Kekasihku Iblis yang Baik Hati

Kekasihku Iblis yang Baik Hati
Bangkrut


__ADS_3

Pramayu merasa syok karena hari demi hari semua usahanya menurun drastis dan pendapatan pun berkurang. Sedangkan usia kandungannya sudah mendekati kelahiran. Dia pun makin bingung karena harus memikirkan soal keuangan makan sehari-hari dan juga pengeluaran untuk bayinya karena sampai saat ini Gavin belum mendapatkan kerjaan.


"Pa, gimana usahanya?"


"Bentar dulu, belum ada lagi. Arisannya gimana?"


"Udah bayar, kan, kemarin. Nariknya masih dua bulan lagi. Ini perut tinggal hitung hari. Gimana biayanya?"


"Udah, di bidan aja."


"Bidan?! Mau bikin malu, kah?? Anak pertama gue, loh!" Pramayu merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Gavin karena meminta lebih baik di bidan saja.


"Lah, mau gimana lagi kalau memang kita nggak ada uang daripada utang lagi. Kemarin aja utang buat buka usaha juga belum ketutup. Mau gimana?" Gavin sudah malas berdebat karena Pramayu selalu saja menuntut lebih. Sedangkan Rania sudah tidak mau menanggapi Gavin. Semua akses media sosial pun diblokir, jadi Gavin tidak tahu lagi kabarnya.


"Pa, tolong, dong. Usahakan buat lahiran di rumah sakit."


"Ya udah, ambil deposito aja. Gue nggak ada uang beneran. Pulang rumah juga dimarahi orang tua. Terus suruh gimana?" Gavin terlihat pasrah saja dan sama sekali tidak mau berusaha terlebih dahulu untuk memberikan yang terbaik karena sebenarnya dia tidak mencintai Pramayu dengan tulus.


Entah apa yang ada di dalam otak lelaki seperti itu karena cinta bukan merupakan hal yang suci dan bisa diobral ke sana dan ke sini kepada semua perempuan. Gavin tidak pernah merasa puas dengan satu hubungan saja dan pada akhirnya dia terjebak dengan segala pemikiran dan tidak ada yang benar-benar menjadi tambatan hati atau cinta sejatinya.


"Percuma ngomong kalau ujung-ujungnya pakai duit gue. Heran banget. Ini anak pertama, loh."


"Lah, kan, itu anak pertama lu! Bukan gue! Anak gue banyak, tuh! Cewek semua! Lagian, Rania aja hamil, melahirkan, apa-apa sendiri, nggak ngerengek, nggak nyalahin gue mulu. Gue pergi juga dia nggak bikin ulah. Kenapa lu banyak nuntut?! Udah mending gue mau nikah siri ama Lu!" Gavin yang emosi pun mulai membanding-bandingkan antara Pramayu dan juga Rania yang jelas membuat perempuan itu semakin kesal.

__ADS_1


"Lah, napa bawa-bawa Rania?! Gue males denger namanya disebut!! Emangnya lu bisa hidup enak, mewah, rumah bagus, ke mana-mana bawa mobil, kalau lu masih sama Rania?! Nggak, kan?! Lu sendiri yang bilang kalau ninggalin Rania karena kere! Karena keluarganya aneh dan miskin!"


Plak!!


Gavin langsung menampar pipi Pramayu karena terlalu banyak bicara dan membuat kepalanya pusing. "DIEM!! Setidaknya dia nggak pernah ngerendahin gue dan keluarga gue! Nggak seperti lu!"


Gavin pun keluar dari rumah dan naik motornya untuk cari udara segar. Selalu saja menjadi masalah setiap kali berbicara dengan Pramayu. Memang tidak bisa dipungkiri kalau Pramayu dan Rania memiliki sifat yang berbeda jauh dan dalam kondisi perekonomian yang juga jauh berbeda sehingga memang kedua perempuan itu tidak bisa dibandingkan. Gavin saja yang suka mencari masalah dengan membanding-bandingkan.


...****************...


Saat Pramayu melahirkan, di saat itu Gavin sedang mabuk bersama kawan-kawan. Hanya keluarga Paramayu yang ada di sana. Pramayu menutupi semuanya dengan mengatakan kalau Gavin sedang sibuk mengurus pekerjaan. Bersamaan dengan itu, bisnis yang Pramayu miliki tinggal dua tempat, berita buruk pun datang karena usaha itu pun bangkrut. Semua kesusahan dan kesulitan bertubi-tubi menghantam Pramayu.


