Kekasih Italia

Kekasih Italia
Part 7


__ADS_3

“Aku tidak tahu ada orang yang sudah bangun sepagi ini,” kata Gina sedikit kikuk. “Kupikir aku sempat berkeliling dan melihat-lihat sebentar sebelum makan pagi.”


“Aku melihatmu dari jendelaku,” kata Lucius mengakui.


“Kupikir kemungkinan besar kau akan ke tempat ini.” Ekspresi pria itu pagi ini betul-betul tak dapat dibaca. “Nah, bagaimana pendapatmu tentang rumah kami?”


“Amat sangat indah,” sahut Gina. “Seperti istana! Mengapa kau tidak bilang kalau kau seorang Count?” tanyanya.


Lucius hanya mengangkat bahunya. “Aku tidak peduli dengan simbol status seperti itu.”


“Ottavia tampaknya tidak sependapat.”


“Adikku memang lebih suka mempertahankan tradisi kuno itu.” Lucius menepuk tempat duduk di sampingnya. “Duduklah di sini.”


“Aku harus kembali,” kata Gina buru-buru. “Pasti sekarang sudah hampir waktu makan pagi.”


“Makanan akan disajikan kapan pun dan di mana pun sesuai permintaan,” kata Lucius memberitahu. Sinar matanya tampak geli


sekarang, dan ia menambahkan, “Atau mungkin kau takut padaku?”


“Tentu saja tidak!” sangkal Gina.


“Kalau begitu, pada perasaan yang kutimbulkan pada dirimu?” tanya Lucius dengan keras kepala.


Berpura-pura tidak memahami perkataan Lucius adalah tindakan yang sia-sia, Gina tahu itu. “Kau terlalu menyombongkan diri,” katanya ketus.


Sinar mata Lucius menjadi semakin geli. “Darah Inggris-mu yang berbicara. Darah Barsini-mu membalas perasaanku.”


Ini saatnya untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Lucius, tapi entah mengapa Gina tak bisa berkata-kata.


“Meskipun aku sangat berterima kasih atas apa yang kaulakukan untuk mobilku, aku tidak mau menjadi mainan-minggu-ini,” balas Gina


dengan dingin.


“Mainan untuk anak-anak,” kata Lucius, sama sekali tidak mau kalah. “Sedangkan kita bukan anak-anak.”


“Tapi kita tidak saling mengenal,” tukas Gina dengan sengaja. “Kau sama sekali tidak tahu apa-apa tentang diriku.”


“Kalau begitu beritahu aku,” undang Lucius.


Kesempatan ini tiba lagi, tapi Gina masih belum bisa memberanikan diri untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


“Aku harus kembali,” katanya lagi.


“Kalau begitu, aku akan menemanimu,” kata Lucius.

__ADS_1


Lucius bangkit dari duduknya, langsing dan kuat bagaikan seekor puma, dengan celana panjang dan kemejanya yang berwarna hitam.


Gina menenangkan diri sementara Lucius berjalan menuju tempatnya berdiri, tapi


Lucius tidak berusaha menyentuh Gina, ia hanya menyamai langkah kaki wanita itu


ketika mereka berjalan pulang ke rumah. Karena mencium harum samar-samar


aftershave yang dipakai Lucius, Gina jadi teringat bahwa ia masih harus mandi


dan menyikat rambutnya.


“Apakah kau selalu bangun sepagi ini?” tanya Gina.


“Aku langsung bangun dari tempat tidur begitu membuka mata,” sahut Lucius entang. “Tidak pernah lebih dari pukul enam, kadang-kadang bahkan satu jam sebelumnya.”


“Bahkan meskipun kau baru tidur lewat tengah malam?”


“Itu Cuma masalah kebiasaan. Kalau aku mengantuk waktu siangnya, aku bisa tidur siang sebentar. Tergantung komitmenku.”


“Aku yakin komitmenmu banyak sekali.”


“Tidak terlalu.”


“Tapi agak terlalu resmi dibandingkan dengan cara bicaramu, bukan?”


Gina melirik sekilas pada wajah Lucius yang bak dipahat itu dan menyahut sambil tersenyum kecil. “Guru bahasa Inggris-ku pasti suka pada pemilihan kataku. Biasanya para turislah yang memperkenalkan kebiasaan buruk.”


“Hanya sedikit turis yang datang ke Vernici,” kata Lucius. “Karena kota ini letaknya tidak berada di jalur pariwisata.”


