
Padahal Pramayu dan Gavin sudah ke tempat Mbah Jabrik, tetapi sial masih saja hinggap dan mereka juga hidupnya tidak akur. Siapa yang akan mereka salahkan atas semua ini? Bukankah semua itu salah mereka sendiri.
"Lu berani, ya, nampar gue? Gue kurang baik apa sama lu, hah?! Makan, minum, apa-apa semua pake duit gue. Lu bilang mau beliin perlengkapan bayi newborn, ehh, ujungnya gue bayar sendiri cash. Gue kurang sabar apa, Gavin?!!!"
Pramayu histeris sampai marah-marah tak jelas. Tentu hal itu sangat mengganggu bagi Gavin yang sedang menyetir mobil.
"DIEM!!"
"Napa suruh diem? Lu udah nampar gue. Turun sana lu! Gue nggak mau sama lu!"
"DIEM GBLK!!! LU YANG NGEMIS MINTA DINIKAHI, SEKARANG MALAH NGATAIN GUE, DASAR P3R3K LU!!"
"Gue gini karena lu! Lu nggak pernah ngerti perasaan gue!!"
Gavin yang tersulit emosi langsung menjambak rambut Pramayu dan membenturkan kepala perempuan yang sedang hamil itu ke depan. Jelas saja dahi Pramayu langsung sakit dan kemungkinan benjol. Namun sakit hati yang dirasa pasti lebih sakit daripada benjolnya dahi.
"Gue udah suruh diem, kan? Lu kalau nggak ikhlas bareng gue, bilang aja. Mulai sekarang, gue nggak akan tinggal di rumah lu. Gue bakal ngomong sama ibu lu kalau kita nggak ada hubungan apa-apa. Gue udah bosen sama omelan lu!"
Gavin merasa sudah tidak sanggup lagi bersama dengan perempuan yang juga selalu mengomel. Dahulu Rania memang sering protes, tetapi tak pernah berkata kasar atau merendahkan Gavin. Kali ini, Pramayu dengan mulut pedasnya sudah membuat Gavin beringas dan kembali menjadi seorang yang melakukan ka de er te seperti saat bersama dengan Rania.
Pramayu menangis dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pramayu seperti dalam kapal yang diombang-ambingkan badai karena salah bersama pasangan dan terjebak dalam semua kepalsuan. Dia cerita kepada teman-teman dan keluarganya kalau Gavin adalah pengusaha yang memiliki banyak uang. Tentu saja semua kepalsuan itu diucapkan agar Pramayu tidak malu sudah hamil duluan, ehh, dapat lelaki tak jelas kerjaan. Tentu dia akan dihina habis-habisan karena sebelumnya sudah menjanda tiga kali.
...****************...
__ADS_1
Keesokan harinya, waktu siang ....
Rania menatap kembali ponselnya. Ponsel yang dibeli couple dengan Gavin. Ponsel yang Rania beli dengan gaji tunjangan waktu masih kerja. Ya, Rania membeli dua ponsel untuk couple sebagai bukti cinta. Padahal itu semua akal-akalan si Gavin biar dapat handphone gratis.
[Jangan hubungi aku lagi! Kurang puas hancurkan hidupku? Silakan cari wanita lain yang mau kamu perlakukan buruk seperti itu!]
Rania sudah mengirimkan pesan itu lalu segera memblokir nomor tersebut. Bagi Rania, memang berat untuk melupakan Gavin, tetapi tak mungkin dia kembali lagi ke orang yang sudah menghancurkan semua impiannya.
Tentu saja hal itu begitu menyakitkan bagi Rania. Melupakan orang yang menjadi pertama dalam segala sejarah hidupnya, tentu tidak akan mudah. Lelaki yang pertama membuatnya merasakan cinta, lelaki yang membawanya pada surga dunia, lelaki yang mengajaknya pergi wisata ke tempat-tempat romantis dan makan lezat, lelaki yang membawanya juga dalam jurang dosa dan kehancuran. Masa muda yang jadi sia-sia begitu saja. Semua hal yang indah pun sudah bisa ditebak hanya sebagai tipu daya.