Sedangkan Gavin? Masih bisa haha hihi dengan teman-temannya dan justru minum-minuman keras juga di saat Pramayu melahirkan. Pramayu terlalu gengsi untuk melahirkan di bidan dan memilih untuk di rumah sakit bersalin agar tidak merasa dipermalukan. Karma memang berlaku dan kali ini, bukan Bima pelakunya. Usaha Paramayu yang bangkrut, persalinan yang susah, kehidupan yang kacau balau dengan Gavin, itu murni karma yang diterima Pramayu karena selama ini bersikap buruk.


Pramayu melahirkan sambil berteriak begitu kesal dengan Gavin dan juga sudah tidak ada lagi kata maaf yang tersisa. Pramayu merasa dendam dengan segala permasalahan yang terjadi dan juga sifat Gavin yang selalu menyepelekan keadaan Pramayu karena pernah menjadi janda dua kali. Pramayu dendam dan berjanji suatu hari nanti akan membalas segala rasa sakit yang diakibatkan oleh perlakuan buruk Gavin.


"Selamat, Bu. Anak Anda-"


"Cewek! Gue udah tahu! Nggak usah banyak bicara!!" gertak Pramayu kepada perawat yang sedang menyerahkan bayi ke arahnya.


"Ck, galak banget," gerutu perawat yang sudah meletakkan bayi perempuan itu di sebelah Pramayu.


"Gara-gara bayi ini cewek! Gue jadi nggak dapet perhatian dari Gavin. Sialan emang! Kenapa Gavin nggak mampus aja, sih?!!" maki Paramayu yang merasa kesal dan ibunya mencoba untuk menenangkan karena marah-marah juga tidak baik untuk kondisi perempuan yang baru saja bersalin.

__ADS_1


"Sabar, Ayu. Sabar. Jangan begitu itu. Kasihan anakmu. Ini juga anak pertamamu, kan. Sabar."


Pramayu hanya terdiam karena kata sabar sepertinya sudah tidak bisa lagi membuat dirinya memendam segala permasalahan yang ada. Dia merasa kesal karena tidak bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi karena keluarganya hanya mengetahui dirinya baik-baik saja bersama dengan Gavin.


...****************...


Bersamaan dengan itu, Rania mendapatkan pengumuman menarik dari kerjaannya. Beberapa hari sebelum ulang tahun, benar saja harapan Rania terwujud. Rania mendapatkan hadiah ponsel terbaru dengan harga yang cukup mahal.


"Ya Tuhan, terima kasih banyak. Aku mendapatkan ponsel terbaru! Ternyata benar seperti yang Bima katakan. Aku senang sekali."


[Silakan konfirmasi alamat pengiriman dan nama penerima di sini.]


Rania pun bersemangat mengisi semua data yang dibutuhkan untuk mengirimkan hadiah sehingga dia tidak sabar untuk mendapatkan ponsel keluaran terbaru dari hasil kerja kerasnya. Setelah itu, Rania menceritakan kepada mamanya dan juga adiknya.


"Ma, Dek, aku mendapat hadiah besar berupa ponsel keluaran terbaru yang akan dikirimkan kurang lebih dua sampai tiga minggu setelah pengumuman. Ini ... aku menang!"


"Wah, syukurlah, Kak," jawab adiknya Rania yang sudah mulai bisa menerima kondisi dan keadaan Rania yang tanpa suami.


"Syukurlah, Rania. Maaf, Mama nggak bisa beliin apa-apa. Jadi cuma bisa mendoakan saja."


Mamanya selalu berkata hal itu karena merasa bersalah, dahulu pernah menolak Rania bahkan ikut saran Gavin untuk menggugurkan kandungan. Namun saat ini, rasa penyesalan tiada henti hinggap di dalam benak mamanya Rania. Penyesalan yang entah akan diingat atau tidak karena mamanya Rania menganggap Rania sudah lupa dengan itu. Padahal Rania masih mengingat semua itu, tetapi memilih untuk tidak dendam.


Sorak sorai bagi kehidupan Rania yang perlahan-lahan menjadi jauh lebih baik sedangkan kehidupan Pramayu dan Gavin semakin memburuk. Roda kehidupan saat ini sedang bergulir dan perlahan Rania akan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2