
Rania menangis sepanjang perjalanan naik motor menuju ke rumah. Dia tidak menyangka kalau Gavin benar-benar berada di Semarang. Rania tidak tahu kenapa lelaki itu ada di Semarang, tetapi yang jelas Rania tidak menghendaki bertemu dengan Gavin lagi.
"Belum kering rasanya luka di dalam hatiku tetapi kamu sudah dengan tega dan tanpa rasa malu datang menemuiku. Entah apa yang ada di dalam pikiranmu. Kenapa hanya bisa menambah sakit hati dan juga beban perasaan yang aku rasa?"
Rania menangis sepanjang jalan karena tidak bisa lagi menahan kesedihan. Dia juga tidak mungkin menangis di rumah karena hanya akan membuat keluarganya merasa khawatir.
"Aku tidak bisa membiarkan hal ini terus-menerus terjadi dan membuat Rania merasa sakit hati berkelanjutan. Kalau sumber masalahnya masih tetap ada terus mencari masalah dengan menemui Rania pasti segala sakit hati itu akan tetap terasa."
Bima mengepalkan tangannya dan sudah tidak sanggup lagi untuk bersabar. Ponsel yang dia janjikan untuk hadiah ulang tahun Rania sudah sampai. Lalu, satu hal lagi yang akan Bima berikan untuk Rania sebagai jaminan kehidupan masa depan, yaitu popularitas. Bima akan membuat Rania mendapatkan kemudahan untuk mencari uang lewat pekerjaan barunya sebagai penulis.
"Raden Sosro, izinkan hambamu ini untuk menolong keturunanmu. Sesuai dengan perjanjian yang ada meski aku tidak bisa memperlihatkan wujudku lagi jika hal ini aku lakukan."
Bima sebenarnya merasa bimbang untuk mempercepat semua rencananya. Karena setelah Bima melakukan hal ini, Rania tidak akan lagi bisa melihat dan mendengar Bima. Sesuai dengan perjanjian di masa lalu.
Rania hampir sampai di rumah dan berhenti terlebih dahulu untuk mengusap air mata yang menetes di pipinya. Dia mencoba untuk menenangkan diri dan menarik nafas serta menghembuskan perlahan agar tidak kelihatan baru saja menangis. Setidaknya kosmetik yang dia bawa benar-benar sudah terjual dan mendapatkan uang.
"Setidaknya aku sudah berjuang dan saat pulang aku benar-benar membawa uang hasil menjual kosmetik. Meski ini hanya modus dan ternyata lelaki itu yang muncul, tapi aku bersyukur Tuhan menguatkan hatiku sehingga tidak lagi terpaut dengan orang yang salah."
Rania merasa benar-benar tertekan ketika melihat wajah Gavin rasa sakit itu pun kembali terjadi. Bahkan bisa-bisanya Gavin dengan pandangan menghina karena kondisi Rania saat ini memang tidak selangsing dahulu. Rania tidak mempunyai banyak waktu untuk memikirkan diri sendiri karena fokus kepada anaknya.
Rania pun pulang ke rumahnya sambil membeli dua bungkus bakso terlebih dahulu yang biasanya disukai oleh keluarga di rumah.
"Ma, aku pulang. Aku beli bakso dua bungkus nggak pakai mie. Ini kalau mau makan dulu, Ma," ujar Rania kepada mamanya.
"Iya, terima kasih. Laku banyak pa? Kok, beli bakso?"
__ADS_1
"Iya, Ma. Laku banyak. Besok mau iklan lagi open pre-order."
"Bagus kalau gitu. Harus semangat. Maaf, Mama nggak bisa bantu apa-apa. Ini yang jualanan makanan juga udah berhenti soalnya."
"Nggak apa, Ma. Daripada rugi kalau jual makanan nggak habis kan bisa basi. Kalau kosmetik kan nggak basi. Bisa dijual besok-besok."
Rania tetap menyemangati mamanya karena dia juga merasa bersalah belum bisa memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Apalagi saat ini Rania berjuang sendiri dengan penghasilan yang belum pasti. Bekerja menjadi freelance tentu saja tidak seperti orang yang bekerja setiap hari dan mendapatkan upah sesuai dengan pekerjaannya per bulan.
Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di akun media sosial. Rania pun segera membaca pesan itu.
[Hallo, Kak Rania. Maaf sebelumnya, aku membaca novel Kakak sebelumnya dan merasa kalau kisah itu sangat familiar. Apa ini kejadiannya di daerah Gunung Kidul? Daerah perbatasan W***** dan Yogyakarta? Kejadiannya sudah dahulu kala?]
Deg!
[Iya, Kak. Terima kasih sudah membaca novel ini. Wah, bagaimana Kakak tahu lokasinya? Apa pernah dengar cerita ini sebelumnya?]
Tanpa disangka, pesan itu dibalas dengan cepat.
[Iya, Kak. Aku tahu lokasinya. Aku tahu ceritanya. Aku anaknya Ningsih.]
"Hah?! Anaknya Ningsih?! Ini real, nggak? Astaga, gimana ini? Nggak enak juga udah nulis cerita ibunya. Duh, Bima ... gimana ini?"
Rania berbicara dalam hati karena bingung harus menjawab apa kepada akun tersebut. Rania takut salah menjawab. Lalu, ini anak Ningsih yang mana? Bukankah anaknya ada tiga?
[Kak, kenapa nggak bales? Maaf, aku nggak akan marah or apa. Aku cuma kangen saja sama orang tuaku. Kakak tahu cerita ini dari siapa?]
__ADS_1
Lagi, pesan itu masuk dan membuat Rania bingung harus menjawab atau membalas apa. Rania takut kalau salah menjawab dan mencoba menunggu Bima berkata apa.
"Bima, aku harus jawab apa?"
Bima sebenarnya mendengar apa yang dikatakan oleh Rania tetapi dirinya sendiri juga tidak bisa menjawab apapun. Bima tahu kalau saat ini Ningsih sudah meninggal dan semua itu berlalu sudah cukup lama. Mungkin sekarang Wahyu juga sudah memiliki anak atau cucu. Semua sudah berlalu sangat jauh dari masa kini. Bima tidak mau menjawab karena tidak kuasa mengingat itu. Saat terakhir Ningsih meninggal, Bima ada di sana, tetapi tak bisa mendekat. Ningsih sudah bertaubat dan Bima tidak pantas mendekatinya lagi.
"Bima, aku harus jawab apa?" Rania tak bisa menjawab tanpa persetujuan Bima.
...****************...
"Kek, Kakek, ini orangnya udah nggak bales. Jadi gimana, dong?" tanya seorang perempuan Sekolah Menengah Pertama yang menunjukkan ponsel Android kepada kakeknya yang belum begitu tua.
"Ah, mungkin orangnya sedang sibuk. Sudah bilang kalau Kakek ini anaknya tokoh utama novel itu?"
"Sudah, Kek. Tapi nggak bales. Emang Kakek beneran yang namanya Wahyu di novel ini? Seru banget novelnya."
"Hmm, kasih tahu atau nggak?" Lelaki tua berusia enam puluh delapan tahun itu sedang bercanda dengan cucunya.
"Ah, Kakek ini sekarang terlalu gaul. Kakek kenapa nggak belajar pakai hape sendiri?"
"Kalau Kakek mau pakai sendiri, nanti kamu nggak ke sini buat bukain ponsel dan ajak Kakek bicara," ujar lelaki tua yang merasa kesepian setelah istrinya meninggal karena sakit.
"Ah, Kakek ini curang banget. Berarti Kakek sebenarnya bisa, kan? Bisa pakai handphone?"
Orang mengenalnya dengan nama Wahyu, biarlah tetap menggunakan nama itu. Wahyu adalah anak pertama Ningsih. Sebenarnya bukan dari Bima, tetapi karena cinta dan kasih sayang Bima kepada Ningsih dan Wahyu itu tulus, Wahyu tetap menganggap kalau Bima dan Ningsih adalah orang tuanya. Hingga saat novel itu terbit, Wahyu masih ingin bertemu Bima dengan pemikiran Rania akan membantu.
__ADS_1