Kekasihku Iblis yang Baik Hati

Kekasihku Iblis yang Baik Hati
Pertemuan Tak Diinginkan


__ADS_3

Pagi hari, Rania mendapat pesanan beberapa kosmetik secara online. Dia merasa begitu senang karena nanti siang bisa bertemu dengan customer dan mendapatkan uang. Customer yang membeli memilih barang-barang yang sudah ready stok atau yang sudah ada di rumah Rania sehingga bisa segera diantar dan dibayar. Tentu hal itu membahagiakan bagi Rania karena akan segera mendapatkan uang cash dan balik modal.


"Ma, titip Aira, ya. Nanti mau COD (Cash on Delivery) ke daerah Simpang Lima. Ada orang mau beli, langsung bayar juga. Lumayan borong," kata Rania yang sedang menyiapkan beberapa barang kosmetik untuk nanti dibawa ke customer.


"Puji syukur kalau begitu. Iya, biar Aira di rumah aja. Dari pada kepanasan di luar."


Seperti biasa, ibunya Rania bersikap baik di depan Rania, tetapi di belakangnya, selalu saja menggerutu dan mengadu domba Rania dan kakaknya. Hal itu yang membuat kondisi rumah jadi tidak nyaman. Endah juga mudah termakan omongan mamanya sehingga selalu ribut dengan Rania. Sedangkan Shella berada di pihak netral.


Sebenarnya Rania merasa begitu sedih karena banyak hal terjadi. Rania tidak habis pikir kenapa Endah begitu membencinya. Padahal Rania sudah bertobat dan berusaha melakukan hal terbaik untuk keluarganya. Meski semua itu tetap saja dianggap sia-sia. Semua kebaikan tidak dianggap dan ketika Rania membicarakan kebaikannya, selalu dianggap mengungkit. Jadi, Rania memilih banyak diam daripada bertengkar.


Siang itu, Rania pergi dengan meminjam motor yang ada di rumah karena dia sudah tidak punya motor. Dia pergi ke simpang lima untuk mengirim pesanan kosmetik. Sesampainya di sana, Rania menunggu beberapa belas menit.


Ternyata Gavin yang memesan kosmetik itu. Dia sengaja seperti itu untuk bisa bertemu dengan Rania. Sebenarnya Gavin tidak yakin untuk bertemu secara langsung dan hanya mengamati dari kejauhan, tetapi kepalang tanggung. Dia sudah meninggalkan Pramayu yang sedang kerja menyanyi di acara besar di Semarang, jadi Gavin bisa bertemu Rania.


"Lah, sekarang, kok, gemuk?" Gavin yang selalu melihat seseorang dari kacamata penampilan langsung menggerutu ketika melihat perubahan tubuh Rania yang melar.


Bagaimana tidak? Setelah melahirkan dengan operasi, Rania tidak punya uang sepeserpun. Mamanya juga tidak punya uang. Tidak ada yang membelikan jamu atau obat. Luka bekas operasi juga masih sakit. Harusnya Rania tidak melakukan kerja terlalu berat sampai sebulan, tetapi Rania baru dua minggu, sudah mulai membantu jualan delivery makanan masakan mamanya. Rania tidak memiliki waktu dan juga keuangan yang cukup untuk menjaga dan merawat tubuhnya. Setiap punya uang, Rania memilih untuk menggunakan membeli kebutuhan bagi putrinya dan membantu keluarga.

__ADS_1


"Duh, kok, belum ke sini juga orangnya? Jangan-jangan ... aku ditipu?" Rania jadi merasa sedih karena berharap dengan uang yang akan dia dapat.


Gavin yang awalnya ragu-ragu, tiba-tiba memantapkan diri untuk menyetir mobilnya dan parkir di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat Rania berdiri. Rania juga memarkirkan motornya terlebih dahulu sebelum menunggu di dekat tulisan Simpang Lima.


Gavin menggunakan kacamata berwarna hitam dan topi sehingga penampilannya dari kejauhan tidak begitu mencolok. Dia pun berjalan mendekati Rania. Tanpa diketahui Rania sudah mengirimkan pesan lagi.


