
Lelaki berparas tampan, tinggi seratus delapan puluh sentimeter, tubuh proporsional cenderung kekar, namanya Samudera. Panggilannya Audra. Lelaki itu merupakan pemilik restoran di mana Rania bertemu dengan Wahyu. Lelaki itu merasa penasaran dengan Rania karena tidak sengaja mendengar percakapan waktu itu.
"Tolong cari tahu perempuan yang tadi menggendong bayinya dan duduk di sebelah situ."
"Baik, Pak."
"Namanya Rania, dia penulis novel online. Saya ingin mengenalnya."
"Baik. Segera saya laporkan jika sudah mendapatkan hasil."
Audra bukan hanya sekedar kepo atau ingin tahu, melainkan ingin mengenal Rania lebih lagi. Mendengar percakapan Rania dan Wahyu yang menyebutkan kalau Rania memiliki bayi Aira tanpa seorang suami dan tidak memiliki sosok ayah bagi anaknya, membuat Audra merasa iba. Bukan hanya soal kasihan, Audra juga merupakan salah satu pembaca setia novel yang Rania tulis. Sangat berkesan dan memberikan arti dalam.
"Aku akan menemukanmu dan ingin mengenalmu lebih jauh."
Samudera merupakan anak yatim piatu. Bekerja keras sendirian, tidak memiliki saudara kandung karena merupakan anak tunggal. Dia meraih kesuksesan yang bisa membuka restoran karena hasil kerja sendiri bukan hasil warisan atau peninggalan orang tuanya. Orang tua Audra juga bukan berasal dari orang yang berada, jadi ketika lelaki itu mendengar secuil kisah dari Rania membuat hatinya bergetar dan ikut merasakan sakit.
Lelaki itu ingin mengenal lebih lagi soal Rania. Seperti perasaan seseorang yang cinta pada pandangan pertama. Begitulah yang saat ini Audra rasakan pada Rania.
"Kalau benar dia tidak punya suami, aku akan bersamanya."
Audra seperti sudah yakin dengan Rania. Padahal baru pertama kali bertemu dengan perempuan itu dan belum saling mengenal satu dengan yang lain. Namun seakan-akan semua merupakan suratan takdir yang tidak bisa dihindari lagi karena dirinya merasa cinta pada pandangan pertama.
__ADS_1
Setelah dua hari, orang suruhan Audra sudah mendapatkan beberapa informasi akurat mengenai Rania bahkan tentang di mana perempuan itu tinggal dan juga keluarganya. Bukan hal yang sulit bagi seseorang yang sudah kompeten di dalam bidangnya untuk mencari informasi terhadap seseorang.
"Permisi, Pak. Ini semua informasi terkait dengan perempuan bernama Rania sudah dikumpulkan di dalam map berwarna putih ini."
"Bagus. Ini uang untukmu. Terima kasih kerja kerasnya."
Audra langsung masuk ke dalam ruangan miliknya untuk membuka map berwarna putih itu dan melihat beberapa lembar data yang sudah dikumpulkan oleh orang suruhannya. Satu demi satu sudah dibuka dan dibaca oleh lelaki pemilik restoran ternama di Kota Semarang tersebut. Area strategis dan juga jauh dari kemacetan serta banjir tentu membuat restoran itu menjadi salah satu tempat favorit bagi orang kalangan menengah ke atas.
"Rania ... anak kedua dari tiga bersaudara. Papanya sudah meninggal, tinggal bersama Mama dan keluarga kakaknya serta adiknya masih kuliah. Hmm, menarik. Bayi bernama Aira atas akte anak ibu."
Audra membaca dengan seksama. Dia benar-benar merasakan hal yang berbeda. Berdebar dan merasa ingin bisa bertemu dengan Rania secara langsung dan berbicara mengenai banyak hal untuk lebih dekat lagi.
Audra mencoba menelepon Rania. Dia berharap panggilan dari ponselnya itu segera diangkat oleh Rania. Namun ternyata Rania masih trauma dengan Gavin.
Rania yang melihat ada panggilan telepon di ponselnya dari nomor tidak dikenal jelas saja tidak mengangkat telepon itu karena takut dari Gavin. Apalagi beberapa waktu yang lalu Rania mengetahui kalau Gavin berada di Semarang jelas saja membuat dia merasa khawatir.