"A-aku nggak bisa. Aku nggak bisa terus gini. Aku nggak mau terus menerus merasa bersalah, padahal orang yang salah aja nggak mikirin aku." Rania berkata dalam hati kecilnya setelah memblokir nomor Gavin.
"Rania, sabarlah. Soal lelaki itu, semua akan kembali pada apa yang dia lakukan. Karma itu nyata." Ternyata Bima ada di sana dan mendengar.
"Rania, fokus dengan pencapaian yang ingin kamu raih. Apa yang kamu inginkan di tahun ini, kamu pasti akan mendapatkan itu."
Rania tersenyum. Hanya Bima yang benar-benar mengerti isi hatinya saat ini. Kebahagiaan seperti apa yang manusia inginkan? Mungkin tidak seperti yang terjadi saat ini dalam hidup Rania.
Di sisi lain ....
Siang itu juga, Gavin ribut kembali dengan Pramayu karena uang cash sebesar dua juta hilang di rumah. Pramayu tidak bisa menuduh orang lain karena yang berada di rumah dengannya hanya si Gavin. Jelas saja itu membuat Gavin semakin merasa tersinggung. Sial itu masih berlanjut. Permasalahan tidak ada henti terjadi.
"Oh, jadi lu nuduh gue? Baru kemarin kita ribut dan malemnya lu ajak gue baikan dengan kasih servis, ehh sekarang udah ajak ribut lagi? Mau lu apa? Gue di sini terus dan lu tahu ATM gue aja eror. Kapan gue pegang uang cash itu, heh?!"
__ADS_1
"Ya siapa lagi yang ambil? Beneran ada uang di sana."
"Terus? Lama-lama gue gibeng lu!!"
Pramayu langsung menunduk karena takut dipukul oleh Gavin lagi. Tentu Gavin jadi merasa senang bisa kembali menunjukkan otoriternya. Apalagi barusan Rania membalas dengan tengik pesan singkatnya, membuat Gavin makin kesal.
Pramayu merasa takut, tetapi juga kesal karena uang dua juta hilang. Kemarin dia juga harus membayar uang pembelian kebutuhan bayi. Sekarang, rasanya Pramayu tidak lagi bisa tertawa di atas penderitaan Rania karena dirinya saat ini justru yang menderita. Ya, kesialan masih bergulir.
"Misi, Bu. Misi, Bu Ayu," ujar seseorang dari balik pintu terlihat terburu-buru.
"Ya, ada apa?" Pramayu segera keluar untuk mengetahui siapa yang datang, sambil menghindari Gavin.
"Bu Ayu, tempat jualan yang di Serpong kebakaran."
"Hah?! APA?!" Pramayu mendengar berita mengejutkan itu jelas langsung tak sadarkan diri.
Gavin menangkap tubuh Pramayu yang hampir terjatuh. Heran saja usaha di Serpong paling maju dan penghasilannya lebih stabil, tetapi justru kebakaran. Pramayu dan Gavin sudah ke Mbah Jabrik untuk meminta pagar gaib, siapa tahu ada yang iseng mengerjai mereka. Sudah membayar empat juta juga, tetapi buktinya? Nol besar!
Bima pun tertawa terbahak-bahak, kesialan saat ini belum seberapa karena akan ada hal sial lainnya yang akan menanti pasangan busuk itu. Setiap kali Gavin membuat Rania teringat dan terluka, Bima akan membalasnya jauh lebih kejam. Tanpa perlu Bima berkata pada Rania, semua itu sudah bagian dari karma karena perbuatan Gavin dan Pramayu sama-sama buruk.
"Rasakan itu!! Kau akan banyak utang jika melanjutkan semua ini. Ya, usahamu akan bangkrut! Kau akan dikejar-kejar para makhluk gaib, dan ... semoga saja beruntung untuk tidak jadi gila!"
Bima sudah mempersiapkan semuanya. Tanpa memberitahu Rania, sesuatu akan terjadi pada Gavin di akhir tahun. Ya, saat bahagia untuk keluarga Gavin akan berakhir menjadi hal buruk yang sudah Bima rencanakan. Begitu pula untuk Pramayu.
__ADS_1