[Kak, jadi nggak ya kosmetiknya? Aku sudah tunggu ini di Simpang Lima. Tolong konfirmasi, ya, Kak.]


Gavin merasa khawatir apakah Rania mau berbicara dengannya atau tidak. Lelaki itu pun mendekat dan menepuk pundak Rania.


Rania terkejut melihat lelaki yang ada di hadapannya. Orang yang dahulu pernah membuatnya bahagia, tetapi juga orang yang membuat dirinya menderita. Rania terdiam beberapa saat dan tidak bisa berkata apa-apa melihat orang itu berada di hadapannya.


Rania tidak menjawab dan mencoba langsung menghindar karena dirinya sudah paham saat ini dijebak bukannya mendapatkan pembeli real. Gavin langsung mencegah Rania pergi sebelum berlari menuju ke tempat parkir motor. Dia memegang tangan Rania.


"Mii, aku kangen kamu. Aku mau bicara," ucap Gavin yang jelas saja berdusta. Dia hanya penasaran dengan hidup Rania dan tidak akan bertanggung jawab atas apapun.


"Jangan pegang tanganku! Kalau masih nekat, aku teriak!" tegas Rania yang sudah tidak mau lagi melihat wajah Gavin apalagi disentuh oleh tangan pembuat masalah itu.

__ADS_1


Gavin jelas tidak terima dengan perlakuan Rania yang dianggap jual mahal karena sudah pernah diubek-ubek olehnya, tetapi sekarang mencoba menghindar. Gavin tak mau melepaskan Rania.


"Jangan gitu, lah. Harusnya lu seneng kalau lihat gue sampai datang ke Semarang buat bertemu lu. Nggak bersyukur amat," kata Gavin yang memandang Rania dengan rendah.


Rania memang tidak terawat dan beda jauh dengan Pramayu. Namun Rania memiliki hati yang jauh lebih baik dari Pramayu yang jual badan untuk kerja jelas akan selalu perawatan. Bukan berarti soal fisik bisa membuat Gavin yang sudah melakukan banyak hal buruk kepada Rania bisa menghina saat ini.


"Buat apa? Malah nyesel dateng ke sini. Bayar, nih, kosmetik pesenanmu. Itu juga kalau kuat bayar," ujar Rania dengan ketus agar Gavin marah dan tidak mengejarnya lagi.


"Nih! Ambil duitnya tapi ikut gue dulu." Gavin memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepada Rania, tetapi memiliki maksud jahat.


Rania meraih uang itu dan memberikan sebungkus kosmetik ke Gavin karena buat awal adalah jual beli. Dia pun tidak mau terbujuk rayu dengan perkataan Davin karena sudah hafal bagaimana sifat lelaki itu sebenarnya. Gavin hanya akan menjebak Rania kepada jurang yang sama yaitu hal buruk yang selalu Gavin lakukan. Ya, hubungan lebih dari sekedar memegang tangan.


Gavin pun merasa kalau Rania sudah menginjak-injak harga dirinya. "Sialan kau!! Dasar sok jual mahal!!!"


Rania tidak bergeming sama sekali dan tetap berjalan maju lalu menyeberang menuju tempat parkir motor. Hal penting dalam pikiran Rania adalah kosmetik yang dipesan sudah dibayar dan dia pulang dengan membawa uang karena memang alasannya untuk mengantarkan kosmetik. Rania tidak akan menyesal dengan hari ini dan dia juga tidak akan menoleh ke belakang karena tahu Gavin merupakan lelaki yang buruk untuk kehidupannya.


"Aku sudah tidak mau lagi terjebak dengan bujuk dan rayuanmu. Aku sudah tidak mau lagi percaya dengan semua perkataan yang keluar dari mulutmu. Aku justru tidak mau Aira mengetahui kalau memiliki ayah kandung sepertimu. Lebih baik Aira tidak memiliki ayah daripada mengetahui kelakuan busukmu yang tidak akan sembuh sampai mati."

__ADS_1


Rania meneteskan air mata. Dia pun mengendarai motornya berlalu pergi dari Simpang Lima. Selamat tinggal masa lalu. Rania melangkah dari Gavin. Bahkan tidak ada pengaruh setelah Gavin menemuinya.


__ADS_2