"Siapa ini telepon mulu? Jangan-jangan lelaki gilaa itu? Aku nggak akan angkat."
Rania benar-benar khawatir kalau itu Gavin sehingga memilih untuk tidak mengangkat telepon tersebut. Saat itu, Bima sedang mengurus sesuatu hal. Sebuah kejutan akan kembali diberikan oleh Bima kepada Rania sebagai persiapan untuk perpisahan karena semua hal yang harus dilakukan oleh Bima satu demi satu sudah mulai terwujud.
Siang harinya, ada notifikasi dari pihak tempat Rania bekerja menulis novel online. Ternyata Rania menang lomba dan berhak atas buku terbit. Jelas itu sangat membahagiakan bagi Rania. Satu jalan terbuka lebar bagi masa depan Rania dan juga putrinya untuk tetap mencari penghasilan dari novel online.
__ADS_1
"Rania .... aku mau berbicara hal serius denganmu."
"Apa, Bima? Terima kasih! Aku menang juara tiga!" Rania sangat senang. Senyum manis melengkung di wajahnya.
"Iya, aku tahu itu. Selamat, Rania. Namun setelah ini, aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi. Setelah semua persiapan buku terbit ini selesai, sumber masalahmu akan pergi. Bersamaan dengan hal itu, aku juga akan pergi. Kamu tidak akan bisa melihat atau mendengar suaraku lagi, meski aku masih ada di sekitarmu. Maaf, Rania. Waktuku bersamamu sudah hampir habis."
"Apa?!"
Rania merasa baru saja begitu senang seperti terbang di atas awan, tetapi langsung terjatuh begitu saja dari kenyataan. Rania justru lebih takut kehilangan Bima yang selama ini sudah menemani dan juga melindungi dirinya. Dia pun tak tahu harus berkata apa.
"Jangan! Jangan pergi, Bima. Selama ini, tidak ada satu pun yang benar-benar peduli padaku dan Aira. Cuma kamu."
"Maaf, Rania. Semua sudah menjadi takdir seperti ini. Aku harap kamu mengerti. Kelak, akan ada seorang yang mencintai kamu dengan tulus. Orang yang akan menerima apa adanya dan juga melindungimu akan segera datang. Jika aku terus bersamamu, maka akan sulit kamu bertemu dengan jodohmu. Meski aku membantumu dan tidak membuat kamu celaka, tetap saja aura buruk dariku membuat banyak hal terjadi di luar pengetahuanmu. Bagaimanapun, aku ini iblis."
Perkataan dari Bima seolah-olah menusuk sanubari Rania. Perempuan itu tidak bisa menjawab apa yang dikatakan oleh Bima dan hanya air mata yang menetes di pipi. Rania tidak bisa begitu saja mengiklaskan Bima pergi karena kekasih yang dicintai selama bertahun-tahun, justru berkelakuan seperti iblis. Sedangkan Bima yang merupakan iblis, justru berhati baik seperti layaknya kekasih di negeri dongeng. Lantas, bagaimana bisa hati Rania siap begitu saja mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bima tadi?
Kemungkinan berpisah tidak mungkin ditunda karena Bima sudah mengatakan hal itu yang berarti ada sesuatu di masa depan yang akan terjadi. Namun saat ini Rania sama sekali belum bisa memahami apa yang dikatakan oleh Bima bahkan soal sumber masalah akan pergi. Rania belum bisa mengartikan semua itu karena rasa sedih di dalam hatinya menutupi segala pemikiran tentang kemungkinan yang ada.
"Apakah aku bisa meminta dan memohon agar kamu tetap tinggal? Aku rasa, aku tidak akan berhasil menjalani dan menjalin hubungan dengan manusia. Aku ... tidak mau rasa sakit itu lagi datang padaku dan pada Aira."
Rania bergumam, berharap ada keajaiban. Dia merasa rendah diri karena banyak hal. Dia tidak mau Aira juga mengalami penolakan. Belum tentu lelaki akan mengerti apa yang Rania hadapi dan jalani.
__ADS_1