Kekasih Italia

Kekasih Italia
Part 8


__ADS_3

Ia ke bawah lagi tanpa punya bayangan bagaimana harus melewatkan hari itu. Ketika sedang berjalan-jalan di teras, dilihatnya Ottavia sedang duduk berjemur di bawah sebuah payung yang terbuka. Ottavia mengenakan bikini berwarna emas yang sangat minim yang nyaris tidak bisa menutupi lekuk-lekuk tubuhnya yang aduhai.


Langit begitu biru, dan sungguh indah untuk diabaikan begitu saja. Mungkin dulu ayahnya pernah menikmati pemandangan yang sama—bahkan mungkin dari kamar ini juga. Gina bertanya pada dirinya sendiri, bisakah ia hidup tanpa mengetahui kepastian akan hal itu?


Dia juga mengenakan sepasang kacamata hitam bermerk untuk melindungi matanya. Kuku kakinya, Gina tak lupa memerhatikan, dicat dengan warna merah tua sama seperti kuku tangan dan bibirnya. Semua itu membuat Ottavia lebih tampak seperti bintang film ketimbang bangsawan Italia, pikir Gina.


“Buon giorno,” sapa Gina ragu-ragu.


Ottavia menarik kacamata hitamnya sedikit dan mengamati gaun katun yang dikenakan Gina dengan pandangan mencemooh. “Kurasa kau sudah pulih dari rasa letihmu semalam, ya?” tanya Ottavia, tanpa merasa


perlu membalas sapaan Gina.


“Memang, terima kasih,” sahut Gina meyakinkan. Ia merasa perlu menambahkan, “Sarapan paginya enak sekali, tapi aku


sungguh-sungguh tidak perlu dilayani seperti itu sementara tinggal di sini.”


“Karena kau tinggal di sini atas undangan kakakku, kau berhak untuk dilayani seperti tamu-tamu lainnya,” balas Ottavia dengan halus. “Kau sadar tentunya, betapa beruntungnya bisa mendapat dukungan Lucius dalam hal ini.” Ia tidak menunggu jawaban Gina. “Tapi kuperingatkan kau. Lucius mungkin memerhatikan dirimu karena dia seorang laki-laki dan kau sudah jelas


adalah wanita yang cantik, tapi itu tidak akan berarti apa-apa.”


“Dengan kata lain, jangan sampai aku punya pikiran bahwa dia mungkin akan memintaku menikah dengannya,” balas Gina. “Aku akan


mencamkan hal itu dalam otakku.”


Sindiran itu sama sekali tidak menimbulkan kesan apa-apa pada air muka Ottavia. “Bagus,” hanya itu komentarnya.


Keberadaanku di sini tampaknya tidak disukai pikir Gina, ketika dilihatnya Ottavia menaikkan kacamata hitamnya dan membaringkan kepala di bantalan kursi. Gina sebetulnya tergoda untuk tetap tinggal, hanya untuk


membuat kesal wanita itu, tapi ia merasa tidak ada gunanya menemani orang yang


jelas-jelas tidak menginginkan dirinya.


Tadi ia hanya sempat melihat-lihat sebagian kecil taman vila itu. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk melihat-lihat rumah itu

__ADS_1


dari arah yang lain sebelum sinar matahari menjadi terlalu terik. Karena ia masih harus tinggal di situ selama beberapa hari lagi, dan tidak bisa ke mana-mana. Gina merasa ia akan lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah. Dengan cuaca seperti ini, hal itu sama sekali tidak akan sulit dilakukan.


Ia sedang melintasi jalan masuk mobil ketika tiba-tiba sebuah mobil sport yang rendah berderum-derum di tikungan. Gina otomatis


melompat ke tepi untuk menyelamatkan diri, tapi ia kehilangan keseimbangan dan malah terjatuh di jalanan, tubuhnya tegang karena yakin akan tertabrak mobil. Mobil itu berhenti dengan suara mendecit dengan bemper depan hanya beberapa senti dari dirinya. Pengemudinya langsung mencerocos dalam bahasa Italia, tanpa repot-repot mematikan mesin mobilnya terlebih dulu. Wajahnya yang tampan tampak cemas ketika membantu Gina berdiri lagi.


“Inglese,” kata Gina lagi, entah untuk yang keberapa kalinya, karena ia merasa orang itu menanyakan keadaannya. “Non capisco.”


“Inggris!” seru laki-laki itu dengan kaget.


