menggoyahkan tujuannya datang ke sana. Salah satu penghuni vila ini telah mencelakainya; mereka harus memberinya ganti rugi.


Bel rumah itu bermodel lonceng, dipasang di sebelah pintu ganda yang kokoh dan besar. Bunyinya yang dalam dan berulang, sangat


jelas terdengar dari tempatnya berdiri. Orang yang membukakan pintunya ternyata seorang laki-laki setengah baya dan mengenakan celana panjang hitam dengan ikat pinggang hitam serta kemeja putih yang cemerlang. Orang ini pasti salah seorang pelayan dan bukan anggota keluarga, pikir Gina. Laki-laki itu menilainya dengan cepat, dari blus katun sampai rok katunnya. Pandangan menghina semakin bertambah begitu melirik ke arah di belakang Gina, pada mobil Fiat rongsok yang


saat itu sedang diparkir di jalanan berkerikil.

__ADS_1


“Saya kemari untuk bertemu dengan pemilik vila ini,” kata Gina sebelum orang itu sempat berbicara, dalam hati menyesal karena lupa


menanyakan nama pemilik vila ini pada teman montirnya itu. “Padrone,” katanya


lagi, sambil berusaha mengingat-ingat perbendaharaan bahasa Italianya yang


minim.


Orang itu menggeleng dengan tegas, mengucapkan sebuah kalimat yang kedengarannya tegas juga, dan mulai menutup pintu itu lagi. Gina segera menghentikan gerakan itu dengan menempelkan tangannya pada daun pintu


dan mendorongnya.


“Padrone!” desaknya.


Dari si pelayan itu, Gina tahu ia tidak akan dibiarkan masuk. Dan itu berarti ia hanya punya satu jalan. Ia menyelinap masuk sebelum orang itu bisa bertindak lebih jauh, lalu berjalan menuju salah satu pintu yang


terdapat di lorong berlantai marmer itu tanpa maksud apa pun selain menghalangi usaha orang itu untuk mengusirnya dari tempat ini.


ia menyandarkan dahinya ke daun pintu tersebut untuk menenangkan napas dan


pikirannya. Tindakan ini betul-betul gila, ia menyadari dalam hati. Dan pasti tidak akan membuat sang pemilik vila terkesan, siapa pun orang itu.


Lalu terdengar ketukan di pintu diikuti suara orang bertanya. Gina berdiri terpaku di tempatnya ketika suara laki-laki terdengar


menyahuti pertanyaan itu, kali ini dari belakangnya. Ia segera berbalik, dan menyadari bahwa ruangan itu adalah sebuah ruang baca yang luas, sepanjang dindingnya dipenuhi dengan rak buku, serta ada seorang laki-laki sedang duduk di belakang sebuah meja tulis besar di ujung ruangan.


Sinar matahari yang bersinar di balik jendela yang terdapat di belakang laki-laki itu menyinari rambut hitamnya yang tebal, mata


berwarna gelap yang berada di bawah alis hitam yang terangkat itu mengamati Gina penuh selidik. Tapi wajah yang berpotongan tegas itu tidak tampak marah ataupun terganggu, dan hal itu memberikan ketenangan bagi Gina.


“Buon pomeriggeo,” kata laki-laki itu.

__ADS_1


“Parla inglese?” tanya Gina penuh harap.


“Tentu saja,” sahut laki-laki itu dalam bahasa Inggris yang lancar. “Maafkan kekeliruanku. Sesaat rambut hitammu membuatku mengira kau sebangsa denganku, tapi belum pernah aku bertemu dengan wanita Italia yang


mempunyai mata sebiru warna matamu dan kulit yang begitu putih!”


Kulit putih yang saat ini rasanya lebih mirip kutukan ketimbang kelebihan, pikir Gina dalam hati. Ia merasa galau karena merasa


pipinya hangat dan memerah di bawah pengamatan tajam laki-laki itu. Ia tidak


terbiasa mendengar laki-laki berbicara begitu berbunga-bunga seperti itu. Tapi, memangnya ada berapa laki-laki Latin yang ditemuinya sebelum ini?


“Mestinya aku yang meminta maaf karena telah masuk kemari tanpa izin,” kata Gina, sambil berusaha mengendalikan diri, “tapi ini


satu-satunya cara supaya aku bisa melewati penjaga pintu.”


Seulas senyum tampak menghiasi mulut yang tegas itu. “Dan karena Guido hanya bisa berbahasa Inggris sedikit, dan tampak jelas bahasa Italia-mu lebih sedikit lagi, sudah pasti timbul kesalahpahaman. Mungkin kau bisa menjelaskan padaku apa yang membawamu kemari?”


Dengan perlahan Gina melepaskan punggungnya yang menempel di daun pintu, dan tiba-tiba merasakan tulang punggungnya menggelenyar begitu laki-laki itu bangkit dari duduknya. Usia pria itu awal tiga puluhan, dan


mempunyai tubuh yang langsing dan atletis di balik kemeja sutra berwarna krem dan celana panjang berwarna krem tua yang dikenakannya. Lengan kemejanya yang


tergulung memperlihatkan sepasang lengan yang berotot, sementara kerah kemejanya yang terbuka menunjukkan lehernya yang kuat dan berwarna kecokelatan.


“Aku ingin bertemu dengan pemilik vila ini,” kata Gina tidak mengacuhkan reaksi tubuhnya yang tak disangka-sangka itu.


Laki-laki itu menelengkan kepala. “Namaku Lucius Carandente.”


Gina sungguh terkejut mendengarnya dan untuk sejenak ia tidak bisa berkata-kata dan berpikiran jernih. Ia menatap laki-laki itu


dengan mata terbuka lebar. Pasti ada lebih dari satu keluarga bernama Carandente, katanya dalam hati dengan bingung. Yang ini tidak mungkin keluarga yang dicarinya!

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2