“Aku tahu. Aku sendiri agak susah menemukannya kemarin.”


Sekarang giliran Lucius yang melirik sekilas, air mukanya tampak heran. “Mengapa kau repot-repot mencari Vernici kalau ayahmu


berasal dari Naples?”


Ayo ceritakan sekarang saja! Bisik suara hati Gina sambil sekaligus mengumpat kecerobohannya.


“Ternyata,” Gina mendengar mulutnya berkata dengan tak acuh. “Ayahku sebenarnya lahir di Vernici, jadi kupikir tak ada salahnya jika


aku ke kota itu juga.”


“O begitu.” Dari nada suara Lucius, sudah jelas laki-laki itu heran mengapa Gina tidak menjelaskan fakta itu semalam. “Nama


ayahmu tidak kukenal,” kata Lucius lagi, “tapi para tetua kota ini pasti ingat keluarga ayahmu. Aku akan menyuruh orang untuk mencari tahu.”

__ADS_1


Gina merasa dirinya semakin tersedot ke dalam pusaran. Astaga, ada apa sih dengan dirinya sehingga terus-menerus melanjutkan dustanya?


Mereka sudah sampai di depan rumah. Lucius berjalan mendului Gina beberapa langkah untuk membukakan pintu, dan ketika Gina sudah masuk, pria itu mengikuti dari belakang, dekat sekali, sehingga Gina merasa


tidak nyaman. Sol sandalnya yang basah setelah berjalan di rumput, sama sekali


tidak sesuai untuk berjalan di lantai keramik yang licin itu. Begitu ia terpeleset, Lucius langsung menangkap lengannya dan memeluk erat-erat pinggangnya.


“Kau harus lebih berhati-hati,” kata Lucius, tanpa berusaha segera melepaskan pelukannya.


“Ya,” sahut Gina meyakinkannya. “Aku baik-baik saja sekarang, terima kasih.”


Lucius tertawa pelan lalu mengecup sekilas pelipis Gina. Darah Gina langsung bergejolak penuh gairah dan itu membuatnya dongkol.


“Aku lebih suka kalau kau tidak melakukan itu,” sembur Gina.


Lucius tertawa lagi, tapi kali ini ia melepaskan


pelukannya. Gina memaksa dirinya menatap mata Lucius. “Aku tahu kalau kau mungkin tidak terbiasa diberitahu begini, tapi kau harus tahu kalau aku tidak… bersedia.”


“Menurutmu apakah bukan kau sekarang yang terlalu menyombongkan diri?” tanya Lucius menyindir.


“Masa?” tantang Gina, dan melihat pandangan geli kembali memancar dari mata Lucius.


“Ya. Aku bukan laki-laki sejati kalau setelah


melihatmu aku tidak langsung menginginkanmu, cara.” Lucius tidak memberi Gina kesempatan untuk menjawab—itu pun jika Gina bisa memikirkan jawabannya. “Aku akan mulai mencari tahu tentang keluarga Barsini pagi ini. Kuharap aku bisa segera mendapatkan informasi tentang mereka.”


Harapan yang sia-sia, pikir Gina dengan penuh penyesalan. Semakin panjang dustanya, semakin sulit untuk memulihkannya nanti.


“Aku harus memberitahumu tentang—“ ia mulai berkata, tapi terpaksa berhenti ketika Guido tiba-tiba muncul.


“Tentang…?” pancing Lucius.


Gina menggeleng, keberaniannya sudah hilang. “Lupakan saja.”


Ia meninggalkan Lucius berdiri di tempatnya dan berlari-lari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sekarang situasi berubah menjadi betul-betul sulit. Kalau saja ia punya mobil, ia pasti akan tergoda untuk menghentikan tujuannya dan pulang ke Inggris. Ia betul-betul tertarik pada laki-laki yang boleh jadi sanak keluarga dekatnya ini, laki-laki yang terang-terang menyatakan keinginannya, ia bukanlah jenis wanita yang


senang dengan hubungan sesaat, seperti kapal yang berlabuh satu malam, suatu


hubungan yang jelas-jelas diinginkan Lucius.


Meskipun semalam ia sudah menolak, sarapan pagi ternyata diantarkan kepadanya pada pukul delapan. Gina menyantapnya di balkon sambil menikmati pemandangan juga udaranya yang hangat.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2