
"Ma, ini ada uang lebih untuk Mama. Silakan kalau mau dipakai untuk apapun boleh." Rania memberikan uang sejumlah lima lembar seratus ribuan kepada ibunya.
"Banyak banget, Rania."
"Iya, ada berkat lebih. Udah nggak apa buat Mama."
Rania pun memanggil Shella untuk memberi uang seratus ribu. "Dek, ini buat kamu kalau mau buat jajan or beli apa gitu."
"Wah, terima kasih, Kak. Lagi dapat uang, ya, Kak?"
"Iya, ini."
Rania terlalu baik untuk menjadi orang pendendam. Dia pun memberi keponakannya masing-masing dua puluh lima ribu. Lebih baik daripada tidak sama sekali. Uang sisanya ada untuk disimpan jika penghasilan menurun, serta mau open pre-order lagi kosmetik import agar punya stok dagangan. Rania tetap optimis memandang masa depan karena setiap berkat yang dia terima tidak langsung dihabiskan.
"Aku pernah terjatuh, aku pernah ditinggalkan, aku pernah benar-benar di titik nol, bahkan minus. Sekarang, perlahan kehidupanku membaik dan aku tidak akan lupa untuk selalu bersyukur dan memberi kepada yang lain. Meski keluargaku tidak sempurna dan sering ada permasalahan, aku tetap bersyukur. Bahkan untuk keluar dari rumah ini pun, Mama tidak memberikan izin. Aku harus menikah atau bisa beli rumah sendiri kalau keluar dari rumah ini. Aku bisa apa? Sebenarnya hidup di luar pun aku mampu. Namun perkataan Mamaku membuatku berpikir ulang. Aku tidak mau menyesal karena Papa sudah meninggal."
Rania memiliki pemikiran dan juga pertimbangan tersendiri. Dia tidak mau terburu-buru dan tergesa-gesa karena emosional dan juga terpengaruh dengan perkataan mamanya yang terkadang mengadu domba dengan Mbak Endah. Rania sudah pernah menyesal dengan keputusan di masa lalu jadi dia sekarang lebih tenang dan mencoba untuk menjalani hidup sesuai dengan apa yang ada saat ini.
...****************...
Bersamaan dengan itu, Gavin dan Pramayu masih berada di Semarang sedangkan bayi mereka dititipkan ke ibunya Pramayu. Alasan pekerjaan menjadi hal terbaik bagi mereka bisa berduaan dan juga membahas banyak hal. Namun rasa dendam di hati perempuan itu masih menggebu. Gavin tidak tahu kalau ajalnya sudah dekat. Semua yang Bima rencanakan sudah hampir di puncak acara. Ya, kehidupan yang akan berubah drastis untuk Rania, Aira, dan sumber masalahnya.
__ADS_1
"Sayang, acara nyanyi di sini sampai kapan?" tanya Gavin sambil membelai lembut rambut Pramayu yang berbaring bersama di atas ranjang. Mereka tinggal di tempat saudara ibunya Ayu di Semarang. Lumayan untuk berhemat pengeluaran.
"Agak lama, sih. Dua bulan mungkin. Kenapa, Pa?"
"Oh, nggak apa. Berarti bisa sambil jalan-jalan kalau udah nggak sibuk, dong."
"Iya, bisa. Lagi pula tiap hari manggung dapat uang, lumayan, kan. Kalau di Jakarta sekarang agak susah cari duit. Mending di sini dulu. Terus uang kebutuhan ibuku sama anak kita bisa transfer aja."
"Iya, iya. Atur aja, udah."
Gavin berpikir di dalam hati kalau lumayan dirinya bisa mencoba dekati Rania selama di Semarang karena masih penasaran. Mengapa Rania jadi jual mahal dan sama sekali tidak mau berbicara dengan Gavin padahal dahulu sangat tergila-gila padanya.
"Iya, tahu. Udah, jangan bahas itu, lah. Ntar bad mood."
"Ya, deh."
"Kalau gitu ... nambah aja, yuk," ucap Gavin yang langsung mengecup Pramayu berkali-kali di bagian wajah dan leher, lalu lanjut ke bawah untuk pemanasan.
Keduanya memang sangat cocok karena sama-sama hidup dengan memburu nafsuu. Itulah yang membuat sepasang kekasih itu sangat cocok dan terlihat berbahagia padahal mereka berdua sama-sama saling melukai dan menghianati.
Pramayu memang ke Semarang demi pekerjaan, tetapi di samping itu, dia juga bertemu dengan lelaki yang selalu memakainya setelah selesai menyanyi dengan menyewa hotel. Gavin tidak tahu hal itu karena jarang menunggu sampai acara selesai. Gavin lebih senang jalan-jalan dan mencari kesenangan. Melihat perempuan cantik dan juga mencari kesempatan untuk bisa mendekati Rania lagi.
__ADS_1
Sifat Gavin dan Pramayu tidak jauh beda jadi mereka berdua begitu cocok untuk menjadi pasangan yang saling menghianati satu dengan yang lain. Mereka berdua saling menusuk dari belakang karena tidak ada rasa kepercayaan sama sekali. Mereka merupakan cerminan dari pasangan yang buruk.
Setelah kembali mendapatkan kepuasan, Gavin pun membasuh tubuhnya. Ayu terlelap di atas ranjang. Meski merasa puas, tetap saja perempuan itu menyimpan dendam yang entah bisa ditahan sampai kapan. Berada di Semarang merupakan salah satu rencana dari Ayu untuk membalas dendam kepada Gavin.
[Berita terkini, wabah penyakit yang sedang menyebar di seluruh penjuru dunia sekarang sudah masuk di Indonesia. Pemerintah segera membuat kebijakan untuk tetap berada di rumah terlebih dahulu. Semua kegiatan yang bersifat berkerumun akan dibatasi bahkan ditiadakan selama dua minggu ke depan ...]
"Ayu ... ayu ...."
"Ha? Apa?"
"Itu semua acara dibatalkan karena pemerintah membatasi semuanya. Bukan cuma itu, transportasi umum dan bepergian ke luar kota juga dibatasi. Banyak yang kena penyakit virus itu sampai meninggal. Korbannya cepat bertambah." Gavin sedikit merasa panik karena yang berarti mereka terjebak di Semarang dan tidak bisa kembali ke Jakarta dalam kondisi pekerjaan Pramayu tidak bisa dijalankan karena semua kerumunan dibubarkan. Gavin merasa khawatir tidak ada uang.
"Hah?! Bentar, aku tanya kerjaanku lebih dahulu."
Pramayu tidak hanya menghubungi tentang pekerjaannya untuk bernyanyi dari panggung ke panggung yang lain, tetapi juga tentang sugar Daddy nya. Apakah Pramayu akan tetap bisa bertemu dan dapat uang meski kondisi seperti ini? Kalau tidak, jelas saja perempuan itu akan merasa begitu rugi di Semarang membuang-buang uang dan juga harus mengirim uang ke Jakarta.
Raut wajah Pramayu yang awalnya khawatir dan tegang, berubah menjadi santai. Sugar Daddy atau selingkuhannya itu mengatakan kalau semua akan baik-baik saja dan tetap memberikan uang sesuai dengan perjanjian awal. Tentu itu akan menguntungkan bagi Pramayu.
"Gaji nyanyi itu seberapa, sih? Kalau cuma andalin itu, mana cukup buat makan, bergaya, dan urus Gavin, ibuku, dan anakku. Huh, capek lama-lama. Nggak guna juga si Gavin. Nyesel udah ambil dia dari Rania. Nggak guna soalnya. Kalau cerai, aku kepalang malu. Tapi kalau misal ada hal buruk nimpa Gavin .... ya, kalau Gavin mati, pasti aku jadi janda terhormat. Aku bisa akting menangis tiga hari tiga malam. Lalu ... sabar untuk setahun dan bisa move on. Bagus, kan?"
Pramayu berbicara di dalam hati karena memiliki pemikiran tersendiri untuk membalas segala dendam yang ada. Dia memiliki niat buruk pada Gavin karena sudah bosan.
__ADS_1