“Betul.” Gina mengernyit sedikit ketika menggerakkan lututnya. “Apakah semua orang di sini selalu menyetir seperti kelelawar minggat dari neraka?”


Dahi orang itu berkerut keheranan. “Kelelawar?”


“Itu hanya ungkapan,” kata Gina menjelaskan, menyesal telah mengucapkannya. “Maksudku, ngebut, itu saja.”


Dahi yang berkerut itu, rata kembali. “Ah, ngebut!” Kecemasan langsung muncul lagi di matanya begitu melihat darah mengalir di kaki Gina. “Kau terluka! Mengapa kau tidak bilang kalau kau terluka?”


“Aku tidak sadar kalau lututku luka,” kata Gina,


“Mungkin tergores kerikil.”


“Pokoknya harus dibersihkan dan diobati,” kata laki-laki itu. “Sebelum infeksi.”


“Aku akan melakukannya,” kata Gina meyakinkan laki-laki itu. “Begitu aku kembali ke rumah. Aku kebetulan tamu di sana,”


tambahnya, kalau laki-laki itu tidak yakin. “Namaku Gina Redman.”


“Teman keluarga Carandente?” Laki-laki itu terdengar ingin tahu.


“Tidak persis begitu. Ada kecelakaan. Mobilku rusak parah. Lu—Signor Carandente telah bermurah hati dan memintaku menginap di


rumahnya sampai mobilku selesai diperbaiki.”

__ADS_1


Bibir laki-laki itu tersenyum. “Tentu saja. Lucius adalah orang yang paling murah hati. Aku Cesare Traetta. Kau harus mengizinkan


aku mengantarmu kembali ke vila.”


“Tidak perlu, tidak jauh kok,” bantah Gina. “Aku tidak mau mengotori jok mobilmu dengan darahku.”


“Itu mudah dibersihkan.” Cesare membuka pintu mobil bagian penumpang. “Silakan masuk.”


Gina menghapus darah yang mengalir di kakinya dengan sapu tangan sebelum masuk ke mobil. Jok mobil yang terbungkus kulit lembut itu seolah memeluk tubuhnya, bentuknya memang dirancang untuk memegang tubuh penumpangnya dengan teguh. Memang seharusnya begitu, pikir Gina, ketika Cesare kembali menjalankan mobilnya dengan begitu cepat sampai ban belakang mobilnya ngepot. Gina menduga Cesare masih sebaya dengan Lucius, dan itu berarti lebih tua lima belas tahun dari Donata, tapi kelihatannya mereka berdua sama sembrononya dalam mengemudi mobil.


Mereka menikung di belokan terakhir sebelum sampai di depan rumah, dan Cesare mengerem mobilnya sampai berdecit. Setelah mematikan mesinnya, ia keluar dengan sigap dari dalam mobil dan membantu Gina keluar dari tempat duduknya. Gina tampaknya kesulitan berdiri karena khawatir roknya akan


terangkat lebih tinggi lagi, padahal sekarang ini pun roknya sudah cukup terangkat.


“Kurasa aku tak perlu dibantu,” kata Gina datar ketika Cesare berusaha membantunya menaiki anak tangga. “Kalau kubersihkan dengan lap basah aku akan baik-baik saja.”


“Kau berdarah!” teriak Lucius dari ambang pintu, mengagetkan Gina yang tidak melihat kedatangannya. “Apa yang terjadi?”


“Aku tergelincir dan jatuh di jalanan.” Gina merasa tidak perlu menceritakan dengan rinci kejadian yang sebenarnya. “Signor Traetta


baik sekali mau mengantarku pulang.”


“Cesare,” desak laki-laki dibelakangnya. “Kau harus memanggilku Cesare.”


Gina tersenyum kecil kepadanya. “Baiklah, Cesare. ”Kepada Lucius, ia berkata, “Aku akan naik ke atas dan membersihkan lukaku.”


“Obat-obatan dan peralatan pembersih luka akan kubawakan ke tempatmu,” kata Lucius. “Kita harus yakin jangan sampai ada benda


asing yang menempel di luka itu.”


“Tentu saja.” Gina sudah capek dengan kecerewetan Lucius. “Aku bisa menanganinya.”


“Aku yakin itu.” Nada suara Lucius terdengar dingin. “Kemandirianmu memang luar biasa. Tapi, dalam hal ini kau harus menunggu

__ADS_1


bantuan.”


Bersambung…


__ADS_2