
Rania menjalani hari-hari seperti biasa dengan banyak problematika di keluarganya karena memang kakak Rania tidak begitu menyukai dirinya. Namun sekali lagi Rania selalu mencoba bertahan hanya demi Aira. Bayi itu membuat kehidupan Rania berubah jauh lebih baik daripada saat tersuram hidupnya.
Rania jarang bepergian. Dia hanya akan pergi saat mengirimkan pesanan dari customer yang masuk melalui transaksi online dan juga kalau beli perlengkapan bayi. Rania sudah melupakan semua pertemanan di masa lalu yang ada kaitannya dengan Gavin dan benar-benar menata kehidupan untuk move on dari permasalahan itu. Banyak teman-teman Rania mencoba untuk mengungkit-ungkit masa lalu dan mengorek-ngorek kehidupan saat ini karena ingin mengetahui bagaimana kondisinya, tetapi Rania mengabaikan hal itu dan fokus kepada masa depan dengan segala usaha yang sedang dia jalankan.
"Aira ... pinter banget udah bisa miring dan tengkurap. Anak Mamii hebat dan pintar. Semoga Tuhan selalu melindungi dan memberi kemudahan di dalam kehidupanmu sehingga kamu selalu merasakan kebahagiaan dan kelak menggapai kesuksesan. Amin."
Rania tersenyum menatap Aira yang terlihat begitu menggemaskan. Aira sudah bisa miring ke kanan dan kiri serta tengkurap. Waktu berjalan begitu cepat sehingga Rania merasa semakin senang bisa memiliki seorang putri seperti Aira.
"Mamii akan pastikan kamu merasakan kebahagiaan meski tidak memiliki ayah. Maafkan Mamii, ya. Mamii sayang sekali sama Aira. Mamii tidak akan membiarkan kamu sendirian."
Rania begitu menyayangi bayinya lebih dari apapun. Dia hanya bisa berharap suatu hari nanti bisa memberikan yang terbaik bagi kehidupan anaknya dan jangan sampai anaknya merasakan kesedihan dan juga segala kesakitan yang pernah dia alami.
...****************...
__ADS_1
Malam harinya, setelah Rania selesai menulis apa yang diceritakan oleh Bima, perempuan itu pun terdiam. Banyak hal yang sebenarnya ingin Rania katakan kepada Bima tetapi tidak bisa diungkapkan begitu saja karena dia tahu semua itu hanya akan menjadi cinta dalam hati. Rania merasa begitu nyaman bersama dengan Bima dan merasa belum pernah mendapatkan cinta seperti itu dari manusia. Bukankah perasaan cinta itu sesuatu hal yang mendalam dan sulit untuk diutarakan?
"Kamu memikirkan apa, Rania?" Bima bertanya karena melihat kalau Rania terlihat gusar.
"Tidak apa, Bima. Oh iya, belakangan ini aku sedikit kesal karena lelaki tidak berguna itu mencoba menghubungiku mulai dari pesan dengan nomor baru sampai mengirimkan pesan di media sosial dengan akun baru. Aku memang tidak akan membalas orang itu tetapi rasa kesal itu masih ada di dalam hati. Mengapa dia masih menggangguku sedangkan dirinya juga sudah menjalani kehidupan lain dan membuang ku begitu saja. Dia tidak mengakui Aira dan juga menganggap ku sebagai perempuan murahan di hadapan orang tuanya."
Rania justru membuang pemikiran tentang cinta dalam hati dan membahas soal gangguan yang disebabkan oleh Gavin. Rania mengepalkan tangannya dan merasa sangat tidak terima dengan semua perlakuan Gavin selama ini. Bahkan Rania mengetahui semua perkataan busuk yang dikatakan oleh Gavin kepada teman-teman dan juga keluarga di Jakarta. Gavin memfitnah Rania dan mengatakan kalau Rania itu perempuan murahan dan Aira bukan anak Gavin.
Padahal Rania hamil karena Gavin dan milik Rania yang berharga sebagai mahkota perempuan juga lepas karena Gavin. Apakah ini adil? Jelas tidak bagi Rania.
Bima tidak bisa menutupi kalau dirinya tidak terima dengan hal itu. Bagaimana bisa lelaki seperti Gavin masih bisa tertawa dan bernafas dengan lega setelah melakukan segala kejahatan yang tidak masuk akal kepada kehidupan Rania. Bahkan Gavin melukai hati perempuan bukan hanya sekali dua kali, tetapi banyak tali dan selalu dimaklumi oleh keluarganya yang juga busuk.
"Bima ... Aku sebenarnya sudah tidak berharap sama sekali dia mengakui atau datang minta maaf kepadaku. Aku rasa semua itu sudah terlambat dan aku justru merasa lebih lega jika Aira tidak mengetahui siapa ayahnya. Orang seperti itu tidak pantas disebut suami maupun ayah. Aku tidak suka dengan segala tipu dayanya."
__ADS_1
Rania terdengar begitu mantap mengatakan hal itu tetapi pada kenyataannya hatinya bergetar dan merasakan sakit yang luar biasa. Sakit itu tidak bisa diutarakan dengan kata-kata dan tidak bisa diceritakan kepada orang lain sehingga hanya mengendap di dalam hati dan membuat dirinya merasa semakin tersiksa jika mengingat semua cerita tentang Gavin.
"Meski kamu menutupi semua itu dari semua manusia yang ada di muka bumi ini, tetapi aku bisa tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan. Jangan bersedih lagi. Semua ini akan segera berakhir."
Bima memeluk Rania. Dia benar-benar tidak tega karena bisa merasakan luka hati yang begitu dalam dari Rania. Bima tidak bisa berpura-pura tidak mengetahui hal itu padahal dia mendengar semua jerit hati dan juga kesedihan yang dirasakan oleh Rania. Bahkan belum kejadian ini berlangsung pun Rania sudah merasakan siksaan batin karena hubungan tidak jelas dengan Gavin selama lima tahun itu benar-benar menyiksa.
Harusnya Rania bisa mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik tetapi karena takdir yang dipilih merupakan jalan seperti ini, maka Bima muncul untuk membantunya. Sesuai dengan apa yang Bima janjikan kepada tuannya dahulu kala.
"Berakhir? Maksudnya?" Rania mendongak menatap Bima karena tidak paham dengan apa yang dia dengar barusan.
"Nanti semua penderitaan yang kamu rasakan saat ini akan tertebus dengan kebahagiaan. Segala kesusahan yang kamu hadapi bahkan tidak memiliki uang pun akan terganti dengan hal yang jauh lebih baik. Kamu hanya perlu bersabar dan jangan membalas kepada orang orang yang berbuat jahat kepadamu. Tanpa dibalas pun, sebenarnya mereka sudah mendapatkan balasan dari segala perlakuan yang dilakukan."
Bima tidak bisa menjabarkan lebih jelas lagi apa yang akan terjadi di masa depan karena itu merupakan sebuah rahasia. Dia hanya akan memastikan kalau masa depan Rania dengan Aira akan baik-baik saja. Meski jalan terjal harus dilalui oleh Rania dengan tertatih-tatih dengan banyak rintangan karena bukan hanya Gavin yang menjadi hambatan dalam hidup Rania melainkan juga keluarga Rania sendiri. Namun Bima akan memastikan semua tetap akan menjadi baik-baik saja dan masa depan Rania dengan Aira akan bahagia.
__ADS_1
Bagaimana mungkin iblis bisa berbaik hati pada manusia? Apakah ini tipu daya semata? Atau kelak ada harga yang harus Rania bayar kepada